Share

Bab 291

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2026-02-23 21:07:03

Suara nyanyian rohani “Jesus Loves Me” yang lembut dari sebuah rumah duka terdengar menyusuri sore hari yang mendung, bergema bersama hembusan angin yang menyapu dedaunan kering. Lonceng berbunyi lima kali, sebagai tanda penghormatan bagi jiwa kecil yang telah kembali ke pangkuan Tuhan. Cahaya lilin kecil yang terpacak di depan pintu rumah tampak bergoyang goyang, dihiasi dengan renda putih serta bunga aster kecil yang harumnya terasa pahit di tengah duka yang melanda keluarga.

Musim gugur ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sahariah Ambo Dali
lambat lah cerita ni bagi tahu lah sutra yg kama ada sakit ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Bab 292

    Kematian Delon pada akhirnya terkuak, mayatnya ditemukan di dalam sebuah sumur tua di area bangunan terbengkalai saat akan mengalami renovasi keseluruhan. Pada awalnya para pekerja serta polisi tidak dapat mengidentifikasi mayat Delon, sebab memang tak ditemukan dompet yang mungkin berisi identitas diri. Namun, saat diberitakan jika di dalam sebuah gedung tua ditemukan mayat yang hampir tidak utuh lagi karena memang terendam dalam air di tambah lagi tubuhnya tertindih batu besar, seorang yang mengaku jika salah satu keluarganya menghilang tiga minggu lalu mengklaim jika jasad tersebut adalah salah satu keluarganya yang hilang. Namun, hingga jasad Delon dikebumikan, pihak berwajib tidak juga dapat memecahkan sebab musabab kematian pria muda tersebut. Kabar kematian Delon pun mencuat hingga terdengar oleh Sutra. Wanita itu sempat tak percaya jika mantan kekasihnya harus tewas dengan cara yang cukup tragis. “Kau sedang menonton apa?” Kama mendekati Sutra yang duduk di depan tel

  • Kama Sutra   Bab 291

    Suara nyanyian rohani “Jesus Loves Me” yang lembut dari sebuah rumah duka terdengar menyusuri sore hari yang mendung, bergema bersama hembusan angin yang menyapu dedaunan kering. Lonceng berbunyi lima kali, sebagai tanda penghormatan bagi jiwa kecil yang telah kembali ke pangkuan Tuhan. Cahaya lilin kecil yang terpacak di depan pintu rumah tampak bergoyang goyang, dihiasi dengan renda putih serta bunga aster kecil yang harumnya terasa pahit di tengah duka yang melanda keluarga. Musim gugur kali ini harus dibersamai dengan ketiadaan seorang bayi kecil yang masih berusia tujuh bulan—Sofia Petterson. Air mata Ellies tak juga mengering, kedua bola matanya bahkan sudah begitu memanas, akan tetapi wanita itu tak kunjung menyudahi tangisannya. Hans yang melihat keadaan Sutra hanya bisa menahan rasa sesak dalam dadanya. Sebetulnya pria itu sempat menguatkan hati Ellies, akan tetapi wanita itu menolak dengan tatapan jijik. Bahkan wanita itu mengumpat. Di tengah tengah rasa duka yang

  • Kama Sutra   Bab 290

    Dua minggu berselang, penyakit Sofia bukan semakin membaik, putri dari Hans dan Ellies tersebut semakin tidak ada harapan. Denyut jantungnya kian melemah, kelopak matanya setengah menutup dengan sekujur tubuhnya mendingin. Hanya tingga kakinya yang masih terasa hangat. Ellies sudah tidak sanggup lagi melihat pesakitan yang didera sang putri. Wanita itu lantas pergi berlari menuju sebuah katedral yang berada di kawasan rumah sakit. Menuju sebuah altar lalu menjatuhkan kedua lututnya serta merekatkan kedua tangannya sebagai lambang jika dirinya tengah berdoa. “Tuhan, aku datang untuk mengemis padamu. Tolong kau angkat penyakit anakku! Jangan kau beri dia cobaan di luar dari kesanggupannya. Aku tahu aku sudah salah langkah selama ini, tapi … ku mohon jangan kau jadikan anakku sebagai bagian dari penebusan dosa dosaku! Kumohon, Tuhan!” Air mata Ellies mengalir deras, membasahi kedua pipinya yang sudah merah membara akibat isak tangis yang terperangkap dalam dadanya. Setiap hembusan

  • Kama Sutra   Bab 289

    Sambil memeluk Sutra, Kama berusaha tersenyum meskipun senyum itu palsu. Entah kenapa, dia seolah tak tega saat melihat kesedihan itu sedikit menyapu wajah sang istri. Kama tidak ingin Sutra menjadi kepikiran hanya karena akan memikirkan penyakitnya tersebut. Namun, pria itu tiba tiba bertekad untuk bisa kembali sembuh tanpa sepengetahuan Sutra. Kama akan mencari cara agar dirinya bisa teraelamatkan dari mau yang tengah mengintainya. “Lain kali kau jangan membuat hatiku takut, aku tidak suka. Kecuali kau memang menginginkan aku pergi dari hidupmu,.” Suaranya terisak di dalam pelukan Kama. Membuat pria itu semakin merasa bersalah. Kama semakin mengeratkan pelukannya. “Hei, jangan bicara seperti itu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda tadi. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau candaanku itu membuat kau bersedih.” ***Di ruangan rawat inap anak bagian hematologi rumah Sakit, sorot mata seorang dokter terfokus pada layar monitor yang menampilkan data kesehatan Sofia, bayi berusia tujuh

  • Kama Sutra   Bab 288

    Suara sirene semakin menggelegar, menyebar ke setiap sudut gedung tua yang terbengkalai. Cahaya lampu dari mbil polisi mulai menerangi bagian dalam gedung melalui celah-celah dinding yang retak dan jendela tua, menciptakan bayangan samar yang bergoyang-goyang seolah ada makhluk tersembunyi di dalamnya. “Jangan biarkan mereka menangkap kita! Segera selesaikan ini sekarang juga!” pekik Bruno, menyadari bahwa kesempatan mereka sudah hampir habis. Pria itu kemudian mengambil senternya yang jatuh di tanah dan menyalakannya kembali, sorot sinarnya langsung menemukan sosok Delon yang masih berusaha melepaskan diri dari anak buah Bruno yang sedang menahan kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Bruno menarik Delon dari genggaman anak buahnya. Tubuhnya yang lemah dan terluka tampak seperti mainan di tangan pria tinggi itu. “Mau lari ke mana kau! Nyawamu sudah di ujung tanduk, Keparat!!” ujar Bruno dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan sedikitpun. Delon masih terus b

  • Kama Sutra   Bab 287

    “Ke mana kau, Naina!” Delon terlihat mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Sudah lebih dari sepuluh kali, hari ini dia mencoba menghubungi Naina, tapi tak ada jawaban. Bahkan, ponsel wanita itu mati. Sesekali Delon menganjur napas kasar dengan sambil mengacak acak rambutnya sendiri. Delon kembali menekan ponselnya untuk menghubungi Naina. Beruntungnya, panggilan kali ini ada jawaban. “Naina, kau ke mana saja? Kenapa tidak mengabariku! Kau seolah menghilang dua hari ini!” ucap Delon dengan suara meninggi. “Bagaimana kelanjutan rencana kita? Apa kau sudah berhasil menghancurkan semua perusahaan Grup Deodola?” sambung Delon. Tak ada jawaban dari seberang sana. Namun, Delon dapat mendengar ada suara desahan napas yang begitu berat. Akan tetapi pria itu tidak dapat menebak, itu desahan suara siapa. “Kau jangan main main denganku, Naina! Aku bisa membuatmu hancur!”Masih tak ada jawaban. “Naina, apa kau i—“Tiba tiba panggilang terputus sebelum Delon menuntaskan kata katanya. “Si

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status