Home / Romansa / Kamu Hanya Pengganti! / Bab 5. Perusahaan LL

Share

Bab 5. Perusahaan LL

Author: nurulfitria_
last update Last Updated: 2025-10-08 23:58:37

Tubuh Allison berguling menghindari cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Dia mencoba untuk kembali tidur namun tiba-tiba matanya terbuka lebar saat teringat kejadian yang dia alami

Allison mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan memastikan jika dia benar-benar berada di kamar pribadinya. Bukan hanya itu dia juga semakin kebingungan saat menyadari baju yang dia gunakan adalah baju tidur bukan gaun sobek seperti sebelumnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Allison pada dirinya sendiri mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.

Dia teringat saat Lucas mengangkat tubuhnya dengan kasar sebelum melemparnya ke dalam mobil. Di dalam mobil dia masih mencoba untuk melarikan diri, namun sepertinya Lucas memukulnya sampai membuatnya tidak sadarkan diri.

"Dasar kurang ajar!" maki Allison kesal karena Lucas sudah berani memukulnya. Tanpa berpikir panjang dia melompat dari tempat tidur namun kakinya terasa sakit saat menginjak lantai.

Dahi Allison berkerut saat melihat kaki kanannya terbungkus perban. Sesaat kemudian dia menyadari jika mungkin kakinya cidera ketika melawan orang-orang yang menculiknya. Namun yang membuatnya bingung kenapa kakinya terbungkus perban, Lucas tidak akan sebaik itu membantunya.

"Nyonya, apa anda sudah bangun?" tanya Tuan Watson kepala pelayan kediaman Lucas.

"Bagaimana saya ada di sini?" tanya Allison bingung.

"Tuan Wayne menggendong anda ke sini dan Dokter Horward mengobati kaki anda yang terkilir," jawab Tuan Watson menjelaskan apa yang terjadi, "Tuan Wayne sudah mencoba untuk membangunkan anda tetapi sepertinya anda terlalu lelah,"

Allison menganggukkan kepalanya pelan setelah mendengar penjelasan Tuan Watson. Setidaknya bukan Lucas yang menggendong dirinya ke dalam kamar dan bukan Lucas juga yang mengobati kakinya.

"Terima kasih Tuan Watson," kata Allison sambil tersenyum tipis. Di rumah ini hanya Tuan Watson yang bersikap netral padanya beda dengan pelayan yang lain.

Setelah memastikan jika Allison mengerti apa yang terjadi, Tuan Watson keluar dari kamar Allison namun sebelum itu dia memerintahkan pada beberapa pelayan untuk membawakan sarapan untuk Allison. Allison tersenyum manis karena Tuan Watson masih menghargainya tanpa harus membandingkannya dengan Alice.

Sarapan pagi kali ini terasa lebih tenang karena Allison tidak harus satu meja dengan Lucas. Dia menikmati bubur hangat dan susu segar yang menjadi sarapan favoritnya, namun hanya dalam hitungan menit ponsel milik Allison berbunyi.

'Kenapa kamu belum datang ke kantor? Dimana proposal projek yang kamu kerjakan? Pagi ini kita harus presentasi projek itu!' terdengar suara Madam Carol dari seberang telepon.

"Hari ini saya tidak dapat ke kantor, Madam. Saya ada masalah kesehatan," balas Allison mencoba menjelaskan apa yang terjadi.

'Saya tidak peduli! Detik ini juga kamu harus berada di kantor! Projek kali ini sangat penting bagi perusahaan!'

Panggilan berakhir sebelum Allison sempat membalas perkataan Madam Carol. Allison menghela napas beberapa kali sebelum meminta Tuan Watson untuk menyiapkan mobil. Dia sedikit mengalami kesulitan untuk bersiap diri namun dia tidak akan memanggil pelayan di rumah Lucas untuk menolongnya.

Hampir setengah jam Allison bersiap sebelum akhirnya berada di mobil menuju perusahaan LL milik Lucas. Kakek Andrew memintanya untuk bekerja di perusahaan Lucas agar dia memiliki pengalaman bekerja, namun dia tahu Kakek Andrew hanya ingin membuat dirinya dan Lucas semakin dekat.

Allison adalah orang yang realistis. Dia tahu dia tidak akan bisa masuk dengan mudah di perusahaan besar seperti perusahaan LL karena pendidikannya tidak sebagus Alice, sehingga dia memutuskan untuk menerima perintah Kakek Andrew meskipun harus mendapat cacian dari berbagai pihak.

Sesampainya di perusahaan Allison berjalan tertatih-tatih mengabaikan suara ponsel miliknya. Dalam pikirannya dia mengulang-ulang kata 'uang' sebanyak mungkin untuk bertahan menghadapi perkataan atasannya.

"Apa kamu tahu sekarang pukul berapa?" teriak Madam Carol sesaat setelah Allison keluar dari lift.

"Kemarin malam saya mengalami kecelakaan, Madam," jawab Allison menahan diri untuk tidak ikut berteriak.

"Saya tidak peduli, meskipun kamu meninggal kamu harus tetap menyerahkan data itu!" bentak Madam Carol sebelum mengambil USB dari tangan Allison dengan kasar.

Madam Carol berjalan cepat menuju ruang pertemuan diikuti oleh beberapa orang lainnya, sementara Allison berjalan perlahan sambil berpegang tembok. Dia akan terus bertahan di perusahaan ini sampai bisa mendapatkan modal yang cukup untuk mendirikan usahanya.

Suasana terasa begitu dingin saat Allison masuk ke dalam ruang pertemuan. Banyak mata menatap ke arahnya, namun sedetik kemudian mereka kembali memfokuskan perhatiannya pada Lucas yang sedang duduk dengan wajah datar.

"Sampah," kata Lucas pelan namun membuat suasana semakin tegang.

"Apa ini hasil pekerjaan kalian selama berbulan-bulan ini? Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengeluarkan banyak uang memperkerjakan kalian," lanjut Lucas yang tentu membuat banyak orang ketakutan namun mereka sama sekali tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

"Siapa yang mengerjakan ini?" kata Lucas sedikit tertarik dengan salah satu proposal projek.

"Sa-saya, Pak McCarthy," jawab Madam Carol sedikit ketakutan saat berhadapan dengan tatapan tajam Lucas.

Lucas memberi kode pada Madam Carol untuk mempresentasikan proposal projek miliknya. Wajah Madam Carol terlihat antara bangga, bingung dan takut. Dia bersama timnya kecuali Allison memulai menjelaskan projek yang mereka usulkan.

Braaakkk!

Di tengah-tengah presentasi Lucas tiba-tiba menggebrak meja di depannya dengan wajah merah menahan kesal. Madam Carol dan timnya langsung terdiam dengan wajah pucat tak mengerti apa yang terjadi.

"Apa kamu pimpinan dari tim ini?" tanya Lucas yang membuat kaki Madam Carol lemas.

"I-iya, Pa-pak McCarthy," jawab Madam Carol terbata-bata.

"Apa kamu tahu apa yang membuat saya tertarik dengan projek ini?"

Madam Carol menggelengkan kepalanya cepat, "Ti-tidak,"

Lucas berjalan perlahan mendekati Madam Carol dengan tatapan dingin penuh amarah. Dia berhenti tepat di depan Madam Carol yang sama sekali tidak berani untuk melihat ke arahnya.

"Katakan padaku siapa yang mengerjakan projek ini!" kata Lucas pelan namun langsung membuat Madam Carol terduduk lemas. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 43. Berita Mengejutkan

    Selama beberapa hari ini Madam Carol dan timnya terlihat sibuk menyusun acara pelatihan untuk karyawan-karyawan perusahaan LL. Hal tersebut membuat fokus mereka teralihkan, sehingga membuat Allison dan dua orang lainnya sedikit tenang."Kenapa wajah Madam Carol setelah kembali dari ruang Pak McCarthy beberapa hari yang lalu terlihat tegang?" tanya Zack yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.Allison tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan Zack teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Lucas benar-benar memberi pelajaran pada Madam Carol secara halus.Dari luar Madam Carol seperti karyawan yang paling dipercaya dan bisa diandalkan, namun dibalik itu semua Allison tahu jika itu cara Lucas untuk memberi pelajaran pada seseorang."Kenapa malah tertawa? Apa yang terjadi?" sahut Ellie yang juga penasaran."Kalian pasti tertawa saat melihat langsung bagaimana wajah Madam Carol." jawab Allison yang tentu membuat Ellie dan Zack semakin penasaran.Allison perlahan menceritakan apa ya

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 42. Tipu Daya Perempuan

    Pikiran Lucas terasa kosong sampai membuat dirinya hanya terdia dengan mata membelalak lebar. Namun saat Allison menggerakkan bibirnya perlahan Lucas menutup mata menikmati bibir lembut Allison."Luce!" teriak Alice dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca, "A-aku tidak tahu ji-jika kalian berdua sudah sejauh ini,"Lucas yang mendengar suara Alice langsung mendorong tubuh Allison menjauh sampai membuat tubuh Allison terhuyung hampir jatuh. Namun sebuah senyuman tipis menghiasi wajah Allison saat melihat penuh amarah Alice dan Kylie."Dasar perempuan murahan!" maki Kylie yang tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya saat melihat Allison berani mencium Lucas di depan matanya."Lebih murahan mana dengan perempuan yang menjadi kekasih laki-laki yang sudah beristri," balas Allison tanpa terlihat takut meskipun mendapat tatapan tajam dari Alice dan Kylie."Lucas menikahimu karena kamu menipunya. Apa kamu sama sekali tidak tahu malu sudah berani merebut kekasih saudara kembarmu?" seru Kylie tak

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 41. Aku Hanya Pengganti!

    Wajah Madam Carol berubah pucat sesaat mendengar perkataan Allison. Dia sama sekali tidak menyangka Allison berani mengatakan hal di depan banyak orang. Dia pikir Allison bukan orang yang suka mencari muka namun ternyata pikirannya salah karena Allison lebih cerdik."Apa ini cara anda memimpin tim anda, Madam Carol?" tanya Lucas dingin."Tidak, Pak!" jawab Madam Carol cepat, "Tapi ini cara saya melatih kekuatan karyawan magang, Pak!""Sepertinya tidak semua merasakan pelatihan mental dari anda. Apa ada kriteria tertentu untuk mendapatkan pelatihan dari anda, Madam Caral?"Ti-tidak, Pak!"Dalam hati Madam Carol terus memaki Allison karena sudah membuatnya berada dalam situasi sulit seperti ini. Dia sudah merasa bahwa Allison akan membawa banyak masalah sejak pertama Allison bekerja di perusahaan LL."Bagaimana jika bulan depan kita membuat pelatihan mental untuk semua karyawan?" usul Lucas yang membuat Madam Carol terkejut."Ap-apa maksud anda, P-pak McCarthy?" tanya Madam Carol antara

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 40. Wanita-Wanita Lucas

    Elton menelan ludah beberapa kali saat melihat Lucas mengacak-acak laporan yang baru saja dia berikan. Ini adalah kesalahannya karena tidak memeriksanya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada Lucas. "Bagaimana mungkin tidak ada petunjuk sama sekali mengenai orang yang sudah menyerang Allison? Apa ini cara kerja kalian?" bentak Lucas sambil membaca laporan yang diserahkan Elton berulang-ulang."Maaf Tuan, itu kesalahan saya," jawab Elton singkat namun dia tidak ingin lepas tanggung jawab."Kenapa akhir-akhir ini kamu sering membuat kesalahan? Apa ada sesuatu yang terjadi?""Tidak Tuan!""Lakukan hukumanmu sendiri seperti biasanya!""Baik Tuan!"Jawaban Elton sama sekali tidak membuat Lucas puas. Dia tahu bahwa mencari dalang dibalik penyerangan Allison beberapa hari yang lalu tidak mudah, namun di saat yang sama dia juga ingin mendapatkan hasil yang cepat.Hal itu tentu membuat Elton sedikit kesulitan untuk menanggani masalah tersebut. Belum lagi ditambah masalah lain yang harus dia

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 39. Campur Aduk

    "Kenapa aku bisa bertindak seperti itu?" seru Allison pada dirinya sendiri sambil berguling-guling di atas tempat tidurnya yang berukuran king size.Pikiran Allison dipenuhi dengan ingatan saat dia memeluk tubuh hangat Lucas. Keaadaan yang tadinya tegang berubah menjadi canggung. Zack dan Ellie yang awalnya ketakutan berubah menjadi bingung dan terkejut karena baru kali ini melihat sisi lain seorang Allison."Tidak, itu bukan salahku. Aku hanya lega karena Lucas sudah menyelamatkan Zack dan Ellie," kata Allison mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa yang terjadi bukanlah sesuatu yang luar biasa."Dia menyelamatkanku karena tidak ingin mendapat ceramah panjang dari Kakek Andrew," lanjut Allison bersemangat. Dia tidak akan membiarkan satu kesalahan membuat dirinya harus menanggung malu seumur hidup."Itu hanya reaksi manusia biasa. Tidak ada yang istimewa!" kata Allison sebelum memutuskan untuk menutup mata meskipun dia harus sedikit memaksa.Di tempat lain, Lucas sedang berjalan mondar

  • Kamu Hanya Pengganti!   Bab 38. Upaya Penyelamatan

    Wajah Zack semakin pucat dan Ellie mulai menangis dipelukan Allison. Keduanya sama sekali tidak pernah dalam situasi seperti saat yang membuat mereka syok dengan apa yang terjadi.Allison terlihat kesulitan karena tidak bisa mengawasi keadaan sekitar dan menenangkan Ellie di wakt bersamaan. Ada sedikit rasa penyesalan karena sudah memaksa Zack dan Ellie untuk ikut bersamanya. Dia hanya ingin mengantar kedua rekannya itu pulang bukan membuat mereka dalam bahaya,"Nyonya, saya sepertinya tidak bisa lagi mempertahankan mobil ini. Mereka benar-benar membuat saya kesulitan!" seru Tuan Calson dengan keringat memenuhi dahinya. Dia menyadari jika mobil-mobil yang menghimpitnya menggunakan semacam kawat baja agar mobil Allison tidak mempunyai jalan keluar."Bertahanlah sedikit lagi. Aku yakin Tuan Wayne sudah berada di belakang kita!" balas Allison tak ingin kehilangan harapan sambil sesekali menoleh ke belakang.Namun sedetik kemudian seseorang menabrak bagian belakang mobil yang mereka kenda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status