ログインEntah berapa lama Allison berada di rumah sakit menemani Lucas yang masih belum sadar. Setiap hari dia hanya duduk di sebelah ranjang Lucas tanpa banyak berkata. Dia hanya menatap wajah Lucas, memastikan pria itu masih ada di sana.Beberapa kali Alice dan kedua orang tuanya datang menjenguk. Namun Allison hanya diam, dia tidak lagi peduli dengan tatapan mereka. Tidak peduli dengan bisikan atau hinaan yang masih sempat mereka lontarkan."Ini makanan untuk anda, Nona Allison," kata Elton sambil mengulurkan makanan hangat untuk Allison, "Bagaimana jika saya yang menjaga Tuan McCarthy? Anda bisa istirahat untuk beberapa saat,""Aku masih kuat," balas Allison singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Lucas.Elton menghela napas pelan, dia sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut Allison. Sifat keras kepala mereka benar-benar mirip."Anak dalam kandunganmu butuh makan dan istirahat," sahut Mike sambil berjalan mendekat ke arah mereka, "Jangan gunakan Lucas untuk mengabaikan kondis
Setelah beberapa jam berlalu lampu operasi akhirnya padam membuat Mike dan Elton tak sabar mengetahui kondisi Lucas. Bukan hanya mereka berdua tapi Kakek Andrew dan Noah juga berada di sana setelag mengetahui apa yang terjadi."Bagaimana keadaan Lucas?" tanya Kakek Andrew terlihat begitu tak sabar."Kami sudah melakukan yang terbaik," jawab dokter bedah tersebut mencoba untuk menjelaskan setelah beberapa jam melakukan operasi, "Operasinya berhasil hanya saja kita masih harus menunggu hasilnya beberapa jam ke depan,""Apa maksudmu?" balas Mike tak mengerti."Dokter Howard, pasien masih dalam keadaan kritis selama 24 jam ini," kata dokter bedah tersebut singkat.Kalimat itu membuat suasana lorong kembali membeku. Elton yang sejak tadi mencoba mempertahankan ketenangannya langsung menatap dokter tersebut."Mike, apa maksudnya?" tanya Elton dengar raut wajah khawatir."Tuan McCarthy, akan baik-baik saja setelah melewati 24 jam ini. Kita harus sabar," jawab Mike mencoba untuk menenangkan K
Allison tak tahu bagaimana dia sudah berada di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam alat kesehatan berada di tubuhnya. Tangannya tanpa sadar mengarah pada perutnya memastikan keadaan bayi dalam kandungannya. "Bayiku...," kata Allison lirih mencoba menepis kemungkinan terburuk.Seorang perawat yang berada di dekatnya langsung mendekat, "Nona Allison, tenanglah.""Dokter sudah memeriksa kondisi bayi anda," lanjut perawat tersebut sambil memperlihatkan rekam medis Allison, "Kondisinya stabil."Mendengar jawaban itu, Allison sedikit bisa bernapas lega. Rasa takut yang sejak tadi menekan dadanya perlahan berkurang. Namun setelah itu, satu pikiran lain langsung muncul tentang kondisi Lucas."Di mana Lucas?" tanya Allison dengan suara lebih panik.Pertanyaan itu membuat perawat tersebut kebingungan. Mike sudah berpesan kepadanya untuk menjaga kestabilan kondisi Allison. Jangan sampai perempuan itu mendapatkan kabar yang bisa membuat kondisinya memburuk secara tiba-tiba."Minumlah terli
Elton mengerahkan hampir separuh anggota kelompok Lucas untuk kembali ke tempat Lucas setelah tidak terdengar lagi suara ledakan. Wajah mereka terlihat begitu tegang, tak ada pembicaraan yang tidak penting selama perjalanan.Semua orang tahu kejadian tadi bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Ledakan itu terlalu besar, membuat yang paling mengkhawatirkan adalah mereka belum mendapatkan kabar apa pun tentang kondisi Lucas.Elton berjalan paling depan dengan ekspresi serius. Tangannya terkepal sejak tadi, berusaha menahan pikirannya yang terus memikirkan kemungkinan terburuk.Begitu mereka tiba di lokasi, langkah mereka langsung terhenti. Pemandangan di depan mereka membuat beberapa anggota terdiam. Kerusakan terlihat jelas di sekitar tempat itu. Beberapa orang langsung menyebar untuk memeriksa keadaan, sementara Elton bergerak cepat mencari tanda-tanda keberadaan Lucas."Periksa semua sudut!" perintah Elton tegas."Jangan lewatkan apa pun!"Para anggota langsung bergerak. Namun semak
Dahi Lucas berkerut saat Tuan Hale tiba-tiba tertawa dengan keras setelah pukulan-pukulan yang dia layangkan. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang Lucas harapkan. Tuan Hale tidak terlihat menyesal atau takut.Bahkan di tengah kondisi yang sudah hancur, pria itu masih bertingkah seolah dialah yang memegang kendali."Kamu benar-benar masuk ke dalam perangkapku, McCarthy!" seru Tuan Hale dengan raut wajah penuh kemenangan.Lucas menatapnya tajam. Ada sesuatu yang tidak beres. Tuan Hale tidak akan tersenyum seperti itu tanpa alasan."Apa kamu lupa dengan ini?" lanjut Tuan Hale. Tangannya perlahan bergerak membuka bagian depan rompi bom yang masih dikenakannya.Mata Lucas langsung menyipit untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Di balik rompi itu, masih terlihat bom yang belum sepenuhnya dinonaktifkan.Tuan Hale tertawa kecil melihat reaksi Lucas. "Apa sekarang kamu mengerti?""Kamu pikir dengan mengambil alat pemicu tadi semuanya selesai?" lanjut Tuan Hale dengan senyum ya
Duarrr!Ledakan kembali mengguncang area gudang. Gelombang panas dan debu langsung memenuhi area sekitarnya. Lucas yang berada paling dekat dengan sumber ledakan refleks menjatuhkan tubuhnya dan berguling beberapa kali di tanah untuk menghindari pecahan benda serta mengurangi dampak ledakan.Debu tebal memenuhi udara, membuat pandangannya sempat buram. Tubuhnya terasa sakit akibat benturan keras, tetapi dia tetap berusaha bangkit. Saat berguling, kepalanya tidak sengaja menghantam sebuah batu besar di tanah. Rasa sakit tajam langsung terasa. Darah perlahan mengalir dari pelipisnya, melewati sisi wajahnya, namun Lucas tidak memperdulikannya. Hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan sekitar. Dia memastikan jika tidak ada lagi korban dari orang-orangnya. Dia yang akan terakhir meninggalkan tempat ini setelah semua dalam keadaan aman.Sementara itu, di tengah suara ledakan yang masih terdengar, Tuan Hale masih berdiri sambil tertawa mengerikan. Tawanya menggema di antara a







