分享

Bab 2

作者: Honey
Tatapan mata Shane sempat goyah sesaat, nadanya terdengar agak kaku. "Dulu aku memang sudah menyuruh dia pergi dari kota ini. Tapi, belum lama ini ibunya sakit keras dan kondisinya kritis. Sebagai anak perempuan, masa dia nggak boleh pulang buat merawat ibunya? Itu 'kan hal yang wajar."

"Hal yang wajar?" Geisha merasa itu sangat konyol. "Jadi, kamu membiarkan dia kembali, membiarkan dia mendekati anak-anak kita, bahkan membiarkan mereka memanggilnya Ibu? Shane, kamu anggap aku ini bodoh?"

"Jangan asal ngomong kalau nggak tahu apa-apa!" Dahi Shane mengernyit makin dalam. "Masalah ini, dari awal sampai akhir yang salah itu aku. Aku yang udah nyakitin kamu, mengkhianati pernikahan kita, dan punya perasaan sama Helen. Helen nggak salah apa-apa. Anak-anak bisa dekat sama dia karena sekarang Helen bekerja sebagai guru piano. Waktu memilih guru piano buat Dimas dan Cindy kemarin, mereka sendiri yang memilih Helen dari sekian banyak profil guru. Setelah aku berjanji kepadamu untuk kembali ke keluarga, aku sudah memutus hubungan semacam itu dengannya. Kami nggak melakukan hal yang melewati batas lagi, cuma berteman biasa. Kamu aja yang terlalu sensitif dan curigaan. Kenapa harus terus menyudutkan dia?"

Geisha menatap Shane yang tampak begitu tergesa-gesa ingin "cuci tangan", tetapi secara tersirat masih terus melindungi wanita itu. Dadanya terasa sakit sampai nyaris robek.

Dia teringat saat mereka berusia 16 tahun, di tepi lapangan basket. Shane yang mengenakan kemeja putih berjalan ke arahnya di bawah cahaya matahari. Daun telinganya merah, tetapi sorot matanya berbinar terang saat berkata kepadanya, "Geisha, aku suka kamu. Mau nggak jadi pacar aku?"

Dia teringat saat masa kuliah ketika perutnya sakit karena sedang datang bulan. Shane bolos dari kelas praktikum yang penting, memanjat pagar demi membelikannya teh jahe gula merah, lalu menunggu selama satu jam di bawah gedung asrama putri hanya demi menyerahkan minuman hangat itu langsung ke tangannya.

Dia teringat malam saat Shane melamarnya, di lapangan sekolah tempat mereka pertama kali bertemu. Shane menyusun lilin membentuk hati yang besar, berlutut dengan satu kaki, dan berkata dengan suara tercekat, "Geisha, menikahlah denganku. Seumur hidup ini, aku, Shane Juan, cuma akan mencintaimu seorang, nggak akan pernah berubah."

Dia teringat saat baru melahirkan anak kembar mereka, Shane memeluk anak-anak itu, lalu dengan mata merah berkata kepada Geisha yang masih terkulai lemas, "Sayang, terima kasih ya, kamu sudah berjuang. Mulai sekarang, kita berempat akan selalu bersama selamanya. Aku akan melindungi kalian dengan nyawaku."

Makin manis janji-janji di masa lalu, makin menyakitkan pula pengkhianatan yang dirasakan sekarang.

Di depan matanya sendiri, pria itu mengakui bahwa dia telah menaruh hati pada wanita lain.

Bahkan, pria itu menyalahkannya karena terlalu sensitif dan gampang curiga, serta menuduhnya sengaja menyudutkan wanita yang telah menghancurkan keluarganya!

"Jadi ...." Suara Geisha terdengar serak dan terasa pecah, membawa semacam ketenangan yang berada di ambang keputusasaan. "Di matamu, kamu cuma melihat kalau aku terus-terusan menyudutkan dia. Tapi, apa kamu pernah berpikir, seberapa hancur hatiku saat mendengar anak-anakku sendiri memanggil wanita lain dengan sebutan Ibu? Apa kamu pernah, walau cuma sedetik saja, mencoba berdiri di posisiku?"

Shane menatap mata Geisha yang merah dan tubuhnya yang tampak hendak jatuh, jakunnya tampak naik turun.

"Aku ...." Shane membuka mulutnya.

Geisha memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Saat dia membuka matanya kembali, yang tersisa di tatapannya hanyalah sebuah tekad bulat yang dingin.

"Shane, aku kasih kamu dua pilihan."

"Pertama, detik ini juga, pecat Helen dan buat dia benar-benar menghilang sepenuhnya dari hidupku dan anak-anak."

"Kedua ...." Geisha mengambil jeda sejenak, setiap kata yang keluar seolah menguras seluruh tenaga di tubuhnya. "Kita cerai."

Cerai.

Kata itu akhirnya kembali keluar dari mulutnya.

Akan tetapi, berbeda dengan kepanikan yang ditunjukkannya saat pertama kali, kali ini tatapan mata Shane tampak begitu tenang hingga terasa mengerikan.

"Nggak bisa! Anak-anak sudah terlanjur terbiasa sama Helen, dia juga mengajar dengan baik. Karena aku sudah berjanji sama kamu, aku nggak bakal melakukan tindakan yang melampaui batas lagi dengannya. Aku nggak punya alasan buat memecat dia tanpa sebab."

Shane menatap Geisha, nadanya terdengar begitu yakin, bahkan terselip sedikit perasaan meremehkan yang nyaris tak kentara. "Geisha, kamu nggak usah selalu pakai ancaman cerai buat menakut-nakuti aku. Aku tahu, demi anak-anak, kamu nggak bakal benar-benar minta cerai."

Demi anak-anak ....

Hati Geisha terasa seperti dihancurkan oleh kalimat itu.

Benar. Terakhir kali, justru demi anak-anaklah dia memberikan pria ini kesempatan dan memilih untuk bertahan.

Akan tetapi, siapa yang menyangka, kelemahan ini malah dijadikan kartu as oleh Shane untuk mengendalikan dirinya dan bertindak tanpa rasa takut!

Melihat tatapan mata Geisha yang hancur saat memandangnya, Shane menekan pangkal hidungnya dengan gusar. Nada suaranya pun melunak, tetapi terdengar lebih seperti asal menenangkan keadaan.

"Sudahlah. Aku tahu hari ini anak-anak juga keterlaluan. Nanti aku suruh mereka minta maaf sama kamu. Anggap saja masalah ini selesai dan kamu juga jangan terus memperbesar masalahnya, oke?"

Shane balik badan, lalu melambaikan tangan kepada kedua anaknya yang berada tidak jauh dari sana. "Dimas, Cindy, ke sini. Minta maaf sama Ibu."

Kedua anak itu berjalan mendekat dengan sangat lambat dan enggan, raut wajah mereka dipenuhi rasa tidak rela.

Dimas mengerucutkan bibirnya. "Memangnya kami salah apa ...."

"Dimas!" Suara Shane langsung berubah lebih tegas.

Barulah setelah itu Dimas bergumam kecil dengan sangat enggan, "Maaf."

Cindy juga menyahut pelan, "Maaf."

Sebuah permintaan maaf yang sama sekali tidak tulus. Geisha menatap mereka, hanya bisa merasakan ironi dan kesedihan yang mendalam.

Begitu melangkah keluar dari kantor polisi, mobil Shane sudah menunggu di depan pintu masuk.

Dia menyuruh Helen masuk ke dalam mobil terlebih dahulu bersama kedua anak mereka, sementara dirinya berjalan menghampiri Geisha.

"Ayo naik." Nada bicaranya kembali datar seperti biasanya, seolah-olah pertengkaran hebat tadi tidak pernah terjadi.

Geisha tidak menanggapi. Dia naik ke kursi belakang dalam diam.

Di dalam mobil, suasana terasa begitu menyesakkan.

Kedua anak itu menempel manja di sisi kiri dan kanan Helen, mengobrol dengan riang. Helen menanggapi mereka dengan lembut, sesekali menyeka keringat di dahi Cindy menggunakan tisu.

Shane yang duduk di kursi penumpang depan sesekali menoleh ke belakang untuk bergabung dalam obrolan mereka. Dia bertanya kepada kedua anak itu tentang apa saja yang mereka pelajari di TK hari ini, serta menanyakan kondisi penyakit ibu Helen.

Mereka berempat tampak mengobrol dan tertawa bersama, suasananya begitu harmonis.

Seolah-olah, merekalah keluarga yang sebenarnya.

Sementara Geisha, bagaikan seorang pengamat asing yang sama sekali tidak nyambung, terisolasi sepenuhnya di luar dunia mereka.

Dia menatap pemandangan jalanan di luar jendela yang melaju mundur dengan cepat. Kekosongan di dadanya terasa makin besar, dinginnya menusuk hingga ke tulang.

Inikah rumah yang selama ini dia pertahankan dengan susah payah hingga mengorbankan dirinya sendiri?

Sungguh konyol.

Tepat saat mobil mereka melewati sebuah persimpangan jalan, sebuah mobil sedan dari arah samping mendadak hilang kendali. Mobil itu menerobos lampu merah dan melaju kencang menghantam mobil mereka!

Brak!

Suara benturan yang keras terdengar membahana!

Geisha hanya bisa merasakan tubuhnya terlempar lalu terhempas dengan keras. Rasa sakit yang menusuk langsung menjalar dari dahi dan seluruh tubuhnya, sementara cairan hangat mulai mengaburkan pandangannya.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, suara sirine ambulans yang melengking terdengar makin mendekat. Samar-samar dia mendengar suara para petugas medis.

"Di sini! Korban harus segera dibawa ke rumah sakit!"

Terdengar suara tandu yang mendekat, tetapi sesaat kemudian, langkah mereka justru dihadang oleh dua sosok kecil.

"Selamatkan Bibi Helen dulu!" Itu adalah suara Dimas terdengar tercekat tangis, tetapi sangat keras kepala. "Dia kehilangan banyak darah! Dia pingsan!"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status