Share

Bab 4

Author: Honey
Di seberang telepon, pria itu jelas langsung tertegun sejenak. "Wartawan perang? Geisha, kenapa tiba-tiba .... Di sana itu bahaya sekali! Banyak baku tembak, kondisinya juga serba terbatas, apalagi kamu seorang perempuan."

"Itu impianku waktu kuliah dulu," sahut Geisha lirih. "Hanya saja setelah itu ... karena faktor keluarga, impian itu terpaksa ditunda. Sekarang, aku ingin mewujudkannya."

"Tapi, sekarang kamu 'kan punya suami, punya dua anak, keluargamu juga harmonis, buat apa mengambil risiko seperti itu? Lagi pula, kalaupun kamu mau pergi, keluargamu pasti nggak bakal setuju!"

Sudut bibir Geisha sedikit terangkat, menyunggingkan senyum yang terasa getir dan hampa.

"Pak Jonas, aku berencana untuk bercerai. Hak asuh anak ... akan kuberikan ke ayahnya. Keputusanku sudah bulat."

Ujung telepon mendadak hening untuk waktu yang cukup lama, tampaknya Jonas benar-benar syok mendengar kabar tersebut.

Pada akhirnya, Jonas hanya bisa menghela napas panjang. "Hah, ini urusan pribadimu. Aku juga nggak enak kalau harus ikut campur. Karena kamu sudah memutuskannya, ya sudah, nanti aku ajukan dokumen permohonanmu. Beberapa hari ini fokus pulihkan lukamu dulu dan bersiap-siaplah. Akhir bulan nanti kamu langsung berangkat sesuai jadwal."

"Terima kasih, Pak Jonas."

Setelah menutup telepon tersebut, Geisha kembali memutar nomor lain, kali ini nomor telepon pengacaranya.

"Pak Boris, tolong bantu aku siapkan surat perjanjian cerai. Aku akan menyerahkan hak asuh anak pada ayahnya. Untuk pembagian harta gono-gini, sesuaikan saja dengan ketentuan hukum yang berlaku, aku cuma mau bagian yang memang hakku. Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa ... akta cerainya sudah selesai sebelum akhir bulan."

Setelah mengatur semua hal itu, dia memejamkan matanya dengan letih.

Di dalam hatinya yang telah gersang dan hancur, akhirnya bertiup sepoi angin kebebasan, meski terasa amat dingin.

Beberapa hari berikutnya, Shane dan kedua anak mereka tidak menampakkan batang hidung mereka lagi.

Sampai akhirnya tiba hari ulang tahun Geisha. Shane, mungkin demi menebus kesalahannya, atau mungkin hanya ingin menjaga keharmonisan di permukaan saja, menggelar sebuah pesta ulang tahun yang terbilang cukup megah untuknya.

Akan tetapi, di tengah pesta, Helen datang tanpa diundang.

Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah muda pucat dengan riasan wajah yang sangat anggun. Dia berjalan perlahan menghampiri Geisha, lalu menyodorkan sebuah kotak kado yang dibungkus dengan cantik.

"Kak Geisha, selamat ulang tahun ya. Nggak sangka kita seberuntung ini, ternyata ulang tahun kita sama."

Ulang tahun di hari yang sama?

Kedua anak mereka sontak menoleh ke arah Helen dengan raut terkejut. "Bibi Helen, hari ini ulang tahun Bibi juga? Kok nggak bilang dari kemarin?"

Dimas segera berbalik menghadap Shane. "Ayah! Hari ini Bibi Helen juga ulang tahun! Gimana kalau ... pesta ulang tahun ini kita gabung aja biar Ibu dan Bibi Helen bisa rayakan bareng? Boleh ya, Ayah?"

Cindy juga ikut menarik-narik tangan Shane sambil merengek, "Ayah, boleh ya? Kasihan Bibi Helen kalau ngerayain ulang tahun sendirian, pasti kesepian!"

Melihat binar penuh harap di mata kedua anaknya, Shane menoleh menatap Geisha yang hanya berdiri membisu di samping mereka. Kilat keraguan tampak melintas di wajahnya.

Dia melangkah mendekati Geisha, lalu berbisik, "Geisha, kamu lihat sendiri 'kan anak-anak sangat berharap. Helen hari ini memang benar-benar sendirian. Bagaimana kalau kita rayakan bersama saja? Aku tahu ini agak nggak adil buat kamu, tapi ...."

"Boleh."

Sebelum Shane sempat menyelesaikan kalimatnya, Geisha sudah melontarkan satu kata itu dengan sangat tenang.

Shane langsung tertegun. Berbagai alasan dan bujukan yang sudah dia siapkan seketika tertahan di tenggorokannya.

"Kamu ... setuju semudah ini?" tanya Shane, seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Kamu nggak keberatan?"

Dia mengira Geisha akan membuat keributan. Berpikir bahwa istrinya itu akan menangis dengan mata merah, menginterogasi, dan menuduhnya berlaku tidak adil, seperti dulu.

Shane bahkan sudah memikirkan cara untuk menenangkannya dan bagaimana memberikan penjelasan kepadanya.

Akan tetapi, wanita itu justru mengiyakannya begitu saja dengan sangat santai.

Geisha sedikit mengangkat sudut bibirnya yang pucat, menyunggingkan senyum tipis yang tanpa kehangatan sedikit pun.

"Kamu sudah menjelaskan alasannya, bilang kalau dia cuma guru piano anak-anak dan nggak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Kalian berinteraksi juga cuma karena anak-anak. Jadi, buat apa aku keberatan?"

Dia berhenti sejenak, lalu mendongak menatap pria itu. Sorot matanya tampak datar tanpa riak emosi sedikit pun.

"Tenang saja, Shane."

"Mulai sekarang, aku nggak akan lagi membuat keributan."

Entah mengapa, meski kini Geisha berubah menjadi begitu pengertian dan berlapang dada, hati Shane mendadak mencelos. Sebersit rasa gelisah dan panik yang kuat seketika menyergap benaknya.

Sikap Geisha saat ini benar-benar terlalu tenang. Sangat tenang, seolah-olah sudah tidak memedulikan apa pun lagi.

Tidak peduli pada sikap manis mereka terhadap Helen dan juga tidak peduli lagi ... pada mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status