Share

Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi
Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi
Author: Honey

Bab 1

Author: Honey
Anak perempuannya, Cindy Juan, dengan manja menggesekkan pipinya ke pipi Helen, lalu memanggil dengan suara yang nyaring dan manis, "Ibu!"

Anak laki-lakinya, Dimas Juan, juga ikut memanggil, "Ibu! Kamu sudah janji hari ini mau mengajak kami makan es krim!"

Ibu?

Geisha seperti tersambar petir, seluruh darah di tubuhnya seakan berbalik mengalir ke atas kepala pada saat ini, lalu di detik berikutnya menjadi sedingin es yang menusuk tulang!

Shane ternyata tidak mengusir Helen pergi?

Bukan hanya tidak mengusirnya, Shane bahkan membiarkan wanita itu muncul begitu saja di kehidupan anak-anak, bahkan ... membiarkan anak-anak memanggilnya "Ibu"?

Rasa syok dan amarah yang luar biasa membuat Geisha kehilangan akal sehatnya. Dia langsung merangsek maju, lalu menyentak kedua anak itu hingga terlepas dari pelukan Helen!

"Kalian panggil dia apa?!"

Suara Geisha bergetar hebat karena emosi yang memuncak. Wajahnya pucat sampai terlihat menakutkan.

Kedua anak itu tersentak kaget oleh reaksinya. Saat melihat jelas bahwa itu adalah Geisha, kilasan rasa panik sempat melintas di wajah mereka, tetapi segera tergantikan oleh rasa tidak senang.

Dimas mengernyitkan alisnya, lalu berdiri di depan Helen seperti melindunginya. "Ibu ngapain sih? Bibi Helen jadi kaget!"

Cindy juga mengerucutkan bibirnya. "Iya! Kenapa Ibu mendorong Bibi Helen?"

"Aku tanya kalian, tadi kalian memanggilnya apa?!" Geisha menatap lekat-lekat kedua anaknya.

Dimas mendongak, nada suaranya polos, tetapi tanpa sadar terdengar begitu menyakitkan. "Kami manggil dia Ibu. Bibi Helen itu baik dan cantik, mau main sama kami, bacain cerita buat kami, terus sering beliin camilan sama mainan! Kalau Ibu? Ibu sibuk kerja terus. Pulang ke rumah juga cuma di ruang kerja, atau marah-marah sama kami!"

Cindy menambahkan dengan suara lirih, "Bibi Helen nggak pernah bentak kami ...."

Setiap kata itu bagai sebilah pisau berlumur es yang dihujamkan kuat-kuat ke dalam jantung Geisha.

Helen bergegas berdiri, raut wajahnya menunjukkan kepanikan dan rasa bersalah yang pas, lalu mencoba meraih tangan Geisha. "Kak Geisha, jangan marah. Mereka masih kecil dan cuma asal panggil. Jangan dimasukkan ke dalam hati."

"Jangan sentuh aku!" Geisha menyentak tangannya dengan kuat hingga kehilangan kontrol.

Helen memekik pelan, lalu terhuyung mundur beberapa langkah dan jatuh tersungkur ke tanah. Lututnya membentur lantai semen yang kasar, hingga lecet dan mengeluarkan darah.

"Bibi Helen!"

"Ibu jahat! Ibu dorong Bibi Helen!"

Kedua anak itu langsung berteriak histeris!

Dimas bagaikan seekor anak singa yang murka, merangsek maju lalu memukul dan menendang betis Geisha. "Perempuan jahat! Pergi sana! Ibu nggak boleh nindas Bibi Helen!"

Sementara Cindy langsung mengeluarkan jam tangan pintar dari tas sekolah kecilnya. Setelah menekan layarnya beberapa kali dengan mahir, dia berseru ke arah jam tangan itu dengan suara yang serak menahan tangis, "Halo, Pak Polisi? Ada orang jahat mukulin orang di depan gerbang TK! Ibu aku didorong sampai jatuh! Darahnya banyak banget! Pak Polisi buruan ke sini!"

Geisha mematung di tempatnya. Dia melihat anak lak-lakinya memukul dan menendangnya, mendengar anak perempuannya menelepon polisi dan menuduhnya sebagai "orang jahat", serta melihat Helen yang terduduk di tanah, dengan mata berkaca-kaca, tetapi menyunggingkan senyum provokatif ke arahnya.

Seluruh tubuhnya terasa sedingin es dan tidak bisa digerakkan, seolah-olah dia sedang terjebak di dalam sebuah mimpi buruk yang tidak masuk akal sekaligus kejam.

Polisi segera tiba di lokasi dan mereka semua dibawa ke kantor polisi.

Kedua anak itu tampak bergelayut manja di dekat Helen, saling bersahutan mengadukan "perbuatan jahat" Geisha kepada polisi.

Sementara itu, Helen dengan mata yang merah, menangis sesenggukan, tampak rapuh dan seolah telah mendapat ketidakadilan yang luar biasa, tetapi mencoba untuk tetap bertahan.

Geisha duduk termangu di sisi lain. Menyaksikan adegan konyol di depannya, dia hanya bisa merasakan kehampaan di hatinya yang kian membesar.

Tidak lama berselang, terdengar keributan di depan pintu masuk kantor polisi.

Shane melangkah masuk dengan tergesa-gesa, didampingi oleh dua orang pengawal.

Dia mengenakan setelan jas mewah pesanan khusus. Wajah tampannya menyiratkan kelelahan setelah seharian bekerja, tetapi ekspresinya lebih didominasi oleh rasa gelisah dan tidak senang.

Shane mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tatapannya sempat tertuju sejenak pada wajah pucat Geisha, sebelum akhirnya beralih pada Helen yang sedang menangis dan kedua anaknya. Dahinya seketika berkerut.

Dia berbicara setengah berbisik selama beberapa saat dengan polisi yang berjaga, lalu menunjukkan kartu identitasnya. Sikap polisi tersebut langsung berubah menjadi sangat hormat sambil mengangguk berkali-kali. "Baik, Pak Shane, kami mengerti. Ini hanya salah paham, Anda sudah boleh membawa mereka pulang."

"Ayah!"

"Ayah! Ibu dorong Bibi Helen! Terus Ibu juga seret Bibi Helen ke kantor polisi!"

Kedua anak itu langsung menghambur ke pelukan Shane, berebut untuk mengadu.

Helen juga ikut berdiri, menatap Shane dengan takut-takut. Lingkar matanya makin memerah, tetapi dia menggigit bibir tanpa bersuara, hanya menangis dalam diam.

Shane menepuk-nepuk kedua anaknya untuk menenangkan, lalu melirik Helen sekilas dengan tatapan yang rumit.

Kemudian, dia berjalan ke hadapan Geisha. Meski suaranya sengaja direndahkan, nada kesal dan sikap menyalahkannya terdengar jelas.

"Geisha, kamu bikin ribut apa lagi sih? Aku baru aja selesai rapat video lintas negara, capeknya setengah mati, tapi malah dapat telepon yang bilang kalau kamu mukul orang sampai masuk kantor polisi? Bahkan di depan anak-anak lagi?"

Geisha mendongak, menatap wajah yang terasa familier sekaligus asing ini.

Dulu, wajah ini dipenuhi rasa cinta dan kelembutan untuknya. Sekarang, yang tersisa hanya rasa tidak sabar dan tuduhan.

"Aku bikin ribut?" Geisha menyunggingkan senyum, sebuah senyuman yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. "Shane, bukannya harusnya kamu yang kasih penjelasan ke aku? Bukannya dulu kamu bersumpah bilang sudah mengusir Helen pergi? Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa anak-anak manggil dia Ibu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status