分享

Bab 3

作者: Honey
"Adik-adik, Ibu kalian lukanya lebih parah. Kemungkinan ada pendarahan di kepalanya, harus segera diselamatkan sekarang juga!"

"Aku nggak peduli! Pokoknya selamatkan Bibi Helen dulu!" Cindy juga ikut berteriak histeris. "Selamatkan Bibi Helen dulu!"

Perawat tersebut tampak sangat serbasalah.

Di saat itulah, suara Shane yang berat dan serak terdengar, membawa sebuah keputusan mutlak yang tidak boleh dibantah.

"Bawa Nona Helen dulu."

"Tapi, Pak Shane, istri Anda …."

"Lakukan saja apa yang aku bilang! Ambulans berikutnya bakal segera sampai." Suara Shane mendadak meninggi, penuh dengan rasa gelisah dan nada perintah.

Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa dan tandu pun diangkat pergi.

Geisha mengerahkan seluruh sisa tenaga terakhirnya, mencoba membuka sedikit matanya yang sudah tertutup oleh darah.

Dalam pandangannya yang kabur, dia melihat Shane sedang menggendong Helen yang pingsan. Dengan dikerumuni oleh kedua anak mereka, Shane mengikuti tandu tersebut dan ikut naik ke dalam ambulans.

Meninggalkan dirinya sendirian di lokasi kecelakaan.

Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam ke dalam kegelapan, dia tiba-tiba teringat kejadian di masa lalu yang sudah sangat lama.

Suatu kali, dia tidak sengaja mengiris jarinya saat sedang memotong buah. Padahal itu cuma luka kecil, tetapi Shane sangat panik sampai langsung meninggalkan kontrak bernilai puluhan miliar yang sedang dikerjakannya. Shane buru-buru mengantarnya ke rumah sakit untuk membersihkan dan membalut luka itu. Sepanjang jalan dahi pria itu bertaut rapat, tidak henti-hentinya bertanya, "Sakit nggak?"

Ada juga momen lain saat anak-anak masih kecil. Shane memeluk mereka, lalu menunjuk ke arahnya sambil berkata, "Dimas, Cindy, ingat ya, ini Ibu kalian. Kalian jagoan dan putri kecil Ayah, kalau sudah besar nanti kita harus bareng-bareng jagain Ibu, paham?"

Saat itu, mereka mengangguk dengan polos sembari menghambur ke pelukannya, lalu berkata dengan suara khas anak-anak yang menggemaskan, "Kami akan jagain Ibu!"

Akan tetapi, sekarang?

Mereka justru menghadang ambulans, mendesak petugas untuk menyelamatkan si "Bibi Helen" terlebih dahulu.

Lalu, ayah mereka, pria yang pernah bersumpah akan menggunakan nyawanya untuk melindungi dirinya, memilih dengan tangannya sendiri untuk menyelamatkan wanita lain terlebih dahulu.

Membiarkan Geisha terbaring di sana sampai kehabisan darah.

Ternyata, hati manusia benar-benar bisa berubah.

Cinta ... benar-benar bisa menghilang.

Saat terbangun kembali, dia sudah berada di rumah sakit.

Geisha perlahan-lahan membuka matanya, lalu mendapati Shane dan kedua anak mereka sedang berjaga di samping ranjang pasien.

Melihat dirinya tersadar, Shane tampak bernapas lega. "Geisha, kamu sudah sadar? Gimana keadaanmu? Ada yang sakit?"

Perhatian dari Shane saat ini terdengar begitu sangat ironis dan menjijikkan di telinga Geisha.

"Waktu itu ... kamu nggak milih buat nyelametin aku. Sekarang, buat apa kamu datang dan pura-pura peduli?"

Ekspresi di wajah Shane seketika membeku. "Kondisi fisik Helen lemah, dia juga pingsan. Situasinya darurat banget. Aku cuma ... mempertimbangkan semuanya dan mengambil keputusan yang paling aman. Geisha, aku harap kamu bisa mengerti."

Mengerti?

Apa yang harus dia mengerti?

Mengerti fakta bahwa Shane mencampakkannya di lokasi kecelakaan hingga hampir mati, demi menyelamatkan wanita yang sebenarnya hanya "luka ringan" dan "pingsan" itu?

Di saat bersamaan, seorang perawat mengetuk pintu lalu masuk ke ruangan. "Pak Shane, Nona Helen sudah sadar. Kondisi emosinya agak nggak stabil dan dari tadi terus-menerus mencari Anda."

Shane langsung beranjak berdiri. "Geisha, kamu istirahat yang baik ya. Aku ... mau lihat kondisinya dulu sebentar. Dimas, Cindy, kalian tetap di sini buat nemenin Ibu."

Begitu selesai berbicara, dia pun bergegas keluar meninggalkan ruang rawat.

Meskipun kedua anak itu tetap tinggal di sana, pikiran mereka jelas-jelas sedang melayang ke tempat lain.

Dimas terus-menerus melirik ke arah pintu, sementara Cindy tampak asyik mengutak-atik jam tangan pintarnya sambil bergumam pelan, "Aku ingin tahu gimana keadaan Bibi Helen sekarang."

Melihat gelagat mereka berdua, hati Geisha terasa sesak. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya, "Kalau ... kalau Ibu sama Ayah cerai, kalian bakal milih ikut siapa?"

Kedua anak itu serentak mendongak. Mereka sempat terpaku sejenak.

Mata Dimas langsung berbinar terlebih dahulu. "Cerai? Apa itu artinya Ibu sama Ayah bakal pisah dan nggak tinggal serumah lagi?"

Cindy juga menyahut dengan penuh semangat, "Terus, apa itu berarti Ayah bisa bersama Bibi Helen?"

Tanpa menunggu jawaban dari Geisha, Dimas sudah memotong pembicaraan dengan cepat, "Kalau gitu, kami jelas mau ikut Ayah! Soalnya kalau ikut Ayah, kami bisa ketemu sama Bibi Helen setiap hari!"

Cindy mengangguk dengan mantap. "Iya! Aku mau ikut Ayah sama Bibi Helen!"

Setiap kata yang keluar bagaikan hantaman palu yang sangat berat, menghancurkan sisa-sisa hati Geisha yang memang sudah hancur berkeping-keping.

Dia menatap kedua nyawa kecil di hadapannya yang dulu pernah dia kandung dan lahirkan dari tubuhnya sendiri dengan rasa tidak percaya, suaranya bergetar hebat.

"Jadi, dibanding Ibu, kalian lebih suka sama Bibi Helen, ya?"

"Ya iyalah!" Dimas menyahut spontan. "Bibi Helen mau nemenin kami main Lego, sering ngajak kami ke taman hiburan. Kalau Ibu? Ibu selalu bilang nanti tunggu Ibu selesai kerja, tapi kerjaan Ibu nggak pernah ada habisnya!"

Cindy juga menambahkan dengan suara pelan, "Bibi Helen juga suka milihin gaun cantik buat aku, sering ngasih aku camilan, sama ngebolehin nonton TV. Kalau Ibu selalu nyuruh aku pakai baju tebal dan nggak ngebolehin aku makan kripik ...."

Mereka berdua merinci segala kebaikan Helen, sekaligus menjabarkan segala kekurangan dirinya sebagai ibu kandung.

Mendengar semua itu, hati Geisha perlahan-lahan tenggelam ke dalam dasar es yang paling dingin.

Ternyata, di saat dia sedang kelelahan setengah mati demi membanting tulang untuk keluarga dan menjaga keseimbangan kariernya, anak-anaknya justru sudah lama direbut dan dijinakkan oleh wanita lain lewat kebaikan yang penuh dengan siasat.

Tepat di saat itu, Cindy menarik-narik ujung lengan baju kakaknya sambil berbisik pelan, "Kak, Ayah 'kan sendirian di sana, nggak tahu bisa jagain Bibi Helen dengan benar apa nggak. Aku agak khawatir, mending kita pergi lihat Bibi Helen saja, yuk? Lagian, Ibu juga udah nggak apa-apa."

Dimas langsung mengangguk setuju. "Aku juga khawatir sama Bibi Helen! Ayo, kita cepat ke sana!"

Begitu selesai berbicara, kedua anak itu langsung bersiap-siap berlari ke luar kamar.

Akan tetapi, saat balik badan, Dimas tidak sengaja menyenggol teko listrik berisi air panas yang ada di atas nakas samping tempat tidur!

Teko itu terguling dan air mendidih di dalamnya langsung tumpah, menyiram seluruh kaki Geisha yang hanya tertutup selimut tipis!

"Aah!" Rasa sakit yang luar biasa akibat luka bakar itu membuat Geisha menjerit histeris, wajahnya seketika pucat pasi!

Kedua anak itu terkejut oleh insiden mendadak ini. Mereka menoleh dan melihat Geisha yang sedang kesakitan.

Cindy bertanya dengan suara lirih, "Kak, gimana ini? Ibu kesiram air panas."

Dimas melirik sekilas, lalu menggandeng tangan adiknya erat-erat. "Cuma kena air panas dikit, nggak apa-apa kok. Ayo cepat, Bibi Helen lebih butuh kita!"

Begitu selesai berbicara, dia benar-benar menarik Cindy, yang sebenarnya masih menoleh ke belakang beberapa kali, dan berlari keluar dari kamar rawat tanpa berbalik lagi.

Geisha gemetaran hebat menahan rasa sakit, keringat dingin seketika membanjiri dahinya.

Dia hanya bisa mengulurkan tangannya dengan susah payah untuk menekan tombol darurat di samping ranjang.

Tak lama kemudian, seorang perawat bergegas datang. Begitu melihat kondisinya, perawat itu tersentak ngeri dan langsung memanggil dokter untuk segera menanganinya.

Membersihkan lepuhan kulit, mengoleskan obat, hingga membalut lukanya.

Sepanjang proses tersebut, Geisha terus menggertakkan giginya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, hanya air matanya yang mengalir deras dalam keheningan.

Sembari mengobati lukanya, perawat itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela napas. "Nona Geisha, kok sama sekali nggak ada orang yang nemenin atau jagain Anda di sini? Luka bakar karena air mendidih ini nggak bisa disepelekan lho, kalau sampai infeksi bisa repot nanti."

Geisha memejamkan mata, memilih untuk tetap membisu.

Perawat itu kembali mengoceh, "Aduh, beda banget sama Nona Helen di kamar VIP sebelah. Dia juga dibawa ke sini karena kecelakaan. Padahal cuma luka ringan, tapi suami sama anak-anaknya terus-menerus ngejagain dia, nggak mau pergi selangkah pun, kelihatan panik banget. Bener-bener ya, nasib orang bisa beda jauh begini."

Geisha tetap tidak menyahut. Dia hanya tertawa kecil yang terdengar sangat parau, sementara air matanya justru mengalir kian deras.

Setelah perawat itu pergi, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kamar rawat.

Geisha berbaring di ranjang pasien sembari menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Sorot matanya perlahan-lahan berubah menjadi dingin dan penuh tekad.

Dia merogoh ponselnya, lalu menghubungi nomor telepon atasannya.

"Pak Jonas, ini aku, Geisha Roland."

"Eh, Geisha? Gimana kondisimu, udah mendingan? Aku dengar kamu habis kecelakaan mobil. Istirahat yang benar ya, urusan pekerjaan jangan dipikirin dulu ...."

"Pak Jonas." Geisha memotong ucapannya, suaranya terdengar datar tanpa riak emosi sedikit pun. "Aku ingin mengajukan permohonan untuk menjadi wartawan perang."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status