Share

Bab 8

Author: Honey
Bunuh diri?

Geisha mengangkat kepalanya perlahan, menatap pria yang sedang mengamuk di hadapannya. Dia hanya merasa semua ini sangatlah tidak masuk akal dan begitu menggelikan.

Sudut bibir Geisha sedikit terangkat, suaranya terdengar begitu tenang tanpa riak emosi sedikit pun. "Pertama, aku nggak menjualnya ke wartawan gosip. Kedua, video itu dia sendiri yang mengunggahnya di status media sosial. Kalau memang berani mengunggahnya, kenapa harus takut diomongin orang?"

"Kamu!" Urat-urat di pelipis Shane berdenyut, saking geramnya melihat sikap Geisha yang sama sekali tidak mempan dinasihati. "Geisha! Apa kamu memang baru puas kalau dia mati? Helen itu polos dan baik hati, dia sama sekali nggak mengerti permainan licik seperti itu! Dia cuma buat postingan biasa di media sosial, tapi kamu! Kamu yang berhati jahat sampai membocorkan video itu! Sekarang, semua orang mencacinya sebagai selingkuhan! Setelah ini, bagaimana dia bisa menghadapi orang lain lagi?"

Geisha menatapnya dengan dingin. "Dia selingkuhan atau bukan, bukannya kamu sendiri yang paling tahu?"

"Aku dan dia itu tidak bersalah!" Shane menggeram rendah. "Aku sudah bilang, sejak kejadian itu aku nggak pernah menyentuh dia lagi! Geisha, sebenarnya sampai kapan kamu mau terus-terusan mengungkit masalah ini?"

"Masalah ini sudah terlanjur besar dan merugikan nama baik Helen. Aku sudah menyiapkan konferensi pers. Sekarang juga kamu harus datang ke sana dan minta maaf kepadanya di depan publik! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa dapetin barang ini lagi!"

Pria itu mengeluarkan ponsel lalu memperlihatkan sebuah foto di depan wajah Geisha.

Itu adalah sebuah bros batu alam peninggalan ibunya, warisan dari sang nenek, sekaligus benda yang paling berharga bagi ibunya semasa hidup yang selama ini tersimpan aman di dalam brankas bank.

Suara Shane terdengar sangat kejam saat berkata, "Kalau kamu nggak datang ke konferensi pers dan mengikuti apa yang aku mau untuk klarifikasi serta meminta maaf, maka bros ini nggak akan pernah bisa kamu lihat lagi seumur hidupmu. Aku nggak main-main dengan ucapanku."

Geisha menatap bros yang sangat familier di dalam foto itu, seluruh tubuhnya terasa dingin, seolah-olah jatuh ke dalam gua es.

Pria ini sampai tega menggunakan barang peninggalan ibunya untuk mengancamnya?

Hanya demi wanita lain ....

"Shane ...." Suaranya terdengar parau dan bergetar hebat akibat rasa sakit yang luar biasa dan syok. "Kamu masih punya hati nggak, sih?"

Shane memalingkan muka, tetapi nada bicaranya tetap terdengar keras kepala dan menuntut. "Pilihan ada di tanganmu. Pergi minta maaf dan bros ini kukembalikan. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya."

Geisha menatap fitur wajah pria itu yang tampak acuh tak acuh. Menatap pria yang telah dicintainya selama separuh hidupnya. Percikan api terakhir yang tersisa di dalam hatinya kini telah padam sepenuhnya, tidak menyisakan apa pun selain tumpukan abu yang dingin.

"Oke." Dia mendengar dirinya sendiri menyahut, suaranya terdengar begitu tenang hingga terasa mengerikan. "Aku akan pergi."

...

Konferensi pers tersebut digelar di aula pertemuan gedung Grup Juan.

Bagian bawah panggung sudah dipadati oleh para wartawan. Kamera mereka yang besar langsung dibidikkan tepat ke arah Geisha yang berada di atas panggung.

Geisha mengenakan pakaian yang polos dan sederhana, wajahnya tampak pucat, tatapan matanya kosong. Dia membaca pernyataan yang disiapkan oleh asisten Shane, kata demi kata.

"Terkait rumor nggak benar mengenai Nona Helen yang beredar di dunia maya belakangan ini, aku di sini ingin mengklarifikasi secara resmi kalau Nona Helen bukanlah selingkuhan. Hubungan dia dengan suamiku, Pak Shane, murni hanya sebatas teman biasa."

"Semua rumor ini muncul semata-mata karena rasa cemburu pribadiku yang membabi buta. Aku telah salah paham menilai hubungan mereka dan menyebarkan informasi yang nggak benar, hingga membuat nama baik Nona Helen sangat dirugikan."

"Aku merasa sangat bersalah dan menyesal. Melalui kesempatan ini, aku ingin menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada Nona Helen beserta keluarganya. Aku berharap semua orang nggak lagi menyebarkan informasi palsu ini dan mengembalikan ketenangan hidupnya."

Suara Geisha terdengar mekanis dan datar, persis seperti orang yang sedang membacakan surat putusan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Lampu kilat kamera terus menyala tanpa henti dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan terdengar sangat tajam dan menyudutkan.

"Nona Geisha, apa Anda mengakui kalau Anda memfitnah Nona Helen cuma karena merasa cemburu?"

"Apa pernikahan Anda dan Pak Shane sebenarnya sudah lama hancur dan tinggal status di atas kertas saja?"

"Apa permohonan maaf Anda kali ini murni karena Anda tulus menyesal, atau karena Anda berada di bawah tekanan?"

Geisha tetap menunduk. Dia sama sekali tidak merespons satu pun pertanyaan itu dan hanya terus mengulang-ulang isi teks yang telah disiapkan.

Konferensi pers itu akhirnya selesai juga.

Di bawah kawalan ketat para pengawal, Geisha terus menundukkan kepalanya sambil berjalan cepat menuju tempat parkir.

Akan tetapi, baru saja dia melangkah keluar dari gedung, kerumunan orang yang berkumpul di luar mendadak langsung meledak dalam kericuhan!

"Ini dia orangnya! Istri sah yang berhati busuk itu!"

"Cuma gara-gara cemburu buta, dia tega memfitnah orang lain sebagai selingkuhan!"

"Cuih! Nggak tahu malu!"

Sayuran busuk, telur busuk, bahkan hingga batu-batu kecil langsung dilemparkan ke tubuh serta wajahnya bertubi-tubi!

Geisha terhuyung mundur akibat lemparan itu. Rambut dan pakaiannya kini telah penuh dengan noda-noda kotor yang menjijikkan.

Dia mendongak. Di tengah kerumunan massa yang kacau itu, dia justru melihat dua pasang wajah kecil yang sangat familier!

Itu Dimas dan Cindy!

Mereka berdua ikut membaur di dalam kerumunan, tangan mereka juga sedang menggenggam sesuatu, dan melemparkannya sekuat tenaga tepat ke arahnya!

Batu yang dilemparkan oleh Dimas ternyata adalah batu yang tajam!

Plak!

Batu kecil itu tepat menghantam dahi Geisha!

Rasa sakit yang hebat langsung menjalar, cairan hangat seketika mengalir keluar dan mengaburkan pandangannya.

Geisha berdiri terpaku di tempatnya, menatap kedua anak yang berada tidak jauh darinya itu. Kedua anak yang wajahnya dipenuhi rasa gembira dan kepuasan yang merasa telah menegakkan keadilan. Dia menatap mereka yang sedang melemparkan "senjata" ke arahnya. Di titik itu, hatinya benar-benar telah mati total.

Bahkan ikatan darah yang paling terakhir pun telah diputus sendiri oleh tangan mereka.

Pandangannya mendadak gelap, lalu tubuhnya ambruk begitu saja.

Saat membuka mata kembali, dia sudah berada di atas ranjang kamar tidur rumahnya.

Dahinya tampak terlilit kain kasa, menyisakan rasa nyeri yang berdenyut samar.

Shane berdiri di samping ranjang. Menyadari Geisha telah siuman, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun, dia hanya berkata dengan datar, "Aku berharap kali ini kamu benar-benar bisa belajar dari kesalahan."

"Selama beberapa waktu ke depan, aku nggak akan pulang ke rumah. Kondisi Helen masih belum stabil, jadi aku harus menemaninya di rumah sakit."

Shane berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Ini utangmu padanya. Sudah sepatutnya aku yang pergi untuk menebusnya."

Setelah selesai bicara, dia berbalik, tidak lagi melirik ke arah Geisha, dan bersiap untuk pergi.

Di dalam kamar tidur, kini hanya tersisa Geisha seorang diri, ditemani oleh keheningan yang memenuhi seluruh ruangan.

Dia berbaring dalam diam, tidak ada air mata, juga tidak ada kemarahan.

Layar ponselnya tiba-tiba menyala.

Itu adalah pesan yang dikirim oleh pengacaranya: [Nona Geisha, seluruh prosedur perceraian Anda sudah selesai diproses. Akta cerai juga sudah dikirim ke alamat yang Anda berikan sesuai permintaan. Diperkirakan akan tiba sore ini.]

Batu besar yang selama ini menekan dadanya, seketika runtuh dan hilang tanpa bekas.

Dia bangkit dari ranjang secara perlahan, berjalan ke dekat jendela, lalu menatap cerahnya sinar matahari di luar sana.

Sore harinya, paket itu pun tiba tepat waktu.

Dia membuka amplop dokumen tersebut. Di dalamnya terdapat dua lembar akta berwarna merah.

Dia mengambil akta yang menjadi miliknya, membuka lembarannya, lalu menatap kata bertuliskan [Akta Cerai] yang tertera di sana, lengkap dengan namanya dan nama Shane yang tertulis berdampingan. Ujung jarinya bergetar sedikit.

Kemudian, dia meletakkan akta milik Shane perlahan di atas meja nakas samping ranjang kamar tidur.

Tepat di sebelahnya, ada koper yang sejak lama sudah dia kemasi.

Hari ini kebetulan adalah akhir bulan.

Hari di mana dia harus berangkat menuju medan perang.

Tanpa ada kata perpisahan, tanpa penyesalan.

Dia mengambil kopernya, menatap tempat yang menampung seluruh cinta dan kebenciannya untuk terakhir kali.

Setelah itu, dia berbalik dan menutup pintu.

Mengunci seluruh masa lalunya rapat-rapat di belakang sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status