Share

Bab 3

Author: Okta
Karena kembali "melanggar aturan", Tiwi dibawa kembali ke kediaman Keluarga Baskara untuk melanjutkan hukumannya. Setiap kali dia pingsan karena tak tahan sakit, dia akan dibangunkan dengan siraman air dingin, lalu siksaan dilanjutkan.

Dalam keadaan setengah sadar, siklus itu terus berulang.

Baru saat fajar menyingsing dan Raka datang, siksaan ini akhirnya berakhir.

"Bawa aku ke rumah sakit."

Wajah Tiwi pucat pasi, tubuhnya goyah tak berdaya.

Pakaian yang dia kenakan robek berantakan, memperlihatkan daging yang hancur dan darah yang masih merembes keluar.

"Boleh. Tapi sebelum ke rumah sakit, kamu harus tanggung dulu konsekuensi dari perbuatanmu."

"Maksudnya?"

Tiwi menatap sosok tinggi Raka, firasat buruk tiba-tiba menyelimutinya.

Detik berikutnya, beberapa pengawal berpakaian hitam masuk ke dalam ruangan, menatapnya dengan tatapan mengancam.

Tatapan Tiwi bergetar. Sebuah pikiran absurd yang tak masuk akal tiba-tiba menyergapnya.

Raka menyalakan rokoknya, lalu berkata dengan nada santai.

"Berita soal foto itu udah terlalu lama viral di internet. Meisya sekarang nggak berani keluar rumah. Harus ada skandal yang lebih heboh buat ngalihin perhatian publik, baru berita fotonya bisa ditenggelamkan."

"Semua ini gara-gara kamu, jadi kamu harus tanggung jawab sampai akhir. Terserah pakai cara apa. Lagian ...." Raka menjeda ucapannya, "Kamu masih punya aku sebagai sandaran. Mau gimana pun, kamu bakal hidup berkecukupan seumur hidup. Meisya beda, dia cuma punya dirinya sendiri."

Jadi, apa hubungannya semua ini dengannya? Kalau Meisya dalam masalah, dia yang harus jadi tumbal, begitu?!

Tiwi tak bisa menahan diri lagi. Dia meronta dan berteriak histeris.

"Udah kubilang, foto itu bukan aku yang sebarin! Raka, kamu nggak bisa perlakuin aku kayak gini!"

Namun setelah dihajar semalaman, tubuhnya lemah tak bertenaga. Mana mungkin dia punya sisa tenaga untuk melawan.

Para pengawal langsung menyerbu, hingga membuat tubuhnya yang penuh luka terekspos di depan semua orang.

Air mata meluncur turun tanpa suara. Tiwi perlahan menutup matanya.

Dia sudah mencintai pria tak tahu balas budi ini selama lima tahun. Menanggung tak terhitung hukuman keluarga dan cambukan demi pria itu, tetapi akhirnya malah berakhir tragis seperti ini.

Sungguh konyol!

Tiwi bahkan tidak ingat bagaimana dia bisa dibawa ke rumah sakit.

Saat membuka mata lagi, yang terlihat adalah langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih dan bau disinfektan yang menyengat.

"Udah sadar?"

"Nih, minum. Bibirmu sampai pecah-pecah tuh."

Raka menyandarkan diri dengan rokok terselip di bibir, nadanya terdengar santai dan malas.

Tiwi menunduk, menerima botol air mineral yang dilemparkan Raka, lalu membukanya dan minum beberapa teguk.

Raka menatap wajah Tiwi sejenak dengan tatapan menerka-nerka, lalu tiba-tiba buka suara.

"Tiwi, kamu tuh lemah banget, mental juga gampang hancur. Dengan kondisi kamu yang kayak gini, kok masih aja suka ngelakuin hal-hal di belakang yang bikin orang muak? Buat apa sih? Toh, ujung-ujungnya kamu juga yang harus nanggung akibatnya."

Tiwi terhenti minumnya, suaranya terdengar serak.

"Foto pribadi itu bukan aku yang menyebarkannya."

"Udahlah, aku tahu kamu itu seperti apa," nada Raka sinis. "Udah dihajar, baju juga udah dibuka paksa. Lagian, aku nggak bakal makan kamu kok. Ngaku aja kenapa sih?"

Tiwi menyunggingkan senyum kecut, tak mau repot-repot membela diri lagi.

Ternyata di mata pria itu, dia cuma perempuan rendahan yang licik.

Tiba-tiba, ponsel Raka berdering. Panggilan dari Meisya. Pria itu langsung mengangkatnya dalam sekejap.

Berbeda sekali sama dulu kalau Tiwi yang menelepon. Ditelepon sepuluh kali pun belum tentu diangkat sekali.

Tiwi menatap lantai, diam seribu bahasa.

"Kenapa? Kamu mau masak? Tunggu aku di rumah ya. Jangan ke mana-mana, biar aku yang masakin."

Nadanya tetap malas-malasan, tetapi kalau dibandingkan saat bicara pada Tiwi, terdengar jauh lebih lembut.

Setelah menutup telepon, bahkan tanpa menunggu Tiwi bereaksi, dia langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.

Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali.

Tiwi menatap ambang pintu yang kini kosong. Dadanya terasa sesak, seolah jantungnya disumpal dengan segumpal kapas besar, membuatnya sulit bernapas.

Masak? Mereka sudah menikah selama lima tahun. Bahkan saat hubungan mereka sedang baik-baiknya, Raka tak pernah sekali pun memasakkan makanan untuknya. Jangankan memasak sungguhan, bahkan untuk menemani Tiwi bermain gim memasak yang disukainya saja, Raka enggan.

Namun sekarang ....

Tuan Muda Raka yang biasa tidak pernah menyentuh urusan dapur, ternyata sudi repot-repot memasak untuk wanita yang disukainya?

Lima tahun pengabdian dan kerendahan diri yang Tiwi lakukan, ternyata tidak ada artinya sama sekali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 14

    Jari-jari Tiwi yang lentik mencengkeram rambut pria itu. Wajahnya merona merah, suaranya terdengar pelan nyaris tak terdengar."Kamu bisa langsung ...."Pria itu terkekeh pelan, lalu mencium bibirnya. "Nggak bisa. Harus tunggu sampai kita nikah."Di hari-hari berikutnya, pria itu seolah tak memiliki pekerjaan. Setiap hari dia menempel di sisi Tiwi, mengikutinya ke mana pun wanita itu pergi.Mereka mendiskusikan detail pernikahan bersama dan mendekorasi rumah baru mereka berdua.Ciuman selamat pagi dan selamat malam setiap hari, kejutan yang selalu menanti saat dia pulang, serta lampu hangat yang selalu menyala khusus untuknya.Semua itu adalah hal-hal yang belum pernah Tiwi rasakan sebelumnya.Saat menikah dengan Raka dulu, karena Keluarga Surendra tidak menyukainya sebagai menantu, mereka sudah memberinya peringatan bahkan sebelum pernikahan. Seluruh urusan pernikahan diurus oleh keluarga pria itu. Dia tak diberi ruang untuk ikut campur, bahkan sempat dimarahi tanpa alasan yang jelas.

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 13

    Setelah mengucapkan itu, Tiwi berbalik dan pergi.Namun, tepat saat dia berbalik, Raka menariknya dengan kasar, sambil menggertakkan gigi."Jangan harap!"Detik berikutnya, "Dor!" Suara tembakan menggelegar. Raka tak kuasa menahan tubuhnya dan terpaksa berlutut.Dia menunduk, baru menyadari kakinya tertembak, darah seketika membasahi celananya.Sakit. Sangat sakit.Raka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga konglomerat yang serba mewah sejak kecil. Jangankan tertembak, dipukul orang saja tidak pernah.Wajahnya pucat pasi, cengkeramannya pada pergelangan tangan Tiwi melemah sejenak karena tak tahan menahan sakit. Memanfaatkan celah itu, Tiwi berhasil melepaskan diri.Eric menurunkan senjatanya dengan ekspresi datar, lalu berkata."Ini peringatan terakhirku. Kamu udah bikin kekasihku ketakutan."Tiwi bahkan tak melirik Raka, juga tak peduli seberapa parah lukanya. Dia malah langsung berjalan menuju pria itu.Urat-urat di pelipis Raka menonjol. Dia berteriak dengan mata melotot penuh am

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 12

    Kemunculan Raka seketika membuat seluruh ruangan hening, disusul oleh bisik-bisikan di antara para tamu."Gila apa, cewek yang ditembak Eric ternyata udah bersuami?""Eh, aku ingat. Cewek yang ditembak Eric namanya Tiwi, 'kan? Dulu aku pernah lihat foto bugilnya viral.""Ya ampun, astaga, kok ceritanya jadi sinetron begini sih.""Kok Eric bisa suka sama cewek kayak dia, sih? Aku kalah saing di mana, ya?""Kalahnya mungkin karena kamu nggak seliar dia, kali."Cemoohan bernada sindiran dari beberapa orang itu membuat senyum di wajah Tiwi perlahan memudar.Ekspresi Eric ikut mendingin. Dia hanya melirik ke arah sana dengan tatapan datar. Beberapa prajurit berseragam militer diam-diam membawa pergi orang-orang yang tadi banyak bicara. "Pak, apa yang mau kamu lakukan pada kekasihku?"Raka mengabaikannya. Dia tetap menatap Tiwi, berkata dengan nada melamun."Kemari, Sayang. Aku memanggilmu."Saat ini, rasa terkejut yang mengguncang hati Tiwi tadi perlahan memudar, berganti dengan ketenangan

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 11

    Kalimatnya belum selesai, Raka sudah membantingkan ponselnya keras-keras ke wajah Meisya."Masih berani nanya kenapa?"Begitu melihat layar ponsel yang terlempar itu, Meisya langsung paham semuanya. Tatapannya bergetar, buru-buru hendak meraih tangan Raka."Raka, ini salah paham. Percaya sama aku. Aku bisa jelasin semuanya.""Cukup!" Raka menepisnya dengan tidak sabar. "Kamu pikir mempermainkanku itu seru, ya?""Kamu bener-bener bikin aku muak."Setelah itu, Raka berbalik dengan jengkel, lalu melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para pengawal untuk bertindak. Segala siksaan dan penderitaan yang dulu dialami Tiwi, kini ditimpakan seluruhnya pada Meisya.Jeritan pilu menggema di depan pintu bar."Aku salah, Raka. Aku benar-benar salah." Meisya merangkak mendekat, berusaha meraih kaki Raka sambil memohon ampun, suaranya serak. "Aku mohon, jangan pukul aku lagi ...."Namun, permohonan itu tak ada gunanya sama sekali. Yang menyambutnya justru hantaman tongkat besi yang lebih keras da

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 10

    Beberapa menit kemudian, Raka duduk di dalam mobil, mendengarkan laporan hasil penyelidikan dari seberang telepon."Pak Raka, Nyonya mengambil penerbangan pukul delapan pagi tadi, tujuan Negara Astina.""Sekarang dia di mana? Kalau belum keluar wilayah, hubungi ATC, suruh pesawatnya balik atau mendarat di bandara terdekat. Kalau udah keluar negeri, tangkap dia pas pesawatnya baru mendarat.""Sepertinya, pesawatnya sudah mendarat dari tadi, Pak." Suara asisten itu terdengar sedikit ragu, lalu melanjutkan, "Pak Raka, saya juga menemukan beberapa hal tentang Nyonya dan Nona Meisya. Apa Bapak mau melihatnya dulu?"Raka menjawab singkat."Kirim ke sini.""Baik, Pak."Sebuah dokumen dan beberapa video segera dikirimkan. Raka membukanya.Video pertama memperlihatkan Meisya yang sedang diam-diam memasang beberapa kamera tersembunyi di ruang tamu.Video kedua memperlihatkan Meisya yang berdiri bersama para penculik di atas kapal, menampar Tiwi, sambil melontarkan kata-kata keji dengan wajah pen

  • Kamu Tampak Mencintaiku, Tetapi Hatiku Telah Mati   Bab 9

    Setelah mendapatkan kunci kamar, Raka segera membuka pintu dan menggeledah seluruh ruangan.Kamar itu bersih dan rapi, tanpa jejak keberadaan Tiwi sedikit pun.Dia kembali menelepon Tiwi, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.Hingga saat dia mencoba mengirim pesan berupa tanda tanya, barulah dia menyadari bahwa pesannya juga tidak bisa terkirim.Karena Tiwi telah memblokirnya.Raka melihat pesannya gagal terkirim. Amarah di dadanya langsung meledak.Dia menendang kursi hingga terlempar. Wajahnya seketika dipenuhi amarah, sementara tekanan yang terpancar darinya begitu kuat hingga terasa mencekam. Tiwi berani memblokirnya? Dari mana dia berani melakukan itu? Setelah meninggalkan hotel, Raka pulang ke rumah.Di perjalanan, Meisya meneleponnya berkali-kali, tetapi semua panggilan itu Raka tolak mentah-mentah.Sesampainya di rumah, Raka menendang pintu kamar utama hingga terbuka lebar.Dia mendapati semua barang milik Tiwi telah raib. Bukan hanya itu, Tiwi juga membuang semua barang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status