LOGIN"Sebab kejadian yang menimpamu, Bu Elok yang disalahkan oleh kerabat kita. Karena dianggap nggak bisa menjagamu."Sambil menyeka air mata, Salsa mengangguk. "Maafkan aku, Pa, Bu Elok.""Ya, nggak apa-apa, Salsa," jawab Bu Elok sambil mengelus punggung gadis itu."Papa mengucapkan terima kasih pada Kimmy, karena sudah melahirkan Ravi yang lucu dan menggemaskan. Meski dengan jalan yang paling getir. Dan kamu Salsa, nggak usah berkecil hati. Kita akan menyayangi anakmu nanti tanpa membeda-bedakan. Kita rawat dan sayangi bersama-sama."Kamu dan Kimmy bisa kembali melanjutkan kuliah lagi. Berjalanlah dengan punggung tegak, nggak usah pedulikan apa anggapan orang. Biarkan mereka bicara apapun. Bersikaplah penuh percaya diri. Tapi bukan berarti sombong. Tapi bisa membawa diri."Salsa dan Kimmy mengangguk."Kami nggak lama di sini, Sa. Kamu harus segera mengambil keputusan. Kamu ikut pulang kami sekarang, atau Papa harus menjemput kamu bulan depan.""Pa, aku harus punya surat izin dari dokter
"Papa minta maaf karena nggak menjadi komunikator yang baik bagi kalian. Tapi satu hal yang pasti, Papa mencintai Mama Isa hingga napas terakhirnya, dan Papa menikahi Ibu Elok setelah Mama Isa tiada. "Bu Elok sempat menjauh karena bekerja waktu itu. Kami nggak pernah bertemu lagi, hingga satu kejadian mempertemukan kami di halte bus. Saat beliau baru pulang kerja dalam keadaan hujan."Kami ngobrol biasa dan Bu Elok bertanya bagaimana kabar anak-anak setelah mamanya tiada. Hanya begitu komunikasi kami. Dan Bu Elok bilang, kalau nggak akan melupakan utangnya pada Papa. Setelah itu kami nggak bertemu lagi hingga berbulan-bulan."Singkat cerita, beberapa bulan setelah Mama Isa tiada. Kami bertemu di sebuah minimarket. Bu Elok dalam keadaan sedih karena ada ancaman dari seseorang. Yang sebenarnya hanya sedang memanfaatkan kelemahannya saat Bu Elok dalam posisi memang sudah terpuruk saat itu. "Papa bilang padanya, bagaimana kalau kita menikah saja. Kita bisa menjaga anak-anak bersama-sama
KAMU YANG KUCINTAI- 75 Kejujuran Pak Fardhan 2"Apa kalian nggak penasaran, kenapa Papa sampai berani menggelontorkan uang sebanyak itu pada Bu Elok?" Pak Fardhan memandang anak-anaknya."Karena Papa pernah ditolong juga oleh Pak Heru. Sewaktu Papa terkena masalah. Walaupun bukan dalam bentuk dana," lanjut Pak Fardhan."Dunia bisnis itu yang nggak siap mental dan nggak adaptif bakal ketinggalan, kalah, atau bangkrut. Aturan bisnis itu keras. Arsel jelas sudah tahu, tapi Salsa dan Kimmy belum tahu. Pasar nggak peduli kamu baru mulai, modal pas-pasan, atau lagi banyak masalah. Dunia bisnis terus bekerja. Ada masalah sedikit, komplain lambat ditangani karena ada kendala teknis, bisa diviralkan. "Dan Papa pernah mengalaminya dulu. Hanya sebuah kesalahpahaman yang membuat urusan berkepanjangan. Menjadi ancaman, lalu Pak Heru yang menolong Papa mencarikan jalan keluar."Mendengar nama papanya disebut, air mata Kimmy semakin meleleh. Kesedihan dan rindu kembali menyesakkan dada. Arsel meng
[Kapan-kapan kita ketemuan, Kim. Aku kehilangan jejakmu waktu itu. Eh ternyata kamu married.][Kim, kamu memberi kejutan pada kami. Selama ini kami percaya kamu sakit. Ternyata nikah sama pria keren. Tika sudah cerita pada kami.][Kim, kamu ini diam menghanyutkan, mendadak nikah dengan pria tajir dan punya anak.]Dan masih banyak lagi pesan demi pesan lainnya. Walaupun dari teman yang tak pernah akrab dengannya.Kimmy belum tahu ada kabar lain, tentang adiknya Linda yang beranggapan Kimmy merebut kekasihnya Zareen. Dan gadis itu cerita pada beberapa temannya.🖤LS🖤Meski di luar sana hujan turun dengan derasnya, tapi tak mengurangi kehangatan kebersamaan di apartemennya Salsa. Malam itu mereka baru saja selesai makan bersama. Ravi sudah terlelap setelah kenyang minum susu."Malam ini ada yang ingin Papa sampaikan pada kalian bertiga." Pak Fardhan menatap Arsel, Salsa, dan Kimmy satu per satu. Sorot matanya yang biasanya tajam dan penuh otoritas, malam ini tampak lebih melunak. "Ada
Tanpa pikir panjang, Salsa langsung mengangguk setuju. Mereka membicarakan rencana kepulangan Salsa. Bareng sekarang apa nanti dijemput lagi."Pa, aku rencananya mau mengajak Kimmy dan Ravi menginap di hotel saja selama di sini," ujar Arsel karena kamar di unit itu hanya ada dua. Namun Pak Fardhan segera menggeleng. "Nggak perlu ke hotel. Papa sudah meminta bantuan teman Papa untuk mencarikan sewa apartemen di unit lantai ini juga. Kebetulan unit sebelah ada yang kosong dan bisa disewa harian atau mingguan."Arsel mengangguk setuju, karena itu jauh lebih praktis. Dan hari itu hubungan keluarga yang pernah retak kini perlahan-lahan rapat kembali. Tidak ada lagi sekat antara anak tiri dan anak kandung, yang ada hanyalah kebersamaan setelah saling memaafkan.Malamnya mereka berjalan-jalan di Suria KLCC. Makan bersama, berbelanja. Menikmati suasana malam yang penuh kehangatan. Juga mengambil foto keluarga bersama. 🖤LS🖤"Dia pintar sekali nggak rewel seharian ini," ujar Kimmy sambil m
KAMU YANG KUCINTAI- 74 Kejujuran Pak Fardhan Dada Kimmy berdebar saat berdiri di samping Arsel ketika mereka berada di dalam lift yang bergerak naik ke lantai tujuh belas. Ini pertemuannya dengan sosok yang dulu pertama kali menyambutnya di rumah Pak Fardhan dengan tatapan penuh kebencian.Di pelukan Bu Elok, Ravi yang berusia tiga bulan tampak tenang, bola matanya yang jernih bergerak lincah memperhatikan lampu-lampu indikator lantai yang menyala bergantian. "Kita sudah di Malaysia, Sayang. Kita mau menyambangi Tante Salsa, ya," ucap Pak Fardhan lembut sambil mengusap puncak kepala cucunya. Bayi itu menatap sang opa. Begitu menggemaskan.Denting suara lift terdengar bersamaan dengan pintunya yang terbuka perlahan.Pak Fardhan melangkah keluar lebih dulu, diikuti Bu Elok yang mendekap Ravi. Di belakang mereka, Arsel menggandeng Kimmy sambil menarik koper.Mereka berhenti di depan sebuah pintu unit apartemen yang elegan. Belum sempat Pak Fardhan menelepon, daun pintu terbuka perlaha
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d







