MasukKimmy mengangguk samar. "Baiklah," jawabnya lirih. Daripada tetap di Pujon dan menjadi bahan tanda tanya para warga."Sebenarnya kalau ikut tinggal di apartemen bisa saja, Kim. Papa tidak mungkin pergi ke apartemen. Hanya Salsa yang mungkin datang ke sana.""Kenapa Papa nggak mungkin ke apartemen?"Arsel diam cukup lama. Seperti sedang mengenang sesuatu. Kemudian ia memandang istrinya. "Mamaku mengembuskan napas terakhirnya di apartemen." Suara Arsel serak. Hening. Ada luka di tatapan mata Arsel yang diam mematung. Kenyataan itu terlalu pahit sebenarnya. Menyesakkan dada jika mengingatnya. "Bukan di rumah sakit, Bang?""Mama sempat dirawat beberapa hari. Lalu beliau minta pulang. Namun tidak mau pulang ke rumah. Ingin ke apartemen. Abang yang menemaninya di sana selama tiga hari, lalu beliau ngedrop. Ketika Abang dan suster hendak membawanya ke rumah sakit, suster yang merawat Mama bilang kalau beliau telah tiada."Hati Kimmy ikut perih mendengarnya. Apalagi melihat suaminya begitu
"Apa dia akan membiarkan saya sendirian di sini? Besok kalau Bang Arsel datang, saya mau ngomong.""Kayaknya nggak bakalan diizinin, Mbak. Perjalanannya jauh. Kandungan Mbak sudah lima bulan, pasti Mas Arsel nggak tega. Dia tuh sayang banget sama Mbak Kimmy."Mendengar ucapan Mbak Asih, dada Kimmy berdesir. Terbayang wajah berahang tegas itu. "Anak ini sangat kuat. Nggak akan terjadi apa-apa kalau saya ajak perjalanan jauh," ujar Kimmy dengan senyum getir. "Nanti saya coba izin ke Bang Arsel. Kalau nggak diizinkan, apa akan membiarkan saya sendirian di sini. Sangat menyedihkan itu, Mbak. Belum lagi pasti banyak pertanyaan dari warga. Benar-benar saya akan dianggap sebagai wanita simpanan."Mbak Asih mengangguk-angguk. Sedih melihat majikan perempuannya.🖤LS🖤Jakarta ....Langit menyandarkan punggungnya setelah menutup laptop. Membiarkan kepalanya terkulai ke sandaran kursi, sementara jemarinya memijat pangkal hidung yang berdenyut. Tak sabar menunggu setelah lebaran dan membereskan
KAMU YANG KUCINTAI - 43 Menunggu Mobil Arsel berhenti di depan sebuah restoran bergaya kolonial yang anggun dan megah. Salah satu restoran ternama di kota Pahlawan. Di sanalah Arsel dan Zareen sepakat membawa tim untuk buka puasa bersama.Arsel keluar dari balik kemudi. Lalu melangkah lebar memasuki restoran. Dia pasti datang paling telat. Di dalam restoran semua meja sudah terisi pengunjung yang melakukan reservasi lebih awal.Di ruang area private, sebuah meja panjang sudah di atur. Piring-piring porselen putih bersih, gelas kristal yang berkilau di bawah pendar lampu gantung, serta serbet kain berwarna maroon yang terlipat kaku, semuanya tertata dengan presisi di atas meja. Di sana tim dari proyek real estate raksasa itu sudah berkumpul.Dua puluh empat orang tim inti yang terdiri dari para pemikir dan pelaksana tangguh. Ada para arsitek, insinyur sipil, Quantity Surveyor, konsultan legal, kontraktor dan sub-kontraktor duduk berbincang membahas progres konstruksi di lapangan yang
Matanya memang menatap kertas, tapi hatinya tertambat pada sosok pria yang kini hanya mengeja istilah-istilah properti.Dia bahagia dengan pertemuan ini. Namun di balik sikap tenang yang ia paksakan, bayangan tentang sosok wanita lain yang tempo hari diceritakan Linda kembali menjelma. Benarkah Arsel sudah memiliki pelabuhan baru? Benarkah ada wanita yang kini menempati posisi yang dulu ia banggakan?Arsel bukannya tidak peka. Ia bisa merasakan perhatian Zareen yang masih membekas, cara wanita itu mencuri pandang, atau bagaimana napas Zareen sedikit tercekat setiap kali mereka tak sengaja saling pandang. Namun Arsel tetap pada pendiriannya, profesionalisme. Ia tidak boleh memberikan harapan dan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka untuk gadis yang pernah ia lukai begitu dalam.Bagi Zareen pertemuan ini adalah siksaan yang indah. Ia mampu berhadapan dengan relasi bisnis paling alot sekalipun, tapi di depan Arsel benteng pertahanannya terkapar tanpa daya. Ia sangat mencintai pria it
Beberapa saat kemudian ...."Bang, aku mau ke kamar mandi dulu, ya.""Oke." Kimmy melepaskan pelukan suaminya. Lalu beringsut turun untuk mengambil baju dan memakainya. Kemudian keluar kamar. Arsel pun sama. Bangkit lantas mengenakan bajunya.Ia meraih ponsel dan menyalakan sebentar. Mengecek ada pesan masuk atau panggilan dari papanya. Ternyata tidak ada. Tapi sepertinya besok dia harus kembali ke Surabaya. Walaupun sebenarnya sangat berat hati. Bukankah masih sehari semalam lagi bisa bersama Kimmy.Ketika hendak memadamkan ponsel, ada pesan masuk dari sang papa.[Besok buka puasa di rumah lagi, Sel. Kita obrolin serius projek baru kamu. Di kantor kita nggak punya banyak kesempatan.]Arsel menghela napas panjang. Kalau banyak alasan, nanti malah dicurigai oleh papanya.[Oke, Pa.]Ditunggu beberapa menit, tidak ada balasan lagi dan ponsel kembali dimatikan.Kimmy masuk membawa air minum dan piring berisi kue yang dibeli tadi sore di bazar ramadhan. Diletakkannya piring di atas meja.
KAMU YANG KUCINTAI- 42 Cemburu "Bang, kamu nggak kasihan sama aku. Kita barusan selesai. Nanti anakmu penyet, loh," kata Kimmy menatap suaminya. Membuat Arsel terdiam sejenak. Padahal dia benar-benar tak bisa dibendung lagi. Rasa cemburu yang membakar dada, juga hasrat yang hampir mencapai puncaknya. Tiba-tiba celetukan Kimmy rasanya memicu tawa.Akhirnya Arsel surut. Dia membenahi selimut Kimmy lalu berbaring di sebelahnya."Kim, sebenarnya anak kita sangat kuat. Betapa stresnya kamu kala itu, pontang-panting hingga akhirnya sampai di sini. Apa kamu benar-benar menjaganya? Tidak, kan? Tapi dia tetap bertahan."Mungkin kamu juga pernah berharap supaya anak kita gugur."Kimmy diam. Arsel benar. Dia pernah mengharapkan itu. Supaya bisa kuliah lagi dan pergi jauh dari mereka setelah lulus nanti."Coba jawab jujur. Benar, kan?" Arsel menatap istrinya lekat-lekat. Dan Kimmy mengangguk pelan. Hati Arsel kembali perih. Namun dia mengerti dengan perasaan Kimmy saat itu. Pasti sangat bingung
"Aku tidak bisa, Pa. Hubungan kami sudah selesai."Pak Fardhan mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan geram yang meledak di dada. Baru kali ini Arsel benar-benar melawannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Atau kamu yang sebenarnya membawa Kimmy kabur dari rumah?"Senyum terbit di bibir Arsel.
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Ia menghapus setetes air mata yang jatuh tepat di atas kata 'Papa', menyisakan noda basah yang membuat tinta hitam itu sedikit luntur. Kemudian ia melanjutkan menulis."Seminggu lagi Kimmy nikah, Pa. Bukan di gedung mewah seperti yang dulu sering Kimmy ceritakan saat masih remaja. Kimmy akan menika
KAMU YANG KUCINTAI - 21 Hari HSeminggu lagi. Arsel bernapas lega sekaligus berdebar. Ia melonggarkan dasinya hingga nyaris terlepas, bersandar pada kursi kerjanya. Tora mengabari bahwa berkas yang dikirim ke KUA Batu sudah diproses. Selasa depan, sebuah janji pernikahan akan diikat.Pada umumnya







