Share

7. Melawan

last update publish date: 2026-02-24 15:11:14

KAMU YANG KUCINTAI

- 7 Melawan

"Lakukan, Kim," ujar Arsel. Membuat tangan Kimmy yang menodongkan pisau jadi gemetar.

"Kalian pikir aku bisa dikirim ke luar negeri lalu semuanya selesai? Kalian pikir dengan memberikan uang banyak akan menghapus kotoran yang kamu tempelkan di tubuhku?" suara dan tangan Kimmy gemetar hebat.

Arsel tetap bergeming, membiarkan ujung pisau itu tetap stabil di posisi mematikan.

"Lakukan apa yang kamu mau. Aku tidak akan melawan."

"Jangan menantangku!" Kimmy menjerit. Air matanya tumpah semakin deras. "Aku bisa melakukannya!"

"Ya, lakukan saja," ujar Arsel pasrah.

Hening. Air mata Kimmy terus mengalir tak terbendung.

"Kita bisa meni ...." Hupp. Ucapan Arsel terputus saat mata pisau maju satu inci. Dia mendesis lirih, tapi tetap tak bergeming. Bergeser sedikit pun tidak. Kimmy telah mendorong pisau sampai sedikit melukai Arsel hingga setitik darah merah muncul di permukaan kaos warna abu-abu yang dipakainya.

Gadis itu terengah-engah. Kemarahan dan kehancuran berperang di dalam dadanya. Ia menatap titik darah itu, lalu memandang wajah Arsel yang diam tanpa melawan. Darah itu merembes makin banyak membasahi kausnya.

Kimmy terhuyung mundur. Arsel merasakan perih di dadanya yang terluka.

"Mbak Kimmy," teriak Mbak Asih yang tercekat di pintu kamarnya Arsel dengan napas tersengal. Tubuh wanita itu bergetar hebat. Dia terlambat naik sebentar saja, telah terjadi sesuatu.

"Jangan panggil siapa pun, Mbak," cegah Arsel ketika Mbak Asih berbalik arah dan hendak turun.

Wanita itu terpaku dan gemetar. Kimmy juga merasakan tubuhnya panas dingin melihat darah di kaus Arsel. Akhirnya dia mundur, tangannya lemas jatuh ke bawah dan pisau terbuang ke lantai. Gadis itu berlari ke kamarnya.

Mbak Asih mendekati Arsel yang terduduk di kursinya tadi. "Lukanya harus diobati, Mas."

"Biar saya urus sendiri. Pergi saja dan jaga Kimmy. Jangan kasih tahu siapa pun, cuman Mbak Asih yang tahu. Tolong kalau keluar, tutup pintu kamar saya," ujar Arsel seraya melepaskan kausnya. Luka di dada sebelah kanan lumayan perih. Tapi ini tidak ada apa-apanya dibanding luka lahir batinnya Kimmy.

Dengan kaus itu, Arsel mengelap darah di dadanya. Dia menekan kaus itu supaya darahnya berhenti.

Sementara Mbak Asih berlari dan mendekati Kimmy yang meringkuk di samping lemari. Gadis itu memeluk lutut dengan tubuh terguncang hebat karena tangis.

"Mbak Kimmy, sabar ya, Mbak." Mbak Asih bersimpuh di depan Kimmy sambil menangis. Ia sangat iba sejak awal Kimmy masuk ke rumah majikannya.

Dalam diamnya pikiran Kimmy lari ke mana-mana. Dia merasa sendirian. Tidak tahu andaikan pergi pun hendak ke mana? Kerabat? Sejak dulu mereka tidak dekat dengan kerabat.

Selama tinggal di rumah itu, Arsel hampir tidak pernah bicara dengannya kecuali ada hal yang sangat penting. Lelaki itu selalu berwajah dingin dan kaku. Jarang menatapnya, karena Kimmy pun menghindari bertatap mata dengannya. Namun malam itu, Arsel telah memberi noda yang mungkin tak akan pernah terhapus selamanya.

Kimmy mengangkat wajah. Memandang Mbak Asih. "Aku ingin pergi, Mbak."

"Pergi ke mana, Mbak Kimmy? Jangan putus asa, Mbak. Ayo, sembuhkan diri. Saya yakin Mbak Kimmy mampu melewati semua ini. Mbak, akan sembuh. Tunjukkan kalau Mbak Kimmy nggak hancur."

Tubuh Kimmy bersandar di tembok. Tatapannya kosong jauh ke depan. Dirinya sudah rusak. Lelaki mana yang sudi dengan perempuan kotor. Arsel ingin menikahinya? Pernikahan seperti apa? Bukankah dia terlihat begitu membencinya. Ini hanya akan semakin menyiksanya tanpa ampun.

Namun perkataan Mbak Asih benar. Dia tidak boleh putus asa dan mati. Orang-orang yang membencinya akan bahagia kalau dia mati. Arsel akan bebas tanpa beban kalau dirinya tiada. Dan Salsa akan bersorak penuh kemenangan. Sudah tahu ia dinodai abangnya, Salsa sebagai sesama perempuan, sama-sama masih gadis, terlihat tidak ada empatinya sama sekali.

"Jangan mati, Kim. Biar kamu menyaksikan bagaimana orang yang membencimu hancur."

🖤LS🖤

Seminggu setelah malam petaka itu, Kimmy kembali ke kampus. Menyedihkan bukan? Ia masih bergantung hidup pada keluarga yang sudah menghancurkannya.

Ia bertahan di kampus ini demi selembar ijazah yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk hidup di luar sana. Dia harus menjadi sarjana. Sepintar apapun dirinya, yang ditanya pertama kali saat melamar kerja adalah ijazah.

Proposal skripsinya kini menjadi satu-satunya alasan untuk tetap bertahan dan terus kuliah.

"Kim, kamu pucat banget. Kelihatan kurus juga. Benar kamu sudah sembuh?" tanya seorang teman sekelasnya.

"Masih agak lemas." Ia berbohong demi kewarasan diri sendiri. Sebab saat ditanya oleh teman-temannya kenapa tidak masuk kuliah, Kimmy bilang memang sakit.

Ya, sebenarnya ia memang sakit. Setiap kali seorang teman menyapa atau tidak sengaja menyentuh bahunya, Kimmy tersentak. Ada getaran yang menyakitkan, sebuah penolakan naluriah terhadap sentuhan orang lain.

Dan ada yang jauh lebih menyakitkan lagi. Ketakutan jika dirinya hamil? Kimmy selalu gemetar jika kekhawatiran itu muncul di benaknya.

Kimmy mati-matian berusaha fokus di kampus. Walaupun betapa sulitnya itu. Ingin menjerit, tapi akhirnya dia sadar dan diam menunduk. Menyisakan mata yang berkaca-kaca.

Ia pindah kamar setelah melukai Arsel malam itu. Di lantai satu dekat kamar Mbak Asih. Tidak ingin tidur di lantai dua lagi, tempat aroma parfum Arsel dan bayangan malam biadab itu bersemayam.

Mamanya sekarang sering menghampiri, sering mengirim pesan, tapi Kimmy hanya menjawab sekedarnya. Dia tidak peduli dengan wajah sedih sang mama.

🖤LS🖤

Sore itu Kimmy terpaksa naik ke lantai atas. Ada draf proposal yang tertinggal di laci meja lamanya. Ia menaiki tangga dengan tubuh gemetar. Sampai atas terkejut melihat Salsa bersedekap di dekat pintu kamarnya. Tatapannya begitu sinis.

"Hebat ya, habis kejadian itu masih berani angkat muka. Kalau aku jadi kamu, aku sudah gantung diri karena malu."

"Semoga kamu mengalaminya. Dan lakukan apa yang kamu ucapkan baru saja." Dada Kimmy sungguh tertusuk dengan ucapan Salsa. Tapi ia tidak boleh diam. Sekarang harus melawan.

"Pasti kamu kan yang menggoda Bang Arsel malam itu? Sengaja memanfaatkan kondisinya, biar Abang khilaf? Murahan banget cara kamu ingin menjadi nyonya di rumah ini. Persis seperti mamamu."

Damm! Bukan tamparan yang mendarat, melainkan dorongan sekuat tenaga.

Kimmy menghantamkan tubuh Salsa ke tembok di belakangnya. Tangan Kimmy mencengkeram baju Salsa begitu kuat.

"Jaga mulutmu, Salsa," desis Kimmy dengan tatapan menusuk.

"Kamu ... kamu berani kasar sama aku?" Salsa mencoba berteriak, tapi matanya membelalak melihat sorot mata Kimmy yang tajam dan mematikan.

"Jangan memancing kemarahanku kalau masih ingin melihat keluargamu terpandang di kota ini," hardik Kimmy tepat di depan wajah Salsa. "Satu lagi, kubeberkan semua aib ini ke media, ke kolega papamu. Biar hancur sekalian. Aku sudah nggak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, tapi kamu ... Kamu punya segalanya untuk kehilangan."

Salsa membeku. Ia melihat Kimmy yang baru. Seorang gadis yang sudah kehilangan rasa takut karena dunianya sudah hancur.

Kimmy melepaskan cengkeramannya, membiarkan Salsa terengah-engah dalam ketakutan dan amarah. Tanpa menoleh lagi, Kimmy masuk ke kamar lamanya. Mencari berkasnya lalu pergi. Meski di dalam hati masih menangis, tapi di tatapan matanya, hanya ada api yang membara. Mulai sekarang, ia harus melindungi dirinya sendiri.

Ketika tengah menuruni tangga, Arsel ada di bawah sana.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (33)
goodnovel comment avatar
Itje Tuju
tunjukkan keberanianmu
goodnovel comment avatar
Dinie Youli
mdh2an dibalas ya kimmy jgn nanti malah dimaafin dan oke2 aja tu orang jahat...dan berharapa sekali ga sama arsel...
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
oke Kimmy..apapun yg telah terjadi.kamu harus kuat.jalani semuanya dengan tabah..kuat ya kimmy
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kamu yang Kucintai   265.

    "Bagaimana kondisi Papa, Reen?" tanya Davin sambil duduk di sebelah istrinya."Kata dokter, Papa mengalami infeksi di lambungnya, Mas. Kondisinya sangat lemah," jawab Zareen dengan mata berkaca-kaca.Davin menghela napas panjang. "Kita akan pastikan Papa mendapatkan perawatan terbaik. Kamu tenang saja, ya?"Zareen mengangguk dengan perasaan lega. Dia tidak sendirian merawat papanya. Sebab Zareen tak mungkin meminta bantuan sang mama. Biar mamanya tak terbebani.Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang melelahkan bagi Zareen. Ia membagi waktu antara suami, pekerjaan, dan menjaga papanya di rumah sakit. Meski Davin sudah membayar orang untuk menjaganya.Suatu sore saat Zareen baru saja keluar dari kantin rumah sakit, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman dengan wajah yang sangat sedih. Itu adalah anak perempuan Bu Yayuk yang sempat ia temui di rumah tempo hari.Zareen bertanya pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekat sana."Suster, permisi. Apa Sus tah

  • Kamu yang Kucintai   264.

    Zareen membalas tatapan suaminya dengan binar penuh harapan. "Mas, aku selalu berdoa, semoga Tuhan menitipkan amanah-Nya pada kita."Davin membungkam bibir Zareen dengan ciuman yang dalam. "Mari kita terus usaha.""Ya.""Semoga ada kabar gembira untuk hadiah pernikahan kita."Gairah membara menyatukan mereka. Menciptakan ritme yang selaras dengan desah napas di keheningan malam. 🖤LS🖤Enam bulan kemudian ....Pagi itu seperti biasanya, Zareen sibuk di kantor. Dia harus bekerja sendiri karena papanya jarang ke kantor semenjak Zareen menikah. Kesehatan pria itu menurun drastis. Terpaksa Zareen memegang semua kendali. Untungnya sang suami sangat membantunya. Sekarang kerjasama Zareen hanya dengan perusahaan Karya Sejahtera saja. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan karena situasi tidak memungkinkan.Ketika tengah sibuk menyimak laporan, ada ketukan di pintu ruangannya. Kemudian Era masuk. "Bu Zareen, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Beliau sekarang menunggu di loby.""Siapa?"

  • Kamu yang Kucintai   263.

    KAMU YANG KUCINTAI- 95 Hamil Lagi Ruang makan kediaman Bu Tiya yang biasanya sunyi, malam itu terasa lebih hidup oleh bunyi peralatan makan dan percakapan yang mengalir ringan. Biasanya hanya ada Zareen yang sedang makan ditemani mamanya. Namun malam itu, Davin ada di sana. Melengkapi kebahagiaan mereka. Bu Tiya menyesap teh hangatnya sejenak, lalu meletakkan cangkir itu dengan hati-hati. "Davin, Reen, Mama ingin bicara soal tempat tinggal kalian. Mama nggak akan keberatan jika kalian ingin pindah ke rumah Davin. Mama nggak apa-apa sendiri. Masih ada si Mbak yang menemani. Kalian sudah menikah dan sudah punya kehidupan sendiri. Tak mengapa kalau memang ingin tinggal terpisah. Toh seminggu sekali kalian bisa datang ke mari."Davin memandang ke arah mertuanya dengan sorot mata yang penuh hormat. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Ma. Tapi sesuai kesepakatan kami di awal, saya akan tetap ikut tinggal di sini."Zareen yang duduk di samping suaminya segera menyela. "Sekali waktu kami

  • Kamu yang Kucintai   262.

    Pak Aaron terlihat begitu kecil dan asing di rumah yang dulu pernah menjadi istananya sendiri. Ia menyalami kerabat Bu Tiya dengan senyum kaku, sebuah pemandangan yang menyiratkan betapa dalam jurang pemisah di antara mereka setelah peristiwa itu.Tak lama kemudian pintu salah satu kamar terbuka. Linda menggandeng mempelai wanita keluar. Semua mata di ruangan itu seketika tertuju pada Zareen. Ia tampak memukau dengan kebaya modern berwarna putih gading, dengan payet-payet halus yang berkilauan tertimpa cahaya lampu. Riasannya natural. Padahal kalau Zareen dandan sendiri biasanya begitu mencolok."Pa." Zareen menyalami papanya. Kemudian duduk di samping pria itu.Tepat lima belas menit kemudian, rombongan Davin sampai. Pria itu mengenakan jas warna putih. Didampingi keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Adam melangkah di samping papanya dengan setelan jas warna abu-abu. Sesuai kesepakatan calon pengantin, mereka tidak mengundang mantan. "Kita mulai saja acara lamarannya, sebelum p

  • Kamu yang Kucintai   261.

    "Nggak usah repot-repot, Bu." Zareen tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bu Septa yang menggenggam tangannya."Kita sholat dulu, sudah Maghrib," kata Davin. Dan Bu Septa mengajak Zareen ke ruang tengah. Memberikan mukena pada gadis itu dan mereka salat bergantian di ruangan 4X4 yang difungsikan sebagai ruang salat.Davin memang benar-benar sudah banyak berubah. Dia belajar dari kebrengsekannya di masa lalu dan harus berubah lebih baik lagi.Selesai salat Maghrib mereka duduk di ruang keluarga. "Davin sudah cerita banyak tentang kamu, Reen," ujar Bu Septa lembut. "Ibu senang sekali kalau kalian memutuskan untuk segera menikah."Zareen tersenyum sambil mengangguk pelan.Obrolan mengalir begitu saja, dari hal-hal ringan hingga rencana serius mereka. Bu Septa menyampaikan pendapat kakaknya Davin, bagaimana kalau acara lamaran nanti, sekalian dengan akad nikah saja. Toh mereka tidak menginginkan pesta mewah.Davin dan Zareen saling pandang sejenak. "Kami akan memikirkannya, Ma," jaw

  • Kamu yang Kucintai   260.

    KAMU YANG KUCINTAI - 94 Hari Pernikahan Pak Aaron terkesiap. Kursi kerjanya sedikit bergeser saat ia menegakkan duduknya. Ada binar bahagia yang tak bisa disembunyikan, tapi disusul rasa haru yang dalam. "Benarkah, Reen?""Iya.""Papa sangat bahagia mendengarnya. Kamu sudah menemukan jodohmu, Reen."Zareen tidak membalas antusiasme itu dengan senyuman. Ia justru melanjutkan dengan nada tegas, "Iya, Pa. Aku hanya butuh Papa untuk menjadi wali nikah nanti. Segala urusan lainnya, aku dan Mas Davin yang akan mengurus. Kami sepakat untuk lamaran dan menikah secara sederhana saja. Nggak ada pesta mewah, nggak ada undangan untuk relasi. Hanya keluarga inti dan beberapa teman dekat saja.""Papa mengerti. Papa akan ikuti keinginan kalian," jawab Pak Aaron lirih.Zareen menarik napas sejenak. "Satu hal lagi, Pa. Aku minta Papa datang sendiri. Jangan sampai mengajak wanita itu. Aku nggak akan menerima kehadirannya, dan aku nggak ingin hari bahagiaku rusak karena kedatangannya."Pak Aaron menun

  • Kamu yang Kucintai   57. Sakit 2

    "Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Kamu yang Kucintai   68. Setelah Nonton 1

    KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Kamu yang Kucintai   70. Setelah Nonton 3

    Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Kamu yang Kucintai   69. Setelah Nonton 2

    Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status