LOGINEsok paginya….
“Aku yakin seribu persen, Jeng!” suara seorang ibu terdengar di kerumunan. “Mencret suamiku langsung berhenti. Padahal dari kemarin nggak ada tanda-tanda sembuh meski udah minum macam-macam obat. Malah hampir aku bawa ke rumah sakit!”
Tukang sayur keliling yang dikerubungi cuma bisa menjadi pendengar sambil meladeni pelanggannya.
“Itu… karena baksonya Rivan?” tanya ibu lain.
“Yang benar?” Ada yang masih sangsi.
“Tanya aja ke Jeng Ima! Kemarin dia beli untuk anaknya yang flu berat, kan?” Ibu itu tak mau kalah.
Pucuk dicinta, ulam tiba. Jeng Ima keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang membeli sayur.
“Jeng Ima! Akhirnya muncul juga!” Seorang ibu langsung menarik tangan Jeng Ima.
“Ada apa, nih?” Jeng Ima bingung.
“Jeng Ima, gimana kondisi anakmu?” tanya ibu yang menarik tangannya.
Seketika, wajah Jeng Ima berubah cerah.
“Woaahh! Anakku semalam udah sembuh total! Flu beratnya langsung hilang!” Jeng Ima menjelaskan dengan antusias.
“Gara-gara makan bakso?” tanya ibu lainnya dengan wajah penasaran.
“Bisa dibilang begitu, sih….” Jeng Ima agak tak yakin tapi kemudian melanjutkan bicara, “Pokoknya dia bilang satu jam setelah makan bakso, dia ngerasa flunya jadi enteng dan di jam 9 malam, dia udah nggak ngeluh karena ingus lagi. Malahan pusing kepalanya juga sembuh!”
Mendengar penjabaran Jeng Ima, gegerlah ibu-ibu di sana.
Dengan segera, berita mengenai bakso mujarab Rivan menyebar di kampung.
Maka, tak heran saat Rivan baru saja keluar dari rumahnya, hendak berkeliling seperti biasanya, sudah ada banyak ibu-ibu yang berduyun-duyun ke depan kontrakannya.
“Van, beli!”
“Rivan, aku beli 2 porsi!”
“Aku dulu, Van! Suamiku lebih berat sakitnya!”
Mendengar teriakan mereka, Rivan tercengang.
“Hah? Ibu-ibu, ada apa?” Rivan bingung menghadapi rumahnya sudah didatangi banyak ibu-ibu dengan mangkok di tangan.
“Aku beli yang Rp15.000, Van!”
“Kasi aku yang Rp17.000!”
“Aku yang Rp20.000, kasi banyak kuahnya, Van!”
Mereka berebut menyebutkan pesanannya.
“Sa-sabar, ibu-ibu… satu per satu, ya…” Rivan sampai takut sendiri.
Baru kali ini dia malah ‘digeruduk’ di kontrakan demi baksonya. Bahkan dia belum sempat keliling!
Satu jam berikutnya, semua pun selesai. Ibu-ibu tadi mulai kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan pesanannya.
“Ya ampun… cuma dalam waktu singkat aja udah kejual belasan porsi!” Rivan menatap kotak penyimpanan uangnya.
Kemudian, dia menatap sisa dagangan dan tangannya secara bergantian.
“Ini… beneran karena aku masukin energi alam ke kuahnya?” Dia berbisik pada dirinya sendiri.
Menyadari kekuatan energi alam yang bisa dia manfaatkan, dia pun menghela napas panjang dibarengi senyuman yang terukir di wajah.
“Mungkin ini… emang jalanku untuk dapatin kesuksesan.”
Baru saja dia selesai menggumam, datang seorang bapak tua ke depan kontrakan Rivan.
“Rivan, baksonya masih ada?” tanya bapak itu. “Istriku sakit dari sebulan lalu. Obat puskesmas nggak ngefek.”
“Ohh, masih, Pak!” Rivan mempersilakan bapak itu masuk ke teras. “Bapak mau beli yang porsi apa?”
“Itu… uangku cuma ada Rp10.000, Van. Kasi yang segitu aja.” Bapak itu duduk di bangku lusuh di sana. “Pakai plastik aja.”
Mata Rivan melirik si bapak.
‘Kayaknya dia Pak Sukir yang kerjanya kuli. Dia kayak lelah banget. Pasti berat jadi kuli di usia tua begitu.’ Timbul rasa iba di benak Rivan. ‘Kabarnya dirumah, dia cuma ama istrinya yang sakit-sakitan.’
“Ini, Pak.” Rivan menyerahkan dua plastik bakso yang ditempatkan di satu kantong kresek hitam.
Pak Sukir menatap dua plastik di dalam kantong kresek.
“Van, kok ada dua? Uangku cuma cukup untuk satu porsi.” Wajah tua Pak Sukir terlihat bingung dan takut.
Beliau tak ingin punya utang.
“Yang satunya itu bonus dari aku, Pak. Terima aja, jangan khawatir.” Rivan tersenyum.
“Kamu… kamu yakin?” Bapak itu nyaris tergagap karena tak percaya.
Bisa Rivan lihat di ujung mata Bapak itu ada air mata. Hatinya semakin trenyuh.
Dia mengangguk dan berkata, “Aku yakin, Pak. Satu untuk istri Bapak, dan satunya lagi untuk Bapak.”
“Terima kasih, Van! Terima kasih…” Pak Sukir berulang kali mengucapkannya dengan rasa syukur sampai membungkukkan badan ke Rivan.
“Nggak masalah, Pak.” Rivan menahan Pak Sukir agar tak perlu membungkuk lagi. “Tapi jangan bilang siapa-siapa kalo aku kasi bonus satu porsi itu, ya Pak.”
“Tentu! Tentu aja nggak akan aku bilang ke siapapun!” Pak Sukir lekas menjawab tanpa ragu.
Karena iba dengan kehidupan susah Pak Sukir, Rivan tak tega dan berkata, “Pak… besok kalau sudah kelar kerja, mampir ke sini, ya!”
“Kenapa, Van?” Pak Sukir terlihat bingung.
“Nanti aku bungkuskan bakso buat Bapak dan istri di rumah.” Rivan menjawab.
Air mata Pak Sukir menetes seketika. Dia kembali mengucapkan terima kasihnya ke Rivan.
“Semoga baksomu selalu membawa berkah untukmu dan siapapun, Van.” Pak Sukir berucap.
“Terima kasih untuk doa tulus Bapak.” Rivan tersenyum.
Dia menatap kepergian Pak Sukir dengan hati penuh dengan haru dan lega.
"Tentunya nggak akan rugi kalo aku sisihkan 2 porsi tiap harinya untuk mereka." Rivan bergumam.
Akhirnya, dia memutuskan sesuatu.
“Oke, mulai sekarang, aku bakalan jualan di teras kontrakan aja!”
“Apanya yang salah?” kesal Jessica sambil melotot ke Rivan.Tangan kanan Rivan bergerak masuk ke dalam saku kemeja flanel sederhananya.Dia mengeluarkan dompet lipatnya yang menggembung gemuk, nyaris tidak muat dijejali terlalu banyak uang merah dan biru di dalamnya."Mbak Vanya emang yang ngajak ke sini, tapi mengenai siapa yang bayar, isi dompet ini bakalan nyelesaiin seluruh tagihan," ucap Rivan dengan nada diplomatis tanpa kesombongan yang dibuat-buat.Mata Gio dan Jessica seketika membelalak melihat tebalnya dompet Rivan.Mereka bingung, kenapa pria dengan tampilan ala gembel di mata mereka, justru dompetnya bisa segendut itu.Bahkan isinya hanya ada dua jenis warna… merah dan biru.Belum sempat mereka berdua pulih dari rasa syok, Rivan kembali melanjutkan kalimatnya dengan senyum sinis yang mematikan."Dan mengenai istilah mokondo atau benalu yang Mbak Jessica sebutin tadi... rasanya itu jauh lebih cocok untuk orang yang datang ke kafe mewah cuma mau numpang bikin konten gratisa
“Eerrkhh…!”Mendengar penjabaran Rivan yang begitu runut, tenang, dan langsung menusuk ke titik rahasia tas tiruannya, wajah Jessica seketika berubah pucat pasi bercampur merah padam karena menahan malu yang luar biasa hebat.Gio si pria klimis yang berlagak jadi kameramen di belakangnya langsung menurunkan kameranya dengan canggung.Dia menyadari bosnya baru saja dibungkam habis-habisan oleh karisma cerdas dari seorang pria yang mereka anggap remeh.‘Ha ha ha!’ Vanya yang melihat rivalnya mati kutu dalam satu kali serangan verbal langsung tertawa puas di dalam hati.Dia memandang Rivan dengan sepasang mata yang kini sudah sepenuhnya dipenuhi oleh rasa cinta dan kekaguman yang tiada tara.Meskipun terkejut karena rahasia tas tiruannya dibongkar, Jessica tidak langsung mundur.Rasa gengsi sebagai pembuat konten terkenal di Kota Jatayu membuatnya memaksakan diri untuk tetap berdiri di dekat meja Rivan.Wajah cantiknya yang dilapisi bedak tebal berubah masam, menampilkan ekspresi menyeba
“Makan siang… di luar?”Rivan menatap Vanya selama beberapa detik, merasakan ketulusan yang murni dari ajakan wanita itu.Buku misterius di kepalanya memberikan denyutan hangat yang sejuk, seolah memberikan restu atas langkah kedekatan mereka yang kian nyata.“Iya, Van. Anggap aja sebagai rasa makasih aku karena boleh jadi asisten kamu, tadi.” Vanya memunculkan senyum terbaiknya.Rivan pun menyimpan kain lapnya dan tersenyum mantap."Boleh, Mbak Vanya. Kebetulan perut saya juga udah mulai lapar," jawab Rivan setuju.“Ayo boncengin aku kayak dulu!” Vanya bersemangat. “Aku agak ngeri kalo harus lewat jalanan gang yang ramai ini sendirian.Vanya beralasan sambil menyerahkan kunci kontak motor matik mahalnya kepada Rivan.Padahal di dalam hatinya dia hanya ingin menikmati kembali momen bersandar di punggung tegap Rivan seperti saat mereka ke pasar waktu itu.Rivan tersenyum tipis dan menerima kunci tersebut. "Baik, Mbak. Mari!"Baru saja Rivan menuntun motor matik mewah itu keluar dari pa
“Ya ampun, Mbak Vanya… ada-ada aja.” Rivan ikut tertawa geli.Setelah kegaduhan yang ditimbulkan oleh Chelly dan ibunya mereda, atmosfer di teras rumah kontrakan Rivan berangsur-angsur kembali normal.Para warga yang mengantre lekas merapatkan barisan, memegang mangkok mereka dengan semangat baru.Hilang sudah keraguan di wajah mereka.Bukti kelayakan medis dari dinas kesehatan ditambah ketegasan moral Rivan yang tidak mempan digoda perempuan membuat warga semakin yakin bahwa bakso ini adalah produk kuliner terbaik di kampung mereka."Ayo, Van, dilanjut lagi! Perut suamiku udah keroncongan nunggu bakso bersertifikat A ini!" seru Jeng Ratih, memecah kecanggungan pasca-skandal tadi.Rivan tersenyum ramah dan mengangguk. "Siap, Jeng! Mohon maaf atas ketidaknyamanannya tadi, ya. Mari, porsi berapa?"Tangan Rivan kembali bergerak dengan kecepatan superpower-nya yang luar biasa.Dia menyendok mie, memotong daun seledri, meracik bumbu, dan menuangkan kuah kaldu berenergi alam murni ke dalam
Mata Chelly membelalak. ‘Sialan! Kenapa malah dia nawarin seantusias itu?!’“Aku bisa panggil taksi online untuk bawa kalian ke rumah sakit top. Di sana aku punya dokter langganan. Jangan khawatir, pasti valid! Nggak kaleng-kaleng!” Mata Vanya berbinar.Dia menjadi yakin akan kata-kata Rivan.‘Kalo Rivan udah seyakin itu bilang nggak ngapa-ngapain Chelly, berarti emang nggak ada apa-apa. Aku percaya ama Rivan!’ Demikian ucap benak Vanya.“Nggak mau!” Chelly langsung tegas menolak.Namun, penolakannya justru menimbulkan kecurigaan dari banyak orang di sana.‘Nggak mau! Kalo tes medis itu dilakuin, maka semua kebohonganku bakal terbongkar di depan Mami dan seluruh warga kampung!’ Di hatinya, Chelly ketakutan sendiri.“A-aku… aku nggak terbiasa ke rumah sakit. Dan aku… aku takut jarum…” Chelly beralasan sampai tergagap.“Nggak akan ada jarum suntik kalo diperiksa macam itu, nggak usah takut. Aku jamin nggak disuntik.” Vanya mencoba menenangkan Chelly.Bahkan senyumnya mulai mengembang se
“Gila! Rivan mau dituntut!” Jeng Ratih sampai memekik kaget.“Gimana nasib kita kalo Rivan masuk penjara? Kita nggak bisa beli baksonya lagi, dong!” Ada yang berseru demikian.Mendengar ancaman penjara dan keterlibatan ayahnya yang terkenal berwatak keras, Chelly yang berdiri di samping gerobak sempat tersentak pucat.Namun, ketika matanya melirik ke arah Vanya yang masih berdiri mematung dengan sisa air mata di pipinya, obsesi gila di dalam dada Chelly justru kembali membara.Dia merasa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.Jika hubungan ini dipaksa sah oleh orang tuanya, maka tidak akan ada lagi cewek kota mana pun yang bisa merebut Rivan darinya.Chelly langsung maju merangsek, memeluk lengan ibunya dengan dramatis sambil kembali meneteskan air mata buatan."Mami! Tolong jangan laporin Rivan ke polisi! Jangan penjarain dia!" ratap Chelly dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar oleh seluruh warga dan Vanya."Chelly... kamu ngomong apa, sih?!" Bu M







