เข้าสู่ระบบ“Apanya yang salah?” kesal Jessica sambil melotot ke Rivan.Tangan kanan Rivan bergerak masuk ke dalam saku kemeja flanel sederhananya.Dia mengeluarkan dompet lipatnya yang menggembung gemuk, nyaris tidak muat dijejali terlalu banyak uang merah dan biru di dalamnya."Mbak Vanya emang yang ngajak ke sini, tapi mengenai siapa yang bayar, isi dompet ini bakalan nyelesaiin seluruh tagihan," ucap Rivan dengan nada diplomatis tanpa kesombongan yang dibuat-buat.Mata Gio dan Jessica seketika membelalak melihat tebalnya dompet Rivan.Mereka bingung, kenapa pria dengan tampilan ala gembel di mata mereka, justru dompetnya bisa segendut itu.Bahkan isinya hanya ada dua jenis warna… merah dan biru.Belum sempat mereka berdua pulih dari rasa syok, Rivan kembali melanjutkan kalimatnya dengan senyum sinis yang mematikan."Dan mengenai istilah mokondo atau benalu yang Mbak Jessica sebutin tadi... rasanya itu jauh lebih cocok untuk orang yang datang ke kafe mewah cuma mau numpang bikin konten gratisa
“Eerrkhh…!”Mendengar penjabaran Rivan yang begitu runut, tenang, dan langsung menusuk ke titik rahasia tas tiruannya, wajah Jessica seketika berubah pucat pasi bercampur merah padam karena menahan malu yang luar biasa hebat.Gio si pria klimis yang berlagak jadi kameramen di belakangnya langsung menurunkan kameranya dengan canggung.Dia menyadari bosnya baru saja dibungkam habis-habisan oleh karisma cerdas dari seorang pria yang mereka anggap remeh.‘Ha ha ha!’ Vanya yang melihat rivalnya mati kutu dalam satu kali serangan verbal langsung tertawa puas di dalam hati.Dia memandang Rivan dengan sepasang mata yang kini sudah sepenuhnya dipenuhi oleh rasa cinta dan kekaguman yang tiada tara.Meskipun terkejut karena rahasia tas tiruannya dibongkar, Jessica tidak langsung mundur.Rasa gengsi sebagai pembuat konten terkenal di Kota Jatayu membuatnya memaksakan diri untuk tetap berdiri di dekat meja Rivan.Wajah cantiknya yang dilapisi bedak tebal berubah masam, menampilkan ekspresi menyeba
“Makan siang… di luar?”Rivan menatap Vanya selama beberapa detik, merasakan ketulusan yang murni dari ajakan wanita itu.Buku misterius di kepalanya memberikan denyutan hangat yang sejuk, seolah memberikan restu atas langkah kedekatan mereka yang kian nyata.“Iya, Van. Anggap aja sebagai rasa makasih aku karena boleh jadi asisten kamu, tadi.” Vanya memunculkan senyum terbaiknya.Rivan pun menyimpan kain lapnya dan tersenyum mantap."Boleh, Mbak Vanya. Kebetulan perut saya juga udah mulai lapar," jawab Rivan setuju.“Ayo boncengin aku kayak dulu!” Vanya bersemangat. “Aku agak ngeri kalo harus lewat jalanan gang yang ramai ini sendirian.Vanya beralasan sambil menyerahkan kunci kontak motor matik mahalnya kepada Rivan.Padahal di dalam hatinya dia hanya ingin menikmati kembali momen bersandar di punggung tegap Rivan seperti saat mereka ke pasar waktu itu.Rivan tersenyum tipis dan menerima kunci tersebut. "Baik, Mbak. Mari!"Baru saja Rivan menuntun motor matik mewah itu keluar dari pa
“Ya ampun, Mbak Vanya… ada-ada aja.” Rivan ikut tertawa geli.Setelah kegaduhan yang ditimbulkan oleh Chelly dan ibunya mereda, atmosfer di teras rumah kontrakan Rivan berangsur-angsur kembali normal.Para warga yang mengantre lekas merapatkan barisan, memegang mangkok mereka dengan semangat baru.Hilang sudah keraguan di wajah mereka.Bukti kelayakan medis dari dinas kesehatan ditambah ketegasan moral Rivan yang tidak mempan digoda perempuan membuat warga semakin yakin bahwa bakso ini adalah produk kuliner terbaik di kampung mereka."Ayo, Van, dilanjut lagi! Perut suamiku udah keroncongan nunggu bakso bersertifikat A ini!" seru Jeng Ratih, memecah kecanggungan pasca-skandal tadi.Rivan tersenyum ramah dan mengangguk. "Siap, Jeng! Mohon maaf atas ketidaknyamanannya tadi, ya. Mari, porsi berapa?"Tangan Rivan kembali bergerak dengan kecepatan superpower-nya yang luar biasa.Dia menyendok mie, memotong daun seledri, meracik bumbu, dan menuangkan kuah kaldu berenergi alam murni ke dalam
Mata Chelly membelalak. ‘Sialan! Kenapa malah dia nawarin seantusias itu?!’“Aku bisa panggil taksi online untuk bawa kalian ke rumah sakit top. Di sana aku punya dokter langganan. Jangan khawatir, pasti valid! Nggak kaleng-kaleng!” Mata Vanya berbinar.Dia menjadi yakin akan kata-kata Rivan.‘Kalo Rivan udah seyakin itu bilang nggak ngapa-ngapain Chelly, berarti emang nggak ada apa-apa. Aku percaya ama Rivan!’ Demikian ucap benak Vanya.“Nggak mau!” Chelly langsung tegas menolak.Namun, penolakannya justru menimbulkan kecurigaan dari banyak orang di sana.‘Nggak mau! Kalo tes medis itu dilakuin, maka semua kebohonganku bakal terbongkar di depan Mami dan seluruh warga kampung!’ Di hatinya, Chelly ketakutan sendiri.“A-aku… aku nggak terbiasa ke rumah sakit. Dan aku… aku takut jarum…” Chelly beralasan sampai tergagap.“Nggak akan ada jarum suntik kalo diperiksa macam itu, nggak usah takut. Aku jamin nggak disuntik.” Vanya mencoba menenangkan Chelly.Bahkan senyumnya mulai mengembang se
“Gila! Rivan mau dituntut!” Jeng Ratih sampai memekik kaget.“Gimana nasib kita kalo Rivan masuk penjara? Kita nggak bisa beli baksonya lagi, dong!” Ada yang berseru demikian.Mendengar ancaman penjara dan keterlibatan ayahnya yang terkenal berwatak keras, Chelly yang berdiri di samping gerobak sempat tersentak pucat.Namun, ketika matanya melirik ke arah Vanya yang masih berdiri mematung dengan sisa air mata di pipinya, obsesi gila di dalam dada Chelly justru kembali membara.Dia merasa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.Jika hubungan ini dipaksa sah oleh orang tuanya, maka tidak akan ada lagi cewek kota mana pun yang bisa merebut Rivan darinya.Chelly langsung maju merangsek, memeluk lengan ibunya dengan dramatis sambil kembali meneteskan air mata buatan."Mami! Tolong jangan laporin Rivan ke polisi! Jangan penjarain dia!" ratap Chelly dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar oleh seluruh warga dan Vanya."Chelly... kamu ngomong apa, sih?!" Bu M







