LOGINJantung Sheilla hampir melompat keluar dari dadanya karena berdebar lebih keras dari sebelumnya.Dia tidak tahu apa yang telah merasukinya. Namun karena dia sudah duduk di pangkuan Sean, dia pikir sebaiknya dia terus melakukan apa yang ada di dalam pikirannya saja.Sembari menggoyangkan pinggangnya dengan sensual, dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur di atas paha Sean. Rona merah muda yang menggemaskan merayapi pipinya saat dia menatap dalam-dalam ke mata Sean.'Ya Tuhan! Aku tak percaya aku melakukan ini.' Batin Sheilla.Tak lama kemudian, Sheilla menyadari tatapan mata Sean mulai berubah sedikit lebih gelap, nafsu berputar di dalamnya tepat saat dia merasakan sesuatu menusuk tepat di inti dirinya.Matanya terbelalak saat merasakan V di bawah pusarnya berdenyut, membuatnya langsung melompat dari pangkuan Sean, merasa panas dan terganggu. "Aku hanya ingin mengambil uang sepuluh ribu dolar hari ini karena kamu tidak puas dengan anggurnya." Sheilla menjelaskan dengan tergesa-ges
Tatapan Mike sangat tajam dan membuat Seana merasa tidak nyaman. Seana tak mampu menenangkan diri saat membayangkan harus bekerja sama dengan Mike. Ia berusaha membuat dirinya terlihat sekecil mungkin dengan sedikit membungkuk."Sudah, kamu bolehkembali ke ruangan kamu," kata Mike."Iya, mas." Seana merasa lega saat mendengarnya. Wanita itu segera kembali ke ruangannya.Mike memperhatikan Seana sekali lagi, sebelum akhirnya masuk ke kantor Sanzio.Sementara itu, Seana berusaha fokus dengan pekerjaannya, tetapi dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah dilihatnya di ruang istirahat Sanzio. Seana benar-benar harus lebih berhati-hati mulai sekarang, atau dia akan mendapat masalah.Mike berada di kantor Sanzio selama sekitar satu jam hanya untuk membicarakan sesuatu. Begitu Mike keluar, telepon kantor Seana berdering. Seana reflek melirik kearah kantor Sanzio, dan mendapati tatapan tajam Sanzio yang tertuju padanya.Sembari menundukkan kepalanya karena takut, Seana mengangkat tele
Suara berat Sanzio terdengar di seberang sana. "Kamu pergi ke gedung star dan tolong ambilkan beberapa dokumen untuk saya. Juga, bawakan dasi ungu yang ada dilemari itu.""Baik, Pak Zio." Jawab Seana dengan hormat sembari menekan tombol lift ke lantai bawah. Dia menutup telepon tepat saat pintu lift terbuka. "Vel, aku boleh pinjam mobil kamu ngga? Aku harus ke gedung Star," katanya pada Velia."Seharusnya Pak Zio kasih lo fasilitas mobil kalau dia memang mau nyuruh-nyuruh lo pergi ke gedung star segala!." Velia menggerutu, tetapi dia tetap mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Seana.Seana menerima kunci itu. "Aku cuma disuruh ngambil beberapa dokumen buat dia. Nanti aku isi penuh bensin kamu, oke?,""Bukan gitu maksud gue, bos kita kaya raya tapi dia pelit Seana. Lo malah mau sedekah gitu aja?." gumam Velia. Dia memang tidak pernah merasa puas dengan cara penanganan fasilitas karyawan diperusahaan Sanzio.Seana tertawa kecil. "Kamu harus berani ngomong
Seana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku bingung," Dia selalu mengenakan liontin itu, dan mungkin banyak orang yang pernah melihat benda itu di lehernya. Seana takut Sanzio akan melakukan penyelidikan internal."Tapi seharusnya lo berusaha menjauh dari mereka, Seana." Kata Velia memperingatkan.Seana tak kuasa menahan diri untuk tidak mengingat ketika bagaimana Mike bersikap padanya saat meminta liontin itu darinya. Pria itu begitu bersikeras.Velia merasa seperti dirinya akan gila. Dia tahu bahwa Seana tidak mungkin memberikan liontin itu kepada Sanzio. Semua orang tahu betapa hebatnya Mike, setiap kali Sanzio membutuhkan sesuatu untuk di selidiki, maka dia akan memerintah Mike.Sedangkan Mike tidak pernah gagal menjalankan tugas dari Sanzio, jika Seana menolak memberikan liontin itu kepada Mike, maka itu pasti akan membuatnya curiga. Tetapi jika Seana melakukannya...."Kenapa sih hidup gue harus sesial ini?!." Umpat Velia sembari mengacak-acak rambutnya. "Kartu kredit d
Karena Sanzio tidak menanyakan hal itu padanya selama sebulan penuh, Seana mengira masalahnya sudah selesai. Sekarang, sepertinya keadaan malah semakin memburuk. Seana tidak tahu harus bagaimana menjawabnnya.Merasakan keheningan Seana, Sanzio menatapnya dengan dingin. "Kamu kenapa? Apa kamu menolak perintah dari saya?,""Ngga, bukan gitu Pak," kata Seana.Namun, sebelum dia sempat mengatakan hal lain, Sanzio sudah lebih dulu kembali buka suara. "Dari apa yang saya tahu tentang kemampuan kamu, kamu nanti membutuhkan bantuan untuk mencapai posisi asisten eksekutif,"Seana menatapnya dengan mata lebar. Apakah itu berarti Sanzio benar-benar menyuruhnya untuk belajar dari Mike karena ingin mempromosikannya? Posisi itu memang menawarkan gaji empat kali lipat lebih besar dari pada penghasilannya sekarang. Bagi Seana, itu adalah godaan yang besar, karena dia masih memiliki cicilan rumah yang besar untuk di bayar. Belum lagi, ketika adiknya meminta uang padanya dengan jumlah yang sangat besar
Seana berharap kedua petugas keamanan itu tidak mengkhianati dirinya dan Velia. Namun, melihat Mike menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini padanya, apakah itu berarti Sanzio masih belum mengetahui kebenarannya?Seana menatap Mike dengan ragu, tetapi ekspresi pria itu terlalu sulit untuk dibaca, dalam hal ini karakternya hampir sama seperti Sanzio. Seana tidak tahu mengapa Mike mencegatnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.Mike hendak membuang puntung rokoknya, lalu bertanya. "Pak Zio ngasih ke kamu sebuah liontin yang katanya ketinggalan di kamar itu, kan? Liontin itu kemana sekarang?,"Telapak tangan Seana mulai berkeringat karena gugup. "Aku pikir liontin itu mungkin punya penghuni kamar yang sebelumnya. Jadi aku ngiranya itu barang yang ngga penting. Aku lupa dimana aku simpan liontin itu,"Seana tidak berani berbohong tentang dirinya yang telah memberikan liontin itu ke resepsionis hotel untuk dibuang, setelah kejadian di malam itu. Karena ingin menghilangkan jejak. Jika San







