Share

BAB 5

Penulis: Ana
last update Terakhir Diperbarui: 2023-01-25 18:44:39

Begitu memasuki rumah, Hana langsung disambut oleh ibunya yang tengah duduk di ruang tamu.

"Gimana, Bu, tadi di rumah Tante?" tanyanya sambil melepas tas.

"Alhamdulillah, hampir semua beres. Kamu sudah minta izin untuk lusa? Ada acara keluarga, kan?"

Hari ini, ibu Hana baru saja pulang dari rumah Tante Mila, yang tengah mempersiapkan lamaran untuk anaknya.

Hana menggeleng pelan. "Belum, Bu. Besok rencananya Hana mau bilang ke Mas Marco."

Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar dan meletakkan tas di atas meja rias di samping tempat tidurnya. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah perjalanan dari puncak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya—kekhawatiran setiap kali menghadiri acara keluarga.

Pertanyaan yang sama akan selalu muncul.

"Kapan nikah?" "Udah punya calon belum?"

Hana sudah bosan mendengar itu semua, meskipun sering disampaikan dengan nada bercanda. Kalau boleh memilih, ia lebih suka tak menghadiri acara seperti itu.

"Ya sudah, mandi dulu sana. Baru tidur," ujar ibunya yang kini berdiri di depan pintu kamar.

Hana menghela napas, lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi dengan langkah gontai. Badannya terasa lengket, dan air hangat pasti bisa sedikit mengurangi rasa lelahnya.

'Drrtt... drrttt'

Getaran ponsel di atas meja rias membuat Hana melirik sekilas. Ia baru saja selesai mandi dan hendak merebahkan tubuh, tetapi notifikasi itu menarik perhatiannya.

Yudha: Sudah sampai rumah, Han? Hana: Sudah, baru aja selesai mandi.

Hana tersenyum kecil sebelum meletakkan kembali ponselnya. Namun, belum semenit berlalu, ponselnya kembali bergetar.

Awalnya ia hanya ingin langsung tidur, tetapi pesan dari Yudha membuatnya urung memejamkan mata. Percakapan mereka terus berlanjut hingga hampir tengah malam.

Di luar kamar, ibunya yang hendak ke dapur sempat melirik ke arah pintu kamar Hana yang tak tertutup rapat. Cahaya lampu masih menyala. Dengan rasa penasaran, ibunya melangkah masuk dan menemukan Hana masih sibuk dengan ponselnya.

"Belum tidur? Besok kerja, loh."

Hana menoleh, lalu tersenyum kecil. "Bu, sini deh."

Ibunya mendekat, duduk di pinggir tempat tidur saat Hana menepuk kasur di sampingnya.

Dengan mata berbinar, Hana menunjukkan layar ponselnya. "Gimana, Bu?"

"Memangnya ini siapa?" tanya ibunya sambil mengambil ponsel dari tangan Hana.

Tampak sebuah foto di profil W******p Yudha—pria itu mengenakan kemeja hitam dan celana jeans krem. Rambutnya rapi, membuatnya terlihat semakin menarik.

"Yudha, Bu. Ganteng, kan?"

Sang ibu mengamati foto itu sejenak, lalu tersenyum tipis. "Iya, ganteng. Tapi yang penting itu agama dan akhlaknya, bukan sekadar wajahnya." Ia mengusap kepala Hana lembut.

"Iya, Bu. Hana paham kok. Yudha rajin, loh. Tadi aja dia jadi imam pas salat."

Ibunya mengangguk pelan. "Ya sudah, sekarang tidur. Besok masih kerja, kan?"

"Iya, Buu..." Hana menjawab dengan nada malas, lalu akhirnya meletakkan ponselnya di meja.

✨✨✨

Sebuah bangku kosong di taman, dikelilingi bunga berwarna-warni, tampak begitu indah. Hana melangkah mendekat dan duduk di sana, menikmati ketenangan yang menyelimuti sekitarnya.

Namun, tak lama kemudian, sebuah sosok muncul dari kejauhan. Semakin lama, semakin jelas.

Yudha.

Pria itu kini berdiri di hadapannya, memberikan senyum yang begitu menawan, membuat hati siapa pun yang melihatnya jatuh cinta.

Hana menatapnya penuh rasa bahagia. Yudha tampak sempurna dengan kemeja yang membingkai tubuhnya dengan pas, tatapannya teduh, dan senyumnya lembut.

Ia kemudian duduk di samping Hana, menatap lurus ke depan sebelum beralih menatap gadis itu.

"Aku senang bisa pergi bersamamu."

Hana tersenyum. "Aku juga. Lain kali kita bisa pergi lagi bersama."

Yudha meraih tangannya, menggenggamnya erat. Tangan mereka saling bertaut, seolah tak ingin terpisahkan.

Mereka saling menatap, seakan membaca isi hati masing-masing.

Namun tiba-tiba—

'GREP!'

Seseorang menarik Yudha begitu saja.

Hana tersentak. Ia menoleh dan mendapati Risa kini berdiri di samping Yudha, tangannya mencengkeram pergelangan pria itu dengan erat.

Hana hanya bisa menatap dengan ekspresi tak percaya.

Tanpa berkata apa pun, Yudha dan Risa pergi bersama. Bergandengan tangan. Tertawa. Menikmati kebersamaan mereka seolah Hana tak pernah ada.

Hana bangkit dari bangku, ingin mengejar mereka. Namun, semakin ia berlari, semakin jauh mereka melangkah. Hingga akhirnya... mereka menghilang begitu saja.

"Hah… hah…"

Hana terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya masih berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu tidur yang temaram.

Mimpi.

Ia baru saja bermimpi.

Awalnya, mimpi yang indah—tapi berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan dalam hitungan detik.

Hana mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. "Bisa-bisanya aku mimpi mereka."

Ia menoleh ke jam dinding di kamar—04.15 pagi. Entah jam berapa tadi ia akhirnya tertidur, tapi sekarang matanya terasa berat seperti ada batu yang menahannya.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya bisa membuka mata dengan normal. Hana meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan memeriksa pesan.

Kosong.

Tak ada balasan dari Yudha.

Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Seolah-olah ia mengharapkan sesuatu. Seolah-olah... ia ingin melihat pesan dari pria itu begitu ia membuka mata.

Namun yang ada hanya last seen Yudha—dan Risa.

Mereka aktif di waktu yang sama.

Sementara pesan Hana? Hanya centang dua tanpa balasan.

"Apa benar, ya… Yudha ada hubungan sama Risa?" gumamnya pelan.

Hatinya terasa sedikit sesak, meskipun ia sendiri tak tahu kenapa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 29 - TAMAT

    Hujan turun sejak sore, membasahi kota dengan suara yang pelan namun tak henti. Yudha duduk di tepi ranjang kosnya, punggung bersandar ke dinding, ponsel tergeletak di samping. Sudah tiga kali ibunya menelepon hari itu. Ia belum menjawab satu pun.Bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli hingga ia kehabisan ruang untuk bernapas.Ia menatap langit-langit kamar yang kusam. Kos ini sempit, jauh dari kesan “kehidupan baru” yang dulu ia bayangkan saat memutuskan menikah dengan Risa. Ia mengira status akan membuatnya lebih tenang. Nyatanya, justru semakin banyak tuntutan yang harus ia pikul sendirian.Ponselnya kembali bergetar.Ibu.Yudha akhirnya menjawab.“Iya, Bu.”“Kamu belum kirim uangnya, Yudha. Ibu ditagih lagi,” suara ibunya bergetar. “Ibu malu.”Yudha menutup mata. Dadanya sesak.“Bu… Yudha lagi nggak ada.”Hening di seberang sana.“Oh… ya sudah,” jawab ibunya pelan, lalu sambungan terputus.Yudha memandangi layar ponsel lama setelah panggilan berakhir. Untuk pertam

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 28

    Liburan itu seharusnya menjadi jeda. Setidaknya, itulah yang Yudha harapkan. Beberapa hari di luar kota, jauh dari rutinitas, jauh dari tekanan pekerjaan, dan jauh dari pikiran yang terus menghantuinya sejak pernikahannya dengan Risa. Namun yang ia dapatkan justru sebaliknya—jarak yang semakin terasa, meski mereka berada di tempat yang sama.Risa berdiri di depan jendela hotel, memunggungi Yudha. Ia sibuk merapikan tas kecilnya, memastikan semua barang bermerek yang ia bawa tersusun rapi. Sejak pagi, Risa nyaris tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada nada tinggi. Hanya dingin yang menekan.“Kita pulang sore ini,” ucap Risa tanpa menoleh. “Aku harus kembali ke kantor besok. Ada apel pagi.”Yudha mengangguk. “Iya.”Ia ingin mengatakan sesuatu. Banyak, sebenarnya. Tentang pengakuannya yang tanpa sengaja terdengar oleh Risa beberapa hari lalu. Tentang rasa bersalah yang tak kunjung reda. Tentang Hana—nama yang masih sering muncul dalam diamnya. Tapi semua itu tertahan di tengg

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 27

    Pintu kamar hotel itu tertutup perlahan, tapi suara pengakuan Yudha masih terngiang jelas di kepala Risa. Kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya terasa seperti cambukan yang menghantam harga dirinya tanpa ampun.“Aku menyesal menikah dengan Risa… Seandainya aku bisa mengulang semuanya, aku akan memilih Hana.”Risa berdiri mematung di depan wastafel kamar mandi. Tangannya mencengkeram pinggiran marmer begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pantulan wajahnya di cermin terlihat asing—mata merah, rahang mengeras, dan senyum tipis yang bukan lahir dari kebahagiaan.“Jadi selama ini aku cuma pengganti?” gumamnya lirih.Ia menundukkan kepala, napasnya naik turun tidak beraturan. Air dari keran yang dibiarkan mengalir seakan menjadi satu-satunya suara yang mampu meredam riuh di kepalanya. Ia merasa dipermainkan. Bukan hanya oleh Yudha, tapi juga oleh keadaan yang membuatnya harus menelan kenyataan pahit ini seorang diri.Risa menegakkan tubuhnya, mematikan keran, lalu melangkah

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 26

    Hana mengernyit saat mendapati Yudha berdiri di depan pintu kamarnya."Ada apa?"Yudha merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meraih tangan Hana dan meletakkannya di sana."Ini uang yang ibu pinjam dulu. Aku baru tahu soal ini, dan aku ingin segera mengembalikannya."Hana menatap uang itu. Sempat ragu untuk menerima, tapi menolak pun terasa seperti menghina keluarga Yudha."Oh, oke." Ia hendak menarik tangannya, tapi Yudha menggenggamnya lebih erat.Tatapan mereka bertemu."Maaf...." suara Yudha terdengar lirih, penuh penyesalan.Hana hanya diam."Beri aku satu kesempatan lagi...."Hana tercekat. Entah kenapa, mendengar kata-kata itu, dadanya terasa sesak.Ia mengerjap, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan Yudha. "Apa maksudmu?"Yudha menatapnya dalam-dalam. "Aku menyesal, Han ... Aku menyesal memilih Risa. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu. Tidak harus mendengarkan Ibu. Aku bodoh."Jantung Hana berdegup kencang. Kata-kata itu, andai saja ia dengar dul

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 25

    Ponsel Hana berdering saat ia tiba di hotel. Nomor asing, tapi foto profilnya jelas memperlihatkan wajah Risa. Hana menghela napas berat. Rasanya sudah cukup lelah berurusan dengan wanita itu, tapi ia tetap menjawab dengan enggan. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Han, aku gak jadi nitip. Aku ambil aja langsung. Kamu di mana?" Suara Risa terdengar tanpa basa-basi. Yudha, yang berdiri di samping istrinya, mengernyit heran. Ia mendengar Risa menyebut nama "Han". Apakah itu Hana? "Baru sampai hotel. Ini mau masuk." "Aku tunggu di lobi." Telepon terputus begitu saja. Tanpa sopan santun. Hana kembali menarik napas, berusaha menahan kekesalan. "Kenapa?" tanya Ali. "Risa mau ambil titipannya sendiri. Dia nunggu di lobi." Tak lama, mereka tiba di lobi hotel. Hana berjalan menuju meja resepsionis, sementara Ifa memilih langsung ke kamar. "Han!" Suara Risa terdengar lantang. Hana menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di sebelah Risa. Yudha.

  • Karma Pengkhianatan Calon Suamiku   Bab 24

    Seharian ini Yudha bekerja dengan gelisah. Pikirannya terus melayang ke kota tempat Risa, Hana, dan Ali berada. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa mereka bertiga ada di satu tempat yang sama. Keinginan untuk menyusul semakin kuat, tetapi keuangan sedang tidak stabil. Lagi pula, mereka akan kembali bekerja pada hari Senin. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin tidak tenang rasanya. Akhirnya, muncul ide untuk meminjam uang kepada Zaki, rekan kerjanya yang sedang sibuk di depan laptop. "Zak, lo ada uang nggak? Gue mau pinjam," tanya Yudha langsung. Zaki menoleh dengan dahi berkerut. "Tumbenan lo pinjam uang. Berapa?" Yudha cepat menghitung perkiraan biaya tiket pesawat pulang-pergi, transportasi, makan, serta penginapan karena tidak mungkin tidur sekamar dengan Risa yang berbagi kamar dengan rekan kerjanya. Setelah semuanya ia perhitungkan, ia menunjukkan angka di layar ponselnya. Zaki membulatkan mata. "Segini?" "Ya. Gue transfer sekarang ya?" "Transfer aja, br

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status