Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 141. Mulai dari 0

Share

141. Mulai dari 0

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-07-24 20:05:46

"Mas..."

Harsa yang sejak tadi menatap kosong pada taman rumah sakit, mengerjap ketika istrinya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia menoleh dan melihat kedua mata jernih istrinya. Bulu mata yang panjang dan lentik alami membuat mata itu semakin indah.

"Semua orang pernah melakukan dosa. Entah itu besar atau kecil. Termasuk kita. Nggak ada salahnya memaafkan. Kematian Ayah Umar adalah qodarullah. Akhir jalan hidupnya sudah ditetapkan sejak sebelum beliau dilahirkan. Jadi, meskipun Bu Sulast
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    141. Mulai dari 0

    "Mas..." Harsa yang sejak tadi menatap kosong pada taman rumah sakit, mengerjap ketika istrinya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia menoleh dan melihat kedua mata jernih istrinya. Bulu mata yang panjang dan lentik alami membuat mata itu semakin indah. "Semua orang pernah melakukan dosa. Entah itu besar atau kecil. Termasuk kita. Nggak ada salahnya memaafkan. Kematian Ayah Umar adalah qodarullah. Akhir jalan hidupnya sudah ditetapkan sejak sebelum beliau dilahirkan. Jadi, meskipun Bu Sulastri tidak memfitnahnya, dia akan tetap meninggal di hari itu." Harsa menelan ludah. Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar. Seharusnya dia mendengarkan nasehat kakeknya puluhan tahun yang lalu. Tapi, dia memilih untuk mengabaikannya dan terus memelihara dendamnya pada Sulastri dan Delina. "Tapi gara-gara kehadiran dia, ayahku difitnah." Masih ada rasa tidak terima di hati Harsa. Nama baik ayahnya tercoreng gara-gara fitnah dari perempuan keji. "Pasti ada alasan kenapa Allah menakdirkan ayahmu

  • Karma Suami Mendua    140. Gagal Periksa

    Takdir manusia memang sudah ditentukan sebelum mereka lahir ke dunia. Tapi, bukan berarti mereka hanya diam saja dan berpangku tangan. Harus ada usaha yang dilakukan, sebagai bentuk ikhtiar. Yang terpenting sudah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasil, hanya Allah yang berhak menentukan. Pagi itu, Kamila terus menyuntikkan semangat ke dalam hati dan pikirannya. Dia terus men-sugesti dirinya sendiri, bahwa apa yang dialami oleh suaminya adalah bagian dari ujian dalam pernikahan mereka. Sejak awal, dia meminta pada Allah untuk tidak diberikan cobaan dalam bentuk orang ketiga. Jadi, seharusnya dia siap jika akhirnya mendapatkan cobaan dalam bentuk lain. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena suaminya susah untuk memiliki anak. "Mama orang baik. Jadi, mama harus memaafkan semuanya." Sentuhan di pipi Kamila membuat lamunannya buyar. Dia menatap Fiona yang kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam sekolah. Keningnya berkerut tak mengerti. "Luka itu nggak akan bisa sembuh

  • Karma Suami Mendua    139. Menghapus Kesalahpahaman

    Kamila membuka pintu dengan wajah terlihat marah. Begitu melihat Harsa, mata wanita itu langsung membelalak lebar."Mas?"Harsa berdiri terpaku dengan senyum tipis di bibirnya. Baru dia tinggal sehari, wajah istrinya terlihat sedikit kusut dan kedua matanya terlihat lelah. Meskipun istrinya masih tetap cantik seperti biasanya. Apakah wanita itu tidak bisa tidur juga seperti dirinya? Bukannya dia merasa bangga karena istrinya mengkhawatirkannya. Dia justru merasa sangat bersalah.Selama sesaat, mereka hanya saling menatap. Harsa bisa merasakan kerinduan yang mendalam di sorot mata lembut itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Detik berikutnya, Kamila menubruknya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu."Kamu ke mana aja? Kenapa tiba-tiba menjauh dan nggak pulang? Aku ada salah apa? Apa ada sikapku yang membuatmu marah?" Harsa membalas pelukan istrinya dengan hati yang terasa perih. Dia benar-benar pria yang tidak tahu diri! Sudah mendapatkan istri

  • Karma Suami Mendua    138. Berani Speak Up

    Dada Kamila naik turun menahan amarah. Dia menarik nafas panjang berkali-kali untuk menahan diri agar tidak meledak. Bagaimanapun juga, Bu Karlina adalah ibu kandungnya. "Suamimu mana? Biasanya jam segini udah di rumah. Ini aku bawakan buah salak. Dikasih sama tetangga. Ketimbang nggak dimakan, aku kasih ke kamu aja." Bu Karlina menyelonong masuk dan langsung menuju ke ruang makan. "Kamu masak banyak banget? Ada acara apa?" Kamila menatap ibunya yang terlihat tidak merasa bersalah atau mungkin menyembunyikan sesuatu. Tabiat ibunya yang tidak dia sukai. "Bu, kemarin lusa waktu Mas Harsa ke rumah, ibu ngomong apa saja?" Tidak ada gunanya lagi menahan diri. Dia ingin tahu suaminya kenapa sehingga tidak pulang. "Kapan Harsa ke rumah? Aku nggak menemui dia sama sekali." Bu Karlina menghentikan kegiatannya melihat-lihat lauk di atas meja makan setelah meletakkan sekantong plastik buah salak. Wanita itu mengernyit, terlihat sekali kebingungan. Oke, Kamila harus mengubah pertanyaannya.

  • Karma Suami Mendua    137. Masih Belum Ketemu

    Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de

  • Karma Suami Mendua    136. Harsa Tidak Pulang

    Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan

  • Karma Suami Mendua    26. Mengeksekusi Rencana

    Pukul 11 malam, Kamila tidak bisa tidur. Dia melirik Fiona yang baru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya terus rewel dan mencari-cari Harsa. Bahkan Toni pun tidak bisa menenangkan gadis kecil itu.Dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Pandangannya menyapu rumah mewah yang terletak di kota. Mes

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status