Share

Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi
Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi
Author: Ayyliana

Bab 1

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-07-02 16:29:57

“Begitu Keira pulang malam ini, aku akan mengurus perceraian dengan Alena.”

Langkah Alena Hartawan mendadak terhenti tepat di depan ruang meeting. Jantungnya berdetak pelan. Ia mengenal suara itu dengan baik, suara Alres, suaminya.

Alena baru saja sampai kantor suaminya. Sejak pagi, ia sangat bersemangat untuk bertemu Alres karena sudah beberapa hari mereka tidak berjumpa. Ia bahkan sampai bangun sebelum matahari terbit hanya untuk memasak makanan favorit Alres, sup ayam pedas.

Tapi, bukan rindu yang menjadi penyebab Alena ingin bertemu Alres. Karena dia sendiri sudah biasa ditinggal Alres berhari-hari saking sibuknya pria itu.

Penyebab kedatangannya hari ini adalah foto USG kecil yang juga ada di dalam tas tangannya. Tersimpan rapih di dalam amplop putih sebagai kejutan.

Alena tengah mengandung sekarang. Menurut dokter, usia kandungannya baru delapan minggu. Saat mendengarnya kemarin, Alena begitu senang bahkan buru-buru menelepon Alres untuk mengabari kabar bahagia tersebut.

Tapi, Alres tidak mengangkat telepon. Ia juga tidak pulang semalam. Pria itu hanya mengirimkan pesan singkat kalau kesibukannya membuatnya harus bermalam di luar rumah, sehingga Alena memutuskan untuk mengabarinya secara langsung hari ini.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia membayangkan bagaimana reaksi Alres saat mengetahui dirinya akan menjadi seorang Ayah. Pria yang selama ini kaku dan dingin, akankah bereaksi bahagia? Bukankah kehadiran seorang anak mampu mengubah segalanya?

Alena berpegang teguh pada harapan kecil itu. Namun kini, semua harapan itu terasa seperti lelucon setelah dia mendengar ucapan Alres barusan.

Atau dia salah mendengarnya?

Gelak tawa dari ruang meeting kembali menyadarkan Alena. Ia kini menajamkan kupingnya untuk mendengar obrolan mereka lagi.

            “Penantian lima tahun akhirnya selesai juga,” ucap seorang pria dengan kekehan kecil. Alena mengenal suara itu milik Dion, salah satu sahabat Alres. “Akhirnya kamu bisa bersama Keira lagi.”

Keira. Itu nama sahabat mereka dari kecil. Kenapa mereka membawanya ke dalam percakapan?

            Tanpa sadar, jemari Alena mencengkeram paper bag semakin erat. Dadanya bergemuruh dengan perasaan was-was.

"Jujur aja, aku salut sama kamu, Res." Suara Dion kembali terdengar dari balik pintu. "Lima tahun tinggal serumah sama perempuan secantik Alena, tapi kamu masih setia menunggu Keira."

“Tentu saja, mana bisa Alres melupakan Keira? Memangnya kamu lupa, dia bahkan rela bolak-balik luar negeri selama lima tahun ini hanya untuk bertemu dengannya,” sahut Kevin, sahabat Alres lainnya yang juga dikenal Alena, sambil tertawa gelak lagi.

Alres berdeham keras, membuat kedua sahabatnya itu membungkam tawa mereka. Reaksi yang seolah mengatakan bahwa pria berwibawa itu sedikit terganggu oleh kelakar kedua temannya.

“Tidak usah malu-malu begitu. Semua orang tahu kalau kamu sangat cinta pada Keira,” imbuh Kevin.

Sesuatu di dalam diri Alena seolah runtuh begitu saja. Alres menyukai Keira? Dan pria itu selalu bertemu dengannya selama lima tahun ini?

Alena ingat kalau Alres selama ini memang suka bepergian keluar negeri. Tapi, pria itu selalu bilang kalau itu untuk urusan bisnis. Ia menyuruh Alena memakluminya ketika wanita itu protes karena Alres terlalu sering bepergian.

Siapa sangka ternyata dia melakukannya untuk bertemu dengan Keira?

Kepala Alena mendadak pening. Ia berharap salah mendengar ucapan sahabat-sahabat Alres itu, tapi ucapan mereka selanjutnya justru semakin membenarkan hal itu, membuat hati Alena semakin perih.

"Tapi, bagaimana kalau Alena nggak mau cerai?" tanya Dion.

Alena menajamkan kembali pendengarannya. Dalam hati, ia berharap pertanyaan itu akan memancing Alres untuk berpikir ulang lagi. Membuatnya ragu-ragu.

Tapi, Alres justru menjawabnya tanpa sedikit pun keraguan. “Dia harus mau. Itu bukan pilihan untuknya, tetapi hal yang sudah harus ia lakukan.”

“Lagipula, aku sudah cukup memenuhi permintaan Om dan Tante untuk menikah dengan Alena.”

Hati Alena mencelos mendengarnya. Tubuhnya melemas. Jadi, selama ini Alres hanya menganggap pernikahan mereka sebagai balas budi?

Sebelum menikah dengannya, Alres adalah seorang anak yatim piatu yang dibiayai oleh Edward Hartawan. Hal ini karena ayah Alena memiliki yayasan yang membiayai pendidikan anak-anak berprestasi dari panti asuhan.

Alres dimasukkan ke sekolah bergengsi yang sama dengan Alena. Dari situlah dia mengenal Alres dan jatuh cinta padanya.

Alres adalah anak yang cerdas dan ulet. Banyak prestasi yang dihasilkannya sehingga membuatnya menjadi kebanggaan sekolah dan hal itu membuat Edward begitu menyayanginya.

Didorong keinginannya untuk menjadikan Alres sebagai putranya, ia akhirnya menjodohkan sang pria dengan Alena. Alres menerimanya dengan cepat waktu itu dan Alena sama sekali tidak mencurigainya.

Hatinya hanya diliputi kesenangan karena berpikir cintanya bersambut. Nyatanya tidak, Alres hanya menganggapnya sebagai alat balas budi yang pada akhirnya akan diceraikan.

Padahal selama lima tahun ini, ia berusaha menjadi istri yang baik. Belajar memasak, mengurus rumah, dan memahami pria yang begitu sulit ditebak.

Ia bahkan rela meninggalkan kuliahnya agar bisa sepenuhnya mendampingi Alres membangun Arta Group, perusahaan yang dulu diberikan ayahnya sebagai modal awal bagi pria itu untuk memulai usahanya.

Tapi, semua usaha itu dibuang mentah-mentah begitu saja oleh Alres. Pria itu malah sibuk mengejar wanita lain.

Setelah beberapa saat, sahabat Alres yang lain, Rafael, menceletuk. ”Kamu benar-benar gila. Apa kamu tidak kasihan dengan Alena?”

Tidak ada jawaban dari Alres. Yang terdengar hanya suara kursi bergeser dari dalam ruangan. "Aku harus ke bandara sekarang," suara Alres kembali terdengar. "Pesawat Keira mendarat satu jam lagi."

Mendengar itu, Alena bergegas balik badan. Kakinya melangkah cepat dan panjang menuju lift.

Ia harus segera pergi dari sini. Dia tidak bisa membiarkan dirinya tertangkap Alres berada di kantornya atau pria itu bisa mencurigainya. Lagipula, sudah tidak ada gunanya juga dia di sini.

Di dalam lift, Alena mengelus pelan perutnya yang masih datar. Senyum pedih terukir di wajahnya.

"Maaf, Nak. Sepertinya ayahmu tidak menginginkan kita ..." Suara Alena nyaris tak terdengar. Setetes air mata jatuh ke pipinya disusul dengan isakan pelan yang menyesakkan lift itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
Kenapa orang baik slalu di sakiti
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kasihan kamu Alena...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 136

    Alena melirik melalui kaca spion tengah dan mendapati mobil di belakangnya adalah milik Angel. Belum sempat Alena menancap gas untuk menghindar, Angel dengan cepat memotong jalur dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Alena, memblokir jalan.Sebelum Alena sempat mengunci pintu, Angel sudah mengetuk kaca dengan kasar dan berhasil memaksa Alena membuka pintu mobilnya.Wajah Angel tampak memerah padam oleh amarah. Beberapa saat lalu, ia tak sengaja melihat Alena duduk bersama Rafael dan ibunya di toko kue. Pemandangan itu membakar cemburunya.Angel memiliki perasaan yang sangat dalam pada Rafael; ia bahkan sudah berkorban begitu banyak—termasuk memberikan akses komputer pribadinya agar Rafael bisa membantu pekerjaan lelaki itu. Namun, Rafael tetap saja hanya memandang dan memperhatikan Alena."Setelah bercerai dari Alres, sekarang kamu mau mendekati Rafael juga?!" cerocos Angel dengan nada meninggi penuh kedengkian. "Dasar cewek gatal!"Alena menghela napas panjang, menatap Angel

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 135

    Alena menyesap tehnya perlahan, membalas tatapan Rafael dengan nada suara datar dan biasa. "Aku baik-baik saja. Berita itu juga sudah hilang."Rafael mengangguk pelan, seolah lega, meski ada guratan cemas yang tak sepenuhnya sirna dari wajahnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memelankan intonasi bicaranya. "Alena ... aku mendengar rumor yang beredar kemarin. Kamu adalah Lovely ... apa itu benar?"Tanpa keraguan, Alena menatap lurus manik mata pria di hadapannya. "Ya. Lovely adalah aku."Jawaban singkat itu membuat Rafael terdiam membeku. Untuk beberapa saat, lidahnya terasa kelu. Namun, ia menyadari ada yang berbeda dari cara Alena memandangnya—sebuah tatapan tajam, dingin, dan sarat akan penyelidikan yang menghujat."Kenapa ... kenapa tatapanmu seperti itu padaku, Al?" tanya Rafael ragu, mencoba menutupi kegugupannya.Alena menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menghembuskan napas pelan namun terdengar begitu berat. "Rafael, selama ini kamu adalah satu-satunya orang yang sangat

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 134

    "Aku ... duluan," pamit Alena singkat tanpa menunggu balasan dari pria itu. Dengan gerakan tergesa, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kasir.Regan sempat tertegun sejenak. Menyadarinya, ia bergegas menyambar botol air mineral dari rak dan melangkah lebar mengejar Alena. Namun, sesampainya di area kasir, Alena sudah selesai melakukan pembayaran dan melangkah keluar dari minimarket.Regan hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung wanita itu yang makin menjauh, menyadari betul bahwa Alena sengaja menghindarinya.Di luar minimarket, Alena berjalan menuju mobilnya. Ia sempat berselisih pandang dengan Shanon yang tengah duduk bersedekap di kursi plastik area luar dengan wajah cemberut.Alena hanya sunggingkan senyum sekadarnya, lebih karena formalitas—lalu masuk ke dalam mobil dan langsung meluncur pergi.Begitu berada di dalam mobil, Alena melirik kantong belanjaannya dan mendesah pasrah. Sial, ia hanya sempat membeli satu botol susu. Rencananya membeli bahan makanan dan mi i

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 133

    Di dalam kamar rawat inapnya, Keira menatap layar ponsel dengan mata membelalak lebar. Tangannya gemetar menahan amarah yang membakar dada. Ia terus memuat ulang halaman portal berita online dan akun-akun gosip media sosial, tetapi hasilnya tetap sama—artikel skandal perceraian Alena dan manipulasi saham yang baru saja terbit pagi ini sudah menguap tanpa sisa."Bagaimana mungkin?!" geram Keira seraya menempelkan ponsel ke telinganya. Begitu sambungan telepon terhubung, ia langsung mencecar lawan bicaranya tanpa ampun. "Aku sudah bayar kalian mahal-mahal! Kenapa beritanya bisa hilang secepat ini?! Kerja kalian benar-benar tidak becus!"Klek.Pintu kamar rawat inap mendadak terbuka. Alres melangkah masuk, tetapi langkahnya serta-merta terhenti tepat di ambang pintu tatkala mendengar bentakan tajam Keira.Keira yang tersadar ada pergerakan di pintu langsung terperanjat. Dengan panik, ia menurunkan ponselnya dan mematikan sambungan telepon secepat kilat. Wajahnya yang tadinya pusing penuh

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 132

    Keesokan paginya, ketika sinar matahari mulai menyusup di balik tirai rumah sakit, Alres terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan badannya yang terasa kaku setelah semalaman berbaring di sofa. Begitu membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada ranjang rawat inap.Keira sudah terbangun dan tengah duduk bersandar di kepala ranjang, menatapnya dengan raut wajah sayu yang sengaja dibuat-buat.Alres bangkit dan melangkah mendekatinya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur."Aku sudah jauh lebih baik," jawab Keira pelan. Ia lalu menatap Alres dengan mata berbinar lembut. "Kapan kamu datang?""Semalam," jawab Alres singkat.Mendengar itu, Keira perlahan mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Alres erat-erat. "Alres ... aku tahu kamu sangat marah padaku atas kebohonganku tentang Lovely. Tapi tolong pahami aku ... aku melakukan semua itu hanya karena aku ingin kamu semakin melihatku. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu tahu sejak awal bahwa Lovely ada

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 131

    "Kak Regan!"Shanon menerobos masuk dengan wajah memerah, napasnya memburu, dan mata yang smarak oleh genangan air mata kekesalan. Di belakangnya, Riko tampak melangkah tergesa dengan raut cemas karena gagal menahan kedatangan gadis itu."Nona Shanon, Anda tidak boleh masuk begitu saja—" panggil Riko memotong, berusaha menghentikan pergerakannya.Namun, Shanon mengabaikan Riko sepenuhnya. Ia melangkah lebar mendekati meja kerja Regan, lalu mengebrak permukaannya dengan kedua tangan."Aku tidak peduli Mami bicara apa!" teriak Shanon dengan suara melengking penuh amarah. "Aku tidak akan biarkan wanita itu merebut Kakak dariku!"Regan memejamkan matanya rapat-rapat, menahan denyutan nyeri di pelipis yang mendadak menyerang. Ia benar-benar dibuat jengah dan kesal setengah mati oleh tingkah Shanon yang makin tak terkendali.Semenjak Maminya memunculkan niat perjodohan di antara mereka, Shanon seolah mendapat lampu hijau untuk bersikap posesif dan tak segan-segan mengklaim Regan sebagai mil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status