LOGINDua hari berlalu sejak malam itu. Pagi ini, Alena masih memilih menghabiskan waktunya di kamar.
Tubuhnya memang sudah sedikit lebih baik, tetapi rasa nyeri di bagian perut masih sesekali muncul. Dokter juga sudah mengingatkannya untuk banyak beristirahat. Untuk pertama kalinya, Alena tidak merasa perlu memaksakan diri turun ke ruang makan hanya untuk menjalankan rutinitas yang selama ini selalu ia lakukan.
Dari balik pintu kamar, sesekali terdengar suara langkah kaki dan percakapan dari lantai bawah. Suara tawa Keira terdengar ceria, sesekali terdengar suara Alres menyahutinya. Ternyata Alres bisa tertawa sebahagia itu bersama Keira.
Alena memejamkan mata. Ia tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan di rumahnya. Namun, menjelang siang, rasa bosan membuat Alena akhirnya keluar dari kamar.
Langkahnya terhenti ketika melihat perubahan di ruang tengah. Beberapa vas bunga yang sebelumnya tidak pernah ada kini menghiasi meja. Bantal-bantal sofa diganti dengan warna yang lebih cerah. Bahkan beberapa pajangan di rak sudah dipindahkan dan diganti dengan benda-benda yang Alena tidak kenal.
Rumah itu masih rumah yang sama. Tetapi entah mengapa, suasananya terasa berbeda. Seolah-olah seseorang sedang perlahan mengambil alih tempatnya.
“Bagaimana menurutmu bunga mawar ini, Res?” Keira muncul dari arah ruang makan sambil membawa beberapa bunga.
Alres yang sedang duduk di sofa mengangkat wajahnya. “Bagus.”
“Benarkah? Aku merasa ruang tengahnya terlalu kosong.”
“Kalau kamu suka, kamu bisa menghiasnya.”
Keira tersenyum lebar. Alena berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan dalam diam. Jadi Alres membiarkannya, dulu saat Alena meminta pendapatnya tentang dekorasi rumah, ekspresinya datar saja.
Alena kembali melangkah, langkah kakinya terdengar saat menuruni tangga. Interaksi antara Alres dan Keira seketika terhenti, keduanya menatap Alena yang berjalan perlahan melewati mereka begitu saja.
“Keira bilang bosan karena hanya terus berada di rumah,” ujar Alres ketika Alena beberapa langkah melewatinya. “Jadi, biarkan dia melakukan apa pun yang membuatnya tidak bosan.”
Langkah Alena terhenti, ia menoleh sekilas lalu mengangguk kecil. “Oh. Lakukan sesuka kalian.” Ia kembali berjalan.
Akan tetapi, langkah kakinya kembali terhenti saat suara lembut Keira memanggilnya. “Alena, kamu benar tidak keberatan?”
Alena menoleh. “Keberatan untuk?”
“Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya sedikit mengubah suasana rumah ini.”
Alena melihat sekeliling sebentar. “Kalau Kak Keira suka, silakan saja.” Setelah mengatakan itu, Alena kembali berjalan.
Alres menatap punggungnya. Biasanya, Alena akan mengeluh jika ada sesuatu yang berubah dari rumah ini. Ia bisa menghabiskan waktu cukup lama memilih warna bunga, sarung bantal, bahkan posisi sebuah pajangan.
Tetapi sekarang? Ia bahkan tidak terlihat peduli.
“Res, sarapannya sudah siap.” Suara Keira membuat perhatian Alres kembali kepadanya. Keduanya kemudian duduk di meja makan.
Alena sebenarnya hendak kembali ke kamar, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat mereka.
Keira mengambilkan makanan untuk Alres. “Nasi goreng seafood kesukaanmu.”
Alres tersenyum tipis sambil menyesap kopi hitamnya. “Terima kasih.”
“Jangan banyak minum kopi. Kemarin dokter bilang lambungmu juga harus dijaga.”
“Aku tahu.”
Keira mengambil cangkir kopi di hadapannya dan menggantinya dengan segelas jus. Alres tidak menolak.
Alena memandangi pemandangan itu selama beberapa detik. Dulu, ia juga melakukan hal-hal kecil seperti itu. Memastikan sarapan Alres tersedia. Mengingatkan Alres meminum obatnya. Memilihkan makanan yang tidak membuatnya sakit. Bahkan menunggu Alres pulang meskipun pria itu tidak pernah meminta.
Sekarang semua itu dilakukan orang lain. Anehnya, Alena tidak merasa sedih. Mungkin karena ia sudah terlalu sering kecewa.
Ia mengalihkan pandangan lalu melanjutkan langkah. Ketika melewati meja makan, Keira melihatnya.
“Alena.”
Alena berhenti.
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Kalau begitu ikut makan bersama kami. Aku baru saja menyiapkan banyak makanan.”
Alena menatap meja makan. Kemudian menatap Keira. Untuk sesaat, ia bisa merasakan tatapan Alres yang ikut mengarah kepadanya.
“Baik.”
Keira tersenyum. “Duduklah.”
Akan tetapi, Alena justru menggeleng. “Aku hanya ingin keluar sebentar. Ke taman belakang. Ingin menghirup udara segar.”
Keira segera mengangguk. “Kalau begitu nanti aku minta Bik Isa mengantarkan sarapan ke sana.”
Alena tersenyum tipis. Merasa jika Keira adalah tuan rumah, dan ia hanyalah tamu yang sedang mempir. “Tidak perlu. Aku tidak terlalu lapar.”
Ia kemudian berjalan menuju taman belakang.
Alres memperhatikannya sampai sosok wanita itu menghilang di balik pintu kaca. “Alena memang begitu, biarkan saja,” katanya tanpa sadar.
Keira menoleh. “Maksudmu?”
“Tidak suka makan kalau bukan makanan yang dia inginkan.” Alres mengambil jusnya lalu menyesapnya sambil menatap pintu kaca, ia seakan tahu kebiasaan Alena.
Ada sedikit senyum di wajahnya. Bukan senyum penuh kasih. Lebih seperti ekspresi seseorang yang sedang membicarakan kebiasaan lama yang sudah sangat dikenalnya.
Alena memang selalu seperti itu. Santai. Tidak pernah benar-benar memikirkan banyak hal. Selama lima tahun pernikahan mereka, Alres hanya tahu istrinya hanya menikmati hidup. Ia tidak perlu bekerja karena terlahir dari keluarga kaya.
Setiap bulan, ia menerima uang dari Alres dan menggunakannya untuk berbagai keperluannya. Belanja, perawatan, bepergian, atau sekadar membeli barang-barang yang ia sukai.
Bagi Alres, itu bukan masalah. Ia mampu memberikannya sebagai tanda balas budinya. Namun, jika dibandingkan dengan Keira, perbedaannya begitu jelas.
Keira tidak pernah meminta banyak. Bahkan ketika sedang membutuhkan sesuatu, wanita itu selalu berusaha menyelesaikannya sendiri. Keira di mata Alres wanita sederhana, mandiri dan paling penting tidak merepotkan.
Alena masih menatap desain yang terpampang di layar komputernya. Semakin lama diperhatikan, semakin jelas baginya bahwa ada sesuatu yang tidak biasa.Keira bukan desainer yang buruk. Justru sebaliknya. Ia memiliki kemampuan yang cukup baik untuk memahami bentuk, warna, dan karakter busana. Namun, desain ini terasa berbeda.Ada beberapa keputusan yang menurut Alena terlalu dipaksakan. Detail yang seharusnya menjadi kekuatan justru membuat keseluruhan gaun kehilangan keseimbangan.Alena membuka kembali konsep awal yang diberikan klien. Kemudian berpindah pada desain final. Ia mulai membandingkan keduanya.Enam hari. Waktu yang sangat singkat untuk memperbaiki beberapa gaun pengantin yang akan tampil dalam acara mode besar.Namun, bukan berarti mustahil. Alena mulai membuat catatan. Bagian mana yang harus dipertahankan. Bagian mana yang harus dikembalikan. Dan bagian mana yang harus diperbaiki.Ia sedang berdiri mengambil beberapa dokumen ketika suara dari ruang rapat kecil di sebelah me
Pertanyaan tentang cincin itu masih mengganggu pikiran Alena sepanjang pagi. Bagaimana mungkin cincin yang dirancangnya lima tahun lalu bisa muncul dalam sebuah pelelangan?Dan yang lebih membuatnya penasaran, mengapa cincin itu berada di acara yang diselenggarakan oleh Regantara? Alena bahkan belum sempat menanyakan hal tersebut kepada pria itu.Tangannya sudah meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Nama Regantara masih berada di daftar kontak terakhir yang dibukanya semalam. Jarinya berhenti di atas nama itu.Haruskah ia menelepon? Alena mengembuskan napas pelan.Pertemuan semalam saja masih terasa aneh baginya. Ia baru mengetahui bahwa pria yang selama ini membantunya ternyata adalah Regantara, seseorang yang sebenarnya sudah mengenalnya sejak lama.Belum lagi cara pria itu memandangnya. Seolah-olah ada begitu banyak hal yang diketahui Regantara tentang dirinya, sementara ia bahkan tidak mampu mengingat semuanya.Alena belum sempat menekan tombol panggil ketika suara langkah k
Bab 50:Alres mengangkat wajahnya saat Alena baru saja memasuki kamar. Tatapannya langsung tertuju pada Alena dari ujung kepala sampai kaki.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Alena baru menyadari gaun yang dikenakannya masih melekat di tubuhnya. Gaun itu memang sederhana, tetapi potongannya membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari biasanya."Kamu habis dari mana?" Nada suara Alres terdengar dingin.Alena tidak menutup pintu kamar, kemudian berjalan beberapa langkah menjauh darinya. "Aku menghadiri pesta ulang tahun temanku.""Siapa?"Alena menoleh. Biasanya Alres tidak akan pernah sepeduli itu menanyakan ke mana ia pergi. "Kamu tidak mengenalnya."Jawaban itu membuat rahang Alres mengeras. Selama lima tahun menikah, Alena hampir tidak pernah memberikan jawaban sesingkat itu kepadanya.Dulu, perempuan itu selalu berusaha menjelaskan banyak hal, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ia jelaskan.Alres berdiri dari ranjang. "Ini untukmu." Sebuah paper bag yang sejak
Bab 49:Malam itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Alena duduk berhadapan dengan Regantara di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kecil menggantung di atas setiap meja, menciptakan suasana hangat yang justru membuat kecanggungan di antara mereka terasa semakin jelas.Sejak meninggalkan acara lelang, Alena belum banyak bicara. Begitu pula Regantara.Pria itu hanya sesekali memastikan makanan di hadapannya disentuh, seolah khawatir Alena akan kembali kehilangan selera karena terlalu banyak memikirkan sesuatu."Kenapa kamu diam saja?" tanya Regantara akhirnya.Alena mengangkat wajah. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."“Apa yang kamu pikirkan?” Regantara tersenyum tipis.Alena menunduk, memainkan sendok di tangannya sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian. "Aku ingat waktu masih kecil, kamu salah satu anak asuh Ayah."Regantara tidak langsung menjawab."Kamu benar, Pak Adrian juga pasti sudah mengatakannya padamu."Alena mengangguk membenarkan, Pak Adrian
Alena kembali ke ruang VIP dengan langkah yang tidak sepenuhnya ia sadari. Pikirannya masih tertinggal di lorong tadi.Suara Keira terus terngiang di kepalanya. Cincin itu karyaku. Kalimat sederhana itu justru membuat pikirannya semakin kacau.Selama ini Keira mengaku kepada Alres bahwa dirinya adalah Lovely. Dan Alres mempercayainya.Bahkan malam ini, pria itu rela mengeluarkan satu miliar untuk membeli cincin yang sebenarnya merupakan hasil karya Alena. Bagaimana semua itu bisa terjadi?Alena membuka pintu ruang VIP tanpa mengetuk. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Pak Adrian sudah tidak berada di sana. Yang ia lihat hanya sebuah sofa kosong.Tanpa berpikir panjang, Alena langsung duduk di salah satu sisi sofa. Tatapannya kosong."Pak Adrian ...." Suaranya lirih. "Aku ingin pulang."Tidak ada jawaban. Alena menunggu beberapa detik. Namun, pikirannya yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan membuatnya tidak menyadari bahwa orang yang duduk di hadapannya bukanlah Pak Adrian."Pak Adrian,
Regantara akhirnya memasuki ruangan VIP yang sejak tadi menjadi tempat Pak Adrian menunggu bersama Alena.Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan. Namun, sosok yang dicarinya tidak terlihat. Hanya ada Pak Adrian yang duduk di salah satu sofa.Regantara berhenti sejenak. Matanya kembali berkeliling, seolah berharap Alena tiba-tiba muncul dari sudut ruangan."Alena sedang ke toilet," ujar Pak Adrian, seolah memahami siapa yang sedang dicari pria itu. "Sejak tadi dia menunggumu dengan penasaran."Regantara hanya mengangguk. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang menghadap langsung ke ballroom.Dari tempat itu, seluruh ruangan lelang terlihat jelas melalui dinding kaca. Para tamu masih sibuk berbincang setelah sesi lelang berakhir. Beberapa di antaranya bahkan masih membicarakan cincin pasangan yang baru saja dimenangkan Alres dengan harga fantastis.Regantara tidak terlalu memperhatikan mereka. Pikirannya justru tertuju pada satu orang. Alena."Jadi, kam







