Share

Bab 7

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-08-21 19:52:58

Dokter datang tak lama setelah Bik Isa menghubunginya.

Alena masih duduk bersandar di ranjang ketika dokter memeriksa kondisinya. Luka di telapak tangannya sudah dibersihkan dan diperban. Namun, dokter kembali memeriksa bagian perutnya dengan lebih teliti.

“Nyeri di bagian ini masih terasa?”

Alena mengangguk. “Sedikit.”

Dokter menghela napas pelan. “Kondisi Anda memang belum sepenuhnya pulih setelah keguguran. Benturan tadi bisa memperparah rasa sakit dan menyebabkan perdarahan kembali. Untuk sementara, Anda harus banyak beristirahat.”

“Baik, Dok.”

“Kalau rasa sakitnya semakin kuat atau perdarahannya bertambah, segera ke rumah sakit.”

Alena kembali mengangguk.

Setelah dokter pergi, kamar kembali sunyi. Hanya ada Bik Isa yang menemani di samping Alena sambil menatap iba, namun tidak berani menanyakan apa pun.

         Alena menyadari perubahan wajah Bik Isa, wanita paruh baya yang mengasuhnya sejak kecil itu terlihat ingin mengatakan sesuatu.

         “Bik, jangan beritahu Alres tentang keguguranku ini.”

         Mata Bik Isa mengembun, ia tahu rumah tangga seperti apa yang dijalani nona mudanya itu. Ia hanya bisa mengangguk.

         “Non Alena silakan istirahat, Bibik antar Pak Dokter ke depan.”

Alena mengangguk lemah, sambil menatap langit-langit. Tidak ada lagi air mata. Mungkin karena hatinya sudah terlalu lelah untuk menangis.

Hampir satu jam kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman. Alena tahu siapa yang baru saja pulang. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari lantai bawah.

Pintu kamar terbuka. Alres masuk bersama Keira.

“Alena, kamu tidak apa-apa?” tanya Keira pelan.

Alena hanya diam tak menanggapi pertanyaan Keira.

Alres masih memapah tangan Keira. Namun, tatapannya jatuh pada Alena yang hanya berbaring di ranjang. Wajahnya pucat, tetapi tidak ada ekspresi kesakitan yang berlebihan.

Alres mengira istrinya hanya sedang merajuk. Mungkin karena tadi ia memilih membawa Keira ke rumah sakit lebih dulu.

“Kenapa tidak ke rumah sakit?” tanyanya datar.

Alena menoleh sebentar. Apa yang harus ia jawab, pertanyaan Alres menanyakan karena dirinya yang sakit, atau karena ia tidak menjenguk Alena ke rumah sakit?

         “Sepertinya Kak Keira membutuhkanmu,” ucap Alena pada akhirnya.

Keira yang berdiri di sampingnya tiba-tiba memegangi kakinya.

“Aduh ....”

Alres langsung menoleh. “Masih sakit?”

Keira mengangguk kecil. “Sedikit. Mungkin obatnya belum bekerja.”

Alres segera mengecek perban di kaki Keira. “Ayo kembali ke kamarmu, istirahatlah.”

Alena memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Tidak ada lagi rasa kecewa. Hanya sebuah kesimpulan yang semakin jelas. Bahkan setelah semua yang terjadi malam ini, perhatian Alres tetap hanya tertuju kepada Keira.

“Alres benar, Kak Keira, istirahatlah agar kakimu cepat pulih,” ujar Alena. Padahal kondisinya lebih parah dibandingkan Keira.

Alres menoleh sekilas. “Kamu juga istirahatlah.”

Hanya itu, hingga malam semakin larut. Setelah memastikan Keira sudah berada di kamarnya, Alres baru kembali ke kamar Alena.

Biasanya, ia memang tidur di kamar Alena ketika berada di rumah. Lima tahun pernikahan mereka membuat kebiasaan itu terasa biasa, meski kamar mereka sebenarnya terpisah.

Alres berdiri di ambang pintu. “Aku tidur di sini malam ini.”

Alena yang sedang membelakangi pintu menghentikan gerakannya. “Aku ingin tidur sendiri malam ini.”

Alres mengernyit, ia ingin bertanya mengapa. Namun, ego mengalahkannya ia tidak suka ditolak. “Baiklah.”

         Alena menarik selimutnya lebih tinggi, berharap Alres cepat pergi dan menutup pintu. Namun, Alres enggan beranjak ia menatap punggung istrinya cukup lama.

Selama lima tahun, Alena tidak pernah menolaknya seperti ini. Bahkan ketika mereka bertengkar, wanita itu tetap akan diam-diam menunggunya kembali. Namun, malam ini berbeda.

Alres akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar. Pintu tertutup perlahan.

Alena memejamkan mata. Setidaknya malam ini, ia tidak perlu lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Di kamar sebelah, Alres baru saja meletakkan ponselnya ketika telepon masuk.

“Pak, maaf mengganggu malam-malam.”

“Ada apa?”

“Besok saya ingin mengingatkan agenda yang harus Bapak hadiri.”

Alres duduk di tepi ranjang.

“Agenda apa?”

“Pertemuan final mengenai penyatuan Arta Group dan Hartawan Corporation.”

Alres terdiam. Penyatuan kedua perusahaan. Ia hampir melupakannya.

“Apakah Pak Adrian sudah menghubungi kembali?”

“Pak Adrian belum menghubungi lagi, Pak. Tetapi, tanggal penandatanganan sudah disepakati sebulan lalu. Sesuai amanat mendiang Pak Edward, kedua perusahaan akan resmi berada di bawah satu grup setelah proses selesai.”

Alres mengusap wajahnya. Selama ini ia memang berniat menyelesaikan pernikahannya dengan Alena setelah orang tua wanita itu meninggal. Namun, jika perceraian terjadi sekarang ... Penyatuan kedua perusahaan itu bisa ikut berubah.

Dan ada satu hal yang membuatnya semakin berpikir. Hartawan Corporation bukan sekadar perusahaan. Itu adalah warisan keluarga Alena.

Jika ia menceraikan Alena sebelum penyatuan selesai, seluruh rencana yang telah disusun kedua keluarga selama bertahun-tahun mungkin tidak akan pernah terjadi.

“Pak Alres?”

Alres terdiam cukup lama. Kemudian suaranya terdengar rendah. “Untuk sementara, jangan jadwalkan pengurusan perceraian.”

Asistennya terdiam. “Pak?”

“Aku bilang, tunda dulu.”

Telepon berakhir. Alres meletakkan ponselnya, menyadari bahwa keputusan itu akan membuat pernikahannya bertahan lebih lama. Namun, ia tidak bisa menyia-nyiakan kerja kerasnya pada Arta group selama ini, hanya karena sebuah perjanjian pranikah yang ia tanda tangani dengan Pak Edward tanpa sepengetahuan Alena.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 18

    Alena baru saja keluar dari ruang rapat Hartawan Corporation ketika ia mengembuskan napas panjang. Pertemuan tadi berlangsung hampir dua jam.Dulu, ia mungkin akan menganggap pembahasan laporan keuangan, proyek investasi, hingga perkembangan anak perusahaan sebagai sesuatu yang membosankan. Namun sekarang, justru semakin banyak hal yang membuatnya tertarik.Ia memang belum memahami semuanya. Masih banyak istilah yang harus dipelajari, laporan yang harus dibaca berulang kali, serta keputusan yang membutuhkan pertimbangan lebih matang. Namun, sedikit demi sedikit Alena mulai memahami dunia yang selama ini ia tinggalkan.Terlebih sejak beberapa kali melakukan pertemuan daring dengan Pak Regantara. Pria itu ternyata memiliki cara menjelaskan yang sederhana, tetapi tajam.Sayangnya, hingga sekarang Pak Regantara belum bisa menemuinya secara langsung karena beberapa urusan yang masih harus diselesaikannya di luar negeri.Alena tidak mempermasalahkannya. Bahkan, setiap kali mereka melakukan

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 17

    Alres tiba di rumah ketika hari mulai gelap. Tidak ada Keira bersamanya. Dari pesan yang diterimanya beberapa jam lalu, Keira masih memiliki urusan di luar dan akan pulang lebih malam.Begitu memasuki rumah, Alres tidak langsung menuju kamar. Pandangan pria itu justru menangkap sosok Alena di halaman belakang.Wanita itu duduk di tepi kolam, kedua kakinya terendam di dalam air. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara pandangannya kosong menatap permukaan kolam yang sesekali beriak.Alres berjalan mendekat. “Kamu bisa masuk angin kalau berlama-lama berendam seperti itu.”Alena menoleh. Sesaat ia menatap Alres tanpa berkata apa-apa.Perhatian sederhana seperti itu ... Dulu, mungkin ia akan tersenyum senang dan menganggapnya sebagai bukti bahwa Alres sebenarnya peduli. Namun sekarang, perhatian tersebut terasa hampa.“Sebentar lagi aku masuk,” jawabnya singkat.Alres berdiri di sampingnya. “Kamu tadi bertemu siapa?”Alena mengernyit. “Maksudmu?”“Pria di kafe.”Alena menatapnya b

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 16

    Alena masih terdiam beberapa detik dalam dekapan pria itu. Begitu menyadari posisinya, ia segera menegakkan tubuh dan mundur satu langkah.“Maaf.”Pria itu melepaskan tangannya tanpa mengatakan apa-apa.Alena mengangkat wajahnya. Entah mengapa, wajah pria di hadapannya terasa begitu familiar. Tatapan datarnya, garis wajahnya ... seperti seseorang yang pernah ia kenal.Akan tetapi, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya.“Terima kasih sudah menolong saya.”Pria itu hanya mengangguk singkat. Tanpa berekspresi.Alena membalas dengan senyum sopan. “Kalau begitu, saya permisi.” Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kafe.Pria itu masih berdiri di tempatnya, memandangi punggung Alena yang semakin menjauh. Tatapannya tetap datar. Namun, ada sedikit kerutan di antara alisnya. Seolah ia sendiri sedang berusaha mengingat sesuatu.Tidak jauh dari sana, dua pasang mata memperhatikan kejadian tersebut. Keira berdiri di samping Angel. Wajahnya tamp

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 15

    Alena meninggalkan Hartawan Corporation tepat pukul tiga sore. Hari itu pekerjaannya tidak terlalu banyak. Setelah hampir beberapa hari mempelajari laporan perusahaan, ia mulai memahami kondisi Hartawan Corporation dan beberapa anak perusahaan di bawahnya.Akan tetapi, sebelum pulang, ia sudah berjanji bertemu Bella di sebuah kafe. Alena memilih duduk di meja dekat jendela sambil menunggu sahabatnya itu datang. Ia baru saja membuka menu ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Alena?”Alena menoleh. Keira berdiri beberapa langkah darinya bersama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.“Kak Keira,” gumam Alena, dalam hatinya berkata kenapa Keira ada dimana-mana.Keira tersenyum. “Kamu sendirian?”“Sedang menunggu Bella.”“Oh.”Keira kemudian memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Ini Angel, sahabatku.”Angel mengangguk singkat. Matanya memperhatikan Alena dari atas sampai bawah. “Oh ... jadi ini yang namanya Alena.”Alena sedikit mengernyit. Ada sesuatu dalam cara Angel me

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 14

    Alena tiba di rumah menjelang sore. Begitu memasuki ruang utama, langkahnya sempat terhenti. Alres dan Keira sudah berada di sofa.Keduanya duduk begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Keira bahkan masih memegang lengan Alres sambil bercerita tentang kejadian di pusat perbelanjaan tadi.Alena hanya melirik sekilas. Tidak ada perasaan terkejut lagi. Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan semacam itu. Alena memilih melewati mereka tanpa berkata apa-apa.“Alena.”Langkahnya terhenti mendengar suara bariton Alres, pria itu menoleh kepadanya. “Kamu baru pulang?”Alena berbalik. “Ya.”“Dari mana saja, kenapa tidak langsung pulang?”“Masih ada urusan.” Jawaban singkat itu membuat Alres mengernyit.Ia dan Keira sebenarnya sudah pulang sejak kejadian di restoran tadi. Setelah memastikan Keira tidak mengalami apa-apa, Alres langsung membawanya kembali ke rumah.Sementara Alena ... Ia bahkan tidak tahu apakah wanita itu terluka atau tidak. Alres sempat sedikit khawatir. Namun,

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 13

    Alena masih berdiri di depan meja yang menampilkan berbagai perlengkapan desain perhiasan. Jarinya menyentuh ujung salah satu pensil yang disediakan untuk pengunjung.Entah mengapa, melihat kertas kosong dan alat gambar itu membuat dadanya terasa hangat. Dulu, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sebuah desain.Sekarang, bahkan memegang pensil pun terasa seperti bertemu kembali dengan bagian dirinya yang telah lama hilang.“Alena.” Suara Alres membuat tangannya berhenti.Ia menoleh.Alres dan Keira ternyata masih berada beberapa langkah di belakangnya.“Ayo makan bersama,” ujar Alres. “Bukankah kamu datang ke sini untuk makan?”Alena terdiam. Ia sebenarnya ingin menolak. Namun jika terus menolak, bukan tidak mungkin Alres mulai bertanya-tanya.“Baiklah,” ujarnya, kebetulan juga Alena memang lapar.Mereka akhirnya meninggalkan area pameran dan menuju sebuah restoran di lantai yang sama.Alena duduk berseberangan dengan Alres dan Keira. Awalnya suasana cukup tenang. Na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status