LOGIN`KLIK!` Pintu ketutup. Nenek keluar.Zoya langsung panik narik tangan Enzo kenceng."Mas, gimana ini? Nenek kira aku hamil! Nanti kalau Nenek cerita ke semua orang gimana? Bisa malu aku!"Enzo yang tadinya ngakak guling-guling, langsung serius. Dia tahu ini bahaya kalau sampai ke Papa."Shhh... Nyonya Besar, tenang! Ya udah aku kejar Nenek sekarang."Enzo langsung keluar kamar, nyusul Nenek di lorong yang masih jalan pelan samping Bik ijah, bawa nampan kosong."Nek! Nenek!"Nenek nengok. "Ya, ada apa, Enzo?"Enzo bisik pelan, pegang tangan Nenek biar gak berisik. "Nek, soal tadi. Soal hamil, Nenek jangan cerita ke siapa-siapa dulu ya, please!"Nenek bingung. "Loh kenapa? Kan kabar baik! Harusnya Nenek kasih tau Papa kamu!""Bukan gitu, Nek. Zoya... Zoya belum siap. Masih takut, kalau ternyata belum, nanti dia kepikiran sedih. Nenek tau kan Zoya gampang kepikiran, gampang nangis."Jurus Enzo jitu. Bawa-bawa perasaan Zoya.Nenek langsung luluh. "Oh, iya iya, Nenek ngerti. Nenek gak baka
`TOK TOK TOK!` "ZOYA? ENZO? APA KALIAN DI DALAM?" Nenek gedor pintu kenceng, panik. "NE-NENEK?!" Pekik keduanya bersamaan. Enzo yang lagi di atas Zoya, wajah udah 2 cm mau nyium, langsung mental. `BUG!` Jatuh ke samping. Langsung duduk, pura-pura santai.Reflek Zoya tarik selimut tutup muka. Jantungnya `DUK DUK DUK!` Serasa mau copot, kaget, panik plus malu jadi satu. `KLEK!` Pintu dibuka pelan. Nenek masuk ngos-ngosan, mukanya panik. Di belakang ada Bik Ijah bawa nampan isi minuman hangat buat Zoya. "Ya Allah, Zoya! Kamu kenapa? Kata Bi Ijah kamu pusing dibawa Enzo lari ke kamar? Kamu gak papa kan?" Nenek jalan cepet ke ranjang. Deketetin Zoya. Sementara Bik Ijah, yang bawa segelas wedang jahe anget masih ngebul dan minyak kayu putih, meletakannya di atas nakas dekat ranjang. "Nih, Nenek bawain wedang jahe anget. Tadi Nenek suruh Bi Ijah bikin cepet. Biar kamu gak pusing. Sama minyak kayu putih, biar Nenek kerokin kalau masih pusing." Kepala Zoya yang pura-pura p
Pintu kamar dikunci. `KLIK!` Zoya masih duduk di ranjang, kaki diperban. Enzo udah di depan, mode sidang skripsi. "Oke, sidang dimulai." Enzo langsung pasang wajah serius. Dahi Zoya mengerut. "Sidang apa?" "Sidang kronologi pelukan terlarang di taman jam 12 siang." Zoya ngakak. "Ya Allah Mas, lebay banget." Enzo serius buka HP, pura-pura catet. "Pertanyaan pertama. Jam berapa tepatnya kamu keluar ke taman?" "Ikh, udah kayak polisi aja, deh!" "Jawab!" Zoya terdiam. Sambil megang dagu, dia seperti sedang berpikir. "Em ... kira-kira tadi sekitar jam dua belas. Abis Nenek sama Bi Ijah masuk." Enzo mencatat. "Jam 12, Nyonya Besar sendirian, angin semilir, ayunan sangkar. Oke." "Pertanyaan kedua. Damar datang dari mana? Gerbang depan? Loncat pagar? Terbang?" Zoya melongo. "Ya, dari gerbang lah! Masa terbang!" Enzo angguk. "Oke, masuk akal. Tidak terbang. Lanjut." Enzo makin deket, tatap Zoya tajam. "Pertanyaan ketiga, ini yang paling penting. Pas kamu mau jat
Di lantai dua, jendela kamar Frisca kebuka dikit. Gordennya goyang. Frisca ngintip. Awalnya dia senyum licik liat Enzo datang. `Akhirnya...` batin Frisca senang. `Ribut lah kalian! Biarin Enzo ngamuk! Biar Zoya dimarahin habis-habisan." Tapi pas dia liat jelas. Damar lagi meluk Zoya... tangan Damar di pinggang Zoya. Nahan biar gak jatuh. Senyum liciknya LANGSUNG HILANG! `KREK!` Kuku palsunya nyaris patah genggam gorden kencang. "DAMAR?!" bisik Frisca, matanya melotot, mukanya merah padam bukan main. Rasa senengnya kalah sama rasa panas di dada. "Beraninya dia! Beraninya dia peluk Zoya di depan rumah! Di depan mata aku! Suami aku sendiri malah asyik pelukan sama mantan istrinya." Tangannya gemeter. Cemburu buta. "Kemarin ngintip kamar Zoya, sekarang meluk Zoya di taman? Jadi selama ini dia masih... masih mikirin janda sialan itu?" Frisca pengen teriak dari atas "LEPASIN SUAMIKU , ZOYA!" tapi dia tahan. Karena kalau dia teriak sekarang, Enzo malah tau dia ngintip
Sementara di kantor. Enzo, awalnya masih mode CEO serius, baca chat sambil rapat sama Pak Deon dan para manajer. `Huh, tikus?! Masa di rumah ada tikus?` Dahinya mengeryit heran. Terus balasan Zoya masuk. 'Ting!' `Iya ada, Mas. Namanya Frisca.` `PUFF!` Enzo yang lagi minum kopi langsung nyembur! "BWUAAHAHAHAHA!" Tawanya pun pecah. Lupa kalau sedang di ruang meeting. Satu ruang langsung hening. Semua nengok ke Enzo. Pak Deon yang lagi presentasi grafik penjualan supermarket, langsung diam. Matanya melotot ke arahnya. "Enzo? Ada apa? Ada yang lucu?" katanya sedikit membentak. Enzo buru-buru nutup mulut, ngelap pakai tisu, pura-pura batuk. "Eh! Enggak Pa! Enggak! Maaf, lanjut Pa! Lanjut! Grafiknya bagus Pa! Naik terus!" Padahal dalam hati, `Awas aja kamu Fris, berani ganggu Nyonya Besar ku, kamu resmi jadi tikus got sekarang!' Terus dia bales chat lagi diam-diam di bawah meja. 'Oh, tikus yang itu. Harusnya tadi kamu panggil kucing, Sayang. Biar sekalian a
"Frisca! Ngapain kamu ke sini?!" Zoya kaget, mundur selangkah, pegangan ke pinggiran ranjang. Kakinya masih perih. Frisca `BRAK!` tutup pintu! Dikunci! "Aku tanya sama kamu, Zoya! Apa sih maunya kamu?!" Frisca jalan mendekat, mukanya merah, napas ngos-ngosan habis berantem sama Damar. Zoya bingung. "Apa maksud kamu? Aku gak ngerti!" "GAK NGERTI! Gak ngerti katamu?!" Frisca nunjuk-nunjuk muka Zoya. "Kamu tuh udah jadi istri Enzo! Kenapa masih aja goda-godain suami aku?! Hah?!" Zoya melotot heran. "Aku gak pernah godain Damar! Kamu aja yang ngarang!" "NGARANG?! Tadi aku liat sendiri! Damar ngintip kamu dari pintu! Senyum-senyum kamu di dalam! Kamu pasti sengaja buka pintu biar dia liat kamu, kan?! Biar dia kasian sama kamu?! Dasar... Janda gatel!" `JLEB!` Kata-kata terakhir itu sudah kelewatan! Zoya yang biasanya sabar, langsung meledak! Tak peduli kakinya sakit! "JAGA MULUT KAMU, FRISCA!" Zoya maju. Walau pincang, dia pasang wajah garang. "Aku dari tadi di kamar







