تسجيل الدخول
“Ibu!! Ada yang merokok di toilet!!” adu seorang wanita yang memakai pakaian seragam putih biru, membuat seorang wanita yang mencepol rambutnya itu menghela napas panjang dan mengambil penggaris kayu berukuran satu meter.
“Grrrrr! Siapa lagi sih!” ujarnya. Nayaka Shainara, seorang wanita dewasa yang usianya hampir tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi semampai, namun dibalut seragam kerja yang tidak fit body meskipun tubuhnya bisa dibilang indah. Namun ... baginya tubuh itu tidak untuk dipamerkan di lingkungan persekolahan. Langkahnya cepat dan panjang menuju toilet di belakang gedung sekolah, toilet yang memang jarang dihuni karena katanya angker, mungkin kata angker hanyalah karangan dari para ‘murid’ turun temurun, agar tempat itu jarang didatangi dan mereka bisa melakukan hal yang dilarang dilakukan di lingkungan sekolah. Usia remaja memanglah usia pencarian jati diri, sangat rawan karena pengaruh lingkungan. Nayaka melihat ke atas ventilasi udara, ada asap yang melewati celahnya. Dia sangat paham dunia seperti ini. Bahkan ... dia memiliki sisi gelap lain yang hanya diketahuinya seorang diri! Jauh dari lingkungannya. Nayaka mengambil ember dan mengisi dengan air yang berada di belakang kelas. Dia letakkan penggaris kayunya dan dalam hitungan ketiga dia melemparkan air itu ke dalam ventilasi, yang dalam sekejap saja teriakan nyaring dari para murid terdengar. “Sialan!!! Siapa itu!!!” jeritnya membuat Nayaka tersenyum puas, diambil lagi penggarisnya dan dia berdiri di depan toilet, menunggu mereka keluar dengan wajah judes yang dibuat-buat. Satu ... dua ... tiga orang wanita berseragam putih biru yang bagian atas seragamnya basah pun keluar. “Good!” ujar Nayaka. “I-ibu,” ujar mereka takut, menyembunyikan puntung rokok di belakang tubuhnya. “Kalian ini sudah kelas sembilan, bukannya belajar yang benar!” gerutu Nayaka. Membaca satu persatu nama murid itu, bahkan salah satunya adalah murid kelasnya. “Carmen Vilova Wardana! Kamu!!!” ujar Nayaka, “ini kasus kedua kamu ya, untuk merokok!” ujar Nayaka. Gadis cantik dengan rambut di keriting gantung itu hanya mendengus. “Kali ini ibu enggak akan tinggal diam, ibu akan panggil ibu kamu!” ujar Nayaka. Carmen maju dan tersenyum miring, “saya akan sangat senang jika ibu bisa memanggil ibu saya yang entah berada di mana?” ujar Carmen seperti menantang. Sementara kedua teman lainnya hanya bisa mengkerut ketakutan. “Ayo ikut ibu ke ruang guru!” ujar Nayaka. Dia tahu Carmen hanya tinggal bersama ayahnya yang hanya bisa memanjakan dengan uang! Tanpa tahu anak seusianya butuh perhatian lebih. Hampir tiga puluh menit Nayaka menceramahi mereka dan meminta mereka membawa orang tua jika tidak mau diskorsing. Ketiga anak itu hanya terdiam mendengarkan, kedua teman Carmen menangis memohon ampun, namun Nayaka tidak gentar dengan tangisan buaya mereka. Sementara Carmen bersikap lebih santai. Setelah membuat dua surat untuk orang tua teman Carmen, kini giliran Carmen yang duduk di hadapan Nayaka. “Siapa nama ayah kamu,” ujar Nayaka. “Aku bingung, kira-kira nama pak sopir atau pak penjaga kebun ya?” ujar Carmen. “Carmen, stop it! Ibu serius.” “Saya enggak punya orang tua!” “Carmen!” ujar Nayaka membentak anak remaja yang tahun ini genap berusia lima belas tahun itu. Carmen berdecih, “Nuansa Bayu Wardana, tapi saya enggak yakin pria tua itu akan datang. Dia saja enggak ingat kalau sudah punya anak,” ucap Carmen. Nayaka hanya menggelengkan kepalanya dan mengetik nama itu, “kirim nomor orang tua kamu, biar ibu yang memintanya datang,” ucap Nayaka. Carmen mengirim nomor ponsel ayahnya yang membuat Nayaka tak percaya, dia menamainya ‘Donatur Dingin.’Nayaka tidak tahu sudah berapa lama dia berada di toilet, yang dia rasakan adalah tubuhnya semakin dingin di bawah guyuran kran shower. Rasa dingin itu setidaknya membuat kewanitaannya tak terlalu terasa sakit seperti sebelumnya, meski saat berjalan masih ada rasa mengganjal.Dia tersadar dari lamunan ketika mendengar pintu kamar mandi diketuk dengan cukup kencang, suara Nuansa terdengar samar. Nayaka memakai kimono handuk dan keluar dari kamar mandi itu, wajahnya tampak pucat, bibirnya memutih dan bergetar.“Lo ... lo baik-baik aja?” tanya Nuansa. Nayaka hanya menggeleng kecil. Nuansa merasa sangat bersalah, terutama dalam kata-katanya malam tadi yang menurutnya cukup kasar. Mengapa dia bisa semarah itu semalam? Padahal dia yakin dia tidak mabuk.Nayaka mencari bajunya, tangannya gemetar kedinginan. Nuansa memegang tangan itu dan menggeleng perih, memapah Nayaka untuk duduk menunggu di ranjang. Dia mengambilkan pakaian santai untuk Nayaka kenakan. Nayaka memakai baju itu dibantu oleh
Nayaka memejamkan mata, mencoba menepis bayangan dan pikiran buruk, juga rasa sakit dan panas di bawah sana. Dia berusaha menarik napas dan memeluk tubuh Nuansa, rasa sakit itu masih terus menggelenyar, namun dia tak bisa apa-apa, dia mencoba menikmati meski perih.Nuansa seperti tak memberinya jeda, dia terus saja menghujamkan miliknya, lalu dia melepas kungkungannya, mengecup puncak gunung kembar Nayaka sambil menghentikan gerakannya hingga Nayaka bisa mengembuskan napas. Lalu Nuansa mencumbu leher Nayaka, memberi waktu agar Nayaka bisa lebih rileks dan itu berhasil.Setelah tubuh Nayaka tidak menegang, dia kembali memompa tubuh wanita yang berada di bawahnya itu, tubuh mereka masih menyatu, gerakan Nuansa begitu konstan dan stabil. Nayaka tak tahu bahwa Nuansa baru memasukkan miliknya setengah, lalu ketika Nayaka mulai bisa menikmatinya, Nuansa melesakkan sisanya hingga wanita itu seperti tersedak.Cukup lama dalam posisi itu, peluh keringat sudah membasahi t
Mungkin jika Nayaka jujur bahwa dia adalah seorang DJ dari dunia malam, tentu saja Nuansa akan membatalkan perjanjian mereka, biar bagaimana pun dia memilih Nayaka karena berpikir bahwa Nayaka akan menjadi ibu yang baik bagi Carmen. Tapi lihatlah sekarang? Bagaimana bisa dia menjadi ibu yang baik jika dia saja bekerja di dunia malam seperti ini?Sesampai di rumah, Nuansa membangunkan Nayaka. Wanita itu turun dari mobil, matanya mengerjap masih setengah sadar, ditinggalkan tasnya. Membuat Nuansa kembali membawa tas itu, persis seperti kemarin saat mereka honeymoon. Apakah wanita itu memang selalu meninggalkan benda penting?Suasana rumah sangat sepi, semua orang pasti sudah tidur, wajar karena sudah jam tiga pagi. Ketika memasuki kamar, Nuansa langsung mengunci pintu dan menarik Nayaka hingga wanita itu membelalakkan mata karena genggaman tangan Nuansa yang cukup kencang.“Sakit,” desis Nayaka. Nuansa mendorongnya ke atas ranjang. Nayaka bersandar di
Nuansa masih menatap ke atas panggung, ketika banyak pria berusia matang yang mulai naik dan ikut berjoged bersama DJ dan penari, jika melihat penampilannya sepertinya mereka adalah tamu VIP, ah bukankah dia juga tamu VIP, karena dia mengenal anak dari pemilik clubnya?“Teman bokap,” tunjuk teman Nuansa yang memang berulang tahun hari ini.“Pantes tua,” celetuk Nuansa, meneguk minuman non alkohol itu. Teman yang lain tertawa, para pria paruh baya itu melemparkan lembaran uang ke atas panggung.Hingga sang MC memanggil DJ Shai ke depan panggung, Nuansa menegakkan tubuhnya menatap sang istri.“DJ Shai! Kalau berani minum alkohol ini, lo bisa dapat gift? Mau enggak?” tanya sang MC“Berapa giftnya?” balas Nayaka seolah telah terbiasa dengan tantangan dari MC. Para pria paruh baya itu menyebutkan nominal uang yang akan mereka keluarkan.“Lagi ... lagi!” ujar Nayaka memprovokasi penonton.
“Ah enggak bisa, sudah kalian saja, gue tunggu di sini,” ucap Nuansa. Teman-temannya meninggalkannya lagi. Nuansa menatap ke arah panggung, beberapa kali lampu sorot menyorot sosok wanita seksi yang hanya memakai kemben sampai atas pusarnya itu. Anehnya dia merasa tak asing dengan wanita itu, hingga dia melangkah maju ke dekat panggung.Matanya membulat menatap wanita yang asik bergoyang dengan headphone di kepala dan sesekali menyapa penikmat musiknya dengan microphone.“Nayaka?” desis Nuansa, “DJ Shai?? Ah shit nama dia memang Nayaka Shainara, kan?” tanyanya pada diri sendiri.Ditatap Nayaka secara lekat, hingga beberapa menit kemudian wanita yang asik menggoyangkan tubuhnya itu melirik ke arahnya dan dia terpaku. Melihat Nuansa yang menyilang tangan di dada sambil menggelengkan kepala seperti memergoki anaknya tengah melakukan tindakan yang tidak terpuji.Nayaka sempat freeze beberapa detik, lalu temannya menyenggol
Nayaka merasa perlu merias dirinya sebelum berangkat, dia memakai kemben warna hitam dan celana panjang fit body dengan warna sama. Dia kemudian memakai coatnya dan menyisir rambutnya ketika Nuansa memasuki kamar itu dan memperhatikan make up Nayaka yang on point.“Sebenarnya gue penasaran, kerjaan lo apa sih?” tanya Nuansa.“Enggak perlu tahu, berangkat dulu ya sudah telat ini,” ucap Nayaka. Nuansa hanya mengangguk kecil ketika Nayaka menyambar tas di atas ranjang dan berjalan cepat meninggalkan Nuansa. Syukurlah Carmen sudah tidak ada di ruang televisi. Sehingga dia bisa lebih tenang, dia sangat takut jika Carmen tahu tentang pekerjaannya yang lain.Di depan gerbang rumah itu, April sudah menunggu di mobil dengan pandangan yang terus mengarah ke jam tangannya. Nayaka berlari dan memasuki mobil teman sekaligus managernya itu.“Lama ish,” decih April yang langsung menyalakan kendaraan roda empatnya.“Anak g







