Share

Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng
Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng
Penulis: Khody Didi

Satu

Penulis: Khody Didi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 11:08:45

“Ibu!! Ada yang merokok di toilet!!” adu seorang wanita yang memakai pakaian seragam putih biru, membuat seorang wanita yang mencepol rambutnya itu menghela napas panjang dan mengambil penggaris kayu berukuran satu meter. 

“Grrrrr! Siapa lagi sih!” ujarnya. Nayaka Shainara, seorang wanita dewasa yang usianya hampir tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi semampai, namun dibalut seragam kerja yang tidak fit body meskipun tubuhnya bisa dibilang indah. Namun ... baginya tubuh itu tidak untuk dipamerkan di lingkungan persekolahan.

Langkahnya cepat dan panjang menuju toilet di belakang gedung sekolah, toilet yang memang jarang dihuni karena katanya angker, mungkin kata angker hanyalah karangan dari para ‘murid’ turun temurun, agar tempat itu jarang didatangi dan mereka bisa melakukan hal yang dilarang dilakukan di lingkungan sekolah.

Usia remaja memanglah usia pencarian jati diri, sangat rawan karena pengaruh lingkungan. Nayaka melihat ke atas ventilasi udara, ada asap yang melewati celahnya. Dia sangat paham dunia seperti ini. Bahkan ... dia memiliki sisi gelap lain yang hanya diketahuinya seorang diri! Jauh dari lingkungannya.

Nayaka mengambil ember dan mengisi dengan air yang berada di belakang kelas. Dia letakkan penggaris kayunya dan dalam hitungan ketiga dia melemparkan air itu ke dalam ventilasi, yang dalam sekejap saja teriakan nyaring dari para murid terdengar.

“Sialan!!! Siapa itu!!!” jeritnya membuat Nayaka tersenyum puas, diambil lagi penggarisnya dan dia berdiri di depan toilet, menunggu mereka keluar dengan wajah judes yang dibuat-buat.

Satu ... dua ... tiga orang wanita berseragam putih biru yang bagian atas seragamnya basah pun keluar.

“Good!” ujar Nayaka.

“I-ibu,” ujar mereka takut, menyembunyikan puntung rokok di belakang tubuhnya.

“Kalian ini sudah kelas sembilan, bukannya belajar yang benar!” gerutu Nayaka. Membaca satu persatu nama murid itu, bahkan salah satunya adalah murid kelasnya. 

“Carmen Vilova Wardana! Kamu!!!” ujar Nayaka, “ini kasus kedua kamu ya, untuk merokok!” ujar Nayaka. Gadis cantik dengan rambut di keriting gantung itu hanya mendengus. “Kali ini ibu enggak akan tinggal diam, ibu akan panggil ibu kamu!” ujar Nayaka.

Carmen maju dan tersenyum miring, “saya akan sangat senang jika ibu bisa memanggil ibu saya yang entah berada di mana?” ujar Carmen seperti menantang. Sementara kedua teman lainnya hanya bisa mengkerut ketakutan.

“Ayo ikut ibu ke ruang guru!” ujar Nayaka. Dia tahu Carmen hanya tinggal bersama ayahnya yang hanya bisa memanjakan dengan uang! Tanpa tahu anak seusianya butuh perhatian lebih.

Hampir tiga puluh menit Nayaka menceramahi mereka dan meminta mereka membawa orang tua jika tidak mau diskorsing. Ketiga anak itu hanya terdiam mendengarkan, kedua teman Carmen menangis memohon ampun, namun Nayaka tidak gentar dengan tangisan buaya mereka. Sementara Carmen bersikap lebih santai.

Setelah membuat dua surat untuk orang tua teman Carmen, kini giliran Carmen yang duduk di hadapan Nayaka.

“Siapa nama ayah kamu,” ujar Nayaka.

“Aku bingung, kira-kira nama pak sopir atau pak penjaga kebun ya?” ujar Carmen.

“Carmen, stop it! Ibu serius.”

“Saya enggak punya orang tua!”

“Carmen!” ujar Nayaka membentak anak remaja yang tahun ini genap berusia lima belas tahun itu.

Carmen berdecih, “Nuansa Bayu Wardana, tapi saya enggak yakin pria tua itu akan datang. Dia saja enggak ingat kalau sudah punya anak,” ucap Carmen.

Nayaka hanya menggelengkan kepalanya dan mengetik nama itu, “kirim nomor orang tua kamu, biar ibu yang memintanya datang,” ucap Nayaka. Carmen mengirim nomor ponsel ayahnya yang membuat Nayaka tak percaya, dia menamainya ‘Donatur Dingin.’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Lima

    Mendengar suara panggilan itu, Keanu seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya dia membalikkan badan dan menoleh kembali ke arah Carmen dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus haru.“Kamu juga berhak bahagia,” ucap Carmen dengan tulus. Setelah mengucapkan kalimat bermakna pengampunan itu, Carmen langsung membalikkan tubuhnya sendiri membelakangi pria itu, mendekap putrinya lebih erat dan bersandar pada dada Arkha. Dia tidak mau melihat wajah Keanu lagi, bukan karena dendam, melainkan karena dia ingin menegaskan bahwa masa lalu mereka telah selesai sepenuhnya di detik ini.Hari ini, Keanu sebenarnya baru saja resmi ke luar dari rumah tahanan setelah menyelesaikan masa hukumannya. Dia tampak memakai sebuah tas punggung hitam yang sudah agak usang, berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya selama berada di balik jeruji besi. Mendengar ucapan pengampunan dari Carmen yang begitu berjiwa besar, air mata Ke

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Empat

    (Lima tahun kemudian)Waktu terus bergulir tanpa terasa, membawa banyak perubahan manis dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Setelah melewati berbagai momen penuh kebahagiaan, tidak terasa sudah lima tahun berlalu sejak kepulangan mereka dari Switzerland.Hari ini, suasana sore terasa begitu cerah dan meneduhkan. Carmen membawa putri kecilnya yang kini telah menginjak usia empat tahun untuk pergi bermain di sebuah taman bermain publik yang cukup ramai. Di sudut area taman, Arkha tampak sedang berdiri dengan wajah serius namun tetap tenang, fokus menerima panggilan telepon penting yang tampaknya berasal dari salah seorang kerabat jauhnya di luar kota.Sementara itu, perhatian Carmen seutuhnya tersedot pada sang buah hati. Putri kecil mereka yang berwajah sangat lucu dan menggemaskan itu tampak begitu aktif berlarian ke sana kemari di atas hamparan rumput taman, tertawa riang menikmati kebebasannya.Carmen dengan penuh kasih sayang terpak

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Tiga

    “Mi, enggak apa-apa hanya mual biasa, mungkin cuma masuk angin,” jawab Carmen seraya menyiram toilet itu sekali lagi hingga bersih. Dia mengambil selembar tisu bersih, menyeka bibirnya yang basah dengan perlahan, lalu dengan langkah yang masih sedikit goyah dia berjalan ke luar dari bilik toilet.Melihat menantunya tampak begitu lemas, Ibu Arkha dengan sigap merangkul pundak Carmen, membantunya berjalan menuju ke ruang guru yang terletak tidak jauh dari sana. Beliau membimbing Carmen untuk duduk di salah satu sofa panjang yang nyaman. Guru-guru lain yang berada di dalam ruangan itu pun langsung ikut panik, dengan cekatan salah seorang guru bergegas membuatkan secangkir teh manis hangat, sementara yang lain memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Carmen.Carmen menerima botol tersebut, menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mulai mengoleskannya di bagian perutnya yang masih terasa bergolak tidak nyaman. Melihat hal itu, Ibu Arkha

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Dua

    Hari ini adalah hari pertama Carmen menginjakkan kaki di sekolah yayasan mertuanya sebagai tenaga pengajar baru. Dengan senyum ramah yang merekah, Carmen menyapa para murid kecil yang akan diajarinya hari itu.Untuk sementara waktu, sebagai langkah adaptasi awal, dia diposisikan untuk menjadi guru pendamping di taman kanak-kanak kelas B. Murid-murid di kelas ini sudah tergolong cukup besar, yakni anak-anak yang berada di kisaran usia lima sampai enam tahun, sehingga mereka sudah memiliki karakter dan pola tingkah laku yang beragam dan lebih mudah diarahkan.Carmen tampak sangat cantik dan segar dengan memakai apron berwarna kuning cerah di atas pakaian kerjanya, senada dengan atmosfer kelas yang penuh warna. Saat ini, jam pelajaran sedang memasuki jadwal makan cemilan bersama.Carmen yang rambut hitam panjangnya diikat rapi menjadi satu itu tampak dengan sabar membantu seorang anak laki-laki yang sejak tadi masih terlihat kesulitan memakan makanan cemilannya sen

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Satu

    (Mature content 21+ harap bijak membacanya)Dipegang tangan Arkha membuat Arkha mengernyitkan kening, lalu dipeluk tangan itu hingga menyentuh benda kenyal miliknya. Arkha hanya terdiam ketika Carmen meremas tangannya dan mengarahkan di gundukan itu. Arkha seolah mengerti apa yang diinginkan Carmen, dia meremasnya pelan, Carmen menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Arkha menjadi tidak bisa konsentrasi bekerja, dia meremas lagi dengan sedikit lebih keras. Lenguhan Carmen terdengar jelas membuatnya berhasrat.“Enggak apa-apa seperti ini?” tanya Arkha dengan tangan yang terus bergerak di bagian sensitif tubuh istrinya. Carmen mengangguk dan membuka matanya, “lebih dari ini pun boleh, aku sudah siap,” ucap Carmen. Arkha menggeser meja lipatnya, membungkukkan tubuh dan mengecup bibir sang istri.Selama sebulan tinggal bersama Arkha, di pagi hari dia selalu mendapati bagian bawah tubuh sang suami menegang, membuatnya terkadang penasaran, baga

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh

    (Satu bulan kemudian)Setelah satu bulan penuh tinggal di tempat ini, Carmen sudah mulai terbiasa dan memiliki rutinitas harian sendiri. Lingkungan pedesaan Swiss yang tenang dan damai ternyata menjadi obat terbaik untuk memulihkan kondisi jiwanya yang sempat terguncang.Setiap pagi hari, setelah matahari terbit dan menyinari hamparan rumput serta puncak gunung yang bersalju, Carmen akan menghabiskan waktu di dapur untuk memasak bersama Aunty Marrie, asisten rumah tangga lokal yang disewa Arkha untuk membantu mereka. Aunty Marrie adalah wanita paruh baya yang sangat ramah. Bersamanya, Carmen tidak hanya belajar mengolah masakan barat, tetapi juga banyak mengobrol dan tertawa, hal yang membuat kemampuan bahasa dan rasa percaya dirinya meningkat pesat.Setelah urusan dapur selesai dan hari beranjak siang, Carmen mulai melakukan aktivitas favoritnya, yaitu melukis di halaman belakang rumah. Dengan berbekal kanvas, palet,

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Enam

    “Ren, kenal sama yang bisa betulin kunci kamar mandi?” tanya Carmen pelan, sambil melirik ke arah Reno yang masih fokus dengan makanannya.Dia menggenggam sendok dengan agak kencang, masih sedikit gugup dan menilai Reno. Dia masih punya uang di dompetnya.Tidak banyak tapi semoga cukup.“Ada, mau d

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Lima Puluh Enam

    Selalu ada asisten rumah tangga. Lebih dari satu. Yang membersihkan rumah, memasak, mencuci, bahkan menyiapkan pakaiannya setiap hari.Carmen hanya perlu bangun, mandi, memilih pakaian, dan menjalani harinya.Namun sekarang, Dia berdiri di rumah yang bahkan untuk berjalan saja harus

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   TIga

    “NAYAKA SHAINARA!!!!” Suara itu begitu memekakkan telinga Nayaka di pagi buta ini! Tidak! Sebenarnya ini sudah pukul sembilan pagi, namun bagi seorang yang bekerja juga di dunia malam, pukul sembilan masih terlalu pagi!Dia bahkan baru pulang pukul empat tadi pagi, setelah melakukan pertunjukan di

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Dua

    Carmen kembali ke ruang kelasnya untuk melanjutkan pelajaran yang sebenarnya tak bisa ditangkap oleh otaknya. Bukan berarti dia bodoh, di sekolah dasar dia selalu mendapat peringkat pertama, namun setelah SMP semua berubah. Dia mulai memberontak, dia membenci dirinya sendiri. Dia tak suka jika ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status