LOGINRayhan tampak kesal saat melihat bra merah muda yang talinya dulu digunakan untuk menutup luka. Jika diperhatikan, memang tidak terlalu terlihat adanya jamur pakaian. Namun jika diamati lebih teliti, jamur itu samar-samar ada di bagian tali.
Melihat bra berwarna merah muda itu memancing tawa sekaligus kekesalan di dada Rayhan. Di tengah atmosfer yang kian memanas, ia menatap istrinya dengan tatapan kesal."Mas... kok malah ngeliatin begitu?" cicit Cita dengan rona merah di wajahnya. DCita menoleh mengikuti arah telunjuk Bi Jum. Di balik gantungan kain satin yang berkilau di bawah lampu, terpajang sebuah lingerie berwarna merah maroon. Potongannya begitu terbuka, berbahan renda tipis menerawang dengan aksen tali silang yang seksi dan elegan di bagian punggung. Desainnya jelas diperuntukkan khusus untuk menggoda mata pria di malam hari."Non Cita kan cantik dan sudah jadi istrinya Den Rayhan. Coba deh beli ini. Siapa tahu hubungan kalian semakin rapet," bisik Bi Jum dengan senyuman merekah.Cita terdiam mematung. Matanya melebar sempurna. Darahnya berdesir naik ke wajah, membuat kulit putihnya mendadak memerah seperti kepiting rebus hingga ke pangkal telinga."B-Bi Jum... A-apa-apaan ini...?" bisik Cita terbata-bata, nyaris tak sanggup mengeluarkan suara saking malunya.Wanita cantik itu bahkan tak sanggup membayangkan dirinya sendiri mengenakan pakaian setipis dan seseksi itu di hadapan Rayhan. "Nggak mungkin. Saya nggak mau pakai baju kaya gitu.
Cita masih berdiri bersandar di balik pintu kamarnya sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Rona merah di pipinya perlahan memudar, berganti dengan helaan napas panjang penuh kelegaan karena berhasil melarikan diri dari sang ibu mertua. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara tangisan rewel dari dalam kamar membuat Cita buru-buru mendekati ranjang. Zain terbangun lebih cepat dari dugaan, rupanya bayi mungil itu haus dan minta digendong."Cup cup cup, Sayang. Mama di sini," ucap Cita mencoba menenangkan Zain yang menangis.Setelah membuatkan susu hangat, Zain kembali diam. Cita kembali teringat ucapan suaminya yang membuatnya malu. Tanpa membuang waktu, ia merapikan gendongan kain di tubuhnya, menaruh Zain di dada, dan bersiap melangkah keluar kamar. Ia berniat membawa serta putranya karena tidak mungkin meninggalkan bayi empat bulan itu sendirian di rumah besar yang asing baginya.Namun, begitu ia menuruni anak tangga hingga ke lantai bawah, langkah Cita terhe
Suara deru mesin mobil Rayhan perlahan-lahan menghilang dari halaman rumah mewah berlantai dua itu, menyisakan keheningan yang cukup canggung bagi Cita. Setelah kepergian suaminya, suasana rumah terasa jauh lebih lengang.Di ruang keluarga yang luas, Cita hanya berdua dengan Zain, bayi berusia empat bulan yang kini mulai menguap, tanda waktunya untuk tidur siang. Sementara itu, Lilis duduk di sofa seberang sambil menyeruput teh hangatnya, memasang raut wajah dingin namun matanya sesekali melirik ke arah menantu dan cucunya dengan penuh perhitungan.Selama ini, jauh di lubuk hatinya, Lilis sebenarnya menyimpan kekhawatiran besar bahwa Rayhan tidak akan pernah menikah dan memberinya cucu. Usia putranya sudah matang, namun Rayhan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sebelum akhirnya pria itu pulang membawa Cita dan bayi mungil ini. Meski Lilis bersikap ketus dan gengsi untuk menunjukkan kelembutan, kehadiran Zain secara tidak langsung berhasil meluluhkan sebagian benteng keras
"Ada apa, Mas? Siapa yang telfon? Kok wajah kamu langsung tegang gitu?" tanya Cita saat suaminya sudah kembali dan menutup pintu balkon.Rayhan menatap Cita, berusaha menetralkan ekspresinya agar tak membuat istrinya cemas. Ia berjalan mendekat, lalu membelai pipi Cita dengan lembut. "Bukan apa-apa, Cit. Itu tadi... atasan di kantorku.""Atasan?" Cita mengerutkan keningnya bingung."Iya. Aku dipanggil kerja lagi hari ini. Urusan mendadak," jawab pria itu. "Oh...." Cita ber-oh ria. Wajahnya masih terasa panas sisa perbuatan suaminya. Dan ia tak tahu apakah Rayhan akan melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda atau tidak."Sepertinya kita udahan aja, Cit. Aku... harus siap-siap pergi kerja kembali," ujar pria itu kemudian.Cita menatap ke area pangkal paha suaminya. Di sana masih ada tonjolan yang cukup jelas, namun tidak setegang tadi, mungkin karena adanya interupsi."Sudahlah. Aku bisa atasi ini sendiri. Kamu nggak perlu cemas. Sekarang aku minta tolong
Rayhan tampak kesal saat melihat bra merah muda yang talinya dulu digunakan untuk menutup luka. Jika diperhatikan, memang tidak terlalu terlihat adanya jamur pakaian. Namun jika diamati lebih teliti, jamur itu samar-samar ada di bagian tali.Melihat bra berwarna merah muda itu memancing tawa sekaligus kekesalan di dada Rayhan. Di tengah atmosfer yang kian memanas, ia menatap istrinya dengan tatapan kesal."Mas... kok malah ngeliatin begitu?" cicit Cita dengan rona merah di wajahnya. Dadanya masih naik-turun akibat napasnya yang memburu."Cit, ngapain kamu masih pakai BH jamuran ini?" Rayhan mengembuskan napas panjang, menatap bintik-bintik samar di tali dalaman tersebut. "Buang aja kenapa, sih?""Buang? Ini masih bagus, Mas... cuma bintik hitam dikit di bagian talinya doang, nggak kelihatan dari luar. Sayang kalau dibuang," sahut Cita membela diri sambil berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangan.Rayhan menggeleng pelan karena gemas. Gairah yang sempat tertah
Pagi menyapa rumah besar keluarga Rayhan. Suasana pagi itu terasa begitu tenang, kontras dengan ketegangan yang sempat terjadi semalam. Kini di waktu subuh, Rayhan tak perlu bangun pagi-pagi untuk mengambil sayuran segar.Di atas ranjang ukuran king size yang empuk, Cita membuka matanya lebih dulu. Wanita itu mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Di sisi kirinya, Zain masih terlelap dalam tidurnya, napasnya yang teratur terdengar begitu damai. Sementara di sisi kiri bayi itu, Rayhan juga masih tidur dengan nyenyak, menikmati kenyamanan kasur empuk yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menyamar menjadi pengangguran.Cita tersenyum kecil melihat wajah lelah suaminya yang kini tampak lebih damai. Ia lantas bergeser pelan, berniat membangunkan pria itu sembari melewati Zain."Mas, bangun... udah pagi," bisik Cita sambil mengguncang pelan lengan suaminya.Bukannya bangun, Rayhan justru menggeliat malas. Ia merapatkan selimutnya hingga nyaris menutupi waja







