Compartir

8. Gas

Autor: Rizu Key
last update Fecha de publicación: 2026-09-10 22:24:13

Pertanyaan Cita membuat Mak Gonjreng dan kelompoknya yang mendnegar saling berbisik dan menyikut lengan satu sama lain dengan tatapan mengejek.

Bu Is menghentikan kegiatannya sejenak, lalu tersenyum tipis ke arah Cita. "Boleh dong, Mbak. Kenapa nggak boleh? Malah bagus kalau Mbak mau titip lagi."

"Dih, Bu Is! Nanti warungnya sepi loh kalau dititipin kue sama janda gatel!" potong Mak Gonjreng cepat dengan suara melengking.

Cita langsung menunduk. Skandalnya benar-benar membuat wanita muda itu ce
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kawin Grebek   29. Gara-Gara Tali BH

    Rayhan melangkah menuju lemari plastik yang ada di sudut ruangan. Dengan gerakan sedikit kasar, ia menyambar jaket kulit hitam yang tergantung di paku dinding, lalu mengenakannya begitu saja tanpa peduli resletingnya belum tertutup sempurna.Jari telunjuknya yang terbalut tali bra merah muda lengkap dengan bercak jamur itu sengaja ia tekuk rapat ke dalam kepalan tangan. Meski terasa perih, namun ini lebih baik dari pada memamerkan tali pakaian dalam wanita itu pada para tetangganya."Kok belum pergi?" tanya Cita yang sudah selesai mencuci piring.Rayhan masih berdiri di depan pintu beberapa detik, bergeming memunggungi Cita. Sementara Cita mengelap tangannya yang basah dengan rok dasternya dan berjalan mendekat."Ada apa?" tanya wanita itu.Rayhan memutar tubuhnya perlahan, menatap Cita."Kamu mau titip apa biar sekalian?" tanyanya. Matanya sengaja diarahkan ke samping, enggan menatap langsung wajah istrinya.Cita terdiam sebentar. Ia menatap Rayhan yang lebih tinggi darinya, lalu mat

  • Kawin Grebek   28. Tali BH

    Tatapan mata mereka saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Cita mendongak, matanya yang bulat menatap lurus ke arah Rayhan penuh kekhawatiran yang tak ia sadari. Sementara bibirnya masih sibuk menahan pendarahan di jari sang suami.Di dalam ruangan temaram itu, jantung Rayhan mendadak berdegup kencang, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejar Maria si banci terminal.Sensasi hangat dan basah yang melingkupi ujung jari telunjuknya membuat seluruh syaraf di tubuh Rayhan seolah lumpuh mendadak. Ia membeku di tempatnya berjongkok saat desiran aneh mulai muncul di dalam dadanya.Jantung Rayhan juga berdegup kencang, saat kedua matanya saling bertemu dengan kedua mata bulat dan bening Cita. Jarak wajah mereka yang kini hanya berkisar belasan sentimeter membuat Rayhan bisa merasakan embusan napas Cita yang hangat mengenai kulit tangannya.Cita mengulum jari itu cukup dalam dan lama selama beberapa detik, menyedot darah segar yang terus keluar agar pendarahannya tertahan. Setelah dira

  • Kawin Grebek   27. Emut

    Malam harinya, aroma gurih dari kuah santan kembali memenuhi seisi kontrakan Cita dan Rayhan yang sempit. Cita berdiri di dekat kompor, mengaduk pelan panci berisi sayur lodeh sisa tadi siang yang dihangatkan kembali. Sementara Zain sudah kembali tidur ditemani oleh Rayhan yang duduk di ambang pintu sembari serius dengan pembukuan bisnis berjualan sayurnya.Setelah menaruh dua piring nasi dan semangkuk sayur lodeh panas di atas tikar, Cita memanggil suaminya. Rayhan yang baru saja selesai merapikan pembukuan sederhana hasil dagangannya hari ini segera duduk bersila di hadapan Cita. Rasa trauma mual akibat teringat kotoran bayi tadi siang seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa lapar yang tak bisa ditahan. Kali ini, tanpa ragu sedikit pun, Rayhan menyantap makanan itu dengan lahap dalam diam. Sementara Cita hanya tersenyum tipis melihat cara makan Rayhan yang begitu menikmati masakannya.'Kamu ternyata pria yang cukup baik, Mas. Tapi sayang kamu seharusnya nggak berakhir menik

  • Kawin Grebek   26. Seperti Pup

    Setelah mengejek, Cita menyerahkan pampers bekas yang sudah tergulung rapi itu pada suaminya. Dengan jari telunjuk dan wajah yang sebisa mungkin dijauhkan, Rayhan memungut pampers tersebut, memasukkannya ke dalam plastik, lalu mengikat ujungnya dengan sangat kencang sebelum membuangnya ke tempat sampah di luar.Zain yang sudah bersih kini kembali tenang dan mulai mengoceh pelan sambil memainkan jemari tangannya. Cita pun tersenyum karena bayinya sudah tenang."Zain pinter, ya. Sekarang kalau pup bilang ke Mama... sama Papa juga," ujarnya tepat saat Rayhan kembali masuk ke dalam kamar."Eh. Sudah dibilangin nggak boleh masuk kamar ini!" larangnya kemudian.Rayhan menatap datar ke arah Cita. "Nggak usah lebay. Tadi aku sudah membantumu. Lagi pula di dalam kamar ini memangnya ada barang berharga apa?" sahut pria itu.Cita hanya mengerucutkan bibirnya. Kesal karena dengan kalimat itu berarti Rayhan menghina kemiskinannya."Udah sana, Mas Rayhan mandi, ganti baju. Baumu udah sama kaya pup-

  • Kawin Grebek   25. Papa?

    Rayhan kembali menatap Zain yang sudah kembali tidur dengan napas teratur. Bayi itu tampak kembali tidur nyenyak. Perlahan, Rayhan bangkit berdiri, berusaha agar tidak membuat suara langkah sedikitpun. Namun, baru saja satu langkah ia keluar dari kamar, sebuah suara tangisan mendadak pecah."Oekkk oekkk oekkk!"Rayhan terkejut setengah mati. Ia refleks membalikkan badan dan mendapati Zain sudah membuka kedua matanya lebar-lebar. Kedua tangan kecilnya menggapai-gapai udara sambil menangis sangat kencang. Suara jeritan khas bayi itu bergema memenuhi kontrakan kecil mereka yang sepi."Aduh... Kenapa ini...?" gumam Rayhan yang bingung setengah mati.Sementara di ruang tamu, Cita tersentak kaget. Tubuhnya langsung terduduk tegak saat mendengar suara tangisan bayinya. Kedua matanya yang masih mengantuk mengedip-ngedip berusaha mengumpulkan kesadaran."Mama datang, Sayang," gumamnya pelan.Dengan rambut yang sedikit berantakan karena sanggulnya melorot, Cita bergegas berdiri limbung dan mela

  • Kawin Grebek   24. Rasa Kasihan

    Rayhan diam terpaku merasakan kehangatan para pembeli yang baru ia kenal pagi itu. Para ibu dan bapak yang membeli sayur tidak takut padanya. Berbeda dengan kehidupannya dulu di mana orang-orang memilih tidak bertemu muka dengannya.'Ternyata tinggal di desa menarik juga....' gumam Rayhan dalam hati.Setelah hampir satu jam melayani pembeli yang tak putus-putus, barang dagangan di keranjang motor Rayhan akhirnya ludes tanpa sisa. Bahkan daun salam dan sisa cabai keriting pun dihabiskan oleh pembeli terakhir.Rayhan mengelap keringat tipis di pelipisnya dengan kaos yang ia kenakan. Lalu ia mulai merapikan keranjang dan bersiap naik ke atas motor bebeknya.Saat ia hendak memutar kunci kontak, tiba-tiba datang seorang ibu-ibu dengan langkah tergopoh-gopoh. Wanita itu terengah-engah setelah berhenti di sebelah keranjang sayur Rayhan."Mas! Mas Sayur!" panggilnya.Rayhan menoleh dan menatap wanita itu. "Iya, Bu? Ada apa?""Saya mau beli kangkung, Mas," jawab wanita itu.Rayhan menoleh ke a

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status