Share

Bab 5

Penulis: Muriaz
"Nggak! David, kenapa aku harus mengikuti kata-katamu! Dialah yang menghancurkan reputasiku! Kenapa aku harus melepaskannya begitu saja!"

"Aku akan menuntutnya karena menyebarkan berita bohong! Dia harus menanggung konsekuensinya!"

Mataku merah padam saat bertatapan dengan David, menolak untuk mengalah sedikit pun.

"Tania! Kamu!"

David mengambil napas dalam-dalam. Dia ingin membujukku lagi.

Namun, Agnes menarik lengan baju David, berpura-pura terisak dengan mata memerah.

"Kak David, jangan bicara lagi. Aku tahu aku yang salah. Biarlah Kak Tania menuntutku. Nggak seharusnya aku cemburu. Aku seharusnya nggak cemburu karena Kak Tania menikah denganmu. Jelas-jelas aku yang nggak benar. Seandainya saja aku lebih gigih waktu itu!"

"Kak Tania, aku yang salah. Aku akan berlutut dan minta maaf padamu. Tolong jangan mempersulit Kak David."

"Selama kamu senang, aku bisa pergi menyerahkan diri agar membersihkan nama baikmu! Paling-paling, namaku juga ikut hancur, tapi tolong jangan sampai merusak hubunganmu dengan Kak David."

Melihat Agnes ingin berlutut padaku, mata David kembali mendingin. Dia berkata kepadaku dengan suara berat, "Tania! Agnes sudah minta maaf padamu. Kamu harus belajar memaafkan orang lain."

"Karena reputasimu sudah hancur sekarang, kenapa kamu nggak mengundurkan diri saja dari industri modeling, lalu menikmati hidup santai sebagai ibu rumah tangga kaya saja? Bukankah itu jauh lebih baik?"

Aku terkejut. Pria di hadapanku ini benar-benar buta. Aku tidak percaya David masih akan memanjakannya sampai sejauh ini.

Aku masih ingin berbicara lagi, tetapi detik berikutnya, sebuah tamparan keras melayang di wajahku. Sensasi terbakar seketika memenuhi pipiku.

Buku-buku jari David memerah, napasnya terengah-engah, dan matanya dipenuhi dengan keganasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia pun melemparkan sebuah surat pernyataan kepadaku.

"Patuhlah, tanda tangani ini. Setelah situasi mereda, aku akan membantumu kembali ke panggung."

"Tapi kalau kamu berani menelepon polisi, jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari pintu ini lagi!"

"Nggak akan kutandatangani!"

Aku menggertakkan gigi dan menatapnya lurus-lurus.

Namun, seberapa besar penolakanku ataupun perlawananku, David tetap memaksaku untuk membubuhkan sidik jariku pada surat pernyataan resmi tersebut.

Saat aku ambruk karena kelelahan, perasaan tidak berdaya dan rasa sakit menyengat yang belum pernah terjadi sebelumnya menyelimuti seluruh tubuhku, seperti ribuan jarum yang menusuk hatiku.

Keduanya berjalan pergi. Percakapan santai itu terasa seperti serangga beracun yang menyusup ke telingaku.

"Kak David, Kak Tania nggak apa-apa, 'kan?"

"Nggak apa-apa. Selama dia masih ingin tampil di panggung, dia harus menurutiku. Palingan ...."

"Biarlah dia menukarnya dengan kupon pengampunan. Toh, masih ada puluhan kupon lagi. Dia pasti akan menurut."

Tidak, tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah satu kupon terakhir.

David, aku tidak akan menjadi bonekamu lagi.

Aku terduduk di lantai dan termenung untuk waktu lama sebelum kembali ke kamarku dan mengeluarkan buku harianku.

Meskipun semua orang mengatakan bahwa industri modeling tidak jauh lebih "bersih" daripada industri hiburan, aku menyukai karier ini.

Rasa percaya diri yang kurasakan setiap kali berdiri di atas catwalk, bermandikan sorotan lampu, di situlah letak nilaiku.

Namun, semuanya hancur total sekarang. Mungkin Tuhan sedang memberitahuku bahwa sudah waktunya aku pergi. Tidak ada yang perlu aku kenang lagi di sini.

Berlinangkan air mata, aku menuliskan apa yang terjadi hari ini di buku harianku, diakhiri dengan angka 289.

Setiap kali dia menyakitiku, aku akan mencatatnya di buku harian untuk mengingatkan diri agar tidak melunak.

Namun, suara David tiba-tiba terdengar.

"Apa maksud dari 289?"

Melihatnya mengulurkan tangan untuk mengambil buku harian itu, aku segera menutupnya dan memasukkannya ke dalam laci.

"Bukan apa-apa."

Seolah merasakan kepanikanku, dia pun menyadari sesuatu.

"Kalian para perempuan memang sangat dramatis. Kalian selalu mencatat dendam di dalam buku. Apa ini yang kalian sebut buku catatan dendam?"

Dia merujuk pada kejadian setelah kami menikah. Ketika kami sedang mengadakan upacara pernikahan, dia membuat cincin pernikahan kami hilang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 13

    "Meskipun kamu nggak memberikan bunga saat mengutarakan perasaanmu, aku tetap berbaik hati dan setuju untuk menjadi pacarmu.""Sudah senang, 'kan? Jangan melompat ke sungai lagi, Haikal.""Anggap saja demi aku."Haikal tiba-tiba menatapku dengan ekspresi terkejut.Matanya mendadak memerah. Dia menggenggam tanganku dengan erat.Sebenarnya, aku tidak berencana untuk melompat ke sungai hari itu. Aku hanya tiba-tiba mendapat ide untuk berdiri di tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat lebih jauh.Namun, aku justru bertemu dengan Haikal, yang sebenarnya berada di sana untuk melompat ke sungai.Hari itu, tatapan matanya benar-benar menunjukkan keputusasaan dan kematian.Jadi, aku memutuskan untuk pulang bersamanya. Lagi pula, menyelamatkan nyawa berpahala besar.Aku tidak tahu apa yang telah dia alami, tetapi karena dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepadaku, aku akan menjadi orang yang dia pedulikan. Dia seharusnya tidak ingin mati lagi, 'kan?Kehidupan sebagai pemilik toko b

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 12

    "Kamu benar, aku memang kotor. Aku akan menemukannya dan menebus dosa-dosaku, tapi aku harus membalaskan dendam untuknya!"Agnes merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya karena tatapan tajam pria itu yang begitu dingin.David membantingnya ke tanah dan berkata kepada pengawal di sampingnya, "Pakai lebih banyak cara siksa dia, tapi ingat, jangan sampai dia mati!"Menyadari situasi berada di luar kendali, pupil mata Agnes melebar. Dia sangat ketakutan sehingga kehilangan kendali dan mengeluarkan jeritan melengking."Kak David, ini salahku, ini salahku. Aku minta maaf padanya. Aku bisa pergi, aku bisa pergi ke luar negeri, aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Tapi kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini. Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, David!"David melemparkan Agnes ke sekelompok preman, mengabaikan teriakan dan permohonan ampunnya, lalu mengambil berbagai foto dan video wanita itu, mengunggahnya di internet, yang seketika memicu serangkaian hujatan dan perundunga

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 11

    Buku harian itu mencatat setiap peristiwa dengan jelas, termasuk hal-hal yang David katakan kepada Agnes.David seolah-olah berada di posisi Tania, mengalami semuanya secara langsung.Tulisan itu sangat menyedihkan dan mencekik, dipenuhi dengan pikiran-pikiran melankolis.Rokok itu menyala sesekali di dalam ruangan. David tetap berada di samping tempat tidur, membaca buku hariannya sepanjang malam.Dia menghabiskan sebungkus rokok itu. Asap yang menyesakkan di ruangan itu seolah mencekiknya sampai mati.Saat fajar menyingsing, matanya tampak merah. Dia dipenuhi kesedihan, kelesuan, dan keputusasaan serta kemalangan yang tak berujung.Sekarang, dia sepertinya mampu berempati terhadap Tania.Namun, semuanya telah terlambat.Dia tidak bisa menemukan Tania lagi.Dia memang bajingan!Jelas-jelas Tania adalah korban, jelas-jelas Agnes sangat kejam dan tidak manusiawi, tetapi dia tetap berpihak pada Agnes.Dia bahkan berencana membungkam Tania, menyuruhnya untuk tidak menghubungi polisi dan m

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 10

    "Oh ya, Tuan. Nyonya bilang brankasnya sudah penuh."Pelipis David berdenyut-denyut. Dia buru-buru berlari ke ruang kerja untuk membuka brankas.Dia tidak pernah mengerti mengapa Tania menaruh brankas setinggi setengah badan orang di ruang kerja.Dia pernah menanyakan hal ini pada Tania ketika para pekerja sedang memasang lemari.Tani menjawabnya sambil tersenyum, "Rahasia! Kamu akan tahu saat brankasnya penuh."Saat itu, David tidak terlalu memikirkannya. Dia beranggapan bahwa itu hanya permainan konyol gadis kecil.Namun, kini dia menatap lemari yang penuh dengan sertifikat kepemilikan properti, bernomor 1 hingga 290.Dia masih tetap bingung.Apa rahasianya adalah tiba-tiba lenyap tanpa jejak?Meninggalkan perjanjian cerai dan pemutusan kontrak.Kemudian, menghilang sepenuhnya dari dunia David.Lantas, apa itu 290?Sebelumnya, dia mencatat angka 287 di buku hariannya. Apa artinya itu?David merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa di tengah amarahnya.Keinginannya untuk merokok tib

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 9

    Air mata David jatuh setetes di ponselnya. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi."Apa cedera kakinya sangat parah?"Suara manajer langsung berubah marah."Keterlaluan sekali. Orang-orang itu sengaja ingin menghancurkannya. Mereka nggak menyentuh bagian tubuhnya lainnya, tapi mereka melumpuhkan kakinya. Ironis sekali!""Awalnya, masih ada harapan untuk sembuh, tapi siapa sangka, dia terlambat dilarikan ke rumah sakit. Kaki kanannya sudah nggak bisa diselamatkan lagi."Hanya kakinya yang cedera? Mereka sengaja ingin menghancurkan masa depannya?David merasakan sakit yang menusuk di hatinya. Memikirkan Agnes membayar orang untuk melakukan hal ini membuat hatinya sakit seolah-olah diremas oleh tangan yang besar. Rasa bersalah yang mendalam muncul di dalam dirinya.Namun, yang dia inginkan saat ini hanyalah menemukan Tania secepatnya!"Tania, angkat teleponnya! Angkat teleponnya!""Aku bahkan belum setuju, jadi atas dasar apa kamu menceraikanku secara sepihak?"Di ruangan yang kosong itu,

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 8

    [Aku sudah membalas kebaikanmu, tapi cinta kita nggak bisa berlanjut lagi. David, ayo kita bercerai.]Benak David mendadak kosong. Dia seolah tidak mengenali kata "cerai" itu.Dia mengambil berkas itu, membuka halaman terakhir, dan akhirnya melihat tanda tangan istrinya di sana, Tania Biantoro.Dia pun akhirnya menyadari bahwa Tania benar-benar ingin menceraikannya.Melihat kontrak pemutusan kerja di depannya, dia membanting ponselnya dengan kesal.Lalu, dia menelepon manajerku dan membentaknya, "Berani-beraninya kalian mengakhiri kontraknya tanpa sepengetahuanku?! Kalian cari mati?!"Manajer itu ketakutan dan hanya bisa menjelaskan dengan lemah, "Pak David, bukankah kamu beri tahu kami kalau luka Agnes sangat serius. Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, kami nggak boleh mengganggumu, 'kan?"David membeku.Dia ingat menerima panggilan telepon ketika dokter tidak bisa menyembuhkan Agnes.Namun, dia sangat panik waktu itu. Setelah memaki orang di ujung telepon sana, dia langs

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status