Share

Bab 6

Penulis: Muriaz
Kami nyaris gagal bertukar cincin pernikahan. Terakhir, dia menggunakan dua tutup kaleng soda sebagai penggantinya.

Malam itu, aku sangat marah sehingga mengusirnya dari tempat tidur.

"David, kamu benar-benar membuatku emosi! Aku akan mengutukmu di buku catatan dendamku."

Dia meringis sambil berkata, "Catatlah sebanyak yang kamu mau. Toh aku pasti bisa membujukmu kembali."

Meski tahu dia salah paham, aku tidak menjelaskan dan hanya mengangguk dengan dingin.

Mengenang manisnya bulan madu mereka, senyum yang jarang terlihat, akhirnya muncul di wajah pria yang biasanya dingin itu.

"Kan sudah kubilang, aku pasti bisa membujukmu kembali, jadi jangan menyimpan dendam lagi. Kemarilah."

Dia menyerahkan sertifikat kepemilikan properti kepadaku, lalu menarikku ke dalam pelukannya.

"Aku sengaja memesan gedung apartemen baru di pusat kota ini khusus untukmu."

"Video itu sudah ditangani. Aku akan membiarkanmu tampil di panggung bulan depan, oke?"

Para pelayan di luar pintu mengintip dengan iri.

Aku tetap bergeming, dan berkata dengan datar, "Terserah kamu saja."

Melihatku bergeming terhadap apa pun yang dia katakan, ekspresinya berubah dingin. Ada secercah kemarahan terpancar di matanya.

"Apa kamu ingin terus mempermasalahkan hal ini?"

Aku mendongak, membiarkan mataku yang dalam bertemu dengan matanya.

"Nggak kok. Aku nggak berani, Pak David."

Kata-kata itu langsung membangkitkan emosi David.

"Tania, memang aku yang merekam video itu. Dan video itu bisa dilihat oleh Agnes juga karena aku nggak mengawasinya dengan benar. Kalau kamu marah, kamu bisa melampiaskannya padaku, mengerti?"

Dalam sekejap, rasanya seperti sebuah batu besar menekan dadaku.

Sepertinya dia bisa melakukan apa saja untuk Agnes, bahkan merendahkan diri di hadapanku ataupun mengorbankan dirinya untuknya.

Aku tiba-tiba merasa sangat lelah.

Tidak ingin terlibat dengan mereka lagi.

Jadi, aku menanggapinya dengan tenang, "Aku mengerti."

Melihat sikapku yang acuh tak acuh, David mengerutkan kening, menggertakkan giginya, dan menatapku lama sebelum akhirnya membanting pintu dan pergi.

Keesokan harinya, David mengirimiku pesan dan mengajakku datang ke lapangan golf.

Aku mulanya tidak mau pergi, tetapi detik berikutnya, sebuah pesan masuk lagi.

[Anggaplah aku menggunakan kupon pengampunan.]

Melihat kalimat itu, kemudian berpikir bahwa ini adalah terakhir kalinya, aku pun mengiakannya.

Begitu memasuki lapangan golf pribadi itu, sebelum menemukan sosok David, seseorang telah menendangku dari belakang.

Suara Agnes perlahan terdengar.

"Nggak usah dicari lagi. Aku yang menyuruhmu datang."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, dua pengawal langsung menahanku.

Kemudian, tongkat mulai diayunkan dengan liar ke arah kakiku, darah berceceran, dan aku menjerit kesakitan.

Berusaha menahan sakit yang luar biasa, aku dengan marah menghardiknya, "Agnes, kamu sudah gila!"

Dia tersenyum sinis. Ada kilatan jahat terpancar di matanya.

"Tania, atas dasar apa! Kamu sekarang telah dibenci oleh semua orang, tapi kenapa Kak David masih nggak mau menceraikanmu? Dia bahkan mengatakan akan menebus kesalahannya dan membantumu tampil kembali di panggung."

"Tania, katakan padaku! Atas dasar apa!"

David memperlakukannya bak seorang ratu. Meski hanya bersikap basa-basi padaku, apa pantas baginya untuk membuat keributan seperti ini?

Sambil memasang ekspresi tidak berdaya, aku pun berkata dengan dingin, "Aku nggak bermaksud berebut denganmu."

Melihatku masih sadar diri, dia mendengus dingin dan berkata dengan nada merendahkan, "Tapi aku benar-benar nggak tahan melihatmu. Bukankah kamu seorang supermodel internasional? Kalau begitu, aku akan mematahkan kakimu dan lihat bagaimana kamu merayu Kak David lagi!"

Melihat darah lengket di kaki celanaku, dia merasa mual dan muntah. Matanya melirik bola golf di sebelahnya.

Lalu, seolah teringat sesuatu, dia pun menyeringai.

"Lepaskan celananya!" teriaknya dengan suara melengking.

"Sayang sekali nggak berhasil menjejalkan telur itu ke dalam organ intimmu tempo hari. Kebetulan di sini ada bola. Tania, aku jamin kamu akan bersenang-senang hari ini!"

Dia menggosok bola golf di tangannya, lalu menyuruh pengawalnya untuk melepaskan celanaku.

Aku meronta mati-matian, seperti binatang buas yang meraung-raung.

Agnes terkikik di telingaku, mengulurkan tangan dan mencubit pipiku, kuku-kukunya yang terawat menggoreskan bercak-bercak berdarah di wajahku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 13

    "Meskipun kamu nggak memberikan bunga saat mengutarakan perasaanmu, aku tetap berbaik hati dan setuju untuk menjadi pacarmu.""Sudah senang, 'kan? Jangan melompat ke sungai lagi, Haikal.""Anggap saja demi aku."Haikal tiba-tiba menatapku dengan ekspresi terkejut.Matanya mendadak memerah. Dia menggenggam tanganku dengan erat.Sebenarnya, aku tidak berencana untuk melompat ke sungai hari itu. Aku hanya tiba-tiba mendapat ide untuk berdiri di tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat lebih jauh.Namun, aku justru bertemu dengan Haikal, yang sebenarnya berada di sana untuk melompat ke sungai.Hari itu, tatapan matanya benar-benar menunjukkan keputusasaan dan kematian.Jadi, aku memutuskan untuk pulang bersamanya. Lagi pula, menyelamatkan nyawa berpahala besar.Aku tidak tahu apa yang telah dia alami, tetapi karena dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepadaku, aku akan menjadi orang yang dia pedulikan. Dia seharusnya tidak ingin mati lagi, 'kan?Kehidupan sebagai pemilik toko b

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 12

    "Kamu benar, aku memang kotor. Aku akan menemukannya dan menebus dosa-dosaku, tapi aku harus membalaskan dendam untuknya!"Agnes merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya karena tatapan tajam pria itu yang begitu dingin.David membantingnya ke tanah dan berkata kepada pengawal di sampingnya, "Pakai lebih banyak cara siksa dia, tapi ingat, jangan sampai dia mati!"Menyadari situasi berada di luar kendali, pupil mata Agnes melebar. Dia sangat ketakutan sehingga kehilangan kendali dan mengeluarkan jeritan melengking."Kak David, ini salahku, ini salahku. Aku minta maaf padanya. Aku bisa pergi, aku bisa pergi ke luar negeri, aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Tapi kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini. Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, David!"David melemparkan Agnes ke sekelompok preman, mengabaikan teriakan dan permohonan ampunnya, lalu mengambil berbagai foto dan video wanita itu, mengunggahnya di internet, yang seketika memicu serangkaian hujatan dan perundunga

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 11

    Buku harian itu mencatat setiap peristiwa dengan jelas, termasuk hal-hal yang David katakan kepada Agnes.David seolah-olah berada di posisi Tania, mengalami semuanya secara langsung.Tulisan itu sangat menyedihkan dan mencekik, dipenuhi dengan pikiran-pikiran melankolis.Rokok itu menyala sesekali di dalam ruangan. David tetap berada di samping tempat tidur, membaca buku hariannya sepanjang malam.Dia menghabiskan sebungkus rokok itu. Asap yang menyesakkan di ruangan itu seolah mencekiknya sampai mati.Saat fajar menyingsing, matanya tampak merah. Dia dipenuhi kesedihan, kelesuan, dan keputusasaan serta kemalangan yang tak berujung.Sekarang, dia sepertinya mampu berempati terhadap Tania.Namun, semuanya telah terlambat.Dia tidak bisa menemukan Tania lagi.Dia memang bajingan!Jelas-jelas Tania adalah korban, jelas-jelas Agnes sangat kejam dan tidak manusiawi, tetapi dia tetap berpihak pada Agnes.Dia bahkan berencana membungkam Tania, menyuruhnya untuk tidak menghubungi polisi dan m

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 10

    "Oh ya, Tuan. Nyonya bilang brankasnya sudah penuh."Pelipis David berdenyut-denyut. Dia buru-buru berlari ke ruang kerja untuk membuka brankas.Dia tidak pernah mengerti mengapa Tania menaruh brankas setinggi setengah badan orang di ruang kerja.Dia pernah menanyakan hal ini pada Tania ketika para pekerja sedang memasang lemari.Tani menjawabnya sambil tersenyum, "Rahasia! Kamu akan tahu saat brankasnya penuh."Saat itu, David tidak terlalu memikirkannya. Dia beranggapan bahwa itu hanya permainan konyol gadis kecil.Namun, kini dia menatap lemari yang penuh dengan sertifikat kepemilikan properti, bernomor 1 hingga 290.Dia masih tetap bingung.Apa rahasianya adalah tiba-tiba lenyap tanpa jejak?Meninggalkan perjanjian cerai dan pemutusan kontrak.Kemudian, menghilang sepenuhnya dari dunia David.Lantas, apa itu 290?Sebelumnya, dia mencatat angka 287 di buku hariannya. Apa artinya itu?David merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa di tengah amarahnya.Keinginannya untuk merokok tib

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 9

    Air mata David jatuh setetes di ponselnya. Dia ingin tahu apa yang telah terjadi."Apa cedera kakinya sangat parah?"Suara manajer langsung berubah marah."Keterlaluan sekali. Orang-orang itu sengaja ingin menghancurkannya. Mereka nggak menyentuh bagian tubuhnya lainnya, tapi mereka melumpuhkan kakinya. Ironis sekali!""Awalnya, masih ada harapan untuk sembuh, tapi siapa sangka, dia terlambat dilarikan ke rumah sakit. Kaki kanannya sudah nggak bisa diselamatkan lagi."Hanya kakinya yang cedera? Mereka sengaja ingin menghancurkan masa depannya?David merasakan sakit yang menusuk di hatinya. Memikirkan Agnes membayar orang untuk melakukan hal ini membuat hatinya sakit seolah-olah diremas oleh tangan yang besar. Rasa bersalah yang mendalam muncul di dalam dirinya.Namun, yang dia inginkan saat ini hanyalah menemukan Tania secepatnya!"Tania, angkat teleponnya! Angkat teleponnya!""Aku bahkan belum setuju, jadi atas dasar apa kamu menceraikanku secara sepihak?"Di ruangan yang kosong itu,

  • Ke-290 Kalinya Kamu Menyakitiku   Bab 8

    [Aku sudah membalas kebaikanmu, tapi cinta kita nggak bisa berlanjut lagi. David, ayo kita bercerai.]Benak David mendadak kosong. Dia seolah tidak mengenali kata "cerai" itu.Dia mengambil berkas itu, membuka halaman terakhir, dan akhirnya melihat tanda tangan istrinya di sana, Tania Biantoro.Dia pun akhirnya menyadari bahwa Tania benar-benar ingin menceraikannya.Melihat kontrak pemutusan kerja di depannya, dia membanting ponselnya dengan kesal.Lalu, dia menelepon manajerku dan membentaknya, "Berani-beraninya kalian mengakhiri kontraknya tanpa sepengetahuanku?! Kalian cari mati?!"Manajer itu ketakutan dan hanya bisa menjelaskan dengan lemah, "Pak David, bukankah kamu beri tahu kami kalau luka Agnes sangat serius. Kalau nggak ada urusan yang benar-benar penting, kami nggak boleh mengganggumu, 'kan?"David membeku.Dia ingat menerima panggilan telepon ketika dokter tidak bisa menyembuhkan Agnes.Namun, dia sangat panik waktu itu. Setelah memaki orang di ujung telepon sana, dia langs

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status