로그인Suara burung berkicau dengan nyaring seakan menyambut terbitnya sang surya, gelapnya langit malam yang kini mulai tergantikan dengan sinar kekuningan yang dibawa sang surya.
Sinarnya yang kini mulai menyebar menyinari semua, termasuk di hutan belantara yang kesuramannya kini berganti karena hangatnya sinar matahari.
Di dalam hutan yang dihuni oleh ribuan tanaman dan hewan, terdapat dua orang terbaring lemah di tepi jurang curam.
Yang satu memakai pakaian tertutup, dan satunya lagi memakai pakaian ketat yang membungkus sebagian tubuhnya, ditemani dengan dua buah pistol dan sebuah tas yang menempel di punggungnya.
Jari-jemari dari salah satunya bergerak, diikuti dengan kelopak matanya yang mulai bergerak mengerjap hendak membuka diri.
Orang itu yang baru saja tersadar itu adalah Mei Li Yue. Dengan pelan, ia mulai membuka mata dan mengamati sekelilingnya, hutan yang rimbun akan pepohonan, akar - akar besar mencuat keluar dari dalam tanah.
Li Yue perlahan bangkit seraya memegang kepalanya pusing lalu bersandar di sebuah pohon besar, ia yang masih setengah sadar mencoba untuk mengamati sekelilingnya lagi.
Hutan yang lebat akan ratusan pepohonan besar dan di depannya terdapat jurang curam. Li Yue menolehkan kepalanya ke samping, alangkah terkejutnya ia dengan adanya orang yang tergeletak tak jauh darinya.
Li Yue bangkit, seraya memegangi lengan kanannya yang patah karena peristiwa semalam. Berjalan dengan tertatih guna melihat kondisi orang itu dan saat sampai ia mengamatinya, 'ternyata seorang wanita, tapi mengapa wanita ini memakai hanfu? Dan hutan ini sangat lebat, seingatku tidak ada hutan selebat ini di dunia. Apa mungkin aku melintasi waktu?' batin Li Yue.
Li Yue menyingkap rambut wanita yang berada di depannya, Li Yue terkejut sampai-sampai ia terjerembab karena melihat wanita yang di depannya memiliki wajah yang serupa dengan dia.
Li Yue hendak bangkit ingin berlari, tapi terhenti karena sebuah sinar terang keluar dari tubuh wanita itu, diikuti dengan keluarnya sosok roh yang perlahan mendekat ke arahnya.
"Tunggu! Jangan pergi!" ucap sosok itu berhasil menghentikan Li Yue.
"Siapa kau?! Mengapa kau memiliki wajah yang sama denganku?" tanya Li Yue dengan sorot mata tajamnya, dan tanpa diperintah, sebelah tangannya sudah menodongkan salah satu senjata apinya, kedua kakinya pun sudah berada di posisi siap untuk berlari.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kumohon diam dan dengarkan aku sebentar saja," pinta sosok itu.
Li Yue menatap ragu ke arah sosok itu. "Baik, aku akan diam."
Sosok itu tersenyum mendengar persetujuan dari Li Yue. "Aku rasa, aku tidak perlu memberitahumu apa yang telah terjadi denganmu kan?" kata sosok itu membuka percakapan.
"Jadi benar, aku telah melintasi waktu?" tanya Li Yue.
"Ya, kau benar."
"Dan mengapa kau memiliki wajah yang sama denganku?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bagaimana jika aku menceritakan tentang diriku padamu. Perkenalkan, aku Zhang Li Yue, Permaisuri Kekaisaran Feng, yang mana sekarang adalah tempat dirimu berada," kata Permaisuri Zhang memperkenalkan diri.
"Zhang Li Yue?"
"Ya"
"Ternyata tidak hanya wajah saja, nama kita pun hampir sama, hanya saja aku memakai marga Mei dari ayah angkatku sedangkan kau Zhang."
"Aku tahu."
"Mmm, jadi kau seorang Permaisuri?" tanya Li Yue pelan, perlahan ia penasaran dengan wanita di depannya ini.
"Ya... tapi, itu hanyalah gelar semata," jawab Permaisuri Zhang diakhiri dengan senyum lirih.
Li Yue diam tidak berkomentar setelah mendengar nada sendu dari sosok di depannya.
Zhang Li Yue menatap langit yang sudah mulai berubah warna dengan tatapan lembutnya. "Kau tahu. Di ambang kematianku, aku meminta satu permohonan pada dewa, berharap dewa akan mengabuli permohonan terakhirku itu."
"Kau memohon apa?"
"Aku memohon, agar ada orang yang akan membalaskan dendamku." Zhang Li Yue diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.
"Dulu, aku tidak pernah berniat balas dendam pada mereka yang menyakitiku selama ini. Tapi perbuatan mereka sudah melampaui batas. Mereka membunuhku, dan bukan hanya aku, adikku juga dibunuh oleh mereka." Air mata mulai keluar dari netra indah Zhang Li Yue.
"Tunggu. Kau mengatakan jika kau adalah seorang Permaisuri kekaisaran tempat kita berada, itu berarti suamimu adalah Kaisar disini. Kenapa kau tidak meminta bantuan darinya?" tanya Li Yue heran.
Zhang Li Yue menatap kosong ke arah Li Yue, lalu ia mengajukan pertanyaan padanya. "Kau tahu mengapa Permaisuri hanyalah gelar semata bagiku?"
Kepala Li Yue menggeleng, tidak mengetahui jawaban, dari pertanyaan yang diberikan padanya.
"Aku berasal dari keluarga pejabat menengah di desa, dan pernikahan kami bukan berdasar cinta melainkan titah dari Kaisar terdahulu, kakekku dan Kaisar terdahulu adalah teman."
"Kakekku pernah menyelamatkan Kaisar terdahulu dari kematian, karena ingin membalas budi, Kaisar terdahulu menjanjikan jika ada keturunan perempuan dari kakekku, beliau akan menikahkannya dengan keturunannya yang akan menjabat menjadi Kaisar di masa depan," tambah Zhang Li Yue.
"Dan itu adalah kau?" tebak Li Yue.
"Ya, pernikahan pun berlangsung. Saat malam pernikahan, Yang Mulia Kaisar Feng Wu Lan, suamiku, berkata agar aku tidak mengharapkan apapun dari pernikahan ini. Setelah itu Kaisar pergi meninggalkanku sendirian di keheningan malam."
Zhang Li Yue bercerita, dengan nada lirih yang sarat akan kesedihan yang mendalam.
"Aku memang Permaisuri, tapi hakku sebagai Permaisuri direnggut oleh Xi Liu Ri, Selir Utama di Kekaisaran Feng. A-aku tidak berani melawan, karena Selir Utama Xi merupakan putri dari Perdana Menteri."
Terlihat bola mata Zhang Li Yue bergerak kesana kemari menghalau air mata yang kini sudah memupuk. "Keluarga kami tak sepadan, jika aku melawan, maka keluargaku akan menjadi taruhannya." lirihan Zhang Li Yue sarat akan kesedihan.
"Dan bagaimana ceritanya kau dan adikmu meninggal?" tanya Li Yue penasaran, sekaligus mencoba mengalihkan pembicaraan.
_o0o_Li Yue terbangun saat matahari sudah condong ke arah barat. Sudah lama dia tidak tidur senyenyak tadi. Saat membuka mata, dia melihat Ye Lin sedang merapikan sebuah baju."Ye Lin, kau sedang apa?"Ye Lin ."Kau sudah bangun Li Yue, aku sedang merapikan baju yang nanti akan kau kenakan""Oh." Li Yue bangkit, lalu duduk di pinggir ranjangnya. Matanya menjelajahi seisi ruangan. Saat dia sampai disini, dia tidak bisa melihat seisi ruangan sesukanya, karena ada"Kau ingin mandi atau makan dulu, Li Yue?"
Saat ini, Li Yue dan Ye Lin telah sampai di istana. Mereka tengah berdiri di depan gerbang istana yang kokoh. Ye Lin dan Li Yue hendak melangkah masuk ke istana, tapi terhenti karena Prajurit yang berjaga di gerbang mencegat mereka."Kalian dilarang masuk," ucap dua prajurit tersebut sambil menyilangkan tombak yang mereka bawa."Lancang sekali kalian mencegat kami, Apa kalian tidak tahu siapa yang kalian cegat, hah!" Ye Lin berang terhadap dua orang prajurit di hadapannya ini. Bagaimana bisa mereka menghadang tuannya yang seorang permaisuri?"Kami diperintahkan untuk melarang orang asing masuk, Nona, jadi pergilah.""Orang asing, kau bilang! Kau tidak tahu bahwa orang yang kau cegat adalah Permaisuri dari Kekaisaran ini""Per
_o0o_"Apa kau masih menyimpan daun yang kupinta, Ye Lin?""Daun yang kau gunakan untuk mengobati lukamu?" tanya Ye Lin memastikan."Iya.""Tentu, aku menyimpannya di dalam kotak bening yang ada di tasmu."Setelah mendengar jawaban Ye Lin, Li Yue langsung membuka tasnya, guna mencari daun untuk salep lukanya."Ye Lin bisa kau tumbukkan aku daun ini lagi?""Tentu.""Kau masih ingat dengan apa yang harus dicampurkan ke dalamnya kan?""Iya, aku tentu mengingatnya, dicampurkan dengan ini kan?" Ye Lin mengangkat salah satu toples kecil yang isinya adalah dedaunan kering yang menjadi campuran obat Li Yue."Kau benar.""Baiklah, kau duduk saja, aku akan menumbuknya untukmu."Li Yue memperhatikan Ye Lin yang sedang asyik dengan kegiatan menumbuknya. Sebentar lagi, ya, lebih tepatnya dua hari lagi dia akan sampai ke tempat di mana Zhang Li Yue hidup dengan kemalangan. Tapi tidak lagi, wanita yang diberi julukan Permais
_o0o_'Menunggu' adalah kegiatan yang paling dibenci Li Yue.Saat ini Li Yue ada di pinggir hutan, dia sedang menunggu Ye lin yang pergi ke pasar membelikannya sebuah pakaian untuk dipakai sementara waktu.Li Yue tidak ingin menjadi pusat perhatian karena pakaiannya yang tidak sesuai dengan zaman ini. Karena itu, semalam dia memerintahkan Ye Lin untuk membelikannya sebuah pakaian.Duduk menyelonjorkan kaki sambil bersandar di salah satu pohon besar, dan menghela nafas kasar, itulah kegiatan yang dilakukan Li Yue ketika menunggu.Derap langkah kaki terdengar, membuat Li Yue waspada. Dengan cepat dia mengeluarkan belati kecil yang diselipkan di pinggang rampingnya. Langkah kaki itu kian mendekat, Li Yue bersikap tenang untuk mengelabui orang yang ada di belakangnya.Sebuah tangan terjulur di belakang, hendak menyentuh bahunya. Dengan cepat Li Yue mencengkeram lalu memelintir tangan itu."Aakkhh!""Siapa ka–
Sesampainya di dalam gua, Li Yue langsung duduk mengistirahatkan tubuhnya, melihat sekeliling.Benar kata Ye Lin, gua ini memang tersembunyi karena pintu masuk gua yang tertutupi oleh rimbunnya dedaunan.Gua ini juga berbeda dari gua- gua yang ada. Kebanyakan gua itu berada di kaki gunung atau bukit, tapi gua ini berada di bawah tanah datar yang dipijak. Jadi saat masuk tadi Li Yue dan Ye Lin harus berhati-hati karena tempat berpijaknya sedikit curam.Sembari menunggu Ye Lin yang sedang mengumpulkan kayu kering untuk membakar ubi, Li Yue memikirkan bagaimana nasibnya kelak jika dia berhasil membalaskan dendam Zhang Li Yue.Apa dia akan kembali ke zamannya atau tetap disini? Seharusnya ia sudah meninggal karena terjatuh kedalam sumur tua, tapi karena doa dari Zhang Li Yue, membuat dia berpindah ke zaman ini, Li Yue pusing memikirkannya."Permaisuri," panggil Ye Lin.Lamunan Li Yue terhenti ketika Ye Lin memanggilnya."Ya?" sambil menengok cepat ke arah Ye Lin"Hamba perhatikan, seharia
Setelah arwah Zhang Li Yue pergi, Li Yue langsung mencari jasad Zhang Xiu Ran, adiknya Zhang Li Yue, dan jasadnya berada tidak jauh dari jasad Zhang Li Yue.Dengan susah payah Li Yue membawa jasad Zhang Xiu Ran dan meletakkannya di dekat Zhang Li Yue, kemudian menggali tanah dan mengubur kedua kakak beradik itu."Semoga kalian tenang disana, aku akan membalas semua ketidakadilan yang kalian dapatkan, aku berjanji," ucap Li Yue setelah memberi penghormatan terakhir, lalu pergi mencari jalan ke danau tempat pelayan Zhang Li Yue menunggu.Tidak mudah mencari jalan keluar di hutan yang lebat ini, terkadang Li Yue bertemu dengan anjing liar, tapi dengan satu tangan dan sebuah belati dia dengan mudah mengalahkannya, beruntung hanya anjing liar yang dia temui, bukan sang raja hutan.Li Yue juga beruntung, selama perjalanan dia menemukan beberapa tanaman herbal yang sulit didapatkan tapi sangat bermanfaat.Li Yue juga menemukan tanaman beracun hemlock, bunganya berwarna putih berukuran kecil,







