Share

Chapter. 3

Penulis: Vanilatte733
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 17:29:40

Suara burung berkicau dengan nyaring seakan menyambut terbitnya sang surya, gelapnya langit malam yang kini mulai tergantikan dengan sinar kekuningan yang dibawa sang surya.

Sinarnya yang kini mulai menyebar menyinari semua, termasuk di hutan belantara yang kesuramannya kini berganti karena hangatnya sinar matahari.

Di dalam hutan yang dihuni oleh ribuan tanaman dan hewan, terdapat dua orang terbaring lemah di tepi jurang curam.

Yang satu memakai pakaian tertutup, dan satunya lagi memakai pakaian ketat yang membungkus sebagian tubuhnya, ditemani dengan dua buah pistol dan sebuah tas yang menempel di punggungnya.

Jari-jemari dari salah satunya bergerak, diikuti dengan kelopak matanya yang mulai bergerak mengerjap hendak membuka diri.

Orang itu yang baru saja tersadar itu adalah Mei Li Yue. Dengan pelan, ia mulai membuka mata dan mengamati sekelilingnya, hutan yang rimbun akan pepohonan, akar - akar besar mencuat keluar dari dalam tanah.

Li Yue perlahan bangkit seraya memegang kepalanya pusing lalu bersandar di sebuah pohon besar, ia yang masih setengah sadar mencoba untuk mengamati sekelilingnya lagi.

Hutan yang lebat akan ratusan pepohonan besar dan di depannya terdapat jurang curam. Li Yue menolehkan kepalanya ke samping, alangkah terkejutnya ia dengan adanya orang yang tergeletak tak jauh darinya.

Li Yue bangkit, seraya memegangi lengan kanannya yang patah karena peristiwa semalam. Berjalan dengan tertatih guna melihat kondisi orang itu dan saat sampai ia mengamatinya, 'ternyata seorang wanita, tapi mengapa wanita ini memakai hanfu? Dan hutan ini sangat lebat, seingatku tidak ada hutan selebat ini di dunia. Apa mungkin aku melintasi waktu?' batin Li Yue.

Li Yue menyingkap rambut wanita yang berada di depannya, Li Yue terkejut sampai-sampai ia terjerembab karena melihat wanita yang di depannya memiliki wajah yang serupa dengan dia.

Li Yue hendak bangkit ingin berlari, tapi terhenti karena sebuah sinar terang keluar dari tubuh wanita itu, diikuti dengan keluarnya sosok roh yang perlahan mendekat ke arahnya.

"Tunggu! Jangan pergi!" ucap sosok itu berhasil menghentikan Li Yue.

"Siapa kau?! Mengapa kau memiliki wajah yang sama denganku?" tanya Li Yue dengan sorot mata tajamnya, dan tanpa diperintah, sebelah tangannya sudah menodongkan salah satu senjata apinya, kedua kakinya pun sudah berada di posisi siap untuk berlari.

"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kumohon diam dan dengarkan aku sebentar saja," pinta sosok itu.

Li Yue menatap ragu ke arah sosok itu. "Baik, aku akan diam."

Sosok itu tersenyum mendengar persetujuan dari Li Yue. "Aku rasa, aku tidak perlu memberitahumu apa yang telah terjadi denganmu kan?" kata sosok itu membuka percakapan.

"Jadi benar, aku telah melintasi waktu?" tanya Li Yue.

"Ya, kau benar."

"Dan mengapa kau memiliki wajah yang sama denganku?"

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bagaimana jika aku menceritakan tentang diriku padamu. Perkenalkan, aku Zhang Li Yue, Permaisuri Kekaisaran Feng, yang mana sekarang adalah tempat dirimu berada," kata Permaisuri Zhang memperkenalkan diri.

"Zhang Li Yue?"

"Ya"

"Ternyata tidak hanya wajah saja, nama kita pun hampir sama, hanya saja aku memakai marga Mei dari ayah angkatku sedangkan kau Zhang."

"Aku tahu."

"Mmm, jadi kau seorang Permaisuri?" tanya Li Yue pelan, perlahan ia penasaran dengan wanita di depannya ini.

"Ya... tapi, itu hanyalah gelar semata," jawab Permaisuri Zhang diakhiri dengan senyum lirih.

Li Yue diam tidak berkomentar setelah mendengar nada sendu dari sosok di depannya.

Zhang Li Yue menatap langit yang sudah mulai berubah warna dengan tatapan lembutnya. "Kau tahu. Di ambang kematianku, aku meminta satu permohonan pada dewa, berharap dewa akan mengabuli permohonan terakhirku itu."

"Kau memohon apa?"

"Aku memohon, agar ada orang yang akan membalaskan dendamku." Zhang Li Yue diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.

"Dulu, aku tidak pernah berniat balas dendam pada mereka yang menyakitiku selama ini. Tapi perbuatan mereka sudah melampaui batas. Mereka membunuhku, dan bukan hanya aku, adikku juga dibunuh oleh mereka." Air mata mulai keluar dari netra indah Zhang Li Yue.

"Tunggu. Kau mengatakan jika kau adalah seorang Permaisuri kekaisaran tempat kita berada, itu berarti suamimu adalah Kaisar disini. Kenapa kau tidak meminta bantuan darinya?" tanya Li Yue heran.

Zhang Li Yue menatap kosong ke arah Li Yue, lalu ia mengajukan pertanyaan padanya. "Kau tahu mengapa Permaisuri hanyalah gelar semata bagiku?"

Kepala Li Yue menggeleng, tidak mengetahui jawaban, dari pertanyaan yang diberikan padanya.

"Aku berasal dari keluarga pejabat menengah di desa, dan pernikahan kami bukan berdasar cinta melainkan titah dari Kaisar terdahulu, kakekku dan Kaisar terdahulu adalah teman."

"Kakekku pernah menyelamatkan Kaisar terdahulu dari kematian, karena ingin membalas budi, Kaisar terdahulu menjanjikan jika ada keturunan perempuan dari kakekku, beliau akan menikahkannya dengan keturunannya yang akan menjabat menjadi Kaisar di masa depan," tambah Zhang Li Yue.

"Dan itu adalah kau?" tebak Li Yue.

"Ya, pernikahan pun berlangsung. Saat malam pernikahan, Yang Mulia Kaisar Feng Wu Lan, suamiku, berkata agar aku tidak mengharapkan apapun dari pernikahan ini. Setelah itu Kaisar pergi meninggalkanku sendirian di keheningan malam."

Zhang Li Yue bercerita, dengan nada lirih yang sarat akan kesedihan yang mendalam.

"Aku memang Permaisuri, tapi hakku sebagai Permaisuri direnggut oleh Xi Liu Ri, Selir Utama di Kekaisaran Feng. A-aku tidak berani melawan, karena Selir Utama Xi merupakan putri dari Perdana Menteri."

Terlihat bola mata Zhang Li Yue bergerak kesana kemari menghalau air mata yang kini sudah memupuk. "Keluarga kami tak sepadan, jika aku melawan, maka keluargaku akan menjadi taruhannya." lirihan Zhang Li Yue sarat akan kesedihan.

"Dan bagaimana ceritanya kau dan adikmu meninggal?" tanya Li Yue penasaran, sekaligus mencoba mengalihkan pembicaraan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 202

    Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 201

    _o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 200

    Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 199

    Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 198

    _o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 197

    Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status