LOGINKeesokan harinya, Jimmy dan Laura pagi-pagi sudah tiba di pengadilan negeri. Zaman sekarang, orang yang bercerai bahkan lebih banyak daripada yang menikah.Meskipun mereka datang cukup pagi, masih ada orang yang datang lebih awal dari mereka. Setelah antre sampai sekitar pukul 10 siang, akhirnya giliran mereka tiba."Kalian yakin ingin cerai?""Sepertinya kalian baru nikah belum lama. Kenapa sudah ingin cerai? Gimana kalau dipikirkan lagi? Jangan sampai karena emosi sesaat malah merusak pernikahan." Petugas menasihati dengan serius."Kami sudah memikirkannya dengan matang." Jimmy tersenyum."Benar." Laura juga mengangguk. "Kami memutuskan cerai setelah mempertimbangkannya dengan serius. Terima kasih atas niat baikmu, tapi nggak perlu membujuk kami lagi."Melihat tidak ada lagi yang bisa dibujuk, petugas itu akhirnya mulai memproses perceraian mereka.Setelah mengurusnya sampai sekitar pukul 10.30 siang, mereka akhirnya resmi mendapatkan akta cerai.Sambil memegang akta cerai itu, kedua
Mendengar penjelasan Maruli, hati Laura langsung terasa dingin setengahnya.Namun, dia tahu betapa pentingnya mendapatkan kontrak ini bagi Keluarga Sucipto. Karena itu, dia kembali berusaha memperjuangkannya dan berharap bisa bertemu langsung dengan Maruli untuk membicarakannya secara lebih rinci."Aku juga hanya menyampaikan pesan. Mencariku pun nggak ada gunanya."Maruli menghela napas tak berdaya. "Kalau kamu masih ingin mencoba memperjuangkannya, kamu bisa datang ke perusahaan dan bicara dengan Pak Bisma. Mungkin masih ada kesempatan.""Baik, baik!" Laura segera menyetujuinya. "Kalau begitu, aku akan datang sore ini!"Selama masih ada sedikit peluang, dia tidak akan menyerah."Hari ini nggak bisa, sore ini kami ada rapat penting." Maruli berpikir sejenak, lalu berkata, "Begini saja, nanti aku tanyakan dulu kepada Pak Bisma kapan dia punya waktu. Kalau sudah ada kabar, aku akan kabari.""Baik, terima kasih, terima kasih banyak!" Laura sangat berterima kasih."Nggak perlu sungkan." M
Selama dua hari berikutnya, Yunan cukup tenang. Bagaimanapun juga, sekarang Yasmin tidak lagi menghindarinya.Yunan hanya ingin segera menyembuhkan lukanya, lalu pergi mencari Yasmin untuk berduel. Hanya saja, Yunan masih sering mengomel di telinga Jimmy.Sedikit saja tidak cocok, dia langsung mengucapkan kalimat yang sama lagi, "Aku pasti akan membunuhmu." Sampai-sampai telinga Jimmy hampir kapalan mendengarnya.Selama waktu itu, Zisel juga setiap hari meneleponnya untuk mengingatkan agar dia tidak lupa tanggal mengurus akta cerai dengan Laura.Pada hari ketiga, Andra juga menelepon pagi-pagi, mengajaknya makan siang bersama sebagai makan perpisahan, sekaligus berterima kasih karena Jimmy telah meminta Mukhtar mengobati Yahya.Jimmy kebetulan tidak ada urusan, jadi dia langsung menyetujuinya.Siang hari, Jimmy hampir datang tepat waktu. Begitu masuk ke ruang VIP, dia baru sadar bahwa Laura dan Ervina juga ada di sana.Mata Ervina agak bengkak dan merah. Sepertinya beberapa hari ini di
Saat mereka sedang asyik mengobrol, ponsel Bisma tiba-tiba berbunyi.Bisma mengangkat telepon itu. Setelah berbicara singkat beberapa kalimat, dia langsung menutupnya, lalu berkata dengan penuh perasaan, "Kekuasaan ini memang benar-benar sesuatu yang luar biasa. Pantas saja begitu banyak orang mati-matian ingin naik posisi.""Kenapa tiba-tiba jadi sentimental begitu?" tanya Jimmy sambil tersenyum.Bisma tersenyum dan menggeleng. "Sekarang perusahaan kami mau ganti perusahaan pengangkut material yang baru? Beberapa hari ini, banyak sekali orang mencariku lewat berbagai cara. Ada yang ajak aku makan, minum, bahkan bersenang-senang. Ada juga yang mau kasih hadiah. Bahkan ada yang langsung bicara soal komisi.""Tentu saja!" Jimmy tertawa keras, lalu mengingatkan, "Kalau sudah menerima pemberian orang, biasanya jadi nggak enak menolak. Jadi hati-hati saja."Meskipun dia tahu Bisma bukan orang seperti itu, tetap saja dia perlu mengingatkannya. Keinginan sering kali tumbuh seiring bertambahny
Di dalam rumah, Jimmy baru saja selesai menelepon Bisma ketika Yunan mendorong pintu dan masuk."Lain kali ingat ketuk pintu dulu." Jimmy duduk tegak, lalu mengingatkan, "Kalau kamu masuk saat aku belum pakai celana, nanti bisa ....""Sudah pernah lihat kok!" Yunan mendengus dingin."Aku ...." Sudut mulut Jimmy berkedut. Wajahnya yang biasanya tebal pun sedikit memerah.Yunan duduk di kursi di dalam kamar, lalu mencibir "Kamu benar-benar membosankan!""Kamu berani bilang orang lain membosankan?" Jimmy menatap Yunan sambil tertawa. "Siapa yang bisa lebih membosankan daripada kamu?"Dia jelas tahu dirinya tidak punya kemampuan untuk membunuh Jimmy secara terang-terangan, tetapi setiap hari tetap berteriak ingin membunuhnya. Bukankah itu justru lebih membosankan? Benar-benar merasa diri sendiri hebat."Kamu sebaiknya bicara baik-baik denganku!" Yunan mengangkat alis dan mengancam, "Kalau nggak, aku akan kasih tahu rahasiamu kepada Yasmin!""Rahasia?" Jimmy bingung. "Rahasia apa?""Kamu se
Jimmy mengurus makan dan tempat tinggalnya, merawat lukanya, bahkan membawakan makanan supaya dia mau makan! Siapa yang percaya kalau wanita ini mau membunuh dirinya?"Aku terluka!" Yunan menegaskan."Nggak usah bawa-bawa itu!" Jimmy mencebik. "Bahumu 'kan cuma satu yang terluka! Mau makan atau nggak, terserah!"Wanita ini benar-benar ingin disuap dirinya? Jangan mimpi!Meskipun Yunan terluka, kalau dia benar-benar ingin membunuh Jimmy, dia tetap bisa meloncat sambil membawa pedang. Sifat ini tidak boleh dituruti!Kalau tidak, wanita ini akan semakin menjadi-jadi. Saat itu, yang menderita tetap Jimmy sendiri.Yunan menatap Jimmy dengan kesal untuk sesaat, lalu mengambil sendok dengan enggan. Baru beberapa suap, terdengar bel pintu dari luar."Yasmin kembali memohon bertemu dengan Tuan. Mohon Tuan keluar sebentar." Di luar gerbang, terdengar suara Yasmin lagi.Belum sempat Jimmy mengusir mereka, Yunan sudah meletakkan sendoknya dan berlari ke luar."Ya sudah!" Jimmy mengangkat bahu, kem
Begitu semua orang sadar kembali, kerumunan langsung gempar."Tsk, tsk, sampai bisa bikin Pak Howard dari Grup Horizon keluar sendiri buat menyambutnya. Pamornya benar-benar besar!""Orang sehebat itu malah datang naik skuter listrik, rendah hati banget ya?""Kamu nggak ngerti! Itu namanya percaya d
"Hmm ... boleh juga." Rubah Perak mengangguk, berkata dengan agak enggan. "Jenderal terlalu berbelas kasih pada Jimmy. Kalau menurutku, orang tak tahu malu seperti itu memang harus diberi pelajaran keras supaya kapok!""Selain memukulinya, memang kamu bisa menghukumnya bagaimana lagi?" Yasmin tersen
Angin malam berembus pelan. Jimmy dan Bisma menghentikan skuter listrik, lalu berjalan santai menyusuri tanggul sungai."Jimmy, sejak kapan kamu punya pengaruh sebesar ini?" Sambil berjalan, Bisma akhirnya tak tahan untuk bertanya."Aku mana punya pengaruh." Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Yang
Setelah menerima telepon dari Laura, Jimmy masih agak bingung.'Yasmin salah minum obat? Kenapa dia cari masalah denganku? Sialan, bajingan mana lagi yang mengadu domba kami?''Jangan-jangan ... Rafael? Berengsek! Pasti bocah tolol itu!''Selain pamer dan cari muka, bajingan itu seharian cuma bisa c







