Share

Bab 329

Author: Darrel Gilvano
Kalau hari ini Argani tidak menelepon lebih dulu dan diingatkan olehnya, entah ucapan mana dari mereka yang bisa membuat Yunan marah. Memang tidak sampai kehilangan nyawa, tetapi pasti tidak terhindar dari luka.

"Paham, paham!" Argani mengangguk sambil tersenyum, lalu mulai membicarakan hal penting.

Dia sudah menerima telepon dari kakeknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang kakek langsung berkata bahwa umurnya sudah tidak lama lagi, ingin bertemu dengannya sekali lagi, dan memintanya pulang lebih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 364

    Di bawah desakan Jimmy, mereka akhirnya masuk ke kamar. Selain Mukhtar, Edgar dan Edward juga ikut masuk. Jelas, mereka ingin melihat bagaimana Jimmy melakukan akupunktur pada Yasmin.Jimmy tidak bertele-tele, langsung menjadikan Yasmin sebagai bahan ajar, mengajari Mukhtar cara menusukkan jarum di tempat.Mendengar semua itu, hati Yasmin langsung diliputi kekesalan. Jadi, dia dijadikan kelinci percobaan?"Pfft!" Tiba-tiba, tanpa peringatan, Yasmin menyemburkan seteguk darah."Kak!""Yasmin!"Edward dan Edgar langsung berseru bersamaan.Edward bahkan buru-buru maju. Wajahnya penuh amarah saat menatap Jimmy. "Hei! Berani sekali kamu mencelakai kakakku!""Pergi sana! Pergi jauh-jauh!" balas Jimmy dengan kesal, tetapi tangannya tetap bergerak tanpa berhenti.Edward marah besar. Baru saja ingin menyerang, dia langsung ditahan oleh Edgar."Dokter Mukhtar, gimana kondisi cucuku?" Edgar menatap cucunya dengan cemas, lalu bertanya kepada Mukhtar."Ini justru hal baik, nggak perlu khawatir." Mu

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 363

    Yasmin sebenarnya ingin menolak, tetapi Edgar sudah lebih dulu melotot ke arahnya."Baiklah, kalau begitu suruh saja dokter sakti ini mengobatiku." Yasmin menggertakkan gigi. "Aku juga ingin lihat seberapa hebat kemampuanmu. Jangan sampai mengecewakanku lho!"Sambil berbicara, Yasmin tak lupa melotot dengan galak pada Jimmy. Bagus juga! Biar kakeknya melihat sendiri, apakah Jimmy benar-benar hebat! Bagaimanapun, dia tetap tidak percaya!"Jangan galak begitu sama aku." Jimmy menatap Yasmin sambil tersenyum tipis. "Kalau aku sampai kaget dan tanganku gemetar, bisa-bisa aku malah bikin kamu cacat saat pengobatan ....""Kamu ...!" Ekspresi Yasmin langsung berubah. Matanya menatap ke arah Jimmy dengan dingin.Sambil memijat kepalanya, Edward diam-diam mengacungkan jempol ke arah Jimmy. 'Gila, berani juga dia! Berani-beraninya mengancam kakakku yang galak itu! Cuma dari ini saja, tambah sepuluh poin juga nggak berlebihan, 'kan?'Namun, setelah dipikir lagi, Edward cepat-cepat menggeleng. 'Ka

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 362

    Ketika menerima telepon dari Mukhtar, Jimmy bahkan belum menempuh 5 kilometer. Sekali menebak, Jimmy sudah tahu orang tua itu pasti ingin dia mengajar langsung lagi di tempat.Karena memang belum pergi jauh, Jimmy pun menyetujuinya. Tak lama, Jimmy kembali ke Toko Obat Aramu.Mukhtar langsung berlari ke pintu untuk menyambutnya."Jimmy?" Melihat Jimmy turun dari mobil, tiga orang dari Keluarga Sutomo langsung tertegun, menatapnya dengan ekspresi kaget.Kakak beradik itu sampai membelalak. Ini ... ini dokter hebat yang dimaksud Mukhtar? Jimmy itu dokter sakti? Jelas-jelas lebih cocok disebut orang gila!Pada saat yang sama, Jimmy juga melihat Yasmin dan lainnya di dalam. Seketika, wajah Jimmy menjadi suram. Mukhtar memanggilnya kembali untuk mengobati Yasmin? Bercanda ya?Mukhtar sama sekali tidak menyadari kejanggalan di antara mereka, masih tersenyum sambil menunjuk Yasmin kepada Jimmy. "Pak Jimmy, ini pasiennya. Luka dalamnya cukup serius ....""Haha ...." Saat Mukhtar sedang menjela

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 361

    "Bagian mana yang luka? Coba aku lihat." Jimmy segera maju memeriksa."Luka dalam!" Yunan memutar bola mata padanya, lalu mengangkat alis. "Mau aku lepas baju biar kamu lihat?"Sudut mulut Jimmy sedikit berkedut, lalu dia bertanya lagi, "Yasmin yang melukaimu?""Pertanyaan bodoh!" Yunan berdecak, menatap Jimmy seperti melihat orang bodoh. Kalau bukan Yasmin yang melukainya, masa iya dia melukai diri sendiri?"Bicara yang benar!" Jimmy mengangkat tangan dan mengetuk ringan kening Yunan. "Maksudku, kamu selemah itu? Sampai-sampai Yasmin saja bisa melukaimu?""Dia malah lebih parah dariku!" balas Yunan dengan tidak terima, lalu melotot dengan kesal ke arah Jimmy. "Semua ini gara-gara kamu!"Jimmy sempat terdiam, antara kesal dan ingin tertawa. "Kamu yang melukainya, tapi malah nyalahin aku? Masih punya rasa malu nggak sih?"Memangnya ada hubungan dengannya? Sudah tidak ada orang lain yang bisa disalahkan ya?"Memang gara-gara kamu!" Yunan mendengus, lalu berkata, "Hari ini dia seperti mak

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 360

    Ya, Jimmy memang berniat menjadikan Sabrina sebagai umpan.Dengan mengatasnamakan Sabrina, dia akan mengumumkan hadiah besar untuk mencari pemilik setengah liontin giok yang lain, dengan tujuan memancing orang-orang dari masa lalu itu keluar. Ini bisa dianggap sebagai strategi ganda.Mengetahui tujuan Jimmy, Sabrina langsung menyetujuinya tanpa ragu."Kalau begitu, terima kasih." Jimmy menatap Sabrina dengan rasa terima kasih. "Tenang saja, aku akan menjamin keselamatanmu.""Aku percaya padamu." Sabrina mengangguk kuat, "Lagi pula, ini memang sudah seharusnya kulakukan."Nara memiliki budi besar padanya. Kalau dia belum melihat sendiri kekuatan Jimmy, mungkin dia masih akan khawatir Jimmy gagal membalas dendam dan malah terbunuh. Namun sekarang, dia sama sekali tidak khawatir.Meskipun Jimmy tidak mengatakannya secara langsung, dari telepon tadi saja sudah terlihat bahwa di belakang Jimmy ada kekuatan besar yang patuh padanya. Dalam situasi seperti ini, memang tidak ada yang perlu dia

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 359

    Saat Sabrina sadar kembali, Nara sudah tidak diketahui keberadaannya. Pintu masuk gua tempat dia berada juga telah ditutup rapat oleh Nara dengan ranting-ranting.Kisah antara Sabrina dan Nara pun benar-benar berakhir di sana."Siapa nama anak itu?" tanya Argani segera."Dia nggak bilang." Sabrina menggeleng dan menghela napas. "Waktu itu aku juga nggak ngerti kenapa dia nggak langsung memberitahuku nama anak itu. Baru bertahun-tahun kemudian aku paham, mungkin dia takut aku jatuh ke tangan orang-orang itu, jadi nggak berani beri tahu aku!""Atau mungkin ... dia sendiri juga nggak tahu nama anak itu. Jadi meskipun waktu itu diberi tahu, juga nggak ada gunanya."Argani berpikir sejenak, lalu merasa itu masuk akal. Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali berkata dengan serius, "Kita harus cari cara untuk menemukan anak itu.""Nggak perlu dicari lagi." Jimmy tiba-tiba berdiri. Wajahnya muram. "Kak Sabrina, ikut aku pulang sebentar.""Hah?" Mendengar kata-kata Jimmy, ketiganya langsung

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 49

    Jimmy menolak tanpa ragu sedikit pun, "Aku nggak tertarik! Terserah kalau kamu mau menunggu, tapi berdiri di samping. Jangan halangi pintu dan jangan pengaruhi citra perusahaan kami!"Dua puluh juta? Jimmy bahkan menolak uang 2 miliar yang diberikan Laura, mana mungkin dia tertarik pada uang 20 juta

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 55

    Di hadapan orang yang latar belakangnya lebih lemah dari mereka, satu per satu sok paling hebat. Rafael begitu, Wirya juga sama saja."Dia memang jelas nggak sebanding denganmu." Sabrina tertawa manja sambil melangkah mendekat. "Dia adalah orang kepercayaan Fido. Kebetulan Pak Argani juga punya sedi

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 37

    Kebetulan Abizar membuka pintu ruangan dan berjalan masuk. Argani langsung berdiri untuk memperkenalkan Jimmy kepada Abizar.Abizar maju, lalu memberi hormat kepada Jimmy dan menyapa, "Halo, Pak Jimmy.""Pak Abizar terlalu sungkan," balas Jimmy dengan perasaan tidak berdaya. Padahal Jimmy sudah meng

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 58

    Dengan dipandu oleh Zisel, keduanya tiba di sebuah restoran kelas atas. Begitu Jimmy turun dari mobil, dia langsung melihat seseorang yang tidak asing.Sahabat Laura, Melisa!Jimmy melihat Melisa, dan tentu saja Melisa juga melihatnya.Melisa sedang bercakap-cakap sambil tertawa dengan Hansen, pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status