로그인Seiring kedatangan Yasmin, suasana di tempat itu langsung berubah drastis. Para karyawan resor juga mengenalnya.Walaupun mereka bisa bercanda santai dengan Jimmy sebagai bos besar, di depan Yasmin, mereka tetap tidak berani terlalu bebas."Kalian juga datang buat kamping?" Jimmy menatap Edgar dan yang lain dengan sedikit pusing."Bukan, kami cuma jalan-jalan, cari udara segar." Edgar menggeleng, lalu menepuk bahu Jimmy sambil tertawa. "Lihat, kita ini memang berjodoh, jalan santai saja bisa ketemu! Kamu ini memang sudah ditakdirkan jadi menantu Keluarga Sutomo!"Mendengar perkataan Edgar, para karyawan langsung terkejut. Mereka menatap Jimmy dan Yasmin dengan wajah tak percaya.Gila! Bos mereka ternyata menantu Keluarga Sutomo? Suami Yasmin? Eh, tunggu .... Kalau Jimmy suaminya Yasmin, lalu kakaknya Zisel itu apa? Hubungan ini agak rumit ya!Setelah mengetahui kalau mereka bukan datang untuk kamping, Jimmy sedikit lega, tetapi tetap heran saat melihat Edward. "Kalau begitu, dia bawa b
Jimmy jelas-jelas punya latar belakang yang sangat kuat, bahkan orang seperti Argani saja harus memperlakukannya sebagai tamu terhormat. Namun, dia sama sekali tidak bersikap tinggi hati, bisa berbaur dengan berbagai macam orang.Namun, kalau dibilang dia ramah, saat membunuh, dia melakukannya seperti hal biasa. Kadang seperti malaikat, kadang seperti iblis. Entah yang mana sebenarnya dirinya.Takdir yang aneh membuat Zisel bertemu dengannya, bahkan sempat masuk ke hidupnya. Namun, pada akhirnya dia kalah oleh dirinya sendiri, tidak mampu benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.Bertemu pria ini adalah keberuntungan sekaligus ketidakberuntungannya. Di masa depan, bahkan jika dia benar-benar melupakan Jimmy, saat bertemu pria lain, dia pasti tanpa sadar akan membandingkannya dengan Jimmy.Sepanjang hidup ini, apa pun hubungan mereka nanti, ke mana pun jalan hidupnya, pasti akan selalu ada satu sudut di hatinya yang menyimpan sosok Jimmy.Saat Zisel tenggelam dalam pikirannya, Jimmy jug
Mendengar ucapan Jimmy, para karyawan langsung kembali bersorak.Ada yang menyuruh mereka membuat tungku, ada yang menyuruh mereka membantu memindahkan barang, kebanyakan menyuruh mereka membantu memasang tenda.Kalau mereka mau membantu, ya biarkan saja membantu! Ada tenaga gratis, kenapa tidak dimanfaatkan?Mendengar suara bising itu, wajah beberapa preman itu langsung berubah pucat. Sialan, masa benar-benar disuruh kerja kasar? Mereka ini preman! Bukan kuli!"Diam!" Pemimpin mereka berteriak marah, lalu menatap Jimmy dengan galak. "Kamu bos mereka? Aku suruh kamu berlutut minta maaf, kamu tuli ya?"Melihat sikapnya yang memang minta dihajar, Jimmy hanya bisa merasa tak berdaya. Kenapa selalu ada orang yang mencari masalah?Bahkan kalau dia bukan siapa-siapa pun, jumlah mereka jauh lebih banyak dari beberapa preman ini! Masa mereka benar-benar berpikir, hanya dengan beberapa orang dan sedikit aura preman, mereka bisa menakuti puluhan orang di sini? Punya otak tidak sih?Melihat Jimmy
Kondisi Laura sekarang memang sangat dilematik.Setelah mendengar kabar terbaru tentang Laura, Jimmy hanya bisa menggeleng dan tersenyum pahit.Yang paling ditakuti manusia adalah tidak memahami dirinya sendiri. Sekarang, Laura pun berada dalam kondisi seperti itu.Dia masih melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, tidak benar-benar mencoba memahami dari sudut pandang kakeknya maupun ayahnya.Dia hanya berpikir bahwa orang tuanya sudah menikah bertahun-tahun, jadi tidak boleh bercerai. Namun, dia tidak memikirkan bahwa kalau dipaksakan tetap bersama, justru ayahnya akan semakin menderita.Jimmy juga tidak ingin lagi ikut campur urusan keluarga Laura, jadi dia mengalihkan topik. "Ngomong-ngomong, bukannya kamu bilang ada yang mau dibicarakan denganku?""Ya, soal resor." Zisel tersenyum tipis. "Aku ingin orang tuaku yang mengelola Resor Scene. Aku mau coba bisnis lain. Aku mau tanya kamu, sebagai bos besar, kamu keberatan nggak?""Aku sih nggak keberatan." Jimmy tersenyum sa
Sore keesokan harinya, Jimmy pergi ke Ngarai Kudaliar untuk berkumpul dengan semua orang.Awalnya dia mengajak Yunan ikut, tetapi begitu Yunan mendengar bahwa ada cukup banyak orang yang pergi, dia langsung menolak.Dengan sifat Yunan yang seperti itu, Jimmy juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa membiarkannya.Ngarai Kudaliar terletak di arah tenggara Bataram. Bahkan di puncak musim panas, suhu tertinggi di sini hanya sekitar 20 derajat lebih. Itu sebabnya, tempat ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk bersantai dan menghindari panas.Di akhir musim panas seperti sekarang, ada cukup banyak orang yang datang ke sini untuk berlibur.Untungnya, Zisel dan yang lainnya berada di bagian belakang ngarai. Tempat itu tidak bisa langsung dijangkau mobil, jadi pengunjungnya lebih sedikit.Saat Jimmy tiba, semua orang sudah membentangkan tikar dan semacamnya, masing-masing juga membawa banyak makanan. Bahkan ada yang sudah menyiapkan kartu remi.Melihat Jimmy datang, semua orang langsung
"Kalau kamu saja nggak terburu-buru, untuk apa aku buru-buru?" Jimmy tertawa. "Kalau mau minum arak pernikahan, harusnya minum punyamu dulu!""Aku rasa kamu nggak akan punya kesempatan minum arak pernikahanku." Sabrina menggeleng sambil tersenyum. Ada sedikit kegetiran di wajahnya.Melihat itu, Jimmy langsung menggoda, "Perbedaan umurmu dengan Argani juga nggak jauh, 'kan? Kalau kamu suka dia, bilang saja dengan berani!"Sabrina terkejut dalam hati, menatap Jimmy dengan heran."Lihat apa?" Jimmy tersenyum santai. "Kamu kira nggak ada yang bisa melihat perasaanmu ke Argani?"Orang yang ada di hati Sabrina adalah Argani. Sebelum ingatannya pulih, dia memang tidak menyadari hal itu. Namun, setelah ingatannya kembali, hanya dengan beberapa kali berinteraksi, sudah cukup untuk melihatnya.Jimmy yakin, bukan hanya dia yang menyadarinya, banyak orang di sekitar Argani juga pasti sudah tahu, bahkan termasuk Argani sendiri.Masa lalu Sabrina penuh penderitaan. Baru setelah bertemu Argani, dia b
"Pak Yahya nggak mau." Andra menggeleng sambil tersenyum getir. "Dia orangnya sangat bijaksana dan nggak ingin merepotkan kita. Dia lebih memilih tetap tinggal di rumah sakit sini ...."Jimmy akhirnya mengerti dan diam-diam semakin mengagumi Yahya.Keduanya mengobrol sejenak, lalu kembali ke kamar p
"Jangan, jangan ...."Wajah Zisel langsung pucat pasi. Tangan yang mencengkeram baju Jimmy pun bergetar tanpa henti. Jimmy menatap Zisel dengan ekspresi tak berdaya.Bukannya dia pongah sekali waktu di perusahaan Keluarga Sucipto dulu? Kenapa sekarang malah ketakutan setengah mati?Wajah Wirya tampa
Setelah memikirkan hal itu, Jimmy pun segera melanjutkan langkahnya dan pergi. Baru berjalan tidak jauh, tiba-tiba muncul perasaan aneh di hatinya. Perasaan itu seolah sedang diawasi seseorang.Jimmy sedikit menyipitkan mata, lalu tiba-tiba menoleh ke belakang. Namun, tidak ada satu pun bayangan di
Melihat sosok Jimmy yang menghilang dari pandangannya, Sabrina merasa penasaran. Jelas-jelas Jimmy adalah orang hebat, kenapa dia berpura-pura lemah? Apa tujuan Jimmy berbuat seperti itu?Orang suruhan Sabrina sangat profesional. Mereka membawa mayat-mayat itu pergi dengan cepat, bahkan noda darah d







