LOGINMelon memandangi foto itu cukup lama. Jantungnya memang sempat berdegup lebih cepat. Namun perlahan ia menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya pelan. Kiwi yang berdiri di sampingnya masih mengepalkan tangan. "Aku akan laporkan ini ke polisi." "Tunggu." Melon menyentuh lengan pria itu. "Kita pikirkan dengan tenang." "Melon, ini bukan masalah kecil." "Aku tahu." "Mereka memotret Jeruk." "Aku juga tahu." Suara Melon tetap lembut. Tidak tinggi. Tidak panik. Justru ketenangannya membuat Kiwi perlahan ikut menenangkan diri. --- Melon kembali melihat foto itu. Ia memperbesar gambar. Memperhatikan setiap sudut. Lalu menggeleng pelan. "Aku tidak mau orang ini berhasil." Kiwi mengernyit. "Maksudmu?" "Dia mengirim pesan seperti ini karena ingin kita takut." "Kalau kita panik..." "Berarti dia menang." Kiwi terdiam. Ucapan Melon masuk akal. Sangat masuk akal. --- Melon menghapus air mata yang tadi sempat jatuh. Kemudian menatap Kiwi dengan senyum kecil. "Ingat w
Melon menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Foto itu masih terpampang jelas.Kiwi.Lemonta.Dan kalimat yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.> Kita perlu bicara sebelum kamu menikah."Melon?"Suara Bu Nayla kembali terdengar.Wanita itu langsung berpindah kursi dan duduk di samping Melon."Ada apa?"Melon menyerahkan ponselnya.Bu Nayla membaca pesan itu.Wajahnya langsung berubah serius."Nomor siapa ini?""Tidak tahu.""Dia menghubungimu lagi?"Melon menggeleng."Baru kali ini."Bu Nayla langsung mengambil ponselnya sendiri."Aku telepon Kiwi."---Saat itu juga Kiwi masih berdiri di depan rumah baru.Suasana antara dirinya dan Lemonta semakin tegang."Kamu tidak punya hak mengganggu hidup Melon lagi."Lemonta tertawa pendek."Aku ayah Jeruk.""Kamu baru ingat sekarang?"Senyum Lemonta memudar."Aku mengakui kesalahanku.""Dan aku ingin memperbaikinya."Kiwi menggeleng."Tidak.""Kamu ingin kembali karena melihat mereka bahagia.""Itu berbeda."Mata Lemonta mulai mengera
Hari-hari setelah kunjungan Bu Nayla berlalu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Tidak ada lagi pertengkaran besar.Tidak ada lagi drama yang menguras air mata.Namun justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa menegangkan.Karena semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak perasaan yang bermunculan.Bahagia.Takut.Gugup.Harap.Dan sesekali, cemas.---Sebulan setelah pertemuan itu, hubungan Melon dan Kiwi perlahan membaik.Bukan dengan cara yang terburu-buru.Mereka memilih berjalan pelan.Sangat pelan.Kiwi tak lagi memaksa.Ia datang hanya ketika diizinkan.Ia menelepon hanya ketika diperlukan.Ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksa tumbuh melalui kata-kata.Melainkan melalui konsistensi.Dan Melon melihat semuanya.Melihat bagaimana Kiwi benar-benar berubah.Melihat bagaimana pria itu tidak lagi sekadar berjanji.Melainkan bertindak.---Pagi hari.Kiwi mengantar Jeruk ke sekolah.Siang hari.Ia mengecek pembangunan rumah.Malam hari.Ia membantu Melon memil
Melon masih duduk terpaku di kursinya.Matanya sedikit merah.Bukan karena sedih.Melainkan karena selama bertahun-tahun, ia terbiasa menghadapi tatapan meremehkan setiap kali status jandanya diketahui orang lain.Namun hari ini berbeda.Untuk pertama kalinya, seseorang yang seharusnya memiliki alasan paling besar untuk menolaknya justru menerimanya dengan tangan terbuka.Jeruk yang masih berada di pangkuan Bu Nayla tampak nyaman."Nenek cantik," puji Jeruk polos.Bu Nayla langsung tertawa bahagia."Aduh, cucu bonus Nenek ini pintar sekali."Jeruk mengangguk bangga."Tentu saja. Aku anak Ibu Melon."Mereka bertiga tertawa bersama.Suasana yang tadinya canggung berubah hangat.Sangat hangat.---Tak lama kemudian Bu Nayla menoleh ke arah Melon."Ada satu hal yang belum sempat Ibu ceritakan."Melon mengusap sudut matanya."Apa itu, Bu?"Bu Nayla tampak ragu sesaat.Lalu tersenyum kecil."Rumah yang sedang dibangun Kiwi."Melon mengernyit."Rumah?""Iya.""Rumah yang hampir selesai."Mel
Kiwi masih berdiri di pinggir jalan bahkan setelah sosok Melon dan Jeruk menghilang di tikungan. Mobil-mobil berlalu lalang di depannya, tetapi pikirannya kosong.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar kehilangan seseorang karena kesalahannya sendiri.Bukan karena orang ketiga.Bukan karena keadaan.Melainkan karena ia terlalu lama membiarkan semuanya menggantung.---Sementara itu, Melon dan Jeruk sudah tiba di rumah.Jeruk langsung duduk di ruang tamu, membuka kotak pensil warna barunya dengan penuh semangat."Ibu, lihat! Yang ini warna emas!""Bagus.""Yang ini warna perak!""Bagus juga."Jeruk mendadak berhenti.Ia menatap ibunya yang sedang menyusun belanjaan di meja."Ibu.""Hm?""Ibu sedih ya?"Melon tersenyum tipis."Enggak.""Bohong."Melon tertawa kecil."Kamu kok makin pintar sih?"Jeruk mengangkat bahu."Aku kan anak Ibu."Jawaban itu berhasil membuat Melon tertawa sungguhan.Jeruk lalu memeluk pinggang ibunya."Aku cuma nggak suka kalau Ibu sedih."Melon mem
Sore itu mereka kembali ke rumah keluarga Kiwi, tapi suasananya sudah beda. Bukan lagi “main ke rumah orang tua”. Tapi rasanya seperti… keluarga yang lagi nyiapin hajatan. Mama Kiwi langsung bergerak cepat. “Kita hitung tamu. Keluarga inti dulu. Nggak usah banyak-banyak.” Ayah Kiwi buka buku catatan lama. “Tenda kecil cukup. Halaman muat dua puluh kursi.” “Catering sederhana aja,” tambah Mama Kiwi. “Nasi kuning, lauk rumahan. Nggak usah gaya hotel.” Kiwi berbisik ke Melon, “Lihat kan? Mereka lebih heboh dari kita.” Melon tertawa pelan. “Aku suka yang begini. Nggak ribet.” Jeruk lari ke tengah ruang tamu. “Aku tugas apa?” Semua berhenti. Mama Kiwi menunjuk dia. “Kamu bawa cincin.” Jeruk langsung berdiri tegap. “Siap!” Ayah Kiwi menimpali, “Tapi jangan sampai jatuh.” Jeruk panik. “Eh… aku latihan dulu deh.” Semua tertawa. --- Menjelang magrib, Kiwi dan Melon akhirnya punya waktu berdua di teras belakang. Langit oranye. Udara adem. Suara piring dari dapur samar-samar.
Beberapa hari berlalu dengan tenang. Kiwi menepati janjinya—datang menemui Jeruk tanpa janji berlebihan, tanpa sikap seolah semuanya sudah kembali seperti dulu. Ia datang, mendengarkan cerita Jeruk, tertawa secukupnya, lalu pulang tanpa drama. Dan justru di situlah Melon mulai melihat sesuatu yang
Jeruk menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara kecil tapi jelas, seolah sudah memikirkan ini lama.“Om Kiwi…”“Iya?” jawab Kiwi, suaranya langsung melunak.“Kalau Om masih sayang sama aku…” Jeruk menelan ludah, “…boleh nggak Om nikah sama Mama Melon?”Hening.Melon langsung membeku. Waj
Malam makin larut, tapi suasana di teras rumah Melon terasa tenang. Angin lembut mengusap kulit, membawa aroma hujan yang tertinggal di dedaunan. Di tangannya, secangkir teh yang sudah mulai dingin, tapi rasanya tetap menenangkan. Lampu-lampu jalan menyorot lembut, membuat bayangan pohon bergerak p
Siang mulai merambat ketika Melon dan Jeruk tiba di rumah. Matahari menyinari halaman depan, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Melon membuka pintu rumah dengan perasaan yang entah kenapa lebih ringan dari biasanya.Jeruk bergegas ke ruang tamu, meletakkan pensil







