Home / Romansa / Kecantol Cinta Janda / Bab 14 Move On?

Share

Bab 14 Move On?

Author: Author Receh
last update publish date: 2025-06-19 18:45:19

Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya. Melon membuka jendela dapur, membiarkan semilir angin membawa aroma hujan semalam yang masih tertinggal di tanah. Sinar matahari yang lembut menyusup masuk, menyentuh wajahnya yang kini tampak lebih tenang.

Tak ada lagi suara notifikasi pesan yang terus-menerus dari ponselnya. Kiwi tak menghubunginya sejak pesan terakhir yang ia kirim kemarin.

Melon menyeduh teh untuk dirinya sendiri dan menyusun bekal untuk Jeruk. Sambil memotong roti dan meny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 32 Suami Istri

    Pintu ruang rias perlahan terbuka. Koordinator acara tersenyum hangat. "Bu Melon, waktunya." Melon mengangguk pelan. Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam, mencoba meredakan debar di dada yang semakin tak beraturan. Bu Nayla meraih kedua tangannya. "Jangan gugup." Melon tersenyum tipis. "Saya takut menangis nanti." "Kalau menangis karena bahagia, itu tidak apa-apa." Ucapan itu membuat Melon mengangguk pelan. Jeruk menghampiri sambil membawa buket bunga kecil di tangannya. "Ibu..." "Iya, Sayang?" "Nanti kalau Ibu nangis, aku pinjamin sapu tanganku." Melon terkekeh. "Memangnya kamu bawa?" Jeruk mengeluarkan sapu tangan kecil bergambar jeruk dari saku jasnya. "Aku sudah siap dari tadi." Semua orang kembali tertawa. Melon mencubit gemas pipi putranya. "Kamu memang penyelamat suasana." --- Di ballroom... Alunan piano yang lembut mulai memenuhi ruangan. Seluruh tamu perlahan berdiri ketika pintu utama terbuka. Semua mata serentak menoleh. Melon melangkah masuk de

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 31 Hari Pernikahan Kiwi dan Melon

    Matahari mulai condong ke barat.Sinar keemasannya menyelimuti rumah baru yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggal Melon, Kiwi, dan Jeruk.Jeruk masih betah bermain di rumah pohon. Sesekali terdengar suaranya memanggil burung-burung yang hinggap di dahan."Halo, burung! Nanti datang lagi, ya!"Kiwi dan Melon saling berpandangan lalu tertawa kecil."Dia memang mudah berteman," ujar Melon."Mirip ibunya."Melon menggeleng sambil tersenyum."Enggak juga.""Mirip. Bedanya, kamu butuh waktu lebih lama untuk membuka hati."Melon menyenggol pelan lengan Kiwi."Kamu masih sempat menggoda.""Kalau tidak menggoda, nanti calon istriku keburu galak lagi."Melon memutar bola matanya."Aku memang pernah galak.""Pernah?""Masih sedikit."Kiwi tertawa lepas."Nah, itu baru jujur."Suasana yang sempat tegang beberapa hari terakhir akhirnya kembali dipenuhi tawa.---Menjelang sore, mereka memutuskan pulang.Sebelum keluar dari rumah, Kiwi mematikan semua lampu yang tidak diperlukan lalu memasti

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 30 Persiapan menuju pernikahan

    Melon memandangi foto itu cukup lama. Jantungnya memang sempat berdegup lebih cepat. Namun perlahan ia menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya pelan. Kiwi yang berdiri di sampingnya masih mengepalkan tangan. "Aku akan laporkan ini ke polisi." "Tunggu." Melon menyentuh lengan pria itu. "Kita pikirkan dengan tenang." "Melon, ini bukan masalah kecil." "Aku tahu." "Mereka memotret Jeruk." "Aku juga tahu." Suara Melon tetap lembut. Tidak tinggi. Tidak panik. Justru ketenangannya membuat Kiwi perlahan ikut menenangkan diri. --- Melon kembali melihat foto itu. Ia memperbesar gambar. Memperhatikan setiap sudut. Lalu menggeleng pelan. "Aku tidak mau orang ini berhasil." Kiwi mengernyit. "Maksudmu?" "Dia mengirim pesan seperti ini karena ingin kita takut." "Kalau kita panik..." "Berarti dia menang." Kiwi terdiam. Ucapan Melon masuk akal. Sangat masuk akal. --- Melon menghapus air mata yang tadi sempat jatuh. Kemudian menatap Kiwi dengan senyum kecil. "Ingat w

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 29 Ancaman Nyata

    Melon menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Foto itu masih terpampang jelas.Kiwi.Lemonta.Dan kalimat yang membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.> Kita perlu bicara sebelum kamu menikah."Melon?"Suara Bu Nayla kembali terdengar.Wanita itu langsung berpindah kursi dan duduk di samping Melon."Ada apa?"Melon menyerahkan ponselnya.Bu Nayla membaca pesan itu.Wajahnya langsung berubah serius."Nomor siapa ini?""Tidak tahu.""Dia menghubungimu lagi?"Melon menggeleng."Baru kali ini."Bu Nayla langsung mengambil ponselnya sendiri."Aku telepon Kiwi."---Saat itu juga Kiwi masih berdiri di depan rumah baru.Suasana antara dirinya dan Lemonta semakin tegang."Kamu tidak punya hak mengganggu hidup Melon lagi."Lemonta tertawa pendek."Aku ayah Jeruk.""Kamu baru ingat sekarang?"Senyum Lemonta memudar."Aku mengakui kesalahanku.""Dan aku ingin memperbaikinya."Kiwi menggeleng."Tidak.""Kamu ingin kembali karena melihat mereka bahagia.""Itu berbeda."Mata Lemonta mulai mengera

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 28 Badai sebelum pernikahan

    Hari-hari setelah kunjungan Bu Nayla berlalu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Tidak ada lagi pertengkaran besar.Tidak ada lagi drama yang menguras air mata.Namun justru ketenangan itulah yang membuat semuanya terasa menegangkan.Karena semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak perasaan yang bermunculan.Bahagia.Takut.Gugup.Harap.Dan sesekali, cemas.---Sebulan setelah pertemuan itu, hubungan Melon dan Kiwi perlahan membaik.Bukan dengan cara yang terburu-buru.Mereka memilih berjalan pelan.Sangat pelan.Kiwi tak lagi memaksa.Ia datang hanya ketika diizinkan.Ia menelepon hanya ketika diperlukan.Ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksa tumbuh melalui kata-kata.Melainkan melalui konsistensi.Dan Melon melihat semuanya.Melihat bagaimana Kiwi benar-benar berubah.Melihat bagaimana pria itu tidak lagi sekadar berjanji.Melainkan bertindak.---Pagi hari.Kiwi mengantar Jeruk ke sekolah.Siang hari.Ia mengecek pembangunan rumah.Malam hari.Ia membantu Melon memil

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 27 Hampir selesai

    Melon masih duduk terpaku di kursinya.Matanya sedikit merah.Bukan karena sedih.Melainkan karena selama bertahun-tahun, ia terbiasa menghadapi tatapan meremehkan setiap kali status jandanya diketahui orang lain.Namun hari ini berbeda.Untuk pertama kalinya, seseorang yang seharusnya memiliki alasan paling besar untuk menolaknya justru menerimanya dengan tangan terbuka.Jeruk yang masih berada di pangkuan Bu Nayla tampak nyaman."Nenek cantik," puji Jeruk polos.Bu Nayla langsung tertawa bahagia."Aduh, cucu bonus Nenek ini pintar sekali."Jeruk mengangguk bangga."Tentu saja. Aku anak Ibu Melon."Mereka bertiga tertawa bersama.Suasana yang tadinya canggung berubah hangat.Sangat hangat.---Tak lama kemudian Bu Nayla menoleh ke arah Melon."Ada satu hal yang belum sempat Ibu ceritakan."Melon mengusap sudut matanya."Apa itu, Bu?"Bu Nayla tampak ragu sesaat.Lalu tersenyum kecil."Rumah yang sedang dibangun Kiwi."Melon mengernyit."Rumah?""Iya.""Rumah yang hampir selesai."Mel

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 4 Ibu Nangka

    Matahari siang menyinari taman kota dengan hangat, tidak terlalu terik, hanya cukup membuat daun-daun pohon berkilau. Anak-anak berlarian di antara ayunan dan perosotan, sesekali terdengar suara tertawa dan teriakan gembira. Kiwi berjalan santai di samping Melon, membawa dua gelas es kelapa muda

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 3 Pelanggan Centong

    Kiwi menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia menggeser gelas tehnya yang sudah kosong, lalu menghela napas panjang. “Sepertinya saya harus pamit. Kalau kelamaan di sini, bisa-bisa saya dikira pengontrak baru,” ucapnya sambil berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit ku

  • Kecantol Cinta Janda   bab 2 Kejahilan Kiwi dan Jeruk

    Sore menjelang. Burung-burung mulai hinggap di kabel listrik, dan langit berubah warna oranye lembut. Kiwi muncul di depan pagar rumah Melon sambil membawa keranjang rotan kecil berisi buah-buahan segar. Penampilannya rapi, memakai kaus polo warna pastel dan celana pendek santai. Di tangan kirinya,

  • Kecantol Cinta Janda   Bab 1 Pertemuan Kiwi, Melon dan Jeruk

    Pagi hari di kompleks Tropica Garden biasanya tenang. Tapi hari ini, suasana mendadak kacau gara-gara suara jeritan dari rumah nomor tujuh belas. “Hei! Siapa yang nyuruh buka pagar rumah ini?! Anjing siapa yang barusan kejar-kejar anak saya?!” Kiwi Arsenio, pemilik baru rumah itu, terlonjak dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status