Share

Bab 3

Author: Sleepyhead
Setelah waktu yang lama, Rafi berdiri dan berjalan ke balkon. Dia menyalakan sebatang rokok.

Tanpa sadar aku mengulurkan tangan, ingin mengambil rokok itu darinya. "Jangan merokok, nggak baik untuk kesehatan."

Jari-jariku menembus tubuhnya begitu saja.

Aku tertegun. Lalu, tersenyum getir saat menyadari bahwa aku sudah meninggal.

Kebiasaan bertahun-tahun masih melekat, bahkan dalam kondisi seperti ini, aku tetap refleks mengkhawatirkan Rafi.

Wajah Rafi tidak menunjukkan ekspresi. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon asistennya. Nada bicaranya menyiratkan kegelisahan yang bahkan tidak disadarinya, "Kalau beberapa hari ini Tika datang bikin masalah, kamu tahan dia dulu. Jangan biarkan dia datang ke rumah sakit dan mengganggu Nayla yang sedang pemulihan."

Asisten itu terdiam sejenak. "Beberapa hari ini Bu Tika nggak cari Bapak, karena dia ...."

Belum selesai dia bicara, Rafi sudah menutup telepon. Dia melirik sekali lagi layar percakapan denganku, lalu jarinya menekan kuat tombol blokir dengan kesal. Kemudian, dia mematikan ponselnya.

Kalau dulu, aku pasti akan panik dan berusaha mencari segala cara untuk menghubunginya. Aku pasti akan meminta maaf, memohon agar dia mengeluarkanku dari daftar blokir, agar tidak kehilangan kontak dengannya.

Namun sekarang ....

Aku berdiri di depannya sambil berkata dengan pelan, "Rafi, aku nggak bakal cari kamu lagi, karena aku nggak mencintaimu, aku membencimu .... Aku membencimu karena kamu membuatku kehilangan nyawaku."

"Aku mengutukmu ...."

Tiba-tiba, kilat menyambar di langit. Suara guntur menggelegar membangunkan Nayla yang sedang tidur, dia menjerit, "Rafi ...."

Rafi buru-buru menjatuhkan puntung rokok. Dia kembali ke dalam kamar dan memeluk Nayla yang gemetar. "Jangan takut, aku di sini."

Aku juga gemetar.

Aku juga takut petir.

Namun, Rafi tidak pernah menemaniku. Setiap kali ada petir, dia selalu meninggalkanku dan pergi mencari Nayla. Aku pernah mempermasalahkannya, tapi dia selalu menjawab dengan tidak sabar, "Kamu ini kenapa bersaing sama orang sakit?"

Setelah menenangkan cukup lama, akhirnya Nayla kembali tenang. Dia bersandar di pelukan Rafi sembari menangis tersedu-sedu.

"Rafi, aku terus teringat kejadian beberapa hari lalu waktu aku kehilangan kendali. Aku benar-benar hanya ingin menjelaskan sama Kak Tika, mungkin aku harus pergi minta maaf sama dia. Beberapa hari ini Kak Tika nggak muncul, pasti dia marah."

Rafi tampak sedikit tidak fokus. "Nggak apa-apa, aku sudah lihat, dia cuma luka di dahi. Kamu sakit, Tika nggak akan marah."

Nayla berkata dengan gelisah, "Gimana kalau dia melapor ke polisi .... Aku nggak mau masuk penjara, aku lebih baik mati."

Melihat emosi Nayla mulai tidak stabil, Rafi memeluknya erat dan terus menenangkannya, "Jangan takut, aku di sini."

"Tika selama ini selalu toleran sama wanita, dia nggak akan marah. Lagi pula aku sudah buat dia menandatangani surat damai, dia nggak akan menyusahkanmu."

Mendengar perkataan Rafi, Nayla tersenyum dan menepuk dadanya pelan, lalu bersandar manja dalam pelukan Rafi. Rafi menunduk. Detik berikutnya, dia mendorong Nayla menjauh.

"Nayla, nanti setelah aku dan Tika menikah, kamu nggak bisa lagi ... bersikap manja seperti ini padaku. Nggak bagus kalau dilihat orang, Tika bakal marah."

Nayla tertegun, wajahnya sempat tampak sedikit terdistorsi dan sorot matanya tampak kesal. Rafi tidak menyadarinya, hanya aku yang melihatnya dengan jelas.

Beberapa saat kemudian, suara Nayla yang penuh keluhan terdengar, "Ini salahku, aku hanya sudah terbiasa ... maaf."

Rafi menghela napas, "Bukan salahmu, nggak apa-apa. Nanti aku akan bicara baik-baik sama Tika."

Mendengar ucapannya, perasaanku campur aduk. Rafi memang selalu seperti ini, selalu menempatkan Nayla di posisi pertama. Aku mengikuti Rafi keluar dari ruang rawat.

Dua perawat sedang mengobrol, "Tuan muda ini benar-benar baik sama pacarnya. Padahal nggak ada luka sama sekali, cuma agak terkejut saja. Tapi, dia langsung manggil semua dokter di rumah sakit untuk memeriksanya."

"Aku dengar dia juga menyiapkan lautan bunga yang sangat besar, mungkin nggak lama lagi kita akan melihat mereka menikah. Entah sebesar apa pesta pernikahannya nanti."

"Ngomong-ngomong ... lautan bunga itu juga sempat menghalangi ambulans yang membawa pasien kecelakaan. Pasien itu baru saja diantar dengan helikopter ke rumah sakit, tapi langsung meninggal .... Kalau saja sepuluh menit lebih cepat, dia masih bisa selamat ...."

Melihat wajah Rafi yang tampak dingin, kedua perawat itu saling berpandangan dengan cemas, lalu dengan terpaksa menyapa, "Pak Rafi ...."

Ekspresi Rafi sulit dibaca. Saat kedua perawat itu mengira akan dimarahi, dia hanya berkata datar, "Dia bukan tunanganku."

Rafi berhenti sejenak, seolah teringat sesuatu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Tunanganku adalah Tika, seorang pengacara yang sangat hebat."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 10

    Tak lama kemudian, putusan untuk Nayla dijatuhkan. Dia dihukum penjara seumur hidup.Rafi tetap ikut campur. Dia memastikan Nayla hanya akan berada di dalam penjara sepanjang hidupnya untuk menjalani penderitaan.Namun, dia tetap merasa belum puas. Baginya, akhir seperti itu masih terlalu ringan untuk Nayla. Dia menemui Shefi dan menyuruh Shefi untuk bekerja di Grup Agastya.Shefi menatapnya lama, lalu mengangguk setuju.Lima tahun kemudian, asisten Rafi mengundurkan diri. Dia membuka sebuah toko kecil dan Shefi bahkan datang untuk menghadiri acara pembukaannya.Rohku mengikuti Rafi selama sepuluh tahun. Shefi juga bekerja di Grup Agastya selama sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu, Rafi terus bekerja keras. Dia dan Mila bahkan mendirikan yayasan amal atas namaku.Dalam sepuluh tahun ini, dia tidak pernah mencari wanita lain. Dia hanya tinggal di rumah kosong itu, sama sepertiku ... seperti hantu yang menetap.Perasaanku berubah dari benci, menjadi menerima kenyataan, lalu menjadi h

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 9

    Saat terbangun, Nayla baru menyadari bahwa dirinya diikat. Dia menatap Rafi dengan panik.Rafi berdiri di depannya, lalu berkata dengan tenang, "Waktu aku sadar saat itu, aku lihat kamu yang merawatku. Jadi, aku kira kamulah yang menyelamatkanku.""Tapi aku nggak nyangka, kamu cuma ingin mencuri kalungku. Begitu melihat aku bangun, kamu pura-pura merawatku.""Memang aku yang bodoh ...."Beberapa gelandangan yang meneteskan air liur, berjalan masuk. Tatapan mereka penuh nafsu, seolah ingin merobek seluruh pakaian Nayla.Nayla gemetar ketakutan, dia pun berteriak, "Rafi! Kamu nggak boleh begini sama aku! Apa kamu lupa, kamu pernah bilang bakal mencintaiku seumur hidup? Kamu bilang mau ngasih aku pernikahan yang megah!"Nayla berusaha meronta, pergelangan tangannya yang terikat di kursi sampai meninggalkan bekas merah yang mencolok.Tatapan Rafi kosong, seolah tidak mendengar kata-katanya. Dia hanya menatap Nayla dengan dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis, "Mencintaimu

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 8

    Hidup seolah kembali seperti dulu. Hanya saja, kini ada rohku yang mengikuti Rafi.Setelah Mila pergi ke luar negeri, Nayla dan Rafi tinggal bersama. Entah apa yang dipikirkan Rafi, rumah yang seharusnya menjadi rumah pernikahan itu tidak dia urus.Aku pernah mencoba pergi. Namun aku menyadari, aku hanya bisa berada di dekat Rafi. Untungnya, Rafi tidak pernah melakukan hal yang terlalu intim dengan Nayla.Selain itu, Rafi juga mulai berubah. Dia mulai sering lembur, juga mulai menghindari kontak fisik dengan Nayla. Setiap kali Nayla berdandan seksi dan muncul di hadapannya, dia selalu beralasan harus pergi lembur.Sampai membuat Nayla kesal setengah mati.Yang patut disyukuri, dia melepaskan Shefi.Kekuatan Keluarga Agastya sangat besar. Kalau dia benar-benar ingin menekan Shefi, hidup Shefi di ibu kota pasti akan sangat sulit. Bahkan, dia mungkin tidak bisa pergi dari sana.Aku terus mengikuti Rafi.Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia bersandar lelah di sofa sambil menatap kosong

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 7

    "Apa sebenarnya yang terjadi?"Rafi memberi isyarat pada para pengawal untuk menurunkan Shefi, alisnya berkerut erat, "Apa nggak merasa sial ya? Sampai berpura-pura sejauh ini. Harus kuakui, akting kalian memang hebat."Shefi meringkuk di lantai yang dingin.Mendengar pertanyaan Rafi, dia tertawa getir, "Pak Rafi, dia benar-benar sudah meninggal.""Di laci masih ada tanda tangan surat kremasi. Pihak rumah duka sudah meneleponmu, tapi kamu nggak mengangkatnya, tahunya cuma sibuk sama Nayla. Akhirnya ibumu yang datang untuk menandatangani. Kalau nggak percaya, telepon dia saja."Wajah Rafi langsung berubah muram.Nayla menutup hidungnya dengan manja. "Aduh, Ibu juga ya, ikut akting sama Kak Tika ... cuma demi memaksa Rafi menikah sama dia ....""Diam!"Rafi tiba-tiba membentak untuk memotong ucapan Nayla.Untuk pertama kalinya, dia tidak memedulikan mata Nayla yang memerah, dan juga untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, dia berinisiatif menelepon ibunya.Setelah telepon tersambung.

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 6

    Aku hamil.Aku menyentuh perutku yang masih rata. Ada sebuah kehidupan yang sedang berkembang di sana. Itu adalah kejutan yang ingin kuberikan untuk Rafi.Air mataku menetes ke lantai.Sementara itu, Rafi mengambil kertas hasil pemeriksaan kehamilan itu dengan tangan gemetar. Bibirnya terkatup rapat, kilatan air mata tampak di pelupuk matanya.Setelah waktu yang lama, akhirnya aku mendengar suaranya yang penuh amarah, "Kamu asistennya Tika, tentu saja kamu bela dia.""Pura-pura mati, ya.""Buat drama sebesar ini cuma buat maksa aku menikahinya, 'kan?""Shefi, kamu dan Tika bersekongkol. Kalian nggak pantas kuliah di Universitas Kaira. Aku masih mau kasih kamu kesempatan. Suruh Tika keluar dan minta maaf sama Nayla. Kalau nggak, bersiaplah untuk dikeluarkan.""Kudengar, keluargamu sedang mencarimu. Aku nggak keberatan bantu kalian berkumpul kembali."Aku mendengarnya dengan pikiran yang kosong. Seakan-akan tidak percaya, kata-kata seperti itu keluar dari mulut Rafi. Menurut pemahamanku

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 5

    Saat Rafi tiba, tubuh Nayla yang kurus tampak goyah di tepi atap.Mata Rafi membelalak dengan panik. "Nayla, jangan gegabah. Kalau kamu mati ... aku harus gimana!"Wajah Nayla dipenuhi air mata, "Semua orang di internet memakiku, bilang aku pelakor, bilang aku perempuan murahan. Rafi, aku benar-benar nggak sanggup lagi.""Kak Tika juga memakiku. Dia bilang aku pelakor, bilang aku wanita penggoda .... Aku nggak menyalahkan Kak Tika. Bagaimanapun, sekarang tunanganmu adalah dia, keberadaanku memang salah."Aku menatap Nayla dengan terkejut.Aku sudah meninggal. Mana mungkin aku mengatakan semua itu? Tak kusangka, bahkan setelah mati pun aku masih tidak bisa tenang. Masih saja harus difitnah seperti ini.Wajah Rafi menegang. Dia memeluk Nayla erat sambil melihat bukti percakapan yang ditunjukkan Nayla padanya.Melihat "bukti" yang penuh celah itu, aku hampir tertawa.Cara yang terlalu kasar, Rafi pasti tidak akan percaya.Namun, aku lupa ....Di dunia Rafi, aku memang tidak pernah berarti

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 4

    Dadaku tiba-tiba terasa sakit.Dulu saat aku baru bertunangan dengan Rafi, sikapnya padaku sangat buruk. Dia membenciku, karena aku adalah tunangan yang dipaksakan oleh ibunya. Oleh karena itu, dia mengabaikanku dan memberiku banyak kasus sulit, bahkan membiarkan para wanita yang menyukainya menanta

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 2

    Di ruang perawatan VIP.Nayla tampak gelisah. "Rafi, Kak Tika nggak bakal kenapa-napa, 'kan? Aku lihat dia marah ... jadi aku ingin pergi menjelaskan, tapi aku nggak nyangka aku bakal kambuh ...."Wajahnya penuh rasa bersalah, matanya dipenuhi air mata kegelisahan.Rafi menghapus air mata di wajahny

  • Kecelakaan Maut Merengut, Suamiku Mementingkan Mantan Pacarnya   Bab 1

    Tiga hari sebelum pernikahan, mantan pacar Rafi yang mengidap klaustrofobia memblokir mobilku di tepi jurang Jalan Bermera. Dengan kecepatan 100 km/jam, dia menabrak mobilku sebanyak 12 kali.Saat Rafi tiba bersama mobil polisi, aku sudah dikeluarkan oleh petugas pemadam dari kursi pengemudi yang ri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status