Share

Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran
Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran
Author: GREYWIND

1. Rencana Pernikahan

Author: GREYWIND
last update publish date: 2026-06-26 23:31:40

Hari itu, istana kerajaan Orva tak terlihat sepi seperti biasanya. Istana yang hanya diisi oleh barisan prajurit di tiap lorong itu kini diisi dengan banyaknya manusia yang mulai berdatangan. Mengenakan gaun terbaik dengan warna mencolok dan juga formalwear yang terbuat dari bordiran warna terang untuk pria.

Atas perintah King Brent, semua rakyat dari kalangan apapun diundang untuk masuk ke istana dalam rangka merayakan ulang tahun Princess Crystabelle. Sebuah perhelatan yang sangat berharga bagi rakyat Kerajaan Orva setiap tahunnya karena dianggap penting oleh kerajaan untuk merayakan hari bahagia sang putri bersama-sama. 

Bagaimanapun, rakyat adalah alasan mengapa sebuah monarki dapat berdiri.

Dari balkon di tengah-tengah aula istana, King Brent bersama Duke Milano tengah memantau setiap orang yang memasuki aula kerajaan.

‘’Apa semua pangeran dari tujuh kerajaan juga sudah hadir?’’

Tanpa memindahkan perhatian pada rakyat dan tamu kerajaan yang mulai berdatangan, King Brent menanti penasehat kerajaan menjawab pertanyaan yang ia ajukan.

‘’Prince Logan dari Kerajaan Agnar menjadi pangeran ke sepuluh dari enam kerajaan yang sudah terpantau hadir, Your Majesty.’’ 

Tolehan King Brent membuat Duke Milano memajukan satu langkah hingga kini sejajar dengan kursi kebesaran penguasa Kerajaan Orva. 

‘’Kau sudah mengirim semua surat undangan ke seluruh kerajaan yang ku perintahkan?’’ Suara tegas sang raja membuat Milano sedikit tertekan.

Laki-laki paruh baya berblazer mewah hitam dengan lis keemasan itu mengangguk pasti.

‘’Lalu pangeran dari kerajaan mana yang masih belum terlihat sampai saat ini, Milano?’’

‘’Valliant, Your Majesty. Prince Pascal.’’

Kabar tentang pemberontak yang menyerang perbatasan Kerajaan Valliant beberapa minggu lalu terdengar hingga ke seluruh penjuru negeri di kawasan timur, termasuk Kerajaan Orva. 

Mengingat King Lumiere sangat mengandalkan putra satu-satunya yang dikenal ahli dalam strategi perang dan cakap dalam menggunakan pedang, King Brent memaklumi ketidakhadiran Prince Pascal yang saat ini mungkin sedang bertugas menjaga kerajaannya.

Tapi King Brent tahu, bahwa ada seorang gadis yang kini sedang menyusuri lorong bersama pengasuh dan lima orang prajurit di istananya yang tak akan memaklumi keabsenan Pascal. 

‘’Crystabelle tidak akan menyukai ini.’’ Di antara pangeran-pangeran lain, hadiah dari Pascal menjadi hadiah yang paling dinantikan Crysta. 

Duke Milano mengulum senyum. Selain dikenal akan keindahannya karena berada di tengah-tengah teluk dan di kelilingi lautan biru, kerajaan yang dipimpin oleh King Lumierre dan Queen Ruby itu memiliki kehormatan dan kebanggaan yang terletak di diri Prince Pascal Tristan. Pangeran yang selalu mengenakan pakaian berwarna coklat gelap dan mengendarai harimau raksasa sebagai tunggangan.

Selain itu, Prince Pascal selalu memberikan hadiah yang sama tiap kali Princess Crysta berulang tahun. Sebuah kalung mutiara namun dengan warna berbeda setiap gadis itu bertambah usia. Dan hari di mana seharusnya Pascal memberikan  gadis berambut brunette itu koleksi mutiara dengan warna lain, pria itu malah tidak hadir..

Dari satu pintu masuk yang mempertemukan untuk masuk ke balkon, tampak dua orang wanita tercantik dari Kerjaan Orva saling tersenyum satu sama lain. Queen Ophelia dan Prince Crystabelle langsung mendapat sambutan dan semua orang segera membungkuk, memberi penghormatan ketika keduanya muncul bersamaan.

Ibu dan anak itu mengambil posisi masing-masing di samping sang raja. Duduk anggun bersama tatapan kagum dari rakyat, termasuk sepuluh pangeran yang hadir.

Melihat satu kursi yang kosong di antara para pangeran, Princess Crysta hanya bisa menghirup oksigen dengan kasar. Feeling King Brent tak pernah salah. Tapi Princess Crystabelle menutupinya dengan seulas senyum sambil melambaikan tangan pada rakyat yang mencintainya.

Silih berganti tamu kerajaan memberi selamat pada sang putri yang kini menginjak usia dua puluh tahun. Marquess, Count, Countess, Earl, Viscount, Baron, Baronet, Knight hingga rakyat, semua yang hadir mengadiahkan benda dan juga untaian kata indah untuk kesejahteraan dan juga kehidupan Princess Crysta. 

‘’Permata zamrud untuk anda, Your Higness.’’ Prince Axa, dari Kerajaan Mytris menghadiahi cermin oval dengan taburan batu hijau dalam kotak beludru.

Berikutnya, hadiah dari pangeran lain.

‘’Gaun sutra terbaik…’’

‘’Perhiasan…’’

‘’Kulit rusa…’’

‘’Buku langka…’’

Sang putri membiarkan Prince Jack menjadi pangeran terakhir yang mengecup punggung tangannya setelah memberikan hadiah. Dan Monic, pengasuh sang putri langsung mengumpulkan benda-benda yang dibungkus dengan cantik itu ke atas meja khusus untuk pemberian para pangeran dan juga bangsawan kerajaan.

‘’Senang mengetahui anda menyukai hadiah yang ku berikan, Princess.’’ Jack tersenyum, menatap takjub pada sang putri yang selalu bersikap ramah pada semua orang. 

‘’Tidak akan ada yang berani menolak hadiah dari pangeran kerajaan di atas gunung, Your Higness.’’ Crystal menarik tangannya dari Jack untuk memberi kesempatan pada rakyat bertemu dengannya. 

Masih dengan senyum yang dipertahankan, Crystabelle melihat Prince Jack kembali ke meja para pangeran sebelum beralih pada sepasang suami istri yang berada dalam barisan untuk memberinya berkat. 

Di sisi lain, alunan musik yang mengalun di antara tawa dan kebahagiaan banyak orang tiba-tiba terhenti karena King Brent bangkit dari singgasananya. Crystabelle lantas melirik sang ratu yang sama tak mengertinya mengapa penguasa Orva itu tiba-tiba menginterupsi. 

‘’Semoga langit dan bumi menjadi tempat yang teduh bagimu, Putriku.’’ Pria bersurai panjang bersama mahkota emas dengan kombinasi beludru merah di kepalanya berkata lantang.

Crysta tersipu malu. Padahal orang tuanya telah menjadi orang pertama yang melantunkan doa untuk hidupnya ketika sarapan bersama tadi pagi. Tapi sepertinya sang ayah ingin mengucapkan di ruangan luas dengan banyak pasang mata yang berasal dari luar istana sebagai saksi, selain para pelayan dan prajurit kerajaan tentunya.

‘’Sebagai raja dan ayah dari Princess Crysta, aku ingin memberitahukan pengumuman penting untuk semua yang hadir di acara ini. Pengumuman yang akan menjadi awal mula bagaimana sang putri akan memulai kehidupannya yang baru.’’

Suasana hening. Crystabelle mengernyitkan kening.  

‘’Hari ini, aku akan memilih salah satu pangeran dari enam kerajaan yang hadir sebagai pendamping untuk putriku.’’

Dengan segera ucapan sang raja disambut baik oleh rakyat, bangsawan dan juga para pangeran yang langsung tersenyum sumringah dari tempat mereka mendengarkan.

Momen emas yang tidak dihadiri oleh orang yang tepat membuat Crystabelle gundah dan menatap sebuah kursi kosong dari jauh. Perasaannya campur aduk. 

Di hari ulang tahun di mana ia belum memanjatkan pinta apapun pada langit, ia berharap saat ini Pascal muncul dari pintu besar berwarna emas di bawah sana. Tangan cantik itu saling bertaut— membentuk genggaman seolah tengah memanjatkan doa.

‘’Dan… aku sudah memutuskan, bahwa Prince Logan lah yang akan menjadi suami dari sang tuan putri.’’

Sontak semua orang bersorak-sorai. Tapi hati Crysta hancur. Kedua tangan yang bertumpu langsung terasa lemah dan terlepas begitu saja. Senyum yang terus melekat di wajahnya seketika pudar.

‘’Mother?’’ Ia meminta pembelaan pada sang ratu yang berjarak satu kursi. Berharap bila Ratu Ophelia berpihak padanya.

Tapi desahan berikut senyum paksa membawa kenyataan bahwa tidak ada yang bisa Ibundanya lakukan. Bila King Brent telah bertitah atau mengucap kata, maka tidak ada yang bisa diubah. Kata-kata sang raja adalah sumpah dan juga perintah. 

Pundak Crystabelle merosot rendah. Monic juga tertunduk sedih. Dia menjadi saksi bagaimana Pascal adalah orang yang selalu Crysta sebut ketika bercerita ataupun melakukan hal-hal yang ia suka. Meski pangeran dingin itu tidak mengetahui akan Crysta yang mendambakan Pascal untuk menjadi suaminya.

‘’Silakan, Prince Logan,’’ pinta sang raja pada pria bermata biru itu.

Logan berjalan dengan gagah dan bangga. Membusungkan dada di mana keirian dari pangeran lain membuatnya menjadi pemenang dalam aula istana. 

Rakyat saling menempelkan bibir ke telinga rekan di samping tatkala Logan berdiri di depan meja perjamuan yang ditempati keluarga kerajaan.  

Melirik Crysta yang memasang wajah datar dan enggan menatapnya, Logan mengulurkan tangan pada sang tuan putri. Membuat Crysta berhenti untuk memandangi daun pintu dan mulai membalas tatapan Logan. Memahami bahwa pangeran dari Agnar itu ingin dirinya berdiri di sampingnya saat memperkenalkan diri pada rakyat Orva.

Hati sebenarnya tak ingin, namun Logan dengan mata biru yang penuh harap membuat Crysta tak bisa menolak.

Crysta menerima telapak tangan Logan dan melepasnya ketika ia sudah berdiri di samping kakak dari Prince Tiago. Di hari seharusnya ia merasa bahagia karena akan berjumpa dengan Pascal, Crysta malah merasakan kesedihan yang tak pernah bisa ia bayangkan.

‘’Rakyat Kerajaan Orva—’’

RROOAARRRR!

Logan mundur satu langkah saat suara auman binatang buas mengisi keheningan. Terkejut, hingga tak sadar bahwa ia sudah berada di belakang Crysta. Menjadi hal yang paling memalukan bagi seorang pangeran bila tidak menjadi perisai untuk wanita yang akan menjadi permaisurinya.

RROOAARRRR! Auman itu terdengar kembali. Semua orang bertanya-tanya dengan panik. Suara menakutkan itu berasal dari luar.

‘’Periksa suara apa itu?’’ King Brent memberi titah. Semua prajurit bergerak.

Namun Jenderal Kerajaan Orva langsung membisikkan sesuatu di telinga sang raja yang kemudian membuat semua pergerakan prajurit terhenti ketika penguasa itu mengangkat sebelah tangannya ke atas.

‘’Buka pintunya!’’ 

Empat prajurit di pintu aula awalnya menatap ragu, tapi ketika tatapan tajam King Brent membuat prajurit berbaju besi gemetar takut, mereka bergegas untuk membukanya.

Pintu yang terbelah diiring suara deritan memperlihatkan sosok apa yang sedari tadi membuat bulu kuduk bergidik ngeri.

Seekor harimau raksasa berwarna keemasan muncul bersama penungangnya. Mengenakan zirah perang berwarna hitam lengkap dengan helmet yang menutupi wajah.

Crysta tak bisa membendung napas bahagia yang membuat dadanya naik turun karena melihat sosok yang ia tunggu. Terlebih, langkah besar hewan buas itu langsung mengarah kepadanya yang membuat ia dapat melihat wajah penunggangnya ketika melepas penutup kepala dari atas hewan tersebut.

‘’Pascal,’’ seru Crysta, lirih dan lega.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran   4. Pesan Untuk Para Pangeran

    Busur serta panah terarah ke satu titik. Pada jalan selebar enam kereta kuda tanpa jarak. Pemanah di atas pohon dan prajurit berpedang di bawah tanah terlihat siaga. Tanah kering bergetar tatkala derap dari serombongan pasukan mendekati perbatasan kerajaan. Kapten pasukan mengetatkan rahang serta menguatkan genggaman pada pedang menyadari musuh semakin dekat. Kewaspadaan menghiasi setiap kepala yang tertutup oleh helmet baja. Berjubah merah darah berlambangkan kerang laut di dada.‘’Andromeda!’’ Teriakan sang kapten menggema. Satu tangannya berada di udara. Siap memberi perintah. Namun, begitu sosok dengan zirah tersebut muncul— ratusan panah yang siap ditembakkan mendadak turun. ‘’Apa begini cara pasukanku menyambut pangerannya?’’‘’My Prince,’’ Lompat dari dahan pohon dengan ketinggian empat meter, Bold menghampiri Pascal yang tengah menenangkan Titan. Menggerung marah karena mendapat sambutan yang tidak menyenangkan.‘’Your Highness, maafkan saya.’’ Sang kapten menunduk, diik

  • Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran   3. Serangan Dalam Kegelapan

    Seusai pesta, Pascal mendatangi King Brent dan Queen Ophelia untuk berpamitan. Menjadi pangeran terakhir yang menghadap penguasa kerajaan Orva setelah Prince Leonard dari Kerajaan Lucard.‘’Sampaikan salamku untuk Queen Ruby dan King Lumiere, Your Highness. Prajurit Orva akan mengawalmu sampai ke Valliant dengan selamat.‘’‘’Dengan segala hormat, Your Majesty. Terimakasih atas kebaikan anda. Tapi sungguh, itu suatu hal yang tidak perlu. Aku bisa melakukan perjalanan dengan aman tanpa pengawalan.’’ Pascal menundukkan kepala, menolak dengan sopan.Tatapan King Brent pada sang ratu membuat Queen Ophelia mengurungkan niat untut berkeras. Jadi ia berhenti untuk mengkhawatirkan keselamatan Pascal yang sama sekali tidak takut dengan bahaya dalam perjalanan. ‘’Pangeran Valliant akan selalu diterima di Kerajaan Orva. Segala jenis kesulitan dan kebutuhan akan bantuan, Orva akan selalu menyambut dengan tangan terbuka.‘’Pascal menghela napas. Dalam benaknya, sampai kapan Queen Ophelia akan ter

  • Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran   2. Tidak Bisa Diubah

    Titan mengibas surai seraya melangkah waspada. Menggerung— langkah demi langkah, menunjukkan taring tajam— mengancam. Membuat semua orang di tengah aula reflek menyingkir. Selain kengerian yang bertahta di hati setiap orang, kebanyakan dari mereka berpikir bahwa Pascal muncul dengan cara yang menakjubkan.Queen Ophelia cukup mengenal baik Prince Pascal. Ketika dirinya berkunjung ke Kerajaan Valliant bertahun-tahun silam, Pascal masuk ke ruang singgasana dengan cara seperti ini. Mengenakan setelan jas resmi berekor berwarna biru muda dan celana fit berwarna putih. Gesturnya angkuh, tatapannya sedingin salju. Gagah tak terbantahkan. Waktu itu, Titan masih seukuran harimau normal dan Pascal lebih terlihat seperti pangeran muda karena masih berusia sepuluh tahun. Duke, knight, jenderal, prajurit dari masing-masing kerajaan berdecak kagum pada pangeran kecil itu. Ketika Pascal memberi hormat dari harimaunya seperti yang dilakukannya saat ini, sikapnya membawa kehangatan bagi siapa saja

  • Kegelapan Yang Memburu Para Pangeran   1. Rencana Pernikahan

    Hari itu, istana kerajaan Orva tak terlihat sepi seperti biasanya. Istana yang hanya diisi oleh barisan prajurit di tiap lorong itu kini diisi dengan banyaknya manusia yang mulai berdatangan. Mengenakan gaun terbaik dengan warna mencolok dan juga formalwear yang terbuat dari bordiran warna terang untuk pria.Atas perintah King Brent, semua rakyat dari kalangan apapun diundang untuk masuk ke istana dalam rangka merayakan ulang tahun Princess Crystabelle. Sebuah perhelatan yang sangat berharga bagi rakyat Kerajaan Orva setiap tahunnya karena dianggap penting oleh kerajaan untuk merayakan hari bahagia sang putri bersama-sama. Bagaimanapun, rakyat adalah alasan mengapa sebuah monarki dapat berdiri.Dari balkon di tengah-tengah aula istana, King Brent bersama Duke Milano tengah memantau setiap orang yang memasuki aula kerajaan.‘’Apa semua pangeran dari tujuh kerajaan juga sudah hadir?’’Tanpa memindahkan perhatian pada rakyat dan tamu kerajaan yang mulai berdatangan, King Brent menanti p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status