LOGIN
Hari itu, istana kerajaan Orva tak terlihat sepi seperti biasanya. Istana yang hanya diisi oleh barisan prajurit di tiap lorong itu kini diisi dengan banyaknya manusia yang mulai berdatangan. Mengenakan gaun terbaik dengan warna mencolok dan juga formalwear yang terbuat dari bordiran warna terang untuk pria.
Atas perintah King Brent, semua rakyat dari kalangan apapun diundang untuk masuk ke istana dalam rangka merayakan ulang tahun Princess Crystabelle. Sebuah perhelatan yang sangat berharga bagi rakyat Kerajaan Orva setiap tahunnya karena dianggap penting oleh kerajaan untuk merayakan hari bahagia sang putri bersama-sama.
Bagaimanapun, rakyat adalah alasan mengapa sebuah monarki dapat berdiri.
Dari balkon di tengah-tengah aula istana, King Brent bersama Duke Milano tengah memantau setiap orang yang memasuki aula kerajaan.
‘’Apa semua pangeran dari tujuh kerajaan juga sudah hadir?’’
Tanpa memindahkan perhatian pada rakyat dan tamu kerajaan yang mulai berdatangan, King Brent menanti penasehat kerajaan menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
‘’Prince Logan dari Kerajaan Agnar menjadi pangeran ke sepuluh dari enam kerajaan yang sudah terpantau hadir, Your Majesty.’’
Tolehan King Brent membuat Duke Milano memajukan satu langkah hingga kini sejajar dengan kursi kebesaran penguasa Kerajaan Orva.
‘’Kau sudah mengirim semua surat undangan ke seluruh kerajaan yang ku perintahkan?’’ Suara tegas sang raja membuat Milano sedikit tertekan.
Laki-laki paruh baya berblazer mewah hitam dengan lis keemasan itu mengangguk pasti.
‘’Lalu pangeran dari kerajaan mana yang masih belum terlihat sampai saat ini, Milano?’’
‘’Valliant, Your Majesty. Prince Pascal.’’
Kabar tentang pemberontak yang menyerang perbatasan Kerajaan Valliant beberapa minggu lalu terdengar hingga ke seluruh penjuru negeri di kawasan timur, termasuk Kerajaan Orva.
Mengingat King Lumiere sangat mengandalkan putra satu-satunya yang dikenal ahli dalam strategi perang dan cakap dalam menggunakan pedang, King Brent memaklumi ketidakhadiran Prince Pascal yang saat ini mungkin sedang bertugas menjaga kerajaannya.
Tapi King Brent tahu, bahwa ada seorang gadis yang kini sedang menyusuri lorong bersama pengasuh dan lima orang prajurit di istananya yang tak akan memaklumi keabsenan Pascal.
‘’Crystabelle tidak akan menyukai ini.’’ Di antara pangeran-pangeran lain, hadiah dari Pascal menjadi hadiah yang paling dinantikan Crysta.
Duke Milano mengulum senyum. Selain dikenal akan keindahannya karena berada di tengah-tengah teluk dan di kelilingi lautan biru, kerajaan yang dipimpin oleh King Lumierre dan Queen Ruby itu memiliki kehormatan dan kebanggaan yang terletak di diri Prince Pascal Tristan. Pangeran yang selalu mengenakan pakaian berwarna coklat gelap dan mengendarai harimau raksasa sebagai tunggangan.
Selain itu, Prince Pascal selalu memberikan hadiah yang sama tiap kali Princess Crysta berulang tahun. Sebuah kalung mutiara namun dengan warna berbeda setiap gadis itu bertambah usia. Dan hari di mana seharusnya Pascal memberikan gadis berambut brunette itu koleksi mutiara dengan warna lain, pria itu malah tidak hadir..
Dari satu pintu masuk yang mempertemukan untuk masuk ke balkon, tampak dua orang wanita tercantik dari Kerjaan Orva saling tersenyum satu sama lain. Queen Ophelia dan Prince Crystabelle langsung mendapat sambutan dan semua orang segera membungkuk, memberi penghormatan ketika keduanya muncul bersamaan.
Ibu dan anak itu mengambil posisi masing-masing di samping sang raja. Duduk anggun bersama tatapan kagum dari rakyat, termasuk sepuluh pangeran yang hadir.
Melihat satu kursi yang kosong di antara para pangeran, Princess Crysta hanya bisa menghirup oksigen dengan kasar. Feeling King Brent tak pernah salah. Tapi Princess Crystabelle menutupinya dengan seulas senyum sambil melambaikan tangan pada rakyat yang mencintainya.
Silih berganti tamu kerajaan memberi selamat pada sang putri yang kini menginjak usia dua puluh tahun. Marquess, Count, Countess, Earl, Viscount, Baron, Baronet, Knight hingga rakyat, semua yang hadir mengadiahkan benda dan juga untaian kata indah untuk kesejahteraan dan juga kehidupan Princess Crysta.
‘’Permata zamrud untuk anda, Your Higness.’’ Prince Axa, dari Kerajaan Mytris menghadiahi cermin oval dengan taburan batu hijau dalam kotak beludru.
Berikutnya, hadiah dari pangeran lain.
‘’Gaun sutra terbaik…’’
‘’Perhiasan…’’
‘’Kulit rusa…’’
‘’Buku langka…’’
Sang putri membiarkan Prince Jack menjadi pangeran terakhir yang mengecup punggung tangannya setelah memberikan hadiah. Dan Monic, pengasuh sang putri langsung mengumpulkan benda-benda yang dibungkus dengan cantik itu ke atas meja khusus untuk pemberian para pangeran dan juga bangsawan kerajaan.
‘’Senang mengetahui anda menyukai hadiah yang ku berikan, Princess.’’ Jack tersenyum, menatap takjub pada sang putri yang selalu bersikap ramah pada semua orang.
‘’Tidak akan ada yang berani menolak hadiah dari pangeran kerajaan di atas gunung, Your Higness.’’ Crystal menarik tangannya dari Jack untuk memberi kesempatan pada rakyat bertemu dengannya.
Masih dengan senyum yang dipertahankan, Crystabelle melihat Prince Jack kembali ke meja para pangeran sebelum beralih pada sepasang suami istri yang berada dalam barisan untuk memberinya berkat.
Di sisi lain, alunan musik yang mengalun di antara tawa dan kebahagiaan banyak orang tiba-tiba terhenti karena King Brent bangkit dari singgasananya. Crystabelle lantas melirik sang ratu yang sama tak mengertinya mengapa penguasa Orva itu tiba-tiba menginterupsi.
‘’Semoga langit dan bumi menjadi tempat yang teduh bagimu, Putriku.’’ Pria bersurai panjang bersama mahkota emas dengan kombinasi beludru merah di kepalanya berkata lantang.
Crysta tersipu malu. Padahal orang tuanya telah menjadi orang pertama yang melantunkan doa untuk hidupnya ketika sarapan bersama tadi pagi. Tapi sepertinya sang ayah ingin mengucapkan di ruangan luas dengan banyak pasang mata yang berasal dari luar istana sebagai saksi, selain para pelayan dan prajurit kerajaan tentunya.
‘’Sebagai raja dan ayah dari Princess Crysta, aku ingin memberitahukan pengumuman penting untuk semua yang hadir di acara ini. Pengumuman yang akan menjadi awal mula bagaimana sang putri akan memulai kehidupannya yang baru.’’
Suasana hening. Crystabelle mengernyitkan kening.
‘’Hari ini, aku akan memilih salah satu pangeran dari enam kerajaan yang hadir sebagai pendamping untuk putriku.’’
Dengan segera ucapan sang raja disambut baik oleh rakyat, bangsawan dan juga para pangeran yang langsung tersenyum sumringah dari tempat mereka mendengarkan.
Momen emas yang tidak dihadiri oleh orang yang tepat membuat Crystabelle gundah dan menatap sebuah kursi kosong dari jauh. Perasaannya campur aduk.
Di hari ulang tahun di mana ia belum memanjatkan pinta apapun pada langit, ia berharap saat ini Pascal muncul dari pintu besar berwarna emas di bawah sana. Tangan cantik itu saling bertaut— membentuk genggaman seolah tengah memanjatkan doa.
‘’Dan… aku sudah memutuskan, bahwa Prince Logan lah yang akan menjadi suami dari sang tuan putri.’’
Sontak semua orang bersorak-sorai. Tapi hati Crysta hancur. Kedua tangan yang bertumpu langsung terasa lemah dan terlepas begitu saja. Senyum yang terus melekat di wajahnya seketika pudar.
‘’Mother?’’ Ia meminta pembelaan pada sang ratu yang berjarak satu kursi. Berharap bila Ratu Ophelia berpihak padanya.
Tapi desahan berikut senyum paksa membawa kenyataan bahwa tidak ada yang bisa Ibundanya lakukan. Bila King Brent telah bertitah atau mengucap kata, maka tidak ada yang bisa diubah. Kata-kata sang raja adalah sumpah dan juga perintah.
Pundak Crystabelle merosot rendah. Monic juga tertunduk sedih. Dia menjadi saksi bagaimana Pascal adalah orang yang selalu Crysta sebut ketika bercerita ataupun melakukan hal-hal yang ia suka. Meski pangeran dingin itu tidak mengetahui akan Crysta yang mendambakan Pascal untuk menjadi suaminya.
‘’Silakan, Prince Logan,’’ pinta sang raja pada pria bermata biru itu.
Logan berjalan dengan gagah dan bangga. Membusungkan dada di mana keirian dari pangeran lain membuatnya menjadi pemenang dalam aula istana.
Rakyat saling menempelkan bibir ke telinga rekan di samping tatkala Logan berdiri di depan meja perjamuan yang ditempati keluarga kerajaan.
Melirik Crysta yang memasang wajah datar dan enggan menatapnya, Logan mengulurkan tangan pada sang tuan putri. Membuat Crysta berhenti untuk memandangi daun pintu dan mulai membalas tatapan Logan. Memahami bahwa pangeran dari Agnar itu ingin dirinya berdiri di sampingnya saat memperkenalkan diri pada rakyat Orva.
Hati sebenarnya tak ingin, namun Logan dengan mata biru yang penuh harap membuat Crysta tak bisa menolak.
Crysta menerima telapak tangan Logan dan melepasnya ketika ia sudah berdiri di samping kakak dari Prince Tiago. Di hari seharusnya ia merasa bahagia karena akan berjumpa dengan Pascal, Crysta malah merasakan kesedihan yang tak pernah bisa ia bayangkan.
‘’Rakyat Kerajaan Orva—’’
RROOAARRRR!
Logan mundur satu langkah saat suara auman binatang buas mengisi keheningan. Terkejut, hingga tak sadar bahwa ia sudah berada di belakang Crysta. Menjadi hal yang paling memalukan bagi seorang pangeran bila tidak menjadi perisai untuk wanita yang akan menjadi permaisurinya.
RROOAARRRR! Auman itu terdengar kembali. Semua orang bertanya-tanya dengan panik. Suara menakutkan itu berasal dari luar.
‘’Periksa suara apa itu?’’ King Brent memberi titah. Semua prajurit bergerak.
Namun Jenderal Kerajaan Orva langsung membisikkan sesuatu di telinga sang raja yang kemudian membuat semua pergerakan prajurit terhenti ketika penguasa itu mengangkat sebelah tangannya ke atas.
‘’Buka pintunya!’’
Empat prajurit di pintu aula awalnya menatap ragu, tapi ketika tatapan tajam King Brent membuat prajurit berbaju besi gemetar takut, mereka bergegas untuk membukanya.
Pintu yang terbelah diiring suara deritan memperlihatkan sosok apa yang sedari tadi membuat bulu kuduk bergidik ngeri.
Seekor harimau raksasa berwarna keemasan muncul bersama penungangnya. Mengenakan zirah perang berwarna hitam lengkap dengan helmet yang menutupi wajah.
Crysta tak bisa membendung napas bahagia yang membuat dadanya naik turun karena melihat sosok yang ia tunggu. Terlebih, langkah besar hewan buas itu langsung mengarah kepadanya yang membuat ia dapat melihat wajah penunggangnya ketika melepas penutup kepala dari atas hewan tersebut.
‘’Pascal,’’ seru Crysta, lirih dan lega.
Mengira bahwa Crysta akan marah, nyatanya Cryta malah terkekeh. Bahkan mengalungkan tangannya di leher Pascal.''Kau bisa lakukan apapun yang kau mau, Prince. Aku milikmu. Semua yang ada padaku adalah milikmu. Jangan ragu. Aku adalah milikmu. Aku adalah milikmu, Pascal Tristan.''Indah. Ini benar-benar indah.Namun, Pascal tidak langsung melakukannya meski telah diberi izin. Seperti ada yang menahannya. Memikirkan apa yang akan dialami tubuh Crysta nntinya, Pascal khawatir Crysta tidak akan mampu melayani nafsunya.''Tidak. Aku tidak bisa.''Memahami akan keraguan yang masih berada di dalam diri Pascal, Crysta mengambil langkah lebih dulu. Mencium bibir Pascal tanpa rasa malu. Membuka atasan sang pangeran dengan berani. Sontak hal tersebut membangkitkan birahi pria yang Pascal miliki.Terutama saat Crysta berjalan mundur dengan ekspresi yang sangat menggoda, mendekati tempat tidur seraya melepa
Kembang api di tengah kota kembali menyala. Sementara Pascal berpura-pura menikmati cahaya kuning yang naik ke angkasa, tapi tidak dengan Crysta. Gadis itu masih memfokuskan pandangannya pada makhluk di sebelahnya.Crysta yakin dengan dugaannya. Ia yakin Pascal menaruh rasa padanya. Tapi, pangeran kejam itu seolah-olah tak memperdulikan tatapan meminta penjelasan Crysta.Pascal tahu benar maksud dari pertanyaan Crysta setelah gadis itu melihat mutiara berwarna merah muda yang dibawa oleh anak buahnya. Crysta pernah meminta benda itu padanya.‘’Acaranya sudah dimulai. Pergilah dengan Natasha. Beberapa prajurit yang mengawal, mereka akan mengenakan pakaian seperti rakyat biasa. Jadi rakyat Valliant tidak akan menyadari bahwa ada seorang tuan putri di tengah-t
Kembang api di tengah kota kembali menyala. Sementara Pascal berpura-pura menikmati cahaya kuning yang naik ke angkasa, tapi tidak dengan Crysta. Gadis itu masih memfokuskan pandangannya pada makhluk di sebelahnya.Crysta yakin dengan dugaannya. Ia yakin Pascal menaruh rasa padanya. Tapi, pangeran kejam itu seolah-olah tak memperdulikan tatapan meminta penjelasan Crysta.Pascal tahu benar maksud dari pertanyaan Crysta setelah gadis itu melihat mutiara berwarna merah muda yang dibawa oleh anak buahnya. Crysta pernah meminta benda itu padanya.‘’Acaranya sudah dimulai. Pergilah dengan Natasha. Beberapa prajurit yang mengawal, mereka akan mengenakan pakaian seperti rakyat biasa. Jadi rakyat Valliant tidak akan menyadari bahwa ada seorang tuan putri di tengah-t
Bukannya marah, Pascal malah tertawa. Bahkan semua orang yang berada di radius suara tersebut dapat mendengarnya. Suatu hal langka yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pascal dikenal dingin. Minim senyum. Namun kehadiran Crysta membawa perubahan di diri pangeran Valliant tersebut. Wajar bila semua orang tampak terkejut.‘’Aku mencintai seseorang. Sangat. Bahkan aku selalu mendambakannya setiap malam.’’Mendadak Crysta terbakar api cemburu. Cara Pascal mengatakannya, membuktikan bahwa Pascal benar-benar mencintai wanita tersebut. Dan Crysta tak bisa menerima itu.‘’Siapa wanita yang beruntung itu?’’ tanyanya dengan nada tak sedap.‘’Aku akan memberitahukannya padamu bila waktunya tiba.’’‘’Memangnya kalau sekarang kenapa?’’‘’Karena sekarang, aku belum berhasil mendapatkannya. Tunggulah ketika aku bisa menikahinya. Menjadikan ia sebagai putri mahkota Valliant. Saat itu terjadi, aku akan memberitahumu.’’Crysta tertunduk. Tanpa sadar air matanya berlinang. Aku lebih baik mati daripada
Melihat Monic kelelahan mengejarnya, membuat hati Crysta tersentuh. Tak hanya karena Monic, keningnya yang berpeluh juga menggerakkan Crysta untuk menghampiri ayunan kembali. Mendudukkan diri di sana. Memegang tali besar di kanan dan kirinya dengan kedua tangannya yang mungil. Meninggalkan Monic yang tertinggal di belakang.‘’Dorong aku, Monic.’’Ketika mendapat perintah tersebut, wanita itu sedang mengatur napas, tubuhnya dibungkukkan dengan kedua tangan memegangi lutut. Sepertinya ia benar-benar kelelahan. ‘’Beri aku waktu satu menit, Princess.’’‘’Tidak mau,’’ ujar Crysta sambil tertawa. Berpura-pura tidak mendengarkan suara Monic yang terengah-engah.‘’Kalau begitu, beri aku waktu empat puluh detik.’’ ‘’Tidak. Aku mau sekarang!’’ teriaknya.Suara keras itu membuat Crysta tak mendengar bantahan Monic lagi dan langsung merasakan pergerakan dari ayunan. Membuat Crysta terkekeh karena membayangkan ekspresi Monic saat ini.‘’Lebih kencang, Monic!’’ imbuh Crysta. Ayunan kembali men
‘’Berapa jumlah prajurit pasukan barat?’’ Berdiri di tengah-tengah para jenderal dan kapten pasukan.‘’Setiap kerajaan setidaknya memiliki tiga puluh lima ribu prajurit. Tiga di antaranya memiliki lima puluh ribu.’’ Jenderal Alvar memberikan data akurat, menunjukkan kertas-kertas yang dikirim dari Argorn dan Calvard. ‘’Jadi totalnya tiga ratus ribu.’’‘’Dan berapa yang kita punya?’’‘’Tujuh puluh ribu, Your Highness. Dengan Calvard dan Argorn, jumlahnya genap menjadi seratus lima puluh ribu prajurit.’’‘’Itu belum cukup,’’ ucap Pascal, memindahkan bidak-bid







