LOGINQiang Rui dan Qiang Shen, adik-adik Qiang Jun, mendekat dan berdiri di sampingnya."Kakak ipar pasti bisa melewatinya," ujar Qiang Rui meyakinkan, menepuk pundak kakaknya memberi semangat.Qiang Shen ikut menambahkan, "Iya, Kak. Tenang saja. Semua akan baik-baik."Qiang Jun hanya mengangguk lemah, matanya masih tertuju pada pintu kamar.Tak lama kemudian, Qiang Suli kembali dengan membawa ramuan. Tanpa banyak bicara, ia langsung masuk kembali ke kamar. Wajahnya serius, penuh konsentrasi.Waktu berputar terasa berabad-abad bagi Qiang Jun. Ia mondar-mandir, sesekali menarik rambutnya frustrasi. Keluarganya hanya bisa diam, ikut mencemaskan keadaan di balik pintu.Akhirnya, suara tangis bayi terdengar memecah keheningan."Oeek! Oeek!"Semua yang menunggu langsung berdiri tegak, wajah tegang berubah menjadi harap-harap cemas. Beberapa waktu setelah suara bayi itu terdengar, pintu kamar terbuka. Salah satu tabib keluar dengan wajah berseri."Selamat, Yang Mulia! Seorang pangeran lahir denga
Hailan buru-buru menjelaskan, takut terjadi kesalahpahaman. "Yang Mulia, aku sudah berkali-kali melarangnya ikut denganku. Aku tidak ingin—""Ini keinginanku sendiri, Ayah, Ibu." Qiang Wangyi memotong tegas. "Tolong izinkan kami, ya."Mereka masih diam, seolah mempertimbangkan dengan matang. Helaan napas panjang keluar dari bibir Qiang Jun.Qiang Wangyi dan Hailan tegang. Jantung mereka berdebar menanti keputusan."Ternyata kau memang anakku, ya," ucap Qiang Jun akhirnya, nada bicaranya sedikit bergetar. Matanya tampak sendu mengenang masa lalu. "Dulu setelah menyelesaikan balas dendam, niatku juga ingin pergi dari kekaisaran ini."Keduanya terkejut. Qiang Wangyi membelalak. "Sungguh, Ayah?"Qiang Jun mengangguk pelan."Ya. Tapi karena Kaisar sebelumnya mendesakku untuk naik tahta, aku tidak punya pilihan." Ia melipat kedua lengannya dengan ekspresi kesal. "Si kembar tidak bisa diandalkan. Ck!"Ming Yue hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat suaminya masih kesal pada mendiang ayahn
"Apakah itu benar, Yang Mulia?" tanya Qiang Rui dengan nada tidak percaya bercampur antusias.Ming Yue mengangguk pelan, wajahnya berseri. Tangan kanannya mengusap perutnya dengan lembut, senyum kecil terukir di bibirnya."Ternyata dia sudah ada di sini sejak bulan lalu.""Wah, selamat!" seru beberapa pejabat langsung bersorak riang.Suasana ruang rapat yang tadinya tegang berubah menjadi hangat. Yong Guan yang sebelumnya paling keras bersikeras, kini hanya bisa terdiam dengan ekspresi campur aduk.Ming Yue kemudian menoleh pada suaminya yang masih terdiam membeku di sampingnya. Qiang Jun belum bergerak sejak mendengar pengumuman itu. Matanya masih terpaku pada istrinya."Kau tidak senang?" tanya Ming Yue lembut, sedikit menggoda.Qiang Jun langsung bergerak. Tanpa peduli para pejabat yang masih ada di ruangan, ia memeluk istrinya dengan erat. Wajahnya ia benamkan di leher Ming Yue."Mustahil aku tidak senang," gumamnya dengan suara bergetar. "Terima kasih, Yue."Ming Yue membalas pel
Yong Guan menegakkan punggungnya, dan mengangguk yakin."Anda tahu sendiri, Yang Mulia. Pangeran sering menunjukkan kedekatannya. Dan gadis itu bahkan tinggal di istana. Sudah banyak rumor tidak sedap beredar tentang Pangeran dan gadis itu."Beberapa bangsawan lain mulai berbisik setuju. Seorang pejabat paruh baya menambahkan dengan nada khawatir."Benar. Kami khawatir dengan masa depan kekaisaran, Yang Mulia. Jika Pangeran menikahi gadis biasa tanpa nama keluarga, apa kata kerajaan tetangga?"Qiang Jun menanggapi dengan santai, namun matanya mulai menyipit tajam. Ia menggeser posisi duduknya, bersandar di kursi singgasana dengan satu tangan menopang dagu."Jika putraku menyukainya, memang apa salahnya?" katanya dengan santai.Mereka sedikit terkejut, dan hanya menghela napas pelan. Kaisar memang orang yang seperti itu.Yong Guan tidak menyerah. Ini bukan pertama kalinya ia berdebat dengan Kaisar, dan ia tahu bagaimana cara menyampaikan pendapat tanpa terlihat membangkang. Ia menunduk
Beberapa hari telah berlalu sejak pengumuman mengejutkan di final sayembara. Namun seluruh kekaisaran masih digemparkan oleh kabar bahwa Putri Qiang Suli dimenangkan oleh Jenderal An Beiye yang menyamar. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata mereka saling mencintai selama ini.Ada yang bersimpati pada Jing Ai, wanita yang ditinggalkan di depan umum. Mereka menyebutnya korban cinta segitiga yang tak berdosa.Namun tak sedikit pula yang membela An Beiye dan Qiang Suli. Mereka menganggap Jing Ai-lah yang justru mencoba merebut Jenderal An dari Putri. Jing Ai sendiri telah meninggalkan kediaman keluarga Jenderal An malam itu juga.Di kediaman putri, suasana pagi terasa hangat. Sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai, menerangi ruangan dengan cahaya keemasan. Hailan berjalan menyusuri lorong menuju kamar Qiang Suli. Ia mengetuk pintu pelan.Tok! Tok!"Masuk," sahut Qiang Suli terdengar dari dalam, memberi izin.Hailan membuka pintu, melangkah masuk. Di kursi kerja, Qiang Suli terliha
Ciuman pertama yang terasa lembut, ragu, seperti menanyakan izin. Tapi Qiang Suli membalas ciuman itu dengan lebih berani. Merespons dengan intensitas yang sama.“Hmph!” Gadis itu sedikit melenguh.An Beiye melumat lebih dalam, tangannya semakin erat memeluk tubuh ramping gadis itu. Keduanya larut dalam sensasi yang selama ini hanya bisa mereka impikan.Dunia di luar kamar itu seolah lenyap, hanya ada mereka berdua yang saling menemukan setelah sekian lama memendam rasa.Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, mereka terpaksa melepas diri. Nafas mereka terengah-engah, wajah saling berhadapan hanya dengan jarak beberapa sentimeter.An Beiye merasa bersalah. Ia menunduk, mencoba mengatur napas yang memburu. Matanya menatap lantai dengan penyesalan. "Maaf, aku seharusnya—"Qiang Suli kembali mengecup bibir pria itu. Hanya kecupan kecil, tapi cukup untuk membungkam penyesalannya. Seulas senyum merekah di wajahnya yang masih merona."Tidak apa-apa. Ayah tidak akan tahu," bisik
“Astaga. Bagaimana kalian bisa ada di sini?” tanya Ming Yue dengan raut wajah khawatir.Qiang Rui, yang duduk di tepi ranjang menoleh.“Aku dan Shen sedang mengunjungi Kakek sejak beberapa hari lalu. Tapi kenapa kau ada di sini, Kakak ipar? Di sini ada wabah. Cepat pergi.”Sesekali menutup mulutnya
“Apa dia sudah menemukannya?” gumam Ming Yue.Bibirnya tersenyum senang, penuh harap.Namun, seiring dengan setiap kata yang terbaca, senyumannya berangsur luntur. Wajahnya berubah kecewa.Laporan itu tak sesuai harapan. Tabib Long masih belum berhasil membuat penawarnya. Eksperimen-eksperimennya s
“Apa begini caramu meminta bantuan?”Ming Yue menyilangkan kedua tangannya.Qiang Yuze mendengus kesal. Sambil memijat pangkal hidungnya.“Hei! Aku lelah dengan semua yang terjadi kali ini. Jangan membuatku kesal. Lakukan saja apa yang kuperintahkan.”Ming Yue tentu tak terima dengan sikapnya itu.
"T-tidak, Jun. Ini terlalu dalam." Ming Yue terisak. Tangannya mencengkeram bahu Qiang Jun "Aku tidak bisa-""Ssth .... Tarik nafas, sayang. Tenanglah, jangan tegang," bisik Qiang Jun di dekat telinganya.Dengan suara lembut namun penuh kendali. Bibirnya mengecup sudut mata Ming Yue, lalu beralih me







