LOGINHari-hari berlalu, kabar tentang pernikahan Pangeran Kedua dengan putri keluarga Ming menyebar cepat ke setiap sudut kekaisaran.
Tiap sudut jalan, kedai teh, hingga rumah pejabat dipenuhi bisik-bisik penuh rasa ingin tahu. Banyak yang terkejut, tak menyangka ada seorang gadis yang bersedia menikah dengan Pangeran yang terkenal cacat dan sangat jarang muncul.
Di halaman kediaman Ming, seorang gadis yang tengah jadi perbincangan hangat malah terlihat santai sambil menarik busur di tengah latihannya.
“Yue, aku akan bertanya sekali lagi, kau yakin akan menikah dengan Pangeran Kedua? Dia 5 tahun lebih tua darimu,” tanya An Beiye guru bela dirinya. Entah sudah berapa kali pria itu menanyakan hal yang sama.
Ming Yue menoleh sekilas, bibirnya melengkung tipis dan menjawab. “Aku yakin, guru. Dan memangnya kenapa usia kami berbeda 5 tahun? Itu hal biasa, sudahlah jangan bertanya lagi.”
An Beiye menghela nafas berat. “Kakakmu bahkan masih belum menikah.”
Ming Yue menarik anak panah lain dari tabung di punggungnya dan kembali mengangkat busur, lalu mulai membidik.
“Jangan pikirkan Kakakku, dia keras kepala dan kekanak-kanakan, belum waktunya melamar seorang perempuan,” jawabnya santai.
“Aku tahu pemikiranmu lebih dewasa dibanding kakakmu, dan gadis seusiamu memang banyak yang sudah menikah. Tapi, bagaimana jika Pangeran kedua memperlakukanmu dengan buruk? Kau belum pernah bertemu dengannya, kau juga tak pernah tahu bagaimana sifatnya,” ucap An Beiye bersikeras dengan raut wajah khawatir, berharap gadis itu mengubah pikirannya.
“Semua perjodohan seperti itu, Guru,” jawab Ming Yue, sambil fokus pada latihan memanahnya ia berkata. “Tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan mungkin saja, Pangeran Kedua bukan orang yang buruk. Aku bisa mengenalnya perlahan-lahan.”
An Beiye hanya bisa menarik napas panjang. Wajahnya menegang, seolah ingin berkata lebih, tetapi tiba-tiba sebuah teriakan memotong percakapan mereka.
“Nona!”
Seorang perempuan berlari kecil ke arah mereka. Itu adalah Xiao Lin, pelayan pribadi Ming Yue.
“Gaun pernikahan Anda sudah sampai,” ucapnya memberitahu.
“Begitu ya.” Ming Yue mengangguk paham. Kemudian beralih menatap pria di sampingnya. “Guru, sampai sini saja latihanku ya. Aku harus mencoba gaunku,” pintanya.
An Beiye terdiam, lalu akhirnya tersenyum tipis, sambil mengusap pelan rambut muridnya itu. “Baiklah. Kau sudah berkembang pesat, Yue. Hebat sekali.”
Ming Yue tersenyum ringan. “Hehe, semua ini berkat bimbingan Guru. Kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi saat ingin berlatih.”
“Tentu. Panggil aku kapan saja. Dan selamat atas pernikahanmu. Tapi ingat, jika Pangeran itu menindasmu, katakan padaku. Aku akan langsung menghajarnya,” ucap An Beiye sambil menyunggingkan senyum ceria khasnya.
Ming Yue menahan tawa kecil, lalu membungkuk. “Terima kasih, Guru. Sampai nanti.” Ia kemudian melangkah pergi bersama Xiao Lin, meninggalkan halaman latihan.
An Beiye masih berdiri di sana. Senyuman cerahnya perlahan memudar, perasaan yang tak mampu ia pahami berputar dalam hati.
‘Harusnya aku senang mendengar muridku akan menikah, tapi kenapa dadaku terasa sesak?’ batinnya bergumam.
Sementara itu, Ming Yue kembali ke kamarnya bersama Xiao Lin. Ruangan itu kini penuh dengan barang kiriman dari istana, yaitu gaun pernikahan berwarna merah menyala dengan benang emas yang berkilau, serta hadiah-hadiah dari keluarga bangsawan lain.
Meja belajarnya pun dipenuhi surat-surat bersegel indah, dia membaca sekilas beberapa nama pengirimnya. Bibirnya melengkung sinis saat melihat surat itu semua adalah teman-teman lamanya, namun akhir-akhir ini Ming Yue jarang menemui mereka. Karena ia tahu di antara mereka semua tidak ada yang tulus, semua teman-temannya ada di pihak Lao Lan.
Dan di kehidupan sebelumnya, ketika Ming Yue meminta bantuan karena penderitaan yang ia alami, tidak ada satu pun yang mau menolongnya. Karena itu di kehidupan sekarang pun, lebih baik Ming Yue tak memiliki teman sama sekali.
“Nona, ini gaunnya,” ucap Xiao Lin sambil menyodorkan pakaian merah bercorak indah.
Ming Yue mulai mencobanya. Xiao Lin dengan cekatan menandai bagian-bagian yang perlu disesuaikan. Ming Yue lebih sering mempercayakan urusannya pada Xiao Lin dibanding pelayan lain.
Bukan hanya karena Xiao Lin pernah bekerja di toko pakaian Song, tapi dia tahu betul bagaimana mengatur segala kebutuhannya dengan profesional. Selain itu ada beberapa percakapan rahasia yang hanya bisa ia bicarakan dengan Xiao Lin.
“Nona,” bisik pelayan itu. “Beberapa hari yang lalu ada mata-mata yang mencoba masuk ke kediaman Ming.”
“Oh? Siapa mereka?” tanya Ming Yue terlihat tenang.
“Mereka orang-orang Permaisuri.”
Ming Yue mengerutkan alis. “Kenapa?”
“Sepertinya Permaisuri kesal karena anaknya ditolak oleh Nona yang seorang putri pejabat biasa. Tapi Nona tenang saja, sudah kami urus mereka,” jawab Xiao Lin.
Ming Yue pun mengangguk puas, karena tahu pekerjaan Song She akan sangat memuaskan. “Baguslah. tidak ada perjanjian aku harus menikah dengan Pangeran pertama kan?“ sahutnya santai.
“Anda benar, saya rasa keputusan Anda sudah cocok memilih Pangeran kedua.”
Ming Yue menaikkan sebelah alisnya. “Kau berpikir begitu? Kakakku sendiri mengataiku bodoh karena tak memilih Putra mahkota.”
Xiao Lin merapikan rambut majikannya yang terurai dan berkata. “Menurut penyelidikan kami. Putra Mahkota sering berjudi dan bermain wanita dengan menyamar. Lalu, Pangeran kembar sangat sulit diatur dan hidup sesukanya, tak jarang mereka sering berdebat dengan beberapa putra keluarga bangsawan. Tapi berbeda dengan Pangeran kedua, dia sangat tenang, tak pernah menyebabkan masalah dan hanya mengurung diri membaca buku. Walau mungkin nanti Nona akan mendapat beberapa ejekan karena menikah dengannya.”
Ming Yue tersenyum samar menatap bayangan dirinya di cermin. “Aku sudah mempertimbangkannya, Xiao Lin. Tenang saja.”
Xiao Lin menatapnya sejenak dari belakang, lalu tersenyum tipis.
“Oh ya, barusan saya mendapat kabar, kalau Putra Mahkota terluka saat menangkap perampok, perutnya tertusuk belati,” lanjut Xiao Lin beralih melaporkan hal lain.
Ming Yue terdiam sejenak, ada sedikit keterkejutan dalam matanya, namun hanya sebentar. ‘Ah kejadian itu ya, dia masih menggunakan trik yang sama,’ pikirnya.
Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat
Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb
"Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,
Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me
Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.
Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay







