LOGINBeberapa hari berlalu. Di dalam ruang utama kediaman Permaisuri yang luas, dengan pilar merah menjulang dan tirai sutra. Seorang wanita paruh baya mengenakan jubah brokat berhiaskan benang emas. Dialah Permaisuri Yi Ran, wanita anggun yang tengah menikmati teh paginya.
Tiba-tiba seorang pelayan perempuan masuk, dia mendekat lalu berbisik pelan. “Yang Mulia, perjodohan Putra Mahkota dibatalkan, Putri keluarga Ming memilih menikah dengan Pangeran kedua.”
Cangkir teh hampir terlepas dari tangan Yi Ran. Ia menoleh cepat, matanya yang tajam mendelik penuh rasa terkejut. “Apa? Pangeran kedua? Tapi kenapa?”
Pelayan di sampingnya menunduk semakin dalam. “Saya tidak tahu alasannya. Hanya itu yang bisa saya cari tahu.”Yi Ran mendengus keras, wajahnya menegang. Kemudian menyilangkan kedua lengan di dada, tubuhnya dipenuhi aura kemarahan.
“Cih! Dasar gadis bodoh! Sia-sia aku menuruti Kaisar hingga menunda pernikahan Putraku, hanya demi memenuhi perjanjian Kaisar terdahulu dengan keluarga Ming. Dan sekarang hasilnya malah begini?” geramnya.
Pelayan itu tak berani angkat kepala, hanya bisa menunduk diam.
Yi Ran mengibaskan tangannya. “Kau, selidiki tentang gadis itu. Aku ingin tahu sehebat apa dia berani menolak Putraku,” perintahnya.
“Baik, Yang Mulia,” jawab sang pelayan patuh, lalu melangkah pergi.
Belum lama berselang, dari arah gerbang kediaman terdengar suara lantang dan penuh energi.
“Ibunda!”Yi Ran segera menoleh, raut murkanya berganti hangat. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya saat melihat putranya melangkah masuk. Dia adalah sang Putra Mahkota Kekaisaran Qin, Qiang Yuze. Diikuti seseorang di belakang, Wei Chao, sahabat baiknya sejak kecil.
Yi ran langsung berdiri. “Yuze, Putraku. Selamat datang,” ucapnya penuh kasih, lalu merengkuh Putranya dalam pelukan.
“Ibunda, bagaimana kabarmu?” tanya Qiang Yuze lembut sambil membalas pelukan itu.
“Ibu sehat, tapi Ibu mulai merasa kesepian karena kau jarang berkunjung,” jawab Yi Ran, sedikit cemberut.“Baiklah, mulai sekarang aku akan lebih sering datang,” balas Qiang Yuze sambil tersenyum.
Lelaki di belakangnya mendekat dan menunduk sopan. “Salam Yang Mulia Permaisuri” sapa Wei Chao.
Yi Ran menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis dan berkata. “Ke mana pun kalian masih terus bersama ya. Kapan salah satu dari kalian akan menikah?”
“Ayolah, jangan bahas hal itu. Aku masih ingin bersenang-senang Bu,” balas Qiang Yuze seolah malas membahasnya.
Namun Wei Chao justru menepuk bahu Qiang Yuze sambil bersuara lantang.
“Saya rasa Yuze yang akan menikah lebih dulu. Dia diam-diam memiliki seorang kekasih,” ucapnya frontal.
Kata-kata itu membuat Qiang Yuze langsung terbelalak. “Hei! Tutup mulutmu!” bisiknya geram.
Wei Chao hanya menaikkan kedua bahunya tak peduli, sedangkan sang Permaisuri langsung menyipitkan mata. “Apa itu benar Yuze?”
Qiang Yuze hanya memalingkan pandangan, sedikit ragu. “Yah, itu hanya gadis yang kadang kutemui saat sedang menyamar keluar istana,” jawabnya pelan.
Yi ran menghela nafas. “Baiklah, kalau begitu ceritakan seperti apa dia,” tanyanya lebih mendesak. Mau tak mau, Qiang Yuze pun memberitahukannya pada sang Ibu.
Sementara itu, di sisi lain istana, seorang kepala sekretaris Kaisar bernama Yong Bai berjalan menuju sebuah bangunan yang jauh dari istana utama. Bangunan itu lebih sunyi, jauh dari keramaian istana, dengan pepohonan pinus menjulang di sekitarnya. Itulah kediaman Pangeran Kedua, Qiang Jun, yang jarang terlihat di mata publik.
Yong Bai berdiri di depan pintu gerbang kayu yang besar, ia mengetuk.
Tok! Tok!
Namun tak ada jawaban.
‘Apa tidak ada siapa pun?’ pikirnya heran.
Beberapa lama Yong Bai menunggu, masih tidak ada jawaban. Lalu mengetuk lagi, berkali-kali, hingga tepat ketika Yong Bai hendak berbalik pergi, pintu gerbang perlahan terbuka, menimbulkan derit halus. Dan yang muncul bukanlah pelayan atau pengawal, melainkan Pangeran Kedua itu sendiri.
Qiang Jun, pria tampan dengan wajah dingin dan mata yang tajam, duduk di atas kursi roda. Meski penampilannya sederhana, auranya berwibawa, memancarkan keanggunan yang membuat siapa pun segan.
“Salam, Yang Mulia Pangeran Kedua,” Yong Bai segera membungkuk sopan.
Qiang Jun menatapnya datar. “Katakan apa urusanmu?”
“Saya membawa surat dari Yang Mulia Kaisar.” Yong Bai menyodorkan amplop cokelat bersegel naga emas.Qiang Jun menerimanya tanpa banyak bicara. “Baiklah. Kau boleh kembali.”
“Saya pamit, Yang Mulia.” Yong Bai membungkuk sekali lagi sebelum bergegas meninggalkan tempat itu.Setelah sunyi kembali menyelimuti kediaman, Qiang Jun kembali masuk ke ruang pribadinya, lalu membuka amplop yang ia pegang. Matanya bergerak cepat membaca isi surat itu. Ternyata isinya adalah perintah untuk mempersiapkan pernikahan, sangat tidak terduga. Dan orang yang menikah dengannya adalah nona muda keluarga Ming
Wajah datar Qiang jun menyunggingkan senyuman miring. “Pernikahan? Ternyata ada gadis aneh yang mau menikah dengan pria cacat sepertiku,” gumamnya pelan.
Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat
Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb
"Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,
Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me
Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.
Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay







