Mag-log in‘Apa aku ketahuan?’
Cassey berjalan mondar-mandir di depan ranjang petidurannya. Sejak 3 hari lalu, hatinya tak nyaman dengan perubahan yang terjadi.
Di kehidupan pertama, Cassey ingat jadwal Gregoire pergi ke istana adalah hari ke-30 dalam bulan lahir Cezar. Namun sekarang, kalender kerajaan Regnum sudah memasuki Bulan Dingin. Tepatnya hari ke-3.
‘Apa Gregoire tahu aku membuka peta rahasianya, ia jadi menunda kepergian?’ batin Cassey menebak-nebak. ‘Bagaimana kalau dia menempatkan penjaga di kamarnya? Rencanaku bisa gagal.’
Tengah pusing dengan pikiran sendiri, Gregoire mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka dan terkekeh pelan. “Sayang, apa yang sedang kau susahkan? Apa kau sudah merindukanku bahkan sebelum aku pergi?”
Cassey terkesiap.
‘Astaga! Kenapa aku lupa menutup pintu?!’ tegur Cassey pada dirinya sendiri. ‘Aku harus bertingkah layaknya wanita yang tidak rela suaminya pergi lama. Aku sudah membaca adegan seperti ini.’
Demi akting, Cassey terpaksa menyentuh novel-novel yang diusulkan oleh pelayannya.
Seperti yang ia baca dari salah satu novel itu, Cassey berlari ke pelukan Gregoire, kemudian melingkarkan tangannya erat. “Apa sih yang diinginkan raja darimu? Kenapa harus lama sekali kau di sana, Greg?”
Tak kalah erat, Gregoire membalas pelukan itu sambil terkekeh senang. “Andai bisa, aku tidak akan pergi, Sayang. Mungkin lebih baik jika kita punya 2 anak.”
Wajah Cassey memerah mendengarnya. Ia merasa suaminya itu benar-benar mencintainya. Hatinya semakin ingin mencari bukti agar tuduhan pemberontakan yang dilayangkan pada keluarga Blane setahun kemudian bisa mereka tepis dengan penuh percaya diri.
“Kalau begitu cepat pulang! Aku tidak ingin sendirian di mansion besar ini,” rengek Cassey, seperti yang sudah ia latih 2 hari kemarin.
Gregoire mengecup kening Cassey cukup lama sebelum merendahkan kepalanya, melahap bibir Cassey dengan kecupan panas. “Aku akan coba untuk cepat pulang, Sayang.”
Karena sudah harus berangkat, Gregoire pun segera pamit dan naik ke dalam kereta kudanya.
Cassey menatap kosong. Pandangannya mengikuti kendaraan yang membawa sang suami pergi. Tangan sang duchess tetap melambai tinggi hingga kereta kuda tak lagi terlihat.
“Nyonya, mari masuk.” Kepala mansion, Baron Huppert Covaz, membuka jalan bagi sang duchess.
Cassey pun berbalik dan kembali ke dalam mansion bersama Hill yang menggendong Cezar.
Walau terlihat tenang melangkah seolah tidak ada masalah, pikiran Cassey ramai dengan rencana menyusup ke dalam ruang kerja Gregoire.
Hari pertama kepergian suaminya, Cassey berniat mengecek jadwal penjagaan, sekaligus melihat apakah ada pengintai rahasia yang ditempatkan Duke Blane di sekitar ruangan.
‘Setelah itu, aku baru bisa memutuskan langkah selanjutnya,’ batin Cassey mematangkan rencana dalam pikirannya.
Dengan batu kristal yang melekat di gaun-gaun miliknya, Cassey memberi imbalan pada Hill untuk mengamati perilaku para pengawal, kepala mansion dan kepala pelayan. Tentu saja dengan syarat bahwa Hill tidak boleh mempertanyakan tugasnya dan tidak boleh membocorkan pada siapapun.
Sekitar malam, Hill kembali dengan laporan.
Cassey tidak menyangka, gadis pelayan itu cukup lengkap melaporkan segala yang dia butuhkan.
“Wow! Ini luar biasa, Hill!” seru Cassey dengan nada tertahan.
Dengan dada membusung dan sambil menggosok jari telunjuk pada hidungnya, Hill membanggakan diri. “Yang seperti ini sudah biasa, Nyonya! Anda bisa mengandalkan saya!”
Ternyata, Hill sering dimintai tolong staf rumah tangga lainnya untuk menjadi pengintai keadaan, saat mereka hendak mengambil sisa makanan yang akan dibuang dari pesta.
“Ini!” Cassey memberikan satu kantong sebesar genggaman tangan pria, berisi permata, pada Hill. “Ini tambahan karena hasil pekerjaanmu bagus, Hill!”
Dengan penuh syukur Hill menerima bayarannya. “Demi Dewa Ovnyx! Bulan ini adik-adikku bisa makan 3 kali sehari, Nyonya! Terima kasih!”
Cassey terkekeh sambil menganggukkan kepala. “Kalau begitu, tolong aku untuk beberapa hari ke depan ya, Hill!”
“Siap, Nyonya!”
Setelah menganalisa laporan dari Hill, ia mulai menyusun rencana untuk hari kedua.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Cassey akan sarapan pagi di taman bunga bersama Hill yang bertugas menjemur bayi Cezar. Ia berniat mengusir para penjaga dengan alasan menyusui Cezar.
Namun, rencana itu gagal karena Hill tiba-tiba datang dengan wajah pucat. “Nyonya, gawat! Tuan muda Cezar tertidur pulas saat dijemur!”
Wajah Cassey tertegun seperti orang bodoh. Ia lupa, bayi tidak bisa diajak kerja sama. Tidak bisa diprediksi.
Menyerah, Cassey pun memutuskan, “Kalau begitu kita tunda saat makan siang nanti atau besok, Hill. Ayo, kembali ke kamar!”
Dengan langkah gontai, mereka kembali ke kamar tidur pribadi Cassey. Namun, ketika melewati kamar pribadi Gregoire, Cezar tiba-tiba terbangun dan menangis dengan kencangnya.
Semua yang mendengar tangisan tuan muda mereka pun panik. Namun, otak Cassey langsung berpikir cepat untuk memanfaatkan situasi ini.
Memasang wajah panik, Cassey mengambil putranya dari gendongan Hill.
“Astaga, Cez! Kenapa tiba-tiba menangis?! Mimpi buruk? Atau kau lapar?” tanya Cassey sambil menggoyangkan tubuhnya, menimang Cezar.
Hill yang menyadari kelakuan nyonya-nya, segera menimpali. “Nyonya, tadi Tuan muda belum sempat minum susu. Sepertinya haus dan lapar! Kita harus ke kamar!”
Tangis Cezar tak juga reda. Membuat Huppert datang dengan wajah kebingungan. “Nyonya, apa terjadi sesuatu pada tuan muda?”
Cassey mengangguk. “Sepertinya aku perlu kamar terdekat untuk menyusui, Huppert. Aku berniat menggunakan kamar suamiku ini. Cezar sudah tidak sabar.”
Mendengar itu, Huppert langsung membuka jalan. “Cepat kalian buka pintunya! Tuan muda terlihat kesusahan!”
Dua penjaga yang sejak tadi bingung pun, merasa lega, karena mendapat izin untuk membuka kamar sang duke.
“Nyonya, berapa lama waktu yang Anda perlukan?” tanya Huppert, bersiaga.
Cassey tersenyum singkat kemudian menjawab, “Cukup 8 sampai 10 menit, Huppert.”
Huppert mengangguk kemudian menutup pintu ruangan itu.
Dari dalam, Cassey bisa mendengar Huppert menyuruh dua penjaga tadi berdiri di seberang kamar, supaya tidak membuat duchess mereka merasa tidak nyaman.
Segera, Hill mengeluarkan gelas berisi susu dari Cassey yang sudah diperas pagi ini dan menyendokkannya ke mulut Cezar. Untung saja, tuan muda mereka langsung diam, menikmati makanannya.
“Aku tidak punya banyak waktu, Hill. 7 menit dan aku harus kembali.”
Hill mengangguk. “Semoga berhasil, Nyonya!”
“Tapi ini juga salah Cassian, Bu. Dia tidak bilang kalau kamarnya dengan Sarah berdampingan dan sepertinya Sarah dengar kalau sebelum dengannya Cassian menyukai Cassey.”Ratu ingin mengomel lagi, tetapi ia sudah lelah memikirkan semua itu. Jadi, ia menelan lagi semua omelannya karena ia paham. Bukan hanya Sarah yang terluka, Cassian pun terluka. “Bagaimana kalau sampai Theodore tahu?” tanya Ratu was-was. “Kalian tidak seharusnya membahas hal seperti ini sembarangan.”Lucien dan Cassian saling tatap. Dan itu cukup bagi ratu untuk tahu bahwa pertanyaannya terlambat. Theodore sudah mengetahui kebenaran itu. “Aku sudah tidak tahu harus mengatakan apa, Arvandor,” keluh Ratu Eloria pada sang raja. Ia langsung duduk sambil memijati pelipisnya. “Kau saja yang bicara pada anak-anak ini! Mereka membuatku gila!”Raja menatap dua putranya yang terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun itu. Ia menarik napas sebelum berkata, “Cassian, jelaskan pada Sarah! Lucien, jangan datangi kediaman Cassian d
“Sarah? Kau tidak apa-apa, Nak?” Ratu dan yang lainnya tampak khawatir karena pagi ini Sarah terlihat benar-benar tidak bahagia. Padahal sudah satu minggu berlalu sejak hari ia demam. Tiba-tiba saja, Sarah meneteskan air mata. Semakin lama semakin banyak dan akhirnya ia hanya bisa menangis tanpa sanggup menceritakan apapun di depan semua anggota pesta teh keluarga kerajaan. Terlebih di depan Cassey. “Aku sudahi acara pagi ini. Kalian semua pergilah. Aku akan bicara dengan Sarah berdua.”Hari ini, Duchess Forbe tidak bisa bergabung dengan pesta teh kecil mereka. Jadi, hanya ada Amaryl dan Cassey. Keduanya pun langsung pamit dengan wajah sedih dan penasaran.“Putri Amaryl, sepertinya aku akan pulang saja ke kediaman Pangeran Theo,” pamit Isolde membawa segala pertanyaan terkait Sarah dalam hatinya. “Aku juga akan kembali, Putri Cassey.” Amaryl mengangguk setuju. Ia merasa akan mendapat semua jawaban mengenai perilaku Sarah dan Cassian dari suaminya. Sekejap, mereka berpisah jalan.
Sementara itu, di kediaman Cassian. Sarah tidak lagi ‘menyerang’ Cassian tengah malam seperti yang selama ini dia lakukan. Dan sekarang Cassian jadi memikirkan tingkah Sarah yang tadi mengintai pria lain.‘Apa mungkin karena aku tidak memberikannya malam pertama, dia jadi mencari pria lain? Apa pernikahan ini akan gagal karena itu? Apa malam pertama memang harus dilakukan setelah pernikahan?’Tengah pusing dengan pikirannya sendiri, Lucien datang dengan tatapan penuh pertanyaan. Cassian bisa menebak kenapa adiknya itu mendatanginya. “Kau mau mengorek apa?”Lucien menarik napas panjang, lalu berjalan menuju sofa dan duduk di seberang Cassian. Kemudian ia berkata, “Alasan kau tidak melakukan malam pertama. Apa?”“Itu pernikahan politik,” jawab Cassian. “Aku hanya memberi Sarah ruang untuk menerima sepenuhnya pernikahan ini.”Lucien ternganga sesaat sebelum menepuk wajahnya sendiri. Frustrasi. “Dia bahkan mengejarmu, Cass! Apa lagi yang kau pertimbangkan? Kejam sekali kau membuat seora
“Wow! Aku tidak menyangka, Duke Forbe setampan itu?!” pekik Amaryl kaget. Cassey pun ikut mengangguk. “Aku juga baru kali ini melihat beliau. Ternyata dia kekar sekali.”“Bahkan para pangeran kalah!” gumam Sarah dengan mata berbinar. “Biasanya aku hanya melihat dari jauh. Dia susah sekali didekati.”Ketiga putri yang baru bergabung dengan keluarga kerajaan itu pada akhirnya tak bisa menahan rasa penasaran mereka dan memutuskan untuk mengintai di balik semak.Mereka tidak sadar kalau suami mereka mendapat laporan tingkah tak biasa ini dari prajurit bayangan milik Theodore dan langsung menuju titik di mana mereka sibuk mengintai pria lain. Pria yang sudah beristri pula. Karena tidak menyadarinya, ketiga putri itu tetap saja bertukar opini soal Duke Forbe.“Memangnya Pangeran Cassian tidak tampan?” tanya Cassey sedikit berbisik. Cassian menegang menunggu apa jawaban istrinya. Hatinya geram ketika Sarah menggelengkan kepala.“Tampan lah!” tukas Sarah bangga. “Tapi Duke Forbe tuh ketamp
“Dia sedang … liburan! Iya, liburan!” jawab Theodore sambil tersenyum. Namun, ketika Cassey tak melihat, Theodore langsung memelototi semua staf untuk meyakinkan Cassey bahwa jawabannya benar. Staf yang mengetahui kejadian pagi ini pun langsung berkata, “Benar Putri. Kepala pelayan sudah terlalu lama tidak berlibur. Dia berlibur dengan 3 pelayan lainnya.”Cassey pun mengangguk menerima informasi itu. Kemudian Thedore menambahkan, “Ingat tata krama di istanaku! Selama istriku belum membunyikan lonceng atau keluar dari kamar tidak ada satupun yang boleh mengetuk pintu kamarnya. Paham?!”“Paham, Yang mulia Pangeran!”Kepala Theodore mengangguk singkat. Memberi isyarat pada mereka untuk segera kembali bekerja. Melihat acara perkenalan sudah selesai, Cassey pun langsung mengusulkan, “Theo, ayo kita menyapa Ibunda. Ini sudah sedikit terlambat.”Setuju dengan usulan itu, Theodore pun segera meminta Adam menyiapkan kereta kuda sementara mereka berjalan menuju teras mansion.Setelah Cassey
Makan waktu 3 jam untuk Theodore dan Cassey keluar dari ruang pemandian. Selain keduanya memang harus mandi, banyak hal yang tidak bisa ditahan oleh Theodore ketika melihat Cassey.“Gaunmu di kamar,” ujar Theodore meringis. “Aku lupa menyuruh mereka membawakannya ke sini.”“Lalu bagaimana caranya aku berpakaian, Theo?” tanya Cassey panik. “Pakai jubah mandi saja dulu.”“Tapi jubahnya basah karena ulahmu!”Theodore meringis lagi. “Aku akan suruh mereka pergi dan kita bisa berlari tanpa baju ke kembali ke kamar. Bagaimana?”“Ide gila! Tidak mau!” tukas Cassey sambil mengamati sekitar. “Apa aku boleh pakai tirai ini?”Theodore mengangguk. “Ide bagus!”Baru saja Theodore berniat menarik tirai, sebuah ketukan terdengar diiringi suara seorang pelayan wanita. “Yang mulia Putri Cassey, saya membawakan pakaian putri dan pangeran.”“Oh! Ada juga yang bekerja dengan baik di mansion ini,” gumam Theodore riang. Theodore segera membuka pintu dan mengambil pakaian mereka. “Pangeran, apa nyonya b







