MasukAku adalah seorang guru Bahasa Inggris. Malam itu, aku datang ke rumah muridku untuk memberi les tambahan, tapi aku justru mendapati putriku sendiri sedang tidur bersama kakak muridku. Yang lebih mengejutkan lagi, malam itu juga aku malah merasakan kebahagiaan bersama empat orang sekaligus….
Lihat lebih banyakSuara ketukan terdengar di luar pintu kamar Melisa memaksanya membuka mata. Susah payah ia berusaha untuk terlelap, tapi kini ia harus kembali harus terjaga karena suara ketukan tersebut.
Sedikit malas Melisa menyingkap selimut dan bangkit dari ranjangnya. Wajah Fitri sang ibu adalah yang pertama tertangkap pandangan saat Melisa membuka pintu.
"Ibu, ada apa?" tanya Melisa pada Fitri Ibunya.
Wanita paruh baya itu tersenyum sebelum berkata, "Ibu bisa bicara sebentar, Mel?"
Melisa mengernyitkan kening heran. "Bicara di dalam saja, Bu," ajak Melisa.
Kedua perempuan beda generasi itu duduk di pinggiran ranjang. Melisa menatap ibunya yang terlihat sedang gelisah. Kerutan di dahi perempuan yang paling Melisa sayang, menjelaskan kegelisahan wanita itu.
"katanya ada yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Melisa saat melihat ibunya hanya diam. "Kenapa sekarang hanya diam?"
Fitri menghela nafas kasar. Seperti ia merasa berat untuk memberitahukan pada Melisa perihal kegelisahannya saat ini. Walau begitu, ia tetap harus menjelaskan pada Melisa.
"Ibu ingin menyampaikan amanat ayahmu. Yang sudah lama Ibu sembunyikan dari kamu," kata Fitri memulai.
Kening Melisa kembali mengekrut. "Amanat apa, Bu?"
Fitri terdiam sebentar sembari menatap Melisa dalam. Cepat atau lambat, semua akan terbongkar. Fitri berpikir kalau saat ini adalah waktu yang tepat menyampaikan pada Melisa.
"Ayahmu mengamanatkan pada Ibu. Bahwa, kamu tidak boleh menikahi pria lain selain pria yang sudah ayahmu pilihkan sebelumnya untukmu, Nak," jelas Fitri dengan hati-hati.
Fitri was-was dengan jantung yang sudah berdebar kencang, apalagi melihat Melisa yang tidak bereaksi apa-apa setelah mendengarnya. Gadis itu hanya diam tak mengatakan apa-apa.
"Ibu tahu kalau sekarang sudah bukan jamannya yang seperti itu, tetapi ini amanat dari ayahmu. Dan Ibu tidak mungkin melalaikannya, Mel."
Fitri semakin dibuat kacau dengan kediaman Melisa, apalagi saat gadis itu mendesah pelan. Seperti ada sesuatu yang ingin dijelaskan gadis itu, tapi takut menyakiti ibunya.
"Mel, kamu jangan diam saja. Kamu membuat Ibu resah," ujar Fitri lirih.
"Lalu, aku harus mengatakan apa, Bu?"
Fitri menghela nafas kasar. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Fitri tahu, sekarang sudah bukan jamannya hal semacan itu. Akan tetapi, ia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang diamanatkan padanya.
"Ibu tahu ini terdengar egois, tapi... Bisakah, kamu menuruti apa yang ayahmu inginkan untuk yang pertama dan terkahir, Melisa?"
Melisa menatap Ibunya. Ia melihat ada raut kesedihan di sana, tapi Melisa juga sedang berada di dalam situasi di lema. Ia bingung harus mengatakan apa, dan memutuskan apa tentang hal ini. Melisa bimbang.
"Bu, bisakah kita bicarakan ini besok saja?" pinta Melisa. "Melisa ngantuk."
Sekali lagi, Fitri menghela nafas kasar. Ia tidak bisa memaksa Melisa, ia tahu apa yang saat ini dirasakan Melisa sama seperti yang dirasakannya dulu. Fitri dan Jaka Almarhum suaminya dulu menikah karena perjodohan.
Fitri juga merasa bimbang dan di lema. Tidak tahu harus memutuskan apa, padahal waktu itu. Dia memiliki kekasih, tetapi tidak dapat menolak keinginan ayahnya yang keras. Maka dari itu, Fitri terpaksa meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan Jaka.
Walau menikah tanpa cinta, tetapi Fitri dapat hidup bahagia bersama Jaka. Pria yang dulunya menjadi alasan dirinya dan kekasihnya terpisah. Namun, seiring berjalannya waktu. Cinta di antara mereka tumbuh bermekaraan. Sehingga, menghadirkan seorang gadis, yaitu Melisa di tengah-tengah kehidupan mereka.
Meskipun begitu, ia tidak akan memaksa Melisa untuk mengikuti jejaknya. Karena ia tahu, berbeda orang akan berbeda kisah. Jadi, Fitri akan memberikan Melisa waktu untuk memikirkannya.
"Ya sudah, kamu istirahat. Maaf kalau Ibu menganggu," kata Fitri beranjak berdiri.
"Nggak, kok, Bu. Melisa nggak merasa diganggu," sahut Melisa.
Fitri membelai rambut anaknya sembari tersenyum. Lalu, mencium kening Melisa lembut dan beranjak pergi dari kamar anak gadisnya.
Kini, tinggal Melisa saja. Ia menatap tempat ibunya berjalan meninggalkan kamarnya. Ibunya sudah pergi beberapa detik yang lalu, tapi rasa gelisah yang Fitri bawa masih tertinggal di sana. Membaginya kepada Melisa, sehingga gadis itu merasa ia akan terjaga hingga besok pagi.
***Melisa berlari kecil menuruni anak tangga. Ia merutuki dirinya sejak tadi karena terbangun kesiangan. Alhasil, kali ini ia akan mendapat ceramah panjang dari dosen kiler bernama Azham.
Dosen muda, tampan, tapi dingin, cuek dan sangat galak. Siapa pun yang berurusan dengannya akan memilih pindah kampus dari pada harus bertemu dengan dosen menyebakkan sepertinya.
"Melisah!" seru Fitri dari dapur saat melihat Melisa berlari menuju pintu utama.
"Ada apa, Bu?" Melisa berhenti berlari kecil mendengar suara ibunya.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Fitri menghampiri Melisa. Di tangannya setangku roti yang sudah diolesi slai cokelat kesukaan Melisa.
"Ini Ibu buatkan roti kesukaan kamu," ucap Fitri sembari menyodorkan roti tawar di tangannya.
"Maaf, Bu. Tapi lain kali saja. Melisa lagi nggak mood," tolak Melisa membuat Fitri merasa sedih.
"Melisa berangkat sekarang," pamitnya langsung berlari keluar tanpa mencium tangan ibunya seperti biasa.
Apakah, Melisa marah padaku? Ah, sepertinya, bahkan rotinya pun tidak ia lirik sama sekali. batin Fitri.
Fitri merasa sedih akan sikap Melisa saat ini. Melisa tidak salah. Mungkin gadis itu hanya merasa kecewa, dan tidak adil. Hidup di jaman sekarang ini, dan hidupnya yang harus diatur sedemikian rupa. Pastilah, akan membuat Melisa merasa tidak adil dengan hidup yang ia jalani.
Fitri tidak menyalahkan Melisa, hanya saja menyayangkan sikap putrinya itu. Karena semua ini bukan kehendaknya. Ia hanya menyampaikan saja amanat suaminya.
Matanya mulai berkaca-kaca. Sehingga tatapannya mulai terlihat mengabur. Fitri menghela nafas kasar, dan kembali berjalan masuk ke dapur.
Sedangkan di tempat lain, Melisa sedang menggerutu tidak jelas saat dirinya harus di skors satu minggu dari kelas Azham. Ia tidak diizinkan untuk masuk akibat keterlambatannya beberapa menit saja.
"Sial!" umpat Melisa kesal.
"Kamu mengumpatiku, Melisa?" Tiba-tiba suara baraton milik Azham menggema menghantam pendengaran Melisa.
Gadis itu menoleh dan melihat ke arah Azham berdiri tepat di belakangnya. Saat ini, Melisa sedang berada di taman. Karena dirinya tidak bisa masuk ke dalam kelas dan mengikuti mata kuliah hari ini, maka ia memutuskan untuk duduk di bangku taman seperti ini.
"Eh, enggak, kok, Pak. Siapa bilang?" kilah Melisa gugup.
"Benarkah?" tanya Azham tidak percaya.
"Benar, kok, Pak." Sekali lagi Melisa mencoba meyakinkan dosennya itu.
Azham berjalan meninggalkan Melisa, membuat gadis itu mengernyitkan kening bingung.
'Tumben'. batin Melisa heran.
"Saya tambah masa skros kamu," ujar Azham sebelum benar-benar pergi. "Sebulan."
Mata dengan manik mata hazel milik Melisa membulat sempurna. Ia bertanya-tanya, apakah yang tadi di dengarnya itu benar?
Melisa beranjak berdiri dan menyusul Azham menuju ruangan pria dingin itu. Melisa berusaha menghentikan langkah panjang Azham.
"Astaga, Pak. Saya sebenarnya salah apa, sih? Cuman telat beberapa menit doang udah di skors satu bulan," protes Melisa berhasil menghentikan langkah pria di depannya. Sehingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh kekar milik Azham.
"Aduh... Jangan suka berhenti mendadak, Pak. Kan jadi sakit ini hidung saya," protes Melisa sembari mengelus hidungnga yang tadi tidak sengaja menabrak punggung Azham.
Azham hanya menatap Melisa tanpa ekspresi, bahkan ia memutar bola mata malas melihat tingkah Melisa. Yang ia anggap terbilang lebay.
"Berhenti mengoceh, Melisa. Suaramu cemprengmu itu mengganggu kesehatan telingaku," ledek Azham membuat Melisa mendengus sebal.
"Enak saja. Seperti suara Pak Azham bagus saja," balas Melisa tidak terima.
Azham mengabaikan Melisa, dan kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Melisa. Gadis itu kembali menghentikan Azham. Kali ini, Melisa berlari dan memotong jalan Azham. Ia berdiri di depan pria itu sembari merentangkan kedua tangannya tidak memberi jalan Azham.
Azham mengernyitkan kening. "Masih mau menambah skros kamu?" tanya Azham penuh dengan ancaman.
Melisa mendengus sebal. Ia menurunkan kedua tangannya sembari masih menatap Azham kesal.
"Ish, siapa yang mau?" ujarnya kesal. "Kenapa skors saya ditambah sebulan, Pak?"
"Menurut kamu?" Bukannya menjawab, Azham malah mengajukan pertanyaan membuat Melisa mengangkat sebelah alisnya.
"Lah, mana saya tahu, Pak. Yang saya tahu, saya cuma telat lima menit doang. Ini kenapa di skors sampai sebulan, sih?" jelas Melisa dengan raut wajah bingung.
"Cuma lima menit katamu? Seandainya kamu nggak telat lima menit, mungkin kamu akan tahu pentingnya disiplin waktu," jelas Azham sengaja meledek Melisa.
"Lain kali, jangan pernah menyepelekan sesuatu," lanjutnya setelah itu pergi meninggalkan Melisa yang terbengong-bengong tidak paham.
Melisa sangat susah mencerna kalimat Azham. Ia tidak paham tentang apa yang pria dingin itu sampaikan. Karena Melisa baru sadar kalau dia belum sarapan, dan sekarang perutnya sudab berteriak minta di isi. Maka dari itu, Melisa bergegas mencari Dea untuk di ajak makan di kantin kampus.
***Mia tak bisa menahan rasa takutnya dan menjerit keras.Teriakannya menembus kekacauan yang sedang terjadi.“Jangan pukul ibuku!”Teriak Mia sambil menangis saat melihatku bertarung melawan Dennis.Meski tenaganya kecil, dia tetap memberanikan diri dan menggigit lengan Dennis dengan keras.Namun, tentu saja tubuh kecilnya bukanlah tandingan Dennis. Sekali kibasan, tubuhnya langsung terhempas ke lantai.Melihat putriku jatuh, naluri keibuanku benar-benar meledak.Aku berteriak marah dan nekat menerjang Dennis seperti orang gila, sambil berteriak ke arah mereka, “Cepat pergi!”Sebuah pukulan keras dari Dennis membuatku terjatuh ke lantai dan tinju-tinjunya menerpa tubuhku tanpa ampun.Setiap pukulan membawa rasa sakit luar biasa. Tulang-tulangku terasa menjerit, otot-ototku gemetar dan setiap napas bagai sayatan.Dengan susah payah, aku membuka mata, samar-samar kulihat dua sosok kecil berlari menjauh. Saat itu juga, hatiku sedikit tenang.Asal mereka selamat, itu sudah cukup.Begitu mer
Tak lama kemudian, kesempatan pun datang.Sekarang saatnya!Aku mengepalkan tangan, mengambil jepit rambut tajam yang sejak tadi kusimpan dibawah tubuhku, lalu mengarahkan seluruh tenagaku untuk menusuk matanya.Teriakan menyayat dari mulut David langsung pecah memenuhi ruangan. Dia berguling-guling di lantai sambil memegangi matanya.Mumpung dia kesakitan dan kehilangan akal, aku dengan sigap meraih gantungan kunci di pinggang celananya dan berlari ke arah pintu.Kedua gadis kecil di belakangku sempat terkejut melihat pemandangan yang mengerikan itu. Mata mereka terbelalak, wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan.Tanganku gemetar saat mencoba membuka pintu. Beberapa kali kunci tak pas dengan lubangnya karena aku terlalu panik. Aku menahan napas dan mencoba fokus.“Aaarghh! Mataku!”David masih berteriak kesakitan di belakangku. Aku takut suara teriakannya bakal menarik perhatian Dennis. Aku pun memaksa diri untuk tetap tenang.Klik! Akhirnya terdengar suara kunci terbuka. Aku langs
Aku dan Mia saling berpelukan erat, tak tahu sampai kapan hidup dalam kurungan ini akan berakhir.Setiap kali malam tiba, seluruh ruang bawah tanah ini akan gelap gulita, bahkan sampai tak bisa melihat jari sendiri.Di tempat yang dingin dan lembap ini, aku dan putriku terjebak dan waktu seolah berjalan sangat lambat.Namun, seiring berjalannya hari, kami mulai terbiasa dengan gelap dan lembapnya tempat ini.Namun, keinginan untuk kabur justru semakin hari semakin kuat.Aku harus membawa Mia keluar dari neraka ini.Setiap kali datang memberi kami makan, hanya satu dari mereka yang muncul, entah itu David atau Dennis. Biasanya mereka hanya datang setiap tiga hari sekali.Dua hari sisanya, saat mereka tidak muncul, itulah satu-satunya kesempatan kami untuk melarikan diri.Aku mulai mengamati dinding dan lantai dengan seksama, mencari celah atau tempat tersembunyi yang mungkin bisa jadi jalan keluar.Namun, setelah menelusuri sekeliling, hasilnya nihil.Tempat ini hanyalah ruang bawah tan
Melihat sosok David yang belum pernah kulihat seperti ini, aku langsung terpaku di tempat. Kemudian, aku langsung bersujud di lantai, nyaris memohon padanya,“Mia demam tinggi, aku butuh obat penurun demam!”Namun, wajahnya sama sekali tak menunjukkan emosi, seolah semua ini tak ada hubungan dengannya.“Itu bukan urusanku.”David benar-benar tak peduli dengan permohonanku. Penderitaan dan keputusasaanku seperti tak terlihat olehnya.Aku tak percaya, itu kalimat yang keluar dari mulutnya.Di luar, hujan masih mengetuk-ngetuk jendela, seperti memukul dadaku dengan keras, menimbulkan gelombang kecemasan yang tak berhenti.Sangking putus asanya, suaraku sampai bergetar menahan tangis. Aku nekat mengungkit kenangan semalam, berharap dia mau membantu.“David, tolong… anggap saja demi diriku, berikan sedikit obat untuk Mia, ya? Dia nggak boleh terus dibiarkan begini.”Aku merendah sedalam-dalamnya, tapi tetap saja tak ada belas kasihan dari dirinya.Dengan pandangan meremehkan, dia menatapku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan