LOGIN“Nona?”
Seorang pelayan menghampiri sang majikan, membuat Dalia menoleh ke arah sosok itu.
“Hana?” gumam Dalia dengan suara serak, menyebut nama pelayan pribadinya tersebut. Gadis yang melayaninya sejak kecil itu seharusnya sudah tewas di tangan Salsa karena membela Dalia. Namun, Hana tampak nyata di hadapannya.
"Tanggal berapa ini?" tanya Dalia kemudian, ekspresi tegang wanita itu membuat Hana menatapnya bingung.
"Tanggal tiga–"
"Satu minggu sebelum ulang tahun perdana menteri?" sela Dalia, membuat Hana mengangguk cepat.
"Benar, saya sudah–"
"Bagaimana keadaan di luar?" Potong Dalia lagi dengan cepat.
Hana semakin tak mengerti dengan tingkah majikannya. "Tentu saja pagi ini seperti biasa, Nona."
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Hana khawatir.
Dalia tidak menjawab pertanyaan Hana, wanita itu memilih untuk memastikan apakah dia bermimpi atau tidak.
Dalia berulang kali memeriksa tangan dan kakinya, semuanya masih bersih. Kemudian dia beralih menatap Hana, menatap dari ujung kepala hingga kaki. Sama, Hana juga baik-baik saja.
Satu-satunya hal yang paling masuk akal saat ini adalah regresi, arwahnya kembali ke masa lalu.
Berusaha menerima dengan akal sehat manapun sulit, Dalia perlu mencerna kejadian besar ini.
Jika dia kembali ke masa lalu, maka itu artinya dia masih memiliki kesempatan untuk bertahan dan menyelamatkan kakak pertamanya, serta Hana. Bahkan mungkin bisa membalas perlakuan Salsa padanya
Turun cepat dari kasur, Dalia melangkah ke jendela dan membukanya.
Pemandangan sepi kediamannya yang seperti biasa terlihat, udara pagi yang segar kembali dia rasakan.
Kedua mata Dalia berkaca-kaca, tangannya mengepal erat menatap langit.
Tuhan memberikannya kesempatan, apa ini karena arwah ibunya yang merayu Tuhan?
Menghapus air matanya kasar, Dalia berbalik menatap Hana.
Hana masih menatapnya penuh tanda tanya, membuat Dalia tersenyum tipis dan melangkah mendekati wanita itu untuk memeluknya.
Hana terkejut, bagaimanapun Dalia adalah majikannya. Tidak enak jika membiarkan wanita itu memeluk pelayan sepertinya.
"Nona, Anda--"
"Aku akan melindungimu, Hana. Aku berjanji."
Potong Dalia, membuat Hana semakin tidak mengerti.
"Me--melindungi saya? Dari apa?" tanya Hana.
Dalia melepaskan pelukannya, bibirnya masih tersenyum. "Apa pun."
Menyadari Hana yang kebingungan, Dalia pun kembali duduk tenang di tepi ranjangnya. "Apa yang tadi ingin kamu katakan?"
Hana mengerjapkan matanya cepat dua kali, mengingat hal penting yang sempat ia lupakan.
Raut wajahnya berubah kesal. "Saya sudah mencoba mendatangi gudang bersih kediaman meminta jatah pakaian baru Anda untuk acara ulang tahun perdana menteri, namun mereka malah mengatakan tidak ada nama Anda di daftar pakaian baru! Ini pasti ulah wanita itu!"
Dalia menaikkan alis kirinya sekilas. Ah... Masalah ini.
Di kehidupan sebelumnya Dalia sempat jatuh ke jebakan Salsa, membuat ayahnya mencabut hak mengurus kediaman sebagai putri sah dan dialihkan ke Salsa.
Sejak saat itu, uang bulanan dan stok makanan sering kali diantarkan sangat terlambat. Di kediaman mereka memang tidak ada selir, ayahnya tidak menikah lagi sejak mendiang ibu kandung Dalia meninggal.
Tidak seperti putri sah keluarga bangsawan pada umumnya, terakhir kali Dalia memiliki pakaian baru adalah tiga tahun lalu.
Dan sekarang kediaman perdana menteri akan mengadakan acara besar karena ayahnya hendak berulang tahun, jika sesuai aturan, Dalia seharusnya mendapatkan jatah pakaian dan perhiasan baru.
Sebelumnya Dalia memang tidak mempermasalahkan hal ini karena berpikir dia tidak berniat tampil mencolok di sana.
Tetapi sekarang berbeda. Dalia ingin hidup tanpa penyesalan. Karenanya, Dalia akan menagih semua yang telah wanita itu ambil!
Hana menghela napas sedih. "Jika saja mendiang nyonya besar masih ada, Anda pasti tidak akan kesulitan, nona."
Dalia menatap Hana, tersenyum tipis. Hana memang selalu mempedulikannya.
"Kamu sudah mengunjungi kediaman wanita itu?" tanya Dalia.
Mendengar Dalia memanggil Salsa dengan sebutan 'wanita itu', Hana tampak sedikit terkejut.
"Maksud Anda... Nona bes--"
"Nona kedua." Tekan Dalia, pandangan matanya kembali datar seperti sebelumnya.
Hana tertegun, dia mendapati aura penuh penekanan yang tak pernah ia rasakan dari Dalia keluar.
"Gelar nona besar adalah milikku, dia bahkan tidak diberikan hak untuk menyandang marga Ishraq. Panggilan nona kedua sudah cukup baik untuknya," ujar Dalia, membuat Hana mengangguk cepat. Wanita itu mendadak diam.
Dalia berdiri, lalu melangkah melewati Hana. "Bantu aku bersiap, aku akan mendatangi kediaman perdana menteri."
Dalia tidak sudi memanggil pria itu 'ayah' lagi.
Hana terkejut. "Per--perdana menteri? Untuk ap--"
"Menagih hak milikku." Potong Dalia lagi, Hana hanya bisa menurut dan menatap penuh kebingungan.
Rasanya nona-nya sangat berbeda hari ini. Tetapi, di dalam hatinya Hana diam-diam merasa senang. Wanita itu harap nona-nya akan selalu tegas seperti ini.
"Baik, nona! Tunggu saya!" balas Hana, senyum penuh semangatnya kembali lagi.
Empat puluh lima menit kemudian, Dalia sudah rapi dengan hanfu biru muda polosnya dan tusuk rambut giok putih sederhana.
Perhiasan yang ia punya tidak banyak, tak ada satupun yang emas seperti putri bangsawan lainnya.
Dalia hanya mengenakan giok biasa atau perak, semuanya pun peninggalan mendiang ibunya yang sempat ia 'selamatkan'.
Seluruh emas peninggalan ibunya diambil alih oleh kediaman, namun Dalia tahu itu pasti akal-akalan selir Nada. Ayahnya juga pasti tak tahu akan hal ini.
Dalia berdiri dan melangkah keluar, rumput di halaman depannya mulai panjang, namun tak ada satupun pelayan yang datang untuk membersihkannya.
"Nona?"
Suara yang tak asing terdengar, sorot mata Dalia berubah berkali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Itu dia, pelayan yang mengkhianatinya, Odine.
Dalia sangat mempercainya, sampai tak sadar bahwa Odine adalah mata-mata Salsa.
"Kemana saja kamu? Nona sudah bangun sejak tadi tahu!" ucap Hana sambil mendengus tipis.
Odine tersenyum tipis, raut wajah polosnya memang tidak akan membuat siapapun akan menaruh curiga padanya.
"Saya baru saja selesai menjemur pakaian, nona. Ah... Nona, Anda mau ke mana?" Mata Odine memperhatikan penampilan Dalia sangat lekat.
Dalia tersenyum tipis seperti biasa, dia akan pastikan Odine membayar pengkhianatannya nanti.
"Perdana menteri," jawabnya singkat, Dalia berusaha menekan emosinya agar tidak menimbulkan kecurigaan apa pun.
Sesuai dugaannya, raut wajah Odine mendadak berubah. "Perdana menteri? Apa yang akan Anda lakukan?"
"Apa salah aku mengunjungi ayah kandungku sendiri?" balas Dalia, bibirnya masih tersenyum. Tetapi Odine diam-diam mulai merasakan atmosfer yang berubah dari Dalia.
Hana mendengus Odine. "Sudahlah, Odine! Jangan tidak sopan!"
Odine terkekeh tipis. "Maafkan saya, nona. Tetapi, nona besar tadi sempat berpesan jika perdana--"
"Nona besar ada di hadapanmu, Odine." Potong Dalia.
Odine mengerutkan keningnya. "Y--ya?"
"Gelar nona besar adalah milikku. Saat menyebutkan itu, memangnya tadi yang kamu maksud siapa?" balas Dalia cepat.
Odine tertegun, Dalia mendadak menegaskan posisinya? Perasaan gelisah diam-diam mulai menyelimutinya.
"Jika yang kamu maksud adalah adik angkatku, maka pelajari silsilah lebih baik lagi. Aku adalah putri sah, sedangkan dia putri angkat. Meskipun kami saudara kandung pun, gelar nona besar tetap menjadi milikku karena dia adalah adikku." Tegas Dalia.
Odine terdiam, dia tidak bisa membalas apa pun lagi.
Dalia tidak tertarik membuang waktu lebih lama, tujuannya pagi ini adalah mengunjungi ayahnya dan menegaskan siapa dirinya di kediaman ini.
Hanya dengan cara itu, dia bisa melindungi Hana. Masih ada waktu satu minggu sebelum acara besar itu dan masalah kakak pertamanya.
Sampai di halaman kediaman perdana menteri, Dalia dihadang oleh dua penjaga di pintu masuk.
"Nona, ada urusan apa Anda kemari?" tanya salah satu penjaga dengan tidak ramah.
Dalia mengerutkan keningnya. "Apa kalian berhak mengurusi urusanku?"
Dua penjaga itu cukup terkejut dengan balasan Dalia, lalu keduanya saling pandang dan menahan tawa.
Salah satunya pun menghela napas sambil menggeleng pelan. "Nona, kami tidak bermaksud untuk menyinggung Anda. Hanya saja kediaman perdana menteri bukan--"
"Minggir." Potong Dalia dingin, hendak menerobos masuk.
Tetapi penjaga yang tadi menanyakan kepentingannya dengan cepat mendorong bahunya.
Hana dengan sigap menahan tubuh Dalia agar tidak jatuh. "Lancang! Berani sekali kamu menyentuh nona pertama!" Marah Hana.
Kedua penjaga itu saling tatap lagi, kali ini mereka tertawa terang-terangan.
"Nona, perdana menteri sangat sibuk sekarang. Beliau tidak ada waktu untuk peduli pada urusan wanita muda. Jika urusan Anda benar-benar mendesak, kalau begitu..." Tangan kanannya bergerak memberi kode, menagih uang suap.
Dalia melirik dingin, lalu menatap datar penjaga itu lagi.
Melihat Dalia yang tidak merespon, penjaga itu pun tersenyum merendahkan. "Anda tidak punya uang, bukan? Bagaimana jika Anda menabung dulu dan--"
PLAK!
Dalia menampar keras pipi penjaga pintu, membuat temannya yang tadi sibuk tersenyum kini terperangah.
Penjaga yang ditampar marah dan menunjuk Dalia. "Kau! Dasar nona tidak berguna! Pantas saja perdana menteri membuangmu! Kau--!"
PLAK!
Dalia menampar lagi pipi sebelahnya, membuat keduanya kini semakin marah.
Kenapa nona pertama yang biasanya diam menerima hujatan kini melawan?
"Buka jalannya atau tindakan tidak sopan kalian akan aku bocorkan di acara ulang tahun perdana menteri secara terang-terangan."
Mendengar ancaman Dalia, wajah kedua penjaga itu menegang.
Meskipun Dalia tidak memiliki kekuatan apa pun, namun jika wanita itu mengadu di hadapan Kaisar atau bangsawan tinggi lainnya, perdana menteri pun tidak akan bisa menolong mereka.
"Nona, sepertinya yang dikatakan dua penjaga ini benar. Perdana menteri sedang--"
"Kamu membela orang asing, Odine?" potong Dalia, membuat Odine kembali terdiam.
Odine menggertakkan giginya diam-diam, kenapa Dalia sulit sekali diatur hari ini?!
Dia harus segera melaporkan ini pada Salsa, namun entah mengapa Odine merasa Dalia sulit ditipu seperti biasanya.
"Buka jalannya," perintahnya lagi. Dua penjaga itu terlihat ragu, namun melihat sorot mata Dalia yang tetap tegas dan tak berubah, mereka akhirnya memberi jalan.
Halo, pembaca setia yang terkasih. Penulis mengucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur untuk para pembaca setia Dalia. Akhirnya, kisah Dalia resmi tamat di bab 250 dan sempat memenangkan small writing contest sebagai Top Winner♡´・ᴗ・`♡. Tanpa dukungan kalian, Dalia mungkin hanya seonggok kisah balas dendam tanpa warna, karena warna dari Dalia adalah diri kalian sendiri, para pembaca yang selama ini membakar semangat penulis(๑'ᴗ')ゞ. Ada yang mau bocoran rahasia? Tapi diam-diam, ya. Jangan disebar(^・x・^). Tokoh Dalia, Gara, Cahya, Rangga, Aileen, adalah tokoh yang memiliki kehidupan nyata sehingga menginspirasi penulis. 50% cerita Dalia adalah pengalaman pribadi penulis, sementara 50% lainnya adalah fiksi sebagai kebutuhan kepenulisan. Dukung terus karya-karya penulis dengan mengunjungi profil GN penulis/sosial media pribadi penulis I*: @nadhirazahrak. Bahagia dan doa terbaik selalu untuk kalian(✿❛◡❛). •Rahasia #2: penulis minggu ini akan publish cerita kolosal-regresi rumah ta
Langkah Dalia terasa begitu pelan, seolah dunia menahan napas saat ia turun dari kereta emas itu. Salju yang menempel di anak tangga mencair begitu menyentuh hanfu phoenix merahnya, menyisakan jejak uap tipis yang menghilang ke udara dingin. Tangannya menggenggam tangan Gara—erat, mantap, dan tanpa goyah sedikit pun. Telapak tangan Gara hangat, kontras dengan dinginnya musim yang membekukan seluruh daratan Kekaisaran Timur.Di depan mereka terbentang aula megah tempat ritual pernikahan leluhur dilaksanakan, ruang terbesar dan paling sakral yang dimiliki Kekaisaran. Pintu-pintu setinggi tujuh meter terbuat dari kayu cendana merah tua terbuka perlahan. Cahaya kuning keemasan dari ratusan lentera jatuh menerangi karpet merah panjang yang membentang dari pintu masuk hingga altar leluhur.Semua pejabat tingkat tinggi berdiri di kedua sisi aula. Para tamu terhormat dari luar negeri mengenakan pakaian adat mereka, membentuk lautan warna-warna asing yang bercampur dengan kemegahan Kekai
Salju turun dengan pelan, membubuhkan lapisan putih tipis di sepanjang genting merah kediaman Ishraq. Musim dingin tahun ini tiba lebih cepat dari perkiraan, seolah langit ingin ikut merayakan hari besar keluarga bangsawan itu dengan memberikan keheningan yang suci. Di dalam kamar rias utama, cahaya lilin keemasan memantul pada permukaan perhiasan yang dikenakan Dalia, membuat seluruh ruangan tampak seperti dibungkus cahaya lembut—hangat, namun menggetarkan.Dalia duduk tenang di hadapan meja riasnya. Hanfu phoenix merah yang ia kenakan menjuntai seperti sayap api, mewah dan megah, sepenuhnya pantas untuk seorang wanita yang akan naik menjadi Permaisuri Agung. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi tusuk rambut emas bertatahkan batu garnet merah menyala, setiap gerakan kecil kepala membuat perhiasan itu berayun dan mengeluarkan suara halus yang terdengar seperti denting keemasan.Di tangannya, ia memegang kipas phoenix berlapis emas. Sementara itu, Hana berdiri di belakangnya, memak
Kediaman Sudiro tampak begitu hangat siang itu. Aroma rempah Timur yang lembut menyatu dengan wangi kayu manis dari dapur utama, memenuhi aula depan dengan rasa nyaman yang tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat siapa pun merasa diterima. Hiasan dinding dengan ukiran awan dan burung bangau menambah kesan damai yang jarang dimiliki kediaman keluarga bangsawan yang terkenal sibuk dengan perdagangan dua daratan ini.Cahya mempersilakan Adipati Felix masuk lebih dulu, sementara Aileen mengikuti di belakangnya. Gadis itu tampak sedikit gugup, meski senyum kecil tetap menghiasi wajahnya ketika melihat rumah yang begitu berbeda dengan tempat tinggalnya selama ini.Ibunda Cahya, seorang wanita lembut berwajah tenang dengan rambut hitam yang disanggul rapi, segera menyapa mereka. Ayah Cahya yang berwajah tegas namun berperawakan hangat juga memberi salam hormat kepada Adipati Felix. Kehadiran keduanya membuat suasana yang semula formal berubah lebih ringan.“Suatu kehormatan menyambu
Dari kejauhan, gerbang utama Ibu Kota tampak megah berlapis cahaya keemasan matahari pagi. Debu halus di sepanjang jalan berterbangan pelan tertiup angin, namun tak satu pun dari semua itu mampu mengusik ketegangan yang menggantung di antara dua sosok yang berdiri di hadapan gerbang.Cahya berdiri tegap, jubah biru gelapnya berkibar lembut, sementara di sampingnya Aileen menggenggam kedua tangannya gugup. Mata gadis itu sejak tadi tak lepas dari arah jalan raya panjang, berharap—dan cemas—akan siapa yang sebentar lagi tiba.“Dia pasti datang sebentar lagi,” Cahya berkata lirih.Aileen mengangguk, meski ia tidak berhasil menyembunyikan kecemasan di mata beningnya. “Ayah pasti akan banyak bertanya….”“Kau takut?” tanya Cahya hati-hati, mengalihkan pandangannya.Aileen menggigit bibirnya. “Ayah… selalu keras soal masa depanku. Terutama—”“Terutama soal pria yang akan mendampingimu.” Cahya menyelesaikan kalimatnya dengan senyum tipis.Aileen menunduk. “Ya.”Hening sebentar. Langit tampa
Dua hari telah berlalu sejak insiden besar yang mengguncang seluruh Kekaisaran. Dua hari sejak mutiara langka itu menelanjangi kebusukan para pejabat dan membuka wajah asli Wina Boyen di hadapan ratusan orang. Dua hari sejak kaisar menyeret Wina dan Perdana Menteri Onam ke penjara tanpa ampun—sebuah tindakan yang membuat para bangsawan saling berbisik takut, menahan napas, dan memikirkan ulang setiap siasat politik yang pernah mereka rancang.Dua hari yang juga membuat nama Dalia menggema lebih keras dari sebelumnya.Namun hari ini, tidak ada sorakan, tidak ada pujian, tidak ada kerumunan.Hanya sepi.Koridor batu menuju penjara adalah tempat yang jarang dilalui. Lampu minyak yang digantungkan di dinding terasa redup dan bergetar oleh angin yang merayap masuk dari celah kecil di ujung lorong. Bau besi, debu lama, dan aroma lembap menyatu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.Dalia melangkah perlahan.Mantel putih panjang membalut tubuhnya. Tudungnya menutup sebagian wajah—mengh







