Pria berambut perak yang mengenakan pakaian putih, terbaring dengan mata terpejam di hamparan rumput hijau yang luas. Perlahan, bulu mata putihnya bergerak mengedip. Bola mata terang berwarna ungu itu menatap penuh tanya ke arah langit yang berwarna hitam. Perlahan, ia berusaha mengambil posisi duduk dan memperhatikan sekitarnya. "Mimpi ini lagi," desisnya, ia sadar di mana dirinya berada. Menoleh ke arah Timur langit, bulan purnama sempurna berwarna merah darah. Bulan itu seolah memperhatikannya. Putra mahkota kekaisaran Barat, Rangga Tirta. Tak lama cahaya putih bersinar jatuh dari langit ke arahnya, membuat kedua matanya terpejam erat. Rangga berusaha membuka matanya, memastikan apa yang jatuh dari langit. Dia tahu bahwa ini alam mimpi, namun cahaya putih yang jatuh dari langit ini adalah hal baru untuknya. "Kau, naga putra langit." Suara wanita yang sangat jernih terdengar, cahaya menyilaukan pun berangsur hilang. Rangga perlahan membuka matanya, menatap ujung jubah pan
"Apa kalian selama ini memperlakukan Dalia dengan acuh?!" Giandra berdiri menatap Ayah dan adik laki-lakinya penuh perasaan kecewa. Setelah mengantar Dalia ke kediamannya dan memanggil tabib, pria itu memutuskan untuk mendatangi ruang kerja perdana menteri. Membela Dalia, satu-satunya adik perempuannya. "Tidak ada yang menjamin luka milik Dalia dibuat oleh Salsa, kak. Lagi pula bukankah Salsa sudah dijatuhi hukuman? Apa itu masih belum bisa memuaskanmu?""Belum," jawab Giandra cepat dan tegas, membuat Gibran menatapnya tidak mengerti. "Apa yang sudah kalian lakukan pada Dalia selama aku tidak di sini? Mengacuhkannya? Membiarkan putri angkat itu menginjak harga dirinya?" ujar Giandra, perdana menteri dan Gibran terdiam. "Kediaman yang usang, makanan tidak layak, jatah uang yang bahkan lebih kecil dari pelayan paling rendah sekalipun!" lanjur Giandra. "Dalia yang menceritakan semua itu padamu? Ayolah, kak... Dia tidak benar-benar seperti yang kamu bay--""GIBRAN!" Giandra membenta
Suasana hening. Dalia melangkah masuk menuju kamar pribadi Salsa. Semua barang hancur dan berserakan di lantai, mata tajamnya hanya menyapu dengan tenang. Sampai di dalam, langkahnya berhenti di hadapan ranjang yang dikelilingi kelambu. Bayangan Salsa terlihat jelas, ia duduk menekuk lutut sambil memeluk diri sendiri. "Salsa." Panggil Dalia. Dari luar, bayangan Salsa menoleh ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Wanita itu mengizinkanmu--!""Aku yang memaksa masuk, jangan salahkan Mimi." Sela Dalia. Salsa menggertakkan giginya marah, mencengkeram kain hanfu-nya sampai buku-buku jarinya memutih. "Kedatanganmu kemari untuk mencemooh ku, benar?" Dalia tetap datar, matanya menatap bayangan Salsa dingin. Ah... Waktu cepat sekali berlalu. Posisi mereka kini setara, bahkan mungkin dirinya lebih unggul sekarang. "Keluar, Dalia! Berhenti berlagak munafik! Tidak usah sok perhatian padaku! Aku tahu siasat busukmu!" Salsa mulai berteriak keras. Dalia masih diam, tidak langsung menj
Puas mengelilingi pavilliun seni dengan Cahya sebagai moderator dadakan mereka, ketiganya pun memutuskan untuk keluar dari sana. Tetapi, belum sempat Dalia dan Dara naik ke dalam kereta kuda, Dara tiba-tiba membatu.Wanita itu terpaku di posisinya, tatapannya tampak cemas seolah menatap sesuatu yang mengerikan. Dalia mengikuti arah pandang wanita itu, ia hanya bisa bingung karena yang Dalia tatap penuh keterpakuan adalah seorang nyonya yang sepertinya sibuk mencari seseorang. Tak lama, suara Cahya yang berseru terdengar. "Bibi! Wanita itu ada di sini!"Dara dan Dalia menoleh cepat ke arahnya, Dalia pun mendapati Dara semakin panik. "Berengsek!" umpat Dara kasar. "Aku akan mencambuk bokongmu jika kita bertemu lagi!" lanjutnya. Dalia bingung, namun mendengar Cahya menyenut nyonya itu 'bibi', apakah... Sang nyonya adalah ibu milik Dara? "Dalia, maaf... Ini mendadak! Aku harus pergi, kamu akan diantar pulang oleh Cahya!" ujar Dara tiba-tiba, bersiap untuk kabur. "Apa? Kenapa?" tany
Tiba di pasar, Dara penuh semangat mengajaknya kesana-kemari. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang menarik perhatian. "Bagaimana dengan pavilliun seni?" tanya Dara, mereka berdua berdiri persis di hadapan gedung besar pavilliun seni. "Kamu tertarik dengan seni?" tanya Dalia balik, sebelumnya ia berpikir bahwa Dara hanya tertarik pada ilmu bela diri. Dara terkekeh. "Tidak juga, tetapi bukankah seharian ini kamu sudah mengikuti semua yang aku suka? Sekarang giliranmu. Lagi pula, bela diri... Itu seni juga, bukan?"Dalia terkekeh. "Benar, seni bela diri. Tidak ada yang salah." Mereka berdua memutuskan untuk masuk, dengan cepat aroma wangi bunga pulm yang semerbak tercium. Dalia tersenyum tipis, ini harum ibunya. Setelahnya ia teringat saat terakhir kali kemari bersama Hana sebelumnya. Perlahan, suara alunan musik kecapi terdengar. Iramanya lembut, membuai siapapun yang mendengarnya. "Sepertinya asal suara alunannya dari sana?" ujar Dara sambil menunjuk kerumunan tak jauh dari mer
"Kenapa pria itu selalu muncul di sekitarmu?" bisik Dara saat ia mengikuti Dalia membungkuk. Dalia tidak menjawab, bagaimana mungkin dirinya tahu? Tak lama suara gelak tawa jenderal besar Maneer, disusul Faqih dan Bima terdengar. Dara mengangkat pandangannya, tersenyum lebar menatap Ayahnya. "Ayah!"Jenderal besar Maneer balas tersenyum lebar. "Ini dia belati indah keluarga Maneer ku!" "Yang mulia, perkenalkan, ini putriku." ujar jenderal besar Maneer ketika telah berdiri di sebelah adipati Gara. Adipati Gara mengangguk singkat. "Saya pernah bertemu dengannya." Lalu menatap Dara. "Anda teman nona besar Ishraq?"Dara mengangguk lebih semangat. "Anda mengingat saya? Benar, saya yang waktu itu!"Dalia terkekeh melihat Dara penuh semangat, lalu matanya beralih ke adipati Gara lagi dan tertegun. Tidak ada satu detik penuh ia sebelumnya mendapati pria itu menatap Dara, kini adipati Gara sudah menatapnya lagi seperti biasa.Tatapannya seolah buas, siap menerkam. "Kalian sedang bermain