LOGIN"Nona, dari mana Anda tahu bahwa racun itu disembunyikan di rumah para pejabat bangsawan?" tanya Hana penasaran, dia jarang melihat nona-nya banyak bicara terlebih di urusan orang asing.
Dalia hanya tersenyum tipis. "Karena aku tahu, itu saja." Hana menghela napas tipis, menyadari Dalia enggan memberitahu dia tidak berani bertanya lagi. Kemudian bibir Hana tersenyum lebih dalam. "Tetapi kenapa Anda tidak menjawab saat tuan tadi bertanya? Bukankah jika adipati Gara tahu Anda membantunya maka--" "Maka kita tidak akan tahu bencana atau keberuntungan yang akan menunggu." Potong Dalia. Hana menatap Dalia tidak mengerti. "Kenapa bisa tidak beruntung? Adipati Gara memiliki kekuatan besar yang bisa menguntungkan Anda, bukan? Bahkan lebih baik jika dia menikahi Anda." Dalia melirik tajam. "Jika kamu ingin menikah dengannya maka silahkan saja, jangan bawa namaku." Hana mengerucutkan mulutnya. "Aku kan hanya mendoakan hal baik untuk nona. Lagi pula adipati Gara juga belum menikah, tidak ada yang tahu alasannya." Dalia tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Hana yang cemberut. Adipati Gara memang memiliki kekuatan besar, saking besarnya Dalia tidak mau memiliki hubungan apa pun dengan pria itu. Pria itu adalah adik beda ibu Kaisar, selain saudara, mereka merupakan partner politik yang sangat erat. Alasan yang membuatnya lebih ditakuti daripada Kaisar adalah kebebasannya dalam membunuh siapapun, berbeda dengan Kaisar yang memiliki gerak terbatas sebagai pemimpin Kekaisaran. Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat Kaisar berarti adalah orang yang baik seperti malaikat. Mereka berdua justru tak ada bedanya, karena kemungkinan, sebagian besar pergerakan adipati Gara adalah perintah Kaisar. Dalia hanya ingin membuat kediaman Perdana Menteri membayar perlakuan mereka padanya, lalu hidup damai setelah berhasil keluar. Jika dia memiliki hubungan dengan adipati Gara, maka jalannya tidak akan sesederhana itu. Dalia menatap Hana lagi. "Kedepannya jangan bahas pria itu lagi, lebih baik kita tidak memiliki banyak interaksi dengan mereka." Hana hanya mengangguk polos, dia tidak tahu apa pun mengenai racun itu dan hanya patuh pada perintah Dalia. Sementara itu di ruang VIP Paviliun Seni, seorang pria dengan postur tubuh proposional duduk tenang sambil sesekali menyeruput teh dari gelasnya. Matanya tajam seperti elang, alis tebal berbentuk pedang, hidung mancung, dan memiliki bola mata berwarna biru. Pria itu bahkan akan tetap mencolok meskipun dirinya mengenakan pakaian compang-camping sekalipun. Adipati Gara yang memiliki nama asli Gara Abimayu. "Siapa wanita itu?" Tanyanya, suaranya berat dan tenang, terdengar tidak ada emosi sedikitpun. Raut wajahnya pun datar saat bertanya. Pria yang menjadi pemimpin pasukan patroli tadi menunduk dalam. "Wanita itu menolak menjawab, Wangye. Tetapi saya sudah meminta bantuan pada Bima untuk mengikutinya diam-diam." Tepat di sini, pintu ruang VIP mendadak diketuk. Setelah diangguki oleh adipati Gara, pintu pun dibuka dan pria lainnya muncul, Bima. "Saya sudah menyelidikinya, Wangye. Wanita yang bertemu Faqih tadi adalah nona pertama kediaman perdana menteri, Dalia Ishraq." Ruangan pun hening, Bima beralih melirik Faqih dan mereka berdua saling menggeleng pelan bingung. "Putri sulung perdana menteri?" ucap adipati Gara, mata elangnya menyipit sekilas selagi kepalanya sibuk berpikir. Mata biru tajamnya pun kembali menatap Bima. "Apa wanita itu memiliki kaitan dengan racun Huanghou?" Bima menggeleng. "Dalia Ishraq tidak pernah keluar kediamannya sejak mendiang ibunya meninggal dan Perdana Menteri mengadopsi putri baru." "Ini aneh..." gumam Faqih, membuat Bima dan adipati Gara menoleh ke arahnya. "Kenapa?" tanya Bima penasaran. Faqih menghela napas tipis. "Menurut rumor yang beredar, dulunya Dalia Ishraq senang menyakiti saudari tirinya hingga tak sengaja sering mempermalukan diri sendiri di depan umum. Sejak ibunya meninggal, wanita itu mulai menimbulkan banyak masalah sehingga dikurung Perdana Menteri dan perlahan namanya cukup dilupakan oleh orang-orang Kekaisaran. Kepribadiannya sampai sekarang terkenal buruk meskipun sudah tak pernah lagi muncul ke permukaan, namun aku juga mendengar rumor bahwa sekarang dia tumbuh menjadi wanita yang sangat pemalu." "Lalu di mana keanehannya?" tanya Bima tak mengerti. Faqih berdecak kesal. "Tentu saja aneh, tadi di depan umum dia secara berani menggertak mata-mata yang menyelundupkan racun. Dia bahkan dengan cerdas memberi saran pada penyelidikan kita." "Saran?" Adipati Gara sedikit menautkan ujung alisnya. Faqih mengangguk. "Nona pertama Ishraq memberi saran agar melakukan penyelidikan pada rumah para pejabat bangsawan tinggi." Bima menaikkan alis kirinya sekilas. "Tentu saja kita akan melakukan hal tersebut, bukan?" Faqih mengangguk sekali lagi. "Benar, namun--" "Awasi kediaman Perdana Menteri." Adipati Gara mendadak bicara, membuat Bima dan Faqih menoleh cepat. "Kediaman Perdana Menteri?" tanya keduanya bersamaan. Adipati Gara melirik dingin ke luar jendela. "Dalia Ishraq adalah putri perdana menteri dan dia mengusulkan untuk mengawasi kediaman pejabat bangsawan besar, bukankah dia juga anak dari pejabat bangsawan besar itu sendiri?" Bima tertegun. "Jadi wanita itu meminta kita untuk mengawasi kediamannya sendiri? Apa dia tahu sesuatu?" Faqih mengerutkan keningnya lebih dalam. "Tapi bagaimana jika ini jebakan, Wangye?" Bima menggeleng pelan. "Jebakan atau tidak, kasus penyelidikan kita buntu. Tidak ada salahnya untuk coba mengikuti kalimat wanita itu, bukan?" Bima dan Faqih pun kembali menatap adipati Gara. "Bagaimana, Wangye?" tanya Bima. Adipati Gara menatap dingin dua bawahannya. "Perhatikan gerak-gerik wanita itu, jika terbukti mengelabui kita, bunuh." Bima dan Faqih dengan cepat membungkuk. "Baik, Wangye. Kami mengerti." Setelah dua bawahannya pamit pergi, adipati Gara kembali menyeruput teh-nya dengan tenang. Dalia Ishraq, dia sudah lama sekali tidak mendengar nama itu. Mendiang ibu Dalia dekat dengan ibunya karena mereka sama-sama menyukai seni. Tetapi jika Dalia terbukti memiliki niat menyesatkan, dirinya tidak akan segan menyingkirkan Dalia. Entah mereka sekarang tengah berdiri di pihak yang sama atau sebaliknya. Politik sekarang terbagi dua karena harem, sampai sekarang pihak Perdana Menteri belum terlihat jelas berada di pihak siapa. Entah Huanghou atau Kaisar. Meskipun Huanghou dan Kaisar adalah suami istri, tetapi kekuatan di belakang Huanghou sangat besar. Jika tidak berhati-hati, maka Kaisar akan jatuh dan menjadi boneka politik keluarga Huanghou. Keluarga mereka sangat terobsesi untuk mengendalikan Kekaisaran. Kasus racun ini di luar masalah politik, namun mereka bergerak atas perintah Kaisar untuk melindungi selir kesayangannya. Meskipun memiliki latar belakang yang saling mencurigai, Huanghou tetap terobsesi pada cinta Kaisar. Wanita itu tidak segan menyingkirkan siapapun yang berani mencuri perhatian Kaisar. Tetapi pada dasarnya tetap kembali pada ketamakan kekuasaan. Huanghou hanya ingin menyingkirkan bibit ancaman bagi posisinya.Halo, pembaca setia yang terkasih. Penulis mengucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur untuk para pembaca setia Dalia. Akhirnya, kisah Dalia resmi tamat di bab 250 dan sempat memenangkan small writing contest sebagai Top Winner♡´・ᴗ・`♡. Tanpa dukungan kalian, Dalia mungkin hanya seonggok kisah balas dendam tanpa warna, karena warna dari Dalia adalah diri kalian sendiri, para pembaca yang selama ini membakar semangat penulis(๑'ᴗ')ゞ. Ada yang mau bocoran rahasia? Tapi diam-diam, ya. Jangan disebar(^・x・^). Tokoh Dalia, Gara, Cahya, Rangga, Aileen, adalah tokoh yang memiliki kehidupan nyata sehingga menginspirasi penulis. 50% cerita Dalia adalah pengalaman pribadi penulis, sementara 50% lainnya adalah fiksi sebagai kebutuhan kepenulisan. Dukung terus karya-karya penulis dengan mengunjungi profil GN penulis/sosial media pribadi penulis I*: @nadhirazahrak. Bahagia dan doa terbaik selalu untuk kalian(✿❛◡❛). •Rahasia #2: penulis minggu ini akan publish cerita kolosal-regresi rumah ta
Langkah Dalia terasa begitu pelan, seolah dunia menahan napas saat ia turun dari kereta emas itu. Salju yang menempel di anak tangga mencair begitu menyentuh hanfu phoenix merahnya, menyisakan jejak uap tipis yang menghilang ke udara dingin. Tangannya menggenggam tangan Gara—erat, mantap, dan tanpa goyah sedikit pun. Telapak tangan Gara hangat, kontras dengan dinginnya musim yang membekukan seluruh daratan Kekaisaran Timur.Di depan mereka terbentang aula megah tempat ritual pernikahan leluhur dilaksanakan, ruang terbesar dan paling sakral yang dimiliki Kekaisaran. Pintu-pintu setinggi tujuh meter terbuat dari kayu cendana merah tua terbuka perlahan. Cahaya kuning keemasan dari ratusan lentera jatuh menerangi karpet merah panjang yang membentang dari pintu masuk hingga altar leluhur.Semua pejabat tingkat tinggi berdiri di kedua sisi aula. Para tamu terhormat dari luar negeri mengenakan pakaian adat mereka, membentuk lautan warna-warna asing yang bercampur dengan kemegahan Kekai
Salju turun dengan pelan, membubuhkan lapisan putih tipis di sepanjang genting merah kediaman Ishraq. Musim dingin tahun ini tiba lebih cepat dari perkiraan, seolah langit ingin ikut merayakan hari besar keluarga bangsawan itu dengan memberikan keheningan yang suci. Di dalam kamar rias utama, cahaya lilin keemasan memantul pada permukaan perhiasan yang dikenakan Dalia, membuat seluruh ruangan tampak seperti dibungkus cahaya lembut—hangat, namun menggetarkan.Dalia duduk tenang di hadapan meja riasnya. Hanfu phoenix merah yang ia kenakan menjuntai seperti sayap api, mewah dan megah, sepenuhnya pantas untuk seorang wanita yang akan naik menjadi Permaisuri Agung. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi tusuk rambut emas bertatahkan batu garnet merah menyala, setiap gerakan kecil kepala membuat perhiasan itu berayun dan mengeluarkan suara halus yang terdengar seperti denting keemasan.Di tangannya, ia memegang kipas phoenix berlapis emas. Sementara itu, Hana berdiri di belakangnya, memak
Kediaman Sudiro tampak begitu hangat siang itu. Aroma rempah Timur yang lembut menyatu dengan wangi kayu manis dari dapur utama, memenuhi aula depan dengan rasa nyaman yang tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat siapa pun merasa diterima. Hiasan dinding dengan ukiran awan dan burung bangau menambah kesan damai yang jarang dimiliki kediaman keluarga bangsawan yang terkenal sibuk dengan perdagangan dua daratan ini.Cahya mempersilakan Adipati Felix masuk lebih dulu, sementara Aileen mengikuti di belakangnya. Gadis itu tampak sedikit gugup, meski senyum kecil tetap menghiasi wajahnya ketika melihat rumah yang begitu berbeda dengan tempat tinggalnya selama ini.Ibunda Cahya, seorang wanita lembut berwajah tenang dengan rambut hitam yang disanggul rapi, segera menyapa mereka. Ayah Cahya yang berwajah tegas namun berperawakan hangat juga memberi salam hormat kepada Adipati Felix. Kehadiran keduanya membuat suasana yang semula formal berubah lebih ringan.“Suatu kehormatan menyambu
Dari kejauhan, gerbang utama Ibu Kota tampak megah berlapis cahaya keemasan matahari pagi. Debu halus di sepanjang jalan berterbangan pelan tertiup angin, namun tak satu pun dari semua itu mampu mengusik ketegangan yang menggantung di antara dua sosok yang berdiri di hadapan gerbang.Cahya berdiri tegap, jubah biru gelapnya berkibar lembut, sementara di sampingnya Aileen menggenggam kedua tangannya gugup. Mata gadis itu sejak tadi tak lepas dari arah jalan raya panjang, berharap—dan cemas—akan siapa yang sebentar lagi tiba.“Dia pasti datang sebentar lagi,” Cahya berkata lirih.Aileen mengangguk, meski ia tidak berhasil menyembunyikan kecemasan di mata beningnya. “Ayah pasti akan banyak bertanya….”“Kau takut?” tanya Cahya hati-hati, mengalihkan pandangannya.Aileen menggigit bibirnya. “Ayah… selalu keras soal masa depanku. Terutama—”“Terutama soal pria yang akan mendampingimu.” Cahya menyelesaikan kalimatnya dengan senyum tipis.Aileen menunduk. “Ya.”Hening sebentar. Langit tampa
Dua hari telah berlalu sejak insiden besar yang mengguncang seluruh Kekaisaran. Dua hari sejak mutiara langka itu menelanjangi kebusukan para pejabat dan membuka wajah asli Wina Boyen di hadapan ratusan orang. Dua hari sejak kaisar menyeret Wina dan Perdana Menteri Onam ke penjara tanpa ampun—sebuah tindakan yang membuat para bangsawan saling berbisik takut, menahan napas, dan memikirkan ulang setiap siasat politik yang pernah mereka rancang.Dua hari yang juga membuat nama Dalia menggema lebih keras dari sebelumnya.Namun hari ini, tidak ada sorakan, tidak ada pujian, tidak ada kerumunan.Hanya sepi.Koridor batu menuju penjara adalah tempat yang jarang dilalui. Lampu minyak yang digantungkan di dinding terasa redup dan bergetar oleh angin yang merayap masuk dari celah kecil di ujung lorong. Bau besi, debu lama, dan aroma lembap menyatu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.Dalia melangkah perlahan.Mantel putih panjang membalut tubuhnya. Tudungnya menutup sebagian wajah—mengh







