ANMELDEN"Nona, gawat! Pakaian yang sempat saya cuci tadi malam kini penuh dengan kotoran! Bahkan beberapa bagiannya terpotong!" Hana melapor dengan napas terengah-engah.
Pagi ini saat hendak membantu Dalia menyiapkan diri untuk acara ulang tahun perdana menteri, Hana ingin mengambil pakaian baru yang akan dikenakan Dalia. Tetapi sayang, dia malah mendapati pakaian itu sudah menggenang di genangan air bercampur tanah. Wajah Hana menahan tangis, sepertinya wanita itu kebingungan, marah, dan sedih atas apa yang menimpanya. Acara ulang tahun perdana menteri dilaksanakan pagi menjelang siang, waktu Dalia untuk bersiap pun tidak banyak. Dalia tersenyum tipis dan mengelus kepala Hana. "Lupakan baju itu, aku juga tidak berniat mengenakannya." Hana terlihat keberatan. "Tetapi, nona... Jika Anda datang di acara itu hanya dengan baju sederhana, Anda akan menjadi bahan tertawaan. Perhatian juga pasti hanya jatuh di nona Salsa!" Dalia terkekeh tipis melihat Hana sangat bersemangat membantunya untuk tampil maksimal. Dia pun mencubit pelan pipi Hana. "Sudah, jangan menangis. Kita tidak memiliki banyak waktu, Hana. Buang saja baju itu." Melihat Dalia yang masih tetap terlihat tenang di situasi seperti ini pun hanya bisa membuat Hana menghela napas pasrah. Sementara Dalia melirik dingin baju-baju yang sudah kotor dan sobek itu. Ini pasti ulah Salsa, wanita itu tidak akan mengizinkannya tampil mencolok. Dia sedang terobsesi dengan perhatian Kaisar. Dibantu Hana, Dalia berhasil merias diri meskipun hanya mengenakan hanfu putih dengan motif sederhana, serta rambut yang disanggul setengah dengan tusuk rambut perak bunga teratai. Dia sengaja tidak mengenakan pakaian baru, baik dari pemberian kediaman perdana menteri ataupun baju yang sempat ia beli sendiri. Selama ini dirinya selalu mengalah hingga menjadi korban, mengapa tidak sekalian saja ia di acara ini berpenampilan sangat sederhana layaknya 'korban'? Bukankah menjadi glamour untuk memikat Kaisar adalah tujuan Salsa? Dalia tidak akan menahannya. Pertunjukkan 'putri sederhana yang mengungkap kebusukan putri licik', bukankah semua orang akan menyukainya? Dengan Salsa yang merusak bajunya, justru sangat membantu Dalia. Wanita itu tidak perlu pusing lagi mencari alasan agar tidak mengenakan pakaian mewah yang disiapkan perdana menteri. "Di mana Odine?" tanya Dalia dengan tatapan dingin. Hana menggeleng pelan. "Saya juga mencarinya pagi ini, apa perlu--" "Lupakan." Potong Dalia, kemudian ia melirik Hana. "Periksa jalur Selatan, apakah ada orang yang diam-diam menunggu kita di sana." Hana mengerutkan keningnya. "Untuk apa, nona? Apa Anda memiliki--" "Tidak, periksa saja. Jika sudah mendapatkan jawabannya segera kembali, jangan membuat pergerakan apa pun." Potong Dalia tegas. Hana mengangguk patuh meskipun dia tidak mengerti maksud dari perintah majikannya. Dalia tidak akan membiarkan kajadian buruk di masa lalu terulang kembali. Di kehidupan sebelumnya saat dia menuju aula besar kediaman perdana menteri, seorang pelayan misterius yang membawa ember berisi air menabraknya. Lengan hanfu-nya basah, namun karena sudah tidak sempat berganti pakaian, Dalia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Sekarang ia curiga bahwa Odine lah pelayan misterius itu, karena sebelumnya terlalu kalut, Dalia lengah dan tidak memikirkan detail kecil ini. Saat pemeriksaan dan jarum perak pendeteksi racun itu menghitam begitu menyentuh lengan hanfu-nya yang basah, dia pun dikurung dan disiksa habis-habisan. Tak lama Hana kembali, wanita itu sudah memasang raut wajah cemas. "Nona, Anda benar. Ada seseorang yang menunggu kita, tetapi... Sepertinya itu... Odine?" Dalia tersenyum dingin dan berdiri. "Kalau begitu kita lewat jalur selatan." "Eh? Tetapi bukankah jalur itu terlalu jauh dari aula besar?" tanya Hana karena mereka sudah cukup terlambat. Dalia hanya mengangguk singkat, tidak memberikan penjelasan apa pun. Lebih baik terlambat lebih lama daripada memaksakan diri untuk masuk ke jebakan musuh. Ada dua jalur menuju aula besar kediaman perdana menteri, yaitu jalur utara dan selatan. Jalur selatan yang lebih jauh jaraknya jarang dilalui oleh para pelayan, bahkan tanaman di sana tidak dirawat. Banyak tumbuhan dan pohon liar di mana-mana. Di tengah jalan, langkah Dalia berhenti. Mata tajam wanita itu menatap penuh waspada ke arah depan, lalu menarik lengan Hana untuk bersembunyi di balik pohon besar. "Nona, ada apa?" tanya Hana dengan nada berbisik. Dalia hanya menggeleng pelan dan memberi isyarat untuk tidak berisik. Perlahan ia berusaha mengintip, di depan sana ada sekumpulan orang berpakaian hitam. Tetapi yang paling menonjol di antara mereka adalah pria yang menganakan baju khas keluarga kerajaan, ada ukiran naga yang terbuat dari benang perak. Pria itu adalah Gara Abimayu, adipati besar Kekaisaran sekaligus adik beda ibu Kaisar saat ini. Dia adalah pria paling berkuasa kedua setelah Kaisar, berurusan dengannya adalah hal buruk yang berujung pada kematian. Begitu kata orang-orang. "Cari sampai dapat orang yang memegang racun dari Huanghou, jangan sampai mengenai Nadine Guifei. Ini perintah Kaisar." "Baik, Wangye!" Seketika sekumpulan orang itu melesat pergi, menyisakan Gara dan dua pria yang tak terlihat wajahnya. Pandangan mata Dalia sedikit mendingin puas, Adipati Gara benar-benar mengikuti ucapannya? Begitu melihat adipati Gara melangkah pergi, Dalia perlahan hendak keluar dari persembunyiannya. Tetapi tiba-tiba adipati Gara berhenti dan berbalik, melempar belati ke arahnya. ZAP! Dalia membatu di posisinya, dia terkejut bukan main. Belati itu melesat tepat di samping kepalanya, jika dia bergerak lebih dari ini, maka sudah pasti akan menancap kepalanya. Tusuk rambut teratai Dalia menancap di batang pohon lainnya bersama belati adipati Gara. Dua pria secara mengejutkan muncul di belakang Dalia dan Hana, kemudian menahan paksa tubuh mereka untuk berlutut. "Siapa?" tanya Gara, mata elangnya menatap tajam Dalia.Halo, pembaca setia yang terkasih. Penulis mengucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur untuk para pembaca setia Dalia. Akhirnya, kisah Dalia resmi tamat di bab 250 dan sempat memenangkan small writing contest sebagai Top Winner♡´・ᴗ・`♡. Tanpa dukungan kalian, Dalia mungkin hanya seonggok kisah balas dendam tanpa warna, karena warna dari Dalia adalah diri kalian sendiri, para pembaca yang selama ini membakar semangat penulis(๑'ᴗ')ゞ. Ada yang mau bocoran rahasia? Tapi diam-diam, ya. Jangan disebar(^・x・^). Tokoh Dalia, Gara, Cahya, Rangga, Aileen, adalah tokoh yang memiliki kehidupan nyata sehingga menginspirasi penulis. 50% cerita Dalia adalah pengalaman pribadi penulis, sementara 50% lainnya adalah fiksi sebagai kebutuhan kepenulisan. Dukung terus karya-karya penulis dengan mengunjungi profil GN penulis/sosial media pribadi penulis I*: @nadhirazahrak. Bahagia dan doa terbaik selalu untuk kalian(✿❛◡❛). •Rahasia #2: penulis minggu ini akan publish cerita kolosal-regresi rumah ta
Langkah Dalia terasa begitu pelan, seolah dunia menahan napas saat ia turun dari kereta emas itu. Salju yang menempel di anak tangga mencair begitu menyentuh hanfu phoenix merahnya, menyisakan jejak uap tipis yang menghilang ke udara dingin. Tangannya menggenggam tangan Gara—erat, mantap, dan tanpa goyah sedikit pun. Telapak tangan Gara hangat, kontras dengan dinginnya musim yang membekukan seluruh daratan Kekaisaran Timur.Di depan mereka terbentang aula megah tempat ritual pernikahan leluhur dilaksanakan, ruang terbesar dan paling sakral yang dimiliki Kekaisaran. Pintu-pintu setinggi tujuh meter terbuat dari kayu cendana merah tua terbuka perlahan. Cahaya kuning keemasan dari ratusan lentera jatuh menerangi karpet merah panjang yang membentang dari pintu masuk hingga altar leluhur.Semua pejabat tingkat tinggi berdiri di kedua sisi aula. Para tamu terhormat dari luar negeri mengenakan pakaian adat mereka, membentuk lautan warna-warna asing yang bercampur dengan kemegahan Kekai
Salju turun dengan pelan, membubuhkan lapisan putih tipis di sepanjang genting merah kediaman Ishraq. Musim dingin tahun ini tiba lebih cepat dari perkiraan, seolah langit ingin ikut merayakan hari besar keluarga bangsawan itu dengan memberikan keheningan yang suci. Di dalam kamar rias utama, cahaya lilin keemasan memantul pada permukaan perhiasan yang dikenakan Dalia, membuat seluruh ruangan tampak seperti dibungkus cahaya lembut—hangat, namun menggetarkan.Dalia duduk tenang di hadapan meja riasnya. Hanfu phoenix merah yang ia kenakan menjuntai seperti sayap api, mewah dan megah, sepenuhnya pantas untuk seorang wanita yang akan naik menjadi Permaisuri Agung. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi tusuk rambut emas bertatahkan batu garnet merah menyala, setiap gerakan kecil kepala membuat perhiasan itu berayun dan mengeluarkan suara halus yang terdengar seperti denting keemasan.Di tangannya, ia memegang kipas phoenix berlapis emas. Sementara itu, Hana berdiri di belakangnya, memak
Kediaman Sudiro tampak begitu hangat siang itu. Aroma rempah Timur yang lembut menyatu dengan wangi kayu manis dari dapur utama, memenuhi aula depan dengan rasa nyaman yang tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat siapa pun merasa diterima. Hiasan dinding dengan ukiran awan dan burung bangau menambah kesan damai yang jarang dimiliki kediaman keluarga bangsawan yang terkenal sibuk dengan perdagangan dua daratan ini.Cahya mempersilakan Adipati Felix masuk lebih dulu, sementara Aileen mengikuti di belakangnya. Gadis itu tampak sedikit gugup, meski senyum kecil tetap menghiasi wajahnya ketika melihat rumah yang begitu berbeda dengan tempat tinggalnya selama ini.Ibunda Cahya, seorang wanita lembut berwajah tenang dengan rambut hitam yang disanggul rapi, segera menyapa mereka. Ayah Cahya yang berwajah tegas namun berperawakan hangat juga memberi salam hormat kepada Adipati Felix. Kehadiran keduanya membuat suasana yang semula formal berubah lebih ringan.“Suatu kehormatan menyambu
Dari kejauhan, gerbang utama Ibu Kota tampak megah berlapis cahaya keemasan matahari pagi. Debu halus di sepanjang jalan berterbangan pelan tertiup angin, namun tak satu pun dari semua itu mampu mengusik ketegangan yang menggantung di antara dua sosok yang berdiri di hadapan gerbang.Cahya berdiri tegap, jubah biru gelapnya berkibar lembut, sementara di sampingnya Aileen menggenggam kedua tangannya gugup. Mata gadis itu sejak tadi tak lepas dari arah jalan raya panjang, berharap—dan cemas—akan siapa yang sebentar lagi tiba.“Dia pasti datang sebentar lagi,” Cahya berkata lirih.Aileen mengangguk, meski ia tidak berhasil menyembunyikan kecemasan di mata beningnya. “Ayah pasti akan banyak bertanya….”“Kau takut?” tanya Cahya hati-hati, mengalihkan pandangannya.Aileen menggigit bibirnya. “Ayah… selalu keras soal masa depanku. Terutama—”“Terutama soal pria yang akan mendampingimu.” Cahya menyelesaikan kalimatnya dengan senyum tipis.Aileen menunduk. “Ya.”Hening sebentar. Langit tampa
Dua hari telah berlalu sejak insiden besar yang mengguncang seluruh Kekaisaran. Dua hari sejak mutiara langka itu menelanjangi kebusukan para pejabat dan membuka wajah asli Wina Boyen di hadapan ratusan orang. Dua hari sejak kaisar menyeret Wina dan Perdana Menteri Onam ke penjara tanpa ampun—sebuah tindakan yang membuat para bangsawan saling berbisik takut, menahan napas, dan memikirkan ulang setiap siasat politik yang pernah mereka rancang.Dua hari yang juga membuat nama Dalia menggema lebih keras dari sebelumnya.Namun hari ini, tidak ada sorakan, tidak ada pujian, tidak ada kerumunan.Hanya sepi.Koridor batu menuju penjara adalah tempat yang jarang dilalui. Lampu minyak yang digantungkan di dinding terasa redup dan bergetar oleh angin yang merayap masuk dari celah kecil di ujung lorong. Bau besi, debu lama, dan aroma lembap menyatu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.Dalia melangkah perlahan.Mantel putih panjang membalut tubuhnya. Tudungnya menutup sebagian wajah—mengh







