Share

Bab 89

Author: Bilkis29
last update publish date: 2026-09-12 20:50:31

Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.

Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk.

Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 90

    Suasana ruang makan malam itu terasa hangat dengan cahaya lampu gantung yang lembut, menyinari meja panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik bersih dan hidangan lezat yang mengundang selera. Aroma masakan rumah yang harum—tumis sayuran segar, sup hangat, dan lauk pauk yang menggugah selera—tercium memenuhi ruangan, namun bagi Casandra, keindahan dan kehangatan itu justru terasa seperti cemoohan yang tajam yang menusuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki. Casandra duduk di kursi roda yang diletakkan di dekat ujung meja, tubuhnya yang kurus kering terasa begitu tenggelam di antara bantal-bantal penyangga. Pakaian yang dikenakannya terasa longgar, seolah-olah tidak lagi memiliki tubuh yang cukup untuk mengisinya. Wajahnya yang pucat pasi tanpa semburat merah muda, dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan bibir yang kering kerontang, kontras sekali dengan Rina yang duduk di sisi lain meja, tepatnya di samping Rendra. Mata Casandra bergerak perlahan, seolah te

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 91

    Suara tangis yang tertahan, pilu namun terdengar sengaja dikeraskan, menggema dari balik pintu kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Casandra. Di lorong rumah yang luas dan tenang itu, Rendra berdiri tegak dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk, sementara di sampingnya Rina berdiri diam dengan senyum tenang yang terukir di bibirnya. Hati Rina sama sekali tidak merasa terganggu—ia sudah sangat paham betul pola pikir dan kelakuan Casandra; setiap isak tangis itu hanyalah sandiwara yang disusun rapi untuk memancing perhatian dan rasa iba, terlebih lagi dari Rendra. “Ijinkan aku berbicara padanya sebentar, Rin,” ucap Rendra dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan rasa tidak tenang yang sesekali muncul karena kebiasaan lamanya. Rina menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas, lalu mengangguk lembut. “Silakan, Rendra. Aku tidak melarangmu. Hanya saja, hati-hati... jangan sampai terhanyut lagi dalam cerita yang mungkin tak sepenuhnya juju

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 88

    Suasana di ruang tengah rumah Rendra terasa begitu pekat, dipenuhi kebisuan yang berat namun sarat makna. Rendra masih menggenggam erat gawai di tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya, kebenaran yang terpampang nyata lewat foto itu akan lenyap begitu saja. Foto itu menampilkan wajah Casandra yang tak lagi bercahaya, tak lagi berhias keangkuhan atau kepura-puraan yang cerdik. Yang terlihat hanyalah sosok manusia yang terperangkap dalam kehancuran fisik yang luar biasa—tulang belulang terlihat jelas di balik kulit yang kering dan kusam, kepala yang gundul tak berpenutup, dan sorot mata yang dulunya tajam kini redup bagai lilin yang hampir habis. Pesan dokter yang menyertai foto itu terngiang kembali di benaknya, menusuk-nusuk kalbu: “Kondisi pasien sangat kritis. Estimasi waktu yang tersisa paling lama satu tahun, dan itu pun dengan perawatan maksimal tanpa jaminan perbaikan.” Belum sempat Rendra mencerna seluruh rasa kaget yang melanda jiwanya, pintu depan terbuka perl

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 89

    Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk. Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang telah lama dipendam. Casandra duduk di sana dengan tubuh yang terlihat begitu ringkih, wajahnya pucat pasi, tulang-tulang pipinya menonjol jelas karena kurus yang luar biasa akibat diet ekstrem dan perlakuan medis yang kini menimpanya sungguh-sungguh. Namun, di balik kelopak matanya yang sering terpejam lemah, ada kilatan lain yang tak mudah terlihat—kilatan kebencian, kecemburuan yang meluap, dan ambisi yang tak kunjung padam meski situasinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. R

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 87

    Ruangan rawat mewah itu kini berubah menjadi panggung yang sunyi dan mencekam, namun penonton yang dulu setia—Rendra, Bu Widya, dan Rina—tak kunjung menampakkan diri. Sudah tiga hari sejak percakapan yang penuh tuduhan dan ketegangan itu, pintu kamar Casandra tak lagi terbuka untuk mereka. Hanya perawat dan dokter yang datang silih berganti, namun kehangatan serta perhatian yang dulu ia nikmati telah lenyap sepenuhnya. Casandra duduk di tepi tempat tidur, jari-jarinya meraba kulit kepalanya yang kini benar-benar gundul, halus tanpa sehelai rambut pun. Ia bukan lagi sekadar memakai rambut palsu atau merias wajah pucat. Ia melangkah terlalu jauh, didorong oleh ambisi yang membabi-buta dan ketakutan akan kegagalan rencananya. Demi membuat bukti yang tak terbantahkan, ia rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk menyogok seorang dokter spesialis yang serakah dan terdesak. Dokter itu bersedia mengabulkan permintaan gila itu: mendiagnosisnya seolah menderita kanker rahim ganas, dan

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 86

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kamar rawat Casandra yang biasanya selalu tertutup rapat. Ruangan itu terasa berbeda—tidak lagi suram dan sunyi seperti yang ia inginkan. Rendra duduk di kursi dekat tempat tidur, namun hari ini tatapannya tidak lagi penuh belas kasihan yang tanpa syarat. Ada kilatan tajam yang selama ini coba dihindari oleh Casandra. Ia baru saja mengeluh tentang rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya dan kekakuan pada persendian jari tangannya saat bangun tidur, berusaha meyakinkan bahwa kondisinya semakin memburuk. Namun, jawaban yang ia harapkan berupa kepanikan dan permohonan maaf dari Rendra justru tidak datang. "Kau bilang sakit di seluruh badan dan jari-jari kaku, Cas?" tanya Rendra dengan nada datar, tenang namun menusuk. Ia tidak langsung mendekat untuk memeriksa seperti biasanya. "Aneh sekali. Dokter yang baru saja ke sini tadi pagi mengatakan hasil tes laboratoriummu semalam justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan fungsi tubuh

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status