Share

Mari berteman

"Jika aku melapor pada polisi, kamu dan keluargamu tidak akan selamat!" tambah pria itu lagi.

Hani masih terdiam di atas pohon. Masih belum mau beranjak dari tempat itu. Dia merasa masih berniat menyelesaikan hidupnya malam ini. Sedikit menunggu, dan membiarkan pria itu pergi. Sayangnya, pria itu enggan pergi. Dia masih berdiri di bawah sana, membuat Hani merasa risih sendiri.

"Kamu tahu kalau di pohon itu ada penunggunya?" tanya pria itu.

Mendengar itu, Hani menggeleng.

"Jika kamu terus berada di situ, penunggunya bisa marah lho." Pria itu berusaha menakuti Hani.

Hani terdiam dan mendengarkan pria itu.

"Jika penunggunya marah, bisa-bisa mata kamu dicungkil olehnya," ucapnya lagi dengan suara yang dibuat mengerikan. Membuat bulu roma Hani berdiri.

"Kamu mencoba membohongi aku kan?" tanya Hani, kesal.

"Aku tak biasa berbohong. Aku kan sudah lama berada di sini. Jadi, aku tahu siapa saja yang pernah menjadi korbannya," ucap pria itu meyakinkan, hingga membuat Hani bergidik ngeri.

"Ayo, turun?" bujuk pria itu.

"Baiklah, aku akan turun!" ucap Hani, "tapi--"

"Kenapa lagi?" Pria itu bingung menatap Hani.

"Aku tak tahu cara turunnya bagaimana," jawab Hani dengan polosnya dan berhasil membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.

"Terus tadi kamu panjat pohonnya tadi bagaimana?" Pria itu bertanya dengan masih tak bisa menahan tawanya.

Hani menggeleng. Dalam hatinya, juga bingung. Bagaimana bisa dia memanjat pohon setinggi ini tadi? Mungkin karena sudah terlampau emosi, jadi secara tak sadar Hani melakukannya. Dan tiba-tiba dia sudah berada di atas pohon itu.

"Bagaimana bisa tadi waktu kamu panjat pohon itu bisa sampai ke atas itu? Terus, kok sekarang mau turun tak bisa?" tanya pria itu lagi. Sekarang, dia sudah tertawa.

"Ya sudah! Biar aku di sini aja. Kamu pergilah!" ucap Hani kesal.

"Ya sudah, kamu lompat saja dari atas, mudah bukan?" jawab pria itu asal, sambil berpikir bagaimana caranya biar wanita yang tak berpikir panjang itu bisa turun dari atas pohon.

Brukk!

Tanpa menunggu lama, tubuh Hani lalu jatuh tepat di depan pria itu yang refleks tangannya menangkap tubuh Hani.

Mereka berdua sama-sama membulatkan matanya masing-masing.

Pria itu sama sekali tak menyangka Hani senekat itu mengikuti apa katanya tadi. Sedang Hani terkejut. Bagaimana bisa pria itu mempunyai insting yang tinggi?

Tadi, Hani melompat turun tanpa aba-aba, tapi tangan pria itu begitu sigap menangkapnya hingga tubuhnya tak jatuh ke tanah.

Untuk beberapa saat keduanya terpaku, dengan pikiran mereka masing-masing.

"Boleh aku turun?" tanya Hani akhirnya.

"Tentu saja," jawab pria itu sambil menurunkan serentak kedua tangannya, membuat tubuh Hani langsung jatuh ke tanah.

"Awww sakit," teriak Hani.

Pria itu mengulurkan tangannya membantu Hani untuk berdiri. "Sakit ya?"

Hani menggeleng.

"Kok bisa tak sakit?" tanya pria itu bingung. Hani berjalan dengan menahan punggungnya yang terasa sangat sakit. Sementara itu, pria tersebut mengikutinya dari belakang.

"Dasar wanita aneh!" gerutunya pada wanita yang berada di depannya itu.

"Aku mendengarkannya," ucap Hani kesal.

Keduanya lalu duduk di bangku taman panjang di sana.

******

Lama mereka di sana. Namun, pria itu hanya diam saja karena tahu Hani sedang menangis. Sungguh, dia hanya berniat menemani Hani agar tak lagi melakukan perbuatan percobaan bunuh diri seperti tadi.

Sepertinya satu jam telah berlalu, hingga akhirnya tangis Hani mereda.

Pria itu segera menyodorkan sapu tangannya pada Hani. "Usap wajah kamu!"

Melihat itu, Hani menerima sapu tangan itu lalu mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.

"Terima kasih!" Hani mengembalikan sapu tangan tadi.

Pria itu menolaknya. Jelas, sapu tangan itu sudah kotor oleh air mata Hani, kan? Namun, dengan sopan, dia berkata, "Tak usah, besok saja."

Seketika Hani tersadar kalau sapu tangan itu sudah kotor, "Maaf."

"Hmmm!"

Hani menunduk malu. "Maafkan aku, sudah merepotkan Anda."

"Kamu baru sadar sekarang kalau perbuatan kamu itu merepotkan orang lain?" tanya pria itu.

Hani mengangguk lesu.

"Besok-besok jangan diulangi lagi."

Hani mengangguk lagi. Entah mengapa, rasanya dia ingin menurut pada setiap perkataan pria ini. Suaranya terdengar mendominasi.

Namun, dia begitu terkejut dengan ucapan pria itu selanjutnya, "Kenapa kamu bodoh sekali?"

"Hah, maksud Anda apa ya, pak?"

"Bodoh, ya kamu itu bodoh. Jika malam ini kamu mati, apa kamu pikir bisa langsung ke Surga?"

Hani menggeleng. Dia sadar kebodohannya.

"Jika kamu mati, orang yang menyakiti kamu saat ini pasti akan merasa senang."

Benar kata pria yang berada di sampingnya ini. Mas Bram dan keluarganya mungkin akan senang karena rahasia mereka akan tersimpan selamanya.

"Kamu mau aku beritahu sebuah rahasia?"

Hani mengangguk. Dia penasaran sekali. Dengan kode, pria itu meminta Hani memberi telinganya untuk mendengar perkataannya, "Balas dendam!"

"Buat orang yang pernah menyakiti hatimu untuk bertekuk lutut di hadapan kamu!" bisik pelan pria itu di telinga Hani.

Hani membulatkan matanya. "Maksudnya, balas dendam itu apa ya pak?" tanyanya tak mengerti.

"Dasar wanita aneh!" Pria itu kesal sekali. Wanita ini bodoh apa bukan sih?

"Aku kasih tahu ke kamu, ya! Balas dendam itu adalah melakukan sebuah perbuatan yang bisa menyenangkan hati kamu. Tentunya, dengan mencelakai orang yang telah menyakiti kamu," ucapnya penuh penekanan.

"Apa pak? Kalau itu, saya tak bisa."

"Saya akan bantu. Kamu mau apa tidak?"

"Saya pikir dulu ya, pak," balas Hani.

"Mau pikirnya sampai kapan?" tanya pria itu mulai kesal.

"Ya, sampai saya mengerti."

Pria itu menepuk keningnya, berhadapan dengan Hani yang sungguh sangat polos. "Ya sudah, sekarang kamu masuk ke kamarmu, istirahat dulu, besok kan para pelayan harus bangun cepat."

"Oh iya yah. Kenapa saya bisa lupa?" Hani baru tersadar bahwa dia harus bekerja keesokan paginya.

"Terima kasih pak, sudah menolong saya malam ini." Hani membungkukkan badannya, lalu berlalu pergi dari hadapan pria itu.

"Tunggu! Nama kamu siapa?'

Hani menoleh saat pria itu kembali memanggilnya. "Saya Hani, pak."

"Mari berteman!" ajak pria itu.

Hani menganggukkan kepalanya, membuat pria itu tersenyum kecil melihat punggung Hani menghilang menuju ke kamar belakang.

****

Hani masuk ke kamarnya. Gegas dia membasuh muka dan mencuci kakinya lalu naik ke atas tempat tidurnya. Tubuhnya terlalu lelah, tak membutuhkan waktu lama matanya kini terpejam dan terlelap dalam tidurnya.

Berharap keesokan paginya, Hani sudah bisa menata hatinya.

Berpura-pura baik-baik saja, lebih baik dari pada harus memikirkan apa yang harusnya tak dia pikirkan. Selama melakukan pekerjaannya. Di telinga Hani terus terngiang kata balas dendam.

"Haruskah aku mengikuti ide pria itu?" Hati Hani menjadi bimbang, dia tak tahu kemana lagi arah tujuannya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status