Share

Kemarin yang Tidak Terbalas
Kemarin yang Tidak Terbalas
Penulis: Yunita

Bab 1

Penulis: Yunita
2 jam kemudian Moses baru menyadari bahwa aku sudah tidak ada.

Nada dering ponselnya adalah lagu rock yang sedang populer di luar negeri.

Aku tidak pernah menyukainya. Dulu aku pernah dengan manja memintanya mengganti itu dengan musik yang kusukai.

Namun Moses sangat tidak senang.

Aku masih mengingat jelas nada suaranya yang dingin dan keras, “Apa semuanya harus mengikuti kemauanmu?”

Aku merasa sangat malu dan segera meminta maaf.

Namun barusan, sahabatku Valen tiba-tiba mengunggah status baru di media sosial.

[Dasar menyebalkan. Lagu yang kurekomendasikan untuk si bodoh itu 3 bulan lalu sudah kudengar hingga muak, tetapi ternyata dia masih memakainya ….]

Tiga menit yang lalu, Moses membalas komentarnya.

[Siapa si bodoh itu?]

Valen langsung menjawab.

[Dirimu!]

Ponselku masih terus berdering.

Tiba-tiba aku ingin tertawa. Sebenarnya, berapa hati yang dimiliki Moses hingga bisa bimbang di antara 2 wanita sekaligus?

Karena aku tidak kunjung mengangkat telepon, rentetan panggilan itu berubah menjadi pesan.

[Sebenarnya kamu pergi ke mana? Berhentilah merajuk, ya? Ini sudah malam, aku benar-benar lelah ….]

Moses terus mengeluh.

Mungkin karena benar-benar khawatir, sopir yang mengantarku tiba-tiba berbicara lagi.

“Nona, mungkin kamu belum tahu. Lusa kemarin, di terminal itu terjadi kasus pemerkosaan. Korbannya bahkan tidak berhasil diselamatkan. Seluruh kota pun dibuat gempar.”

“Jadi saya benar-benar kaget saat melihatmu sendirian malam ini. Kalau jadi orang tuamu, saya pasti tidak akan bisa tidur semalaman karena khawatir.”

Jari-jariku sedikit gemetar. Tatapanku kembali jatuh ke layar ponsel.

[Kenapa kamu sangat tidak pengertian? Aku cuma telat menjemputmu sebentar ….]

[Valen itu tamu dan juga sahabatmu. Memangnya kenapa jika kamu sedikit mengalah?]

Tanpa sadar, tanganku yang menggenggam ponsel mulai bergetar. Dadaku terasa seperti disayat-sayat pisau.

Melihat mataku memerah, sopir itu langsung panik, “Jangan menangis, jangan menangis. Paman tidak akan bicara lagi.”

Aku menggeleng pelan dengan mata memerah. Entah mengapa, justru aku merasa sedikit lega.

“Tidak … aku yang seharusnya berterima kasih pada Paman.”

Tidak lama kemudian, Moses kembali mengirim pesan.

[Sudahlah. Aku benar-benar sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujukmu. Tenangkan dirimu dulu ….]

Dari 28 pesan yang dia kirim, 27 di antaranya berisi tuduhan dan menyalahkanku.

Pada akhirnya, dia malah berkata sudah tidak sanggup membujukku lagi.

Rasa kantuk datang menerjang seperti ombak. Aku mematikan ponsel, lalu memejamkan mata begitu saja.

Saat terbangun, aku sudah sampai di rumah. Karena melihatku tertidur sangat lelap, Pak Sopir bahkan rela menungguku selama 3 jam.

Aku pun memberinya tambahan 200 ribu.

Beliau tersenyum senang. Sebelum pergi, dia masih sempat berpesan, “Nona, cepat ganti sepatumu begitu masuk rumah. Itu sudah basah kuyup.”

Hatiku terharu. Aku mengangguk sambil mengiyakannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 7

    Moses mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi.Pandangannya tampak berkunang-kunang hingga harus diam cukup lama sebelum akhirnya mampu menegakkan tubuhnya.“Aku menghormati keputusanmu dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Namun ... aku akan terus menunggumu.”Sorot matanya masih menyimpan rasa keras kepala yang begitu kukenal.Aku mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu untuk membujuknya.Namun Moses tidak memberiku kesempatan. Dia berbalik dan membuka pintu.Punggungnya yang tinggi tegap menghilang perlahan di balik malam, sosoknya tampak begitu kesepian.Setelah hari itu, Moses benar-benar menepati ucapannya. Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Sebulan kemudian, justru Valen yang meneleponku.“Apa sebenarnya yang kamu katakan padanya?!”Suaranya terdengar begitu panik dan kehilangan kendali.“Kenapa dia memblokir semua kontakku? Bahkan alamat rumahnya juga sudah pindah. Kamu yang sudah tidak menginginkannya. Kenapa masih tidak mau melepaskannya?”Di akhir kalimat, suarany

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 6

    Irama kehidupan di Rivelle jauh lebih santai daripada yang kubayangkan.Selain jam kerja yang cukup padat, waktu luangku benar-benar bisa dinikmati dengan sesuka hati.Aku sering bepergian mengelilingi berbagai negara di Arhco di hari liburku. Di sana, aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru.Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, mereka semua ramah dan hangat.Bahkan mereka membantuku melatih kemampuan berbahasa Rivelle dengan antusias.Suatu hari, seorang gadis Rivelle bernama Diana berkata kepadaku, “Jika ingin segera lancar berbahasa Rivelle, carilah pacar orang Rivelle.”Seorang pemuda Rivelle yang duduk di samping langsung mengangkat tangan, “Minnie, aku bersedia!”Ucapan itu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.Aku pun berpura-pura berpikir sejenak sebelum menjawab, “Akan kupertimbangkan.”Namun, sepertinya Tuhan tidak rela melihatku bahagia.Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku melihat Moses sedang berjongkok menungguku di depan pintu.Entah suda

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 5

    “Minnie, kamu pergi ke mana? Kenapa pemilik rumah bilang kamu sudah pindah? Pindah ke mana? Kenapa tidak menungguku?! Aku sudah menunggumu selama tiga jam!”Nada suaranya dipenuhi rasa kecewa, marah, dan tidak puas.Setelah dia meluapkan semua emosinya, aku segera berkata, “Moses, hari itu aku menunggumu selama 10 jam. Aku meneleponmu 30 kali. Di tengah salju dan udara sedingin itu, kakiku sampai mengalami radang dingin. Tahukah kamu bagaimana perasaanku saat itu?”Di seberang telepon, Moses terdiam. Yang terdengar hanyalah napasnya yang semakin berat.Aku memandangi jalanan Rivelle di hadapanku, lalu merapatkan mantel yang kukenakan.“Dalam perjalanan pulang, sopir taksi bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya telah terjadi kasus pemerkosaan di terminal itu. Kamu tinggal di kota yang sama. Mustahil tidak mengetahuinya.”Ketika mengingat kembali kejadian itu, mataku mulai terasa panas.“Namun, kamu tetap membiarkanku sendirian di sana selama 10 jam. Saat itu aku mengira sesuatu telah

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 4

    Valen tertegun di tempat. Wajahnya tampak canggung, seolah tidak menyangka aku akan terang-terangan memutuskan hubungan dengannya.Moses mengernyit, “Kalian bertengkar? Sejak kapan?”Aku menatapnya dan menjawab dengan jelas, “4 hari yang lalu. Saat dia ingin ikut bersamaku menemuimu, lalu kutolak.”Karena itulah dia merasa tidak terima. Sebagai balasannya, dia lebih dulu datang menemui Moses.“Hanya karena itu?”Ekspresi Moses masih dipenuhi ketidakpercayaan.Padahal, bukan hanya sekali ini. Selama hampir setahun terakhir, Valen selalu mencari cara untuk mengganggu waktu berdua antara aku dan Moses.Setiap kali aku hendak pergi menemuinya, Valen selalu menahanku. Kadang dia memintaku menemaninya bepergian, kadang mengaku sakit dan membutuhkan bantuanku.Saat aku dan Moses membeli cincin pasangan pun, dia sengaja membeli cincin yang hampir sama dan mengenakan di jarinya.Aku bukan orang bodoh.Karena itu, aku memilih memutuskan hubungan dengannya secara terhormat. Namun, aku tidak perna

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 3

    Beberapa saat kemudian, Moses memanggilku dan meminta mengambilkan baju tidurnya.Aku mengambil satu set pakaian, lalu mendorong pintu kamar mandi.Begitu melihatku masuk, Moses buru-buru membalikkan ponselnya. Dengan rambut dan wajah yang masih basah, dia tersenyum kepadaku.“Terima kasih.”Begitu selesai berbicara, dia segera menutup pintu kembali.Aku tidak langsung pergi.Beberapa detik kemudian, suara dari dalam kembali terdengar. Suara tawa Valen menggema dari ponsel.“Haha ... kenapa kita berdua seperti sedang berselingkuh?”Nada suara Moses terdengar santai, “Memangnya kamu belum tahu sifat sahabatmu? Dia terlalu sensitif.”Valen mendengus pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Cepat perlihatkan perut berototmu lagi. Aku belum puas melihatnya.”Moses berpura-pura kesal, “Dasar perempuan mesum!”....Aku tidak mendengarkan percakapan mereka lebih lama lagi.Saat Moses kembali ke kamar, 1 jam telah berlalu.Pipinya tampak sedikit memerah, dan sorot matanya begitu terang, seol

  • Kemarin yang Tidak Terbalas   Bab 2

    Ketika sedang menunggu air hangat, Valen kembali memperbarui unggahannya di media sosial.[Mencoba teh susu yang sedang viral. Sahabat baikku rela mengantre selama 1 jam untuk membelikannya. Rasanya biasa saja. Aku hanya meminum seteguk, sisanya kubungkus untuk seseorang ….]“Seseorang” yang dimaksud jelas adalah Moses, yang tersenyum tipis ke arah kamera.Aku sama sekali tidak pernah menyangka. Pacarku yang sangat menjaga kebersihan, bahkan enggan menggunakan gelas yang sama denganku, ternyata bersedia meminum minuman yang telah disentuh perempuan lain.Aku mengembuskan napas pelan, lalu menyukai unggahan itu.Setelah itu, aku menelepon atasanku, “Direktur Franco, saya berubah pikiran. Apakah proyek itu masih bisa saya ambil?”Nada suara di seberang telepon terdengar terkejut, tetapi lebih banyak mengandung rasa lega.“Akhirnya kamu sadar juga. Jika proyek ini berhasil diselesaikan dengan baik, begitu kembali kamu akan langsung naik dua tingkat jabatan.”“Lagipula kamu hanya tinggal s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status