Share

Kematian Palsu, Lembaran Baru
Kematian Palsu, Lembaran Baru
Penulis: Moore

Bab 1

Penulis: Moore
Aku memohon pada sahabat masa kecilku, Blake, "Kamu bisa bantu aku nggak? Sekarang satu-satunya orang yang bisa melawan Arseno cuma kamu. Kalau kamu bantu aku, aku baru bisa berhasil memalsukan kematian dan pergi."

Blake adalah pemimpin mafia terbesar di Sisilia. Baginya, menciptakan sebuah kematian palsu semudah membalikkan telapak tangan.

Blake tidak langsung menjawab pertanyaanku, sebaliknya dia malah kembali bertanya, "Aurora, kamu benar-benar rela melepaskan semuanya? Pernikahan lima tahunmu, juga putramu yang selalu kamu sayangi. Begitu kamu memalsukan kematianmu, kamu akan kehilangan segalanya."

Aku menunduk menatap foto keluarga di tanganku.

Di dalam foto itu, Arseno menggendong putra kami dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkari bahuku erat. Pada saat gambar itu diambil, dia tidak melihat ke kamera, melainkan menunduk menatapku dengan lembut penuh kasih.

Semua orang yang melihat foto keluarga kami selalu berkata bahwa Arseno sangat mencintaiku.

Di hari pernikahan kami, dia membagikan 9999 amplop merah ke seluruh kota hanya agar seluruh Napolis ikut merayakan pernikahan kami.

Saat Ryder lahir, aku hampir mengalami kesulitan persalinan. Arseno menemaniku selama dua hari dua malam tanpa tidur. Ketika aku sadar, dia menangis sambil berkata bahwa dia tidak akan membiarkanku mengalami penderitaan seperti itu lagi, dan Ryder akan menjadi satu-satunya anak kami.

Setelah itu, sesibuk apa pun dirinya, dia selalu mengambil alih tugas merawat Ryder. Dia tidak pernah membiarkanku terlalu repot mengurus anak.

Jelas-jelas dulu kami begitu bahagia, keluarga sempurna yang membuat semua orang iri.

Selama lima tahun, Arseno merawatku dengan sangat baik. Bahkan Ryder juga meniru ayahnya, menjadi anak yang pengertian dan perhatian pada ibunya. Namun aku tidak pernah menyangka, suami dan anak yang begitu mencintaiku ternyata diam-diam dekat dengan wanita lain.

Air mata yang hangat jatuh ke bingkai foto. Aku mengangkat kepala dan berkata dengan tegas pada Blake, "Ya, aku rela melepaskan semuanya! Biarkan 'aku' mati di depan mata Arseno dan benar-benar memutus harapannya!"

Karena aku tidak bisa pergi secara terang-terangan, maka biarkan Arseno menyaksikan sendiri aku menghilang. Seumur hidup ini, aku tidak akan punya kesempatan bertemu lagi dengan kedua orang itu.

Blake terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata kepadaku, "Kalau itu yang kamu inginkan, akan aku kabulkan."

Blake berkata bahwa dia akan mengatur sebuah kecelakaan mobil untuk memalsukan kematianku. Waktunya dipilih tepat tiga hari lagi, pada hari ulang tahun pernikahanku yang kelima dengan Arseno.

"Aurora, aku harus ingatkan kamu, setiap hari peringatan pernikahan kalian, Arseno selalu menempel di sisimu tanpa pergi selangkah pun. Apa kamu yakin bisa menemukan kesempatan untuk memalsukan kematianmu?"

Bahkan Blake yang berada jauh di Sisilia juga tahu betapa berharganya aku bagi Arseno.

"Kalau dia nggak pergi, maka rencana kematian palsuku dibatalkan. Ini kesempatan terakhir yang kuberikan padanya." Aku mendengar suaraku sendiri yang serak saat mengatakan itu pada Blake.

Setelah semuanya diatur, aku pulang ke rumah dalam keadaan lelah.

Baru saja membuka pintu, Ryder sudah berlari dengan riang menghampiriku sambil membawa seikat bunga kecil berwarna cerah.

"Mama, dari mana? Kenapa pulangnya lama sekali?"

Ryder langsung menerjang ke pelukanku. Dia menyodorkan bunga itu ke hadapanku dengan wajah bangga. "Mama, ini bunga yang kupetik sendiri. Mama suka nggak?"

Setelah itu dia buru-buru menambahkan, "Papa tadi mau bantu, tapi aku menolaknya. Semua ini aku petik sendiri. Hebat, 'kan?" Dia menatapku penuh harap. Ekspresi kecil yang penuh penantian itu langsung meluluhkan hatiku.

Aku mengangkat tubuhnya dan mengecup lembut dahinya. "Terima kasih, Sayang. Mama suka sekali sama hadiahmu."

Ryder pergi dengan puas.

Aku membawa buket bunga itu naik ke lantai atas, berniat mencari vas yang cantik untuk menaruhnya di samping tempat tidur. Tiba-tiba aku teringat bahwa vas bunga di kamar sudah kubawa ke dapur, jadi aku pun berbalik kembali.

Namun baru sampai di ujung tangga, tanpa sengaja aku mendengar percakapan suami dan anakku.

"Ryder, gelang berlian yang kamu pesan khusus di Cartier dengan menghabiskan seluruh uang sakumu itu kamu taruh di mana? Bukannya itu hadiah untuk Mama?"

"Papa, itu hadiah yang mau kukasih untuk Tante Hazel. Kalung yang Papa beli hari ini juga harus disimpan, nanti dikirim untuk Kak Hazel. Aku sudah janji sama dia."

Aku berdiri terpaku di tangga.

Buket bunga murah di tanganku seolah sedang menertawakan rasa percaya diriku yang berlebihan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 10

    Arseno memang salah. Orang yang sudah meninggal mana mungkin bisa kembali?Aku sudah lama meninggalkan Napolis. Di bawah pengaturan matang Blake, aku mendapatkan identitas baru sepenuhnya di negara lain.Blake tidak pernah secara aktif membicarakan soal Napolis denganku, aku juga tidak mencari tahu.Tentang ayah dan anak itu, tentang segala hal mengenai mereka, aku sudah tidak ingin tahu lagi. Semua itu juga sudah tidak ada hubungannya denganku.Perlahan-lahan, aku mencurahkan seluruh hati dan pikiranku pada pekerjaan baru, sedikit demi sedikit melupakan luka masa lalu itu.Blake juga selalu diam-diam berada di sisiku. Saat dia sibuk mengurus urusan dan tidak bisa datang, dia akan meminta asistennya mengantarkan sayuran segar dan bahan makanan untukku tepat waktu.Dia berulang kali mengingatkanku agar makan tepat waktu dan menjaga diri dengan baik.Hari itu, ketika asistennya datang mengantar barang dan melihat wajahku jauh lebih segar, dia tidak bisa menahan diri untuk mengobrol lebih

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 9

    Setelah keributan siaran langsung itu berlalu, tidak ada lagi yang pernah melihat Hazel. Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana. Ada yang bilang dia meninggalkan Napolis, ada juga yang bilang dia sudah menemukan pria baru.Namun, hanya Arseno yang tahu jelas ke mana wanita itu pergi. Nama Hazel seolah tidak pernah ada di dunia ini. Dia benar-benar menghilang tanpa jejak.Sementara itu, di kediaman Morrack, Ryder mengurung diri di kamar selama dua hari penuh tanpa keluar. Sejak menyaksikan pertengkaran antara ayahnya dan Hazel hari itu, Ryder seperti berubah menjadi orang lain.Dia tidak lagi merengek meminta pelayan membacakan cerita, bahkan balok mainan kesayangannya pun tidak disentuh lagi. Perlahan-lahan dia mulai memahami apa arti "kematian". Dia tahu mamanya sudah meninggal dan tidak akan pernah kembali lagi.Dia terus memikirkan satu hal. Kalau saja di hari peringatan pernikahan itu dia tidak ikut Papa menemui Tante Hazel, mungkin Mama tidak akan mati.Ryder menjadi semakin pendia

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 8

    Arseno mencengkeram leher Hazel semakin erat.Hazel berjuang mati-matian. Wajahnya memerah, kedua tangannya terus memukul lengan Arseno, tetapi tetap tidak mampu melepaskan diri."Arseno ... lepaskan ... lepaskan aku ...." Suaranya terputus-putus karena dicekik.Arseno menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian. "Apa aku nggak pernah memperingatkanmu? Jangan pernah buat masalah sampai Aurora mengetahuinya!"Air mata Hazel terus mengalir. Dia menggeleng putus asa tanpa henti."Dia mati gara-gara kamu! Aku nggak akan melepaskanmu!" Arseno meraung marah. Dia langsung melempar Hazel ke lantai dengan kasar. Hazel memegangi lehernya sambil batuk hebat.Arseno berdiri menatapnya dari atas dengan tatapan yang dingin."Kamu menggunakan semua akal licikmu untuk membunuh Aurora. Sekarang aku akan menarik kembali semua harta dan sumber daya yang pernah kuberikan padamu. Keluar dari Napolis sekarang juga dan jangan pernah biarkan aku melihatmu lagi."Wajah Hazel langsung pucat pasi. Dia merangkak

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 7

    Setelah menyelesaikan "pemakamanku", Arseno kembali ke aula pesta dalam keadaan kehilangan jiwa. Aula pesta yang besar itu kini kosong dan sunyi, sama sekali tidak memiliki suasana meriah seperti biasanya.Namun, dia tetap menatap pintu masuk tanpa berkedip, membayangkan bahwa aku akan berjalan masuk sambil tersenyum ke arahnya seperti biasa. Dia duduk di sana selama dua hari tanpa makan dan minum.Seluruh tubuhnya tampak sangat kuyu. Bibirnya terus berulang kali bergetar lirih, "Maaf, Aurora ... maaf ...."Seorang temannya akhirnya tidak tahan melihat keadaannya. Dia berjalan cepat menghampiri Arseno, lalu menariknya dengan kuat sambil membujuk, "Arseno, jangan begini terus! Pikirkan Ryder. Dia masih menunggumu di rumah. Kamu nggak bisa mengabaikan anakmu!""Ryder ...."Mendengar nama putranya, mata Arseno yang kosong akhirnya sedikit bergerak. Barulah dia tersadar bahwa dia masih memiliki seorang anak yang harus dijaga. Dia tidak bisa duduk diam lagi. Dengan susah payah, dia berdiri

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 6

    "Pak Arseno, kami turut berduka cita.""Apa? Berduka cita?"Arseno menatap mereka tidak percaya. Tatapannya tajam seolah ingin menelan orang hidup-hidup."Omong kosong apa kalian?! Keluargaku baik-baik saja!"Polisi itu menghela napas, lalu menyerahkan sebuah dokumen. "Kami baru menerima laporan kecelakaan di jalan Via Tribunali. Berdasarkan barang-barang di lokasi dan identitas korban, korban meninggal adalah istri Anda, Bu Aurora."Arseno terdiam selama dua detik.Detik berikutnya, dia langsung mencengkeram kerah polisi itu dengan mata yang merah padam. "Istriku baik-baik saja! Dia sedang dalam perjalanan dari manor untuk menghadiri ulang tahun pernikahan kami yang kelima! Nggak mungkin dia mengalami kecelakaan! Apa kalian sedang mengutuknya?!"Polisi itu sampai kesulitan bernapas. Teman-teman di sekitar segera maju menarik Arseno."Arseno, tenang dulu!""Tenang apanya?!"Arseno meraung marah."Itu jelas bukan Aurora! Orang-orang nggak becus seperti kalian pasti salah mengenali korba

  • Kematian Palsu, Lembaran Baru   Bab 5

    Arseno melirik arlojinya. Waktu menuju dimulainya pesta tinggal setengah jam lagi."Sopir, segera kembali ke rumah untuk jemput Nyonya," perintah Arseno dengan suara berat. Setelah itu dia menoleh pada Ryder. "Ryder, duduk yang benar. Kita langsung pergi sendiri ke aula pesta."Mobil melaju kencang meninggalkan apartemen Hazel. Ryder yang duduk di kursi belakang tampak gelisah. Dia mengerutkan dahi dan bertanya khawatir, "Papa, masih sempat nggak? Mama bakal marah nggak ya? Mama paling nggak suka orang terlambat."Tangan Arseno yang memegang setir sedikit mengencang. Hatinya mulai tidak tenang. Dia sedikit menyesal datang menemui Hazel sebelum pesta dimulai. Dia buru-buru mengeluarkan ponsel lalu meneleponku.Telepon berdering lama, tetapi tidak ada yang mengangkat. Kening Arseno langsung berkerut rapat. Dia hanya bisa mengirim pesan suara dengan gelisah, "Aurora, kamu pasti sudah sampai di aula pesta, 'kan? Kami sedang di jalan, sebentar lagi sampai."Beberapa menit berlalu, tetapi te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status