로그인Lima tahun cukup lama untuk membuat Nayla merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Rasanya banyak sekali pembangunan di Jakarta sampai-sampai dia tidak lagi mengenali kota itu, banyak sekali perubahannya.
Dengan taksi online Nayla menuju ke kantor Nugie Hermawan. Hari ini adalah hari penting untuknya. Sambil menikmati pemandangan kota, Nayla mengeluarkan notes kecil berisi list pertanyaan yang dia buat kemarin bersama Willy.
Dia membaca ulang beberapa kali untuk memastikan semua pertanyaan itu sudah tepat dan tidak ada yang terlewatkan. Walaupun lawan bicaranya nanti katanya masih muda dan baru memulai karir, tapi tetap saja Nayla gugup bukan main karena ini pertama kalinya dia mewawancarai seseorang, sekalipun bukan orang terkenal.
Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah ruko di area perkantoran Jakarta Selatan. Setelah memastikan itu ruko yang tepat, Nayla pun turun dari mobil dengan tangan yang mulai keringat dingin dan jantung yang berdegup semakin cepat. Dia kemudian menarik nafas pelan dan berusaha untuk menenangkan dirinya, kemudian melangkah mantap.
Gak boleh keliatan gugup, bisiknya dalam hati. Begitu dia membuka pintu masuk ruko itu, suasana
yang dirasa langsung berbeda. Designnya begitu bagus dengan nuansa Jepang yang kuat. Wangi aromatheraphy bertaburan bebas di udara. Kekagumannya akan ruangan itu membuatnya lupa akan rasa gugupnya.“Selamat pagi, mau ketemu siapa?” tanya resepsionis yang menyambut Nayla dengan ramah.
“Permisi, ini bener kantornya Pak Nugie Hermawan?” tanya Nayla sambil menyodorkan kartu nama yang semalam diberikan Adit.
“Iya benar ini kantornya Mas Nugie. Mbak sudah bikin janji temu?”
“Sudah Mbak, saya Nayla dari Elevation yang akan melakukan wawancara dengan Pak Nugie.”
“Baik silahkan tunggu di ruangan ini ya, saya panggilkan Mas Nugie dulu.” Resepsionis itu mengantarkan Nayla kesebuah ruangan kecil dibelakang meja resepsionisnya.
Nayla kemudian duduk dan mempersiapkan hal-hal yang diperlukannya, termasuk HP yang akan dia pakai untuk merekam wawancara ini.
Sepuluh menit kemudian seorang pria masuk keruangan itu. Sosok yang diluar dugaan Nayla. Memang Adit bilang dia masih muda, tapi tidak disangkanya semuda ini. Dalam bayangan Nayla pria ini mungkin seumuran Adit yang sudah 30an, tapi ternyata yang muncul adalah anak muda yang seumuran dengan dirinya.
“Pak Nugie? Perkenalkan saya Nayla dari Elevation.” Nayla sontak berdiri dan memperkenalkan dirinya.
“Nugie.” Balas pria yang mengenakan kemeja lengan pendek, jeans dan sepatu kets itu, membuatnya terlihat semakin muda. “Silahkan duduk, panggil Nugie saja supaya lebih santai ya.” Nugie mempersilahkan.
Dalam hati Nayla cukup terkejut karena berpikir akan berhadapan dengan anak yang sombong karena berhasil punya bisnis cukup maju di usia muda. Namun ternyata dia berhadapan dengan seorang pria yang ramah dan sopan.
“Mau mulai sekarang? Ruangan ini cukup nyaman untuk wawancara?” tanya Nugie dengan ramah.
“Cukup, ini nyaman banget ruangannya.” Jawab Nayla yang masih berusaha untuk mengatur dirinya agar terlihat tenang.
“Bagus deh kalau gitu, jadi kita bisa mulai sekarang ya.”
Nayla mengatur nafasnya supaya tidak kelihatan gugup, lalu mulai melontarkan pertanyaan pertamanya dengan suara tenang.
“Kalau gitu saya mulai ya.” Nayla menyalakan aplikasi perekam di HP-nya. “Bisa ceritakan kenapa Jepang?”
“Karena saya kuliah disana.”
“Menarik. Jurusan arsitektur di Jepang, kenapa?”
“Karena waktu saya SMP orangtua saya mengajak liburan ke Jepang saat itu, dan saya langsung jatuh cinta dengan bangunan klasik Jepang yang menurut saya sangat indah dan artistik. Selain itu bangunan Jepang selalu memaksimalkan setiap ruang yang ada, sehingga tidak perlu ruangan besar tapi bisa nyaman dan terasa cukup.”
“Lalu setelah lulus kuliah Anda langsung membuka perusahaan ini?”
“Begitulah. Sejak kuliah saya sudah membayangkan akan membuka perusahaan sendiri, jadi saya sudah mulai mempersiapkan diri. Begitu lulus dan kembali ke Jakarta saya langsung mulai, dengan tabungan seadanya.”
“Jadi Anda memulai perusahaan ini dengan modal Anda sendiri?”
“Begitulah. Waktu itu saya hanya punya tabungan seadanya yang kalau dihitung-hitung cuma cukup untuk sewa kantor. Gak akan cukup untuk renovasi dan lain-lain,” kenang Nugie.
“Papa saya nawarin untuk bantu, tapi saya menolak karena takut saya nanti jadi merasa akan selalu ada bantuan kalau sampai gagal, dan akhirnya saya jadi gak berusaha maksimal. Akhirnya saya cuma sewa kantor dan dekor seadanya sesuai budget yang ada. Punya dua karyawan yang harus digaji, tapi enam bulan pertama gak ada satu project pun. Gak ada yang mau rumahnya dibangun sama anak baru lulus, sekalipun lulusan luar negeri.” lanjut Nugie.
Nayla mendengarkan dengan serius, baginya ini sebuah cerita yang menarik.
“Jujur saja saat itu saya sudah berpikir untuk nyerah dan kerja sama orang lain aja. Mungkin ini semua cuma idealisme saya yang berlebihan.” Lanjut Nugie. “Setiap kali saya melihat arsitek-arsitek lain yang saya kenal dapet project, bahkan ada yang arsitek baru juga seperti saya, saya berpikir enak banget ya jadi mereka, seandainya saya juga bisa dapat project semudah itu.” Nugie berhenti sejenak, mengenang masa-masa perjuangannya.
“Tapi saya sadar, membayangkan saja tidak akan menghasilkan apa-apa, saya harus mencoba lebih keras dan fokus pada jalan saya sendiri, bukan pada jalan orang lain,” lanjutnya. “Dengan fokus dan tidak membanding-bandingkan perjuangan saya dengan orang lain, saya jadi lebih maksimal. Percayalah, energi positif yang kita miliki di dalam diri kita akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang positif juga.”
Nayla terdiam sejenak, berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan pria di hadapannya itu. Dia ingat waktu kecil dulu dia sering sekali berharap hidupnya seperti orang lain yang lebih baik, lebih kaya, dan lebih bahagia. Padahal semua itu tidak membawa dia kemana-mana selain semakin tenggelam dalam kesedihan dan mengasihani dirinya sendiri.
“Cerita yang sangat menginsipirasi.” Puji Nayla sambil tersenyum. “Boleh tau arti Yumeki Architect?”
“Yumeki itu artinya impian. Menurut saya hampir semua orang punya impian atau mimpi untuk memiliki sebuah rumah, dan bisa mendesign serta membangun impian orang lain adalah sebuah kehormatan untuk saya.”
“Lalu apa mimpi seorang Nugie Hermawan?”
“Tentu saja membangun perusahaan ini menjadi lebih besar supaya bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Saya juga bermimpi bisa mengenalkan karya-karya saya pada dunia internasional.”
Nayla tertegun. Dia benar-benar kagum dengan sosok pria di hadapannya itu, dan dia merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya.
Hari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M
"Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib
"Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men
Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se
Nayla akhirnya menemukan kampus yang dia sukai. Setelah mencari informasi yang dia perlukan, akhirnya dia mendaftarkan dirinya. Kebetulan pendaftaran sedang dibuka dan dia bisa mulai ikut tahun ajaran baru yang akan dimulai satu bulan lagi. Sejak hari itu Nayla sibuk mempersiapkan semua hal yang dia perlukan. Termasuk berpamitan dengan teman-temannya di Elevation. Tentu saja hubungannya dengan Rino menjadi rahasia di Elevation. Hanya Adit dan Fajar yang tahu. Nayla mengundurkan diri dengan alasan ingin kuliah lagi setelah hampir dua tahun bekerja. Dia berjanji akan kembali lagi ke Elevation setelah lulus nanti. Willy menjadi orang yang paling kaget dengan keputusan Nayla. Dia tidak menyangka seorang yang gila kerja seperti Nayla akan memilih untuk sekolah lagi."Gue bakal kehilangan temen gue yang paling rajin di gedung ini," ucap Willy.Nayla mengajaknya untuk minum kopi di cafe dekat kantin. Willy adalah orang pertama yang menerimanya di Elevation, jadi dia ingin berpamitan dengan
"Kita mau kemana?" tanya Widya pada Adit begitu masuk dan duduk dalam mobil Adit."Kamu pilih ya, dimana saja yang kamu suka, saya traktir," jawab Adit berusaha menghibur Widya."Bener ya, kalau gitu aku mau makan steak wagyu."Sebenarnya Widya tidak serius, dia hanya ingin melihat apakah Adit akan benar-benar memenuhi keinginannya. "Oke," jawab Adit sambil memasang sabuk pengaman, dan melajukan mobilnya.Widya kaget, lalu tersenyum. Dia tahu Adit akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Widya termasuk perempuan yang banyak didekati pria-pria. Dia bahkan tidak pernah menjomblo lebih dari enam bulan. Namun jika ada sesuatu yang serius menganggu hatinya, dia selalu lebih nyaman dengan Adit dibandingkan kekasih-kekasihnya. "Kenapa Mas gak cerita soal Kak Nay?" tanya Widya."Bukan hak saya untuk menceritakan ke kamu dan Tante Inge. Saya hanya orang luar, Wid.""Tapi Mas kan sudah seperti keluarga sendiri," protes Widya."Tapi masalah ini berbeda Wid, saya gak berhak ikut campur.







