LOGINNayla melirik ke jam kecil disebelah tempat tidurnya, pukul 23.00 WIB, dan dia masih belum berhasil untuk tidur. Hari ini terlalu menyenangkan untuknya. Wawancara pertamanya berhasil.
Selain itu dia juga bertemu dengan Om Iwan dan Tante Ina lagi, sepasang suami istri yang membiayai kuliahnya ke London. Sepulang dari kantor Nugie, Nayla mampir sejenak ke rumah mereka yang tidak jauh dari sana. Mereka bertiga pun berbagi begitu banyak cerita. Hatinya terasa bahagia.
Nayla kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci di dekat tempat tidurnya. Dia mulai menulis di buku itu.
Hai, Bu. Apa kabar? Disana pasti indah dan menyenangkan ya. Aku sudah pulang ke rumah kita Bu. Disini rasanya sepi sekali tanpa Ibu.
Aku mau cerita, Bu. Aku sekarang udah jadi jurnalis di majalah besar, tadi habis wawancara orang. Rasanya menyenangkan, aku harap Ibu bangga sama aku ya.
Rasanya masih kayak mimpi hidupku bisa seperti sekarang, tapi rasanya ada yang kurang karena aku gak bisa menikmati kebahagiaan ini bersama Ibu. Bu, aku rindu sekali.
Nayla kemudian menutup buku itu dan menyimpannya kembali. Dia menyeka air mata yang tidak terasa menetes di pipinya. Dia kembali mencoba untuk tidur, masih banyak pekerjaan yang menantinya besok.
Keesokan harinya, pagi-pagi Nayla sudah duduk manis di meja kerjanya, mengerjakan hasil wawancaranya dengan Nugie kemarin.
“Good morning! Rajin banget nih pagi-pagi udah kerja,” suara Willy membuyarkan konsentrasi menulis Nayla. “Gimana kemarin?” tanya Willy.
“Pagi Wil,” balas Nayla. “Sukses donk, berkat bantuan loe. Thanks ya,” lanjut Nayla kemudian berhenti sejenak dari keyboard laptopnya.
“Sama-sama. Ikut seneng kalau gitu,” balas Willy sambil meletakkan barang bawaannya kemudian menghempaskan dirinya ke tempat duduk.
“Udah ngopi Wil? Ngopi yuk, gue traktir sebagai tanda terimakasih,” ajak Nayla.
“Asik!” Willy langsung beranjak dari kursinya dengan semangat. “Let’s go!”
Seumur hidupnya, Nayla hampir tidak punya teman. Masa sekolah dia tidak banyak berteman karena harus buru-buru pulang untuk menemani Ibunya yang kurang sehat. Karena kebiasaan itu, Nayla jadi terbiasa menutup diri dan jarang memulai pertemanan.
Willy membuatnya teringat pada Via, sahabatnya saat kuliah. Bisa dibilang Via satu-satunya teman dekat dia selama di London. Via membuat hari-harinya di London lebih hidup. Kini dia merasakan rasa nyaman yang sama pada Willy.
Menjelang jam masuk kerja, suasana di kantor Elevation sudah ramai dengan para reporter dan editor yang kejar jam tayang. Saat Nayla masih menyelesaikan artikel wawancaranya, tiba-tiba Adit menghampirinya.
“Nayla, saya kenalkan kamu sama direktur kita, beliau penasaran pengen ketemu kamu katanya.” Adit segera mengajak Nayla menuju ke ruangan paling besar di ujung koridor.
Adit kemudian mengetuk pintu ruangan itu. “Permisi, Pak. Nayla sudah datang.”
Di ruangan itu sudah duduk seorang pria paruh baya berusia 50 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih namun wajahnya masih terlihat segar dan badannya bugar.
“Nay, ini direktur majalah kita, Pak Rino,” Adit memperkenalkan Nayla pada Pak Rino.
“Selamat pagi Pak Rino, saya Nayla.” ucap Nayla yang pagi itu mengenakan atasan blouse biru muda dengan bawahan celana hitam, sambil menyalami Pak Rino.
Pak Rino kemudian mempersilahkan Adit dan Nayla untuk duduk di sofa.
“Saya sudah dengar banyak tentang kamu dari Adit. Dia banyak promosiin kamu, katanya tulisan kamu bagus,” Pak Rino langsung membuka pembicaraan.
Nayla merasa sedikit lega karena hal positif yang disampaikan Pak Rino.
“Tapi saya butuh lebih dari tulisan bagus, majalah ini butuh ide-ide segar. Saya harap apa yang kamu pelajari di negara orang bisa jadi pengembangan bagus untuk Elevation.” lanjut Pak Rino.
Ternyata pujian tadi hanya pembuka, ada ekspektasi besar di balik kata-kata positif tadi.
“Saya gak bisa janjikan apa-apa untuk sekarang, karena ini juga pengalaman pertama saya bekerja,” Nayla berusaha tetap tenang walaupun tangannya mulai keringat dingin.
“Tapi pasti saya akan berusaha yang terbaik, Pak.” lanjut Nayla dengan nada percaya diri.
“Saya suka jawaban kamu. Semua yang kamu butuhkan bisa tanyakan di Adit. Dia orang kepercayaan saya.” balas Pak Rino.
“Baik, Pak. Saya akan membimbing dia dengan baik,” ucap Adit.
Mereka kemudian pamit dari ruangan Pak Rino. Nayla tidak bisa menahan rasa penasarannya pada Adit.
“Pak, boleh saya bertanya?” kata Nayla.
“Sebelum kamu nanya, gak usah panggil saya Pak. Disini anak-anak semua biasa panggil saya Mas Adit atau Kak Adit, terserah kamu saja. Jadi suasana kerja gak terlalu kaku.” potong Adit sebelum mendengar pertanyaan Nayla.
“Oke, Mas Adit.”
“Apa yang mau kamu tanya?”
“Oh itu, kenapa anak baru kayak saya sampai ditunggu sama Pak Direktur?” tanya Nayla yang sudah penasaran sejak tadi.
“Karena Pak Rino lagi sedikit panik. Ada majalah bisnis baru yang keluar di pasaran, dan sudah dua bulan ini cukup bagus penjualannya. Jadi semacam kompetitornya kita lah. Makanya Pak Rino panik karena takut Elevation akan kalah dalam penghargaan akhir tahun nanti.”
“Penghargaan?”
“Ya semacam reward untuk majalah-majalah berprestasi di berbagai negara. Kalau menang biasanya penjualan akan semakin melonjak. Elevation udah berhasil jadi juara bertahan selama lima tahun berturut-turut, dan tiba-tiba muncul majalah baru yang berhasil mencuri perhatian, jadi wajar kalau bos agak panik.”
Nayla menyimak dengan serius.
“Pas tau kamu lulusan Jurnalis dari London dan mau kerja disini, Pak Rino langsung tertarik karena belum pernah disini ada anak lulusan luar. Jadi tampaknya dia berharap banyak sama kamu untuk bisa kasih warna baru untuk Elevation.”
“Baik Mas, ini jadi tantangan baru juga untuk saya.” balas Nayla.
“Kamu bilang kan udah tertarik sama dunia jurnalistik sejak lama, ini bisa jadi kesempatan kamu untuk berkarya. Ya sudah, selamat kembali bekerja ya.” Adit kemudian kembali ke ruangannya.
Nayla merasakan ada semangat yang membara di dalam dirinya. Dia merasa baru kali ini dirinya diperlukan untuk sesuatu yang penting. Jika mengingat masa lalunya, tidak pernah terbayang dalam pikirannya dia akan mendapatkan kesempatan seperti ini. Rasa haru bercampur semangat memenuhi dirinya.
Nayla mengetuk pintu ruangan Adit kemudian masuk membawa sebuah amplop putih di tangannya. "Mas, ini surat pengajuan cuti aku," ucap Nayla sambil menyodorkannya pada Adit. "Kamu udah mutusin untuk berangkat?" tanya Adit ketika menerima surat itu.Nayla mengangguk. Adit hanya tersenyum, tapi bukan senyuman yang menenangkan seperti biasanya. "Semoga kamu bisa menikmati liburan ini ya, Nay.""Makasih, Mas. Kalau ada apapun yang perlu aku kerjain jangan sungkan ya, Mas. Aku tetap bawa laptop kemana-mana.""Aman, kamu fokus aja dulu untuk liburan. Hari ini mau pulang bareng?""Hari ini udah janjian sama Nugie, Mas. Dia mau ajak dinner sekalian bahas soal perjalanan nanti, maaf ya Mas.""It's oke, Nay, gak perlu minta maaf. Apa yang bikin kamu akhirnya mutusin untuk berangkat?""Aku keinget yang Mas bilang malam itu. Mungkin perjalanan ini bisa bikin aku lebih mengenal Nugie, jadi aku mau coba."Adit cuma mengangguk kecil. Lagi-lagi hatinya terganggu karena saran yang dia buat sendiri. T
“Halo Nugie? Ini Tante Ina.”Nugie yang siang itu baru selesai meeting dengan klien tiba-tiba mendapatkan telepon yang tidak terduga."Tante Ina? Gimana Tante ada yang bisa Nugie bantu?" balas Nugie dengan nada sopan.“Apa kamu bisa mampir ke rumah sebentar, Gie? Ada hal penting yang mau Om dan Tante sampaikan. Ini soal Nayla," suara Ina terdengar penuh kekhawatiran. Begitu mendengar nama Nayla dan nada suara Ina yang tidak ceria seperti biasanya, wajah Nugie langsung berubah serius. Tanpa berpikir lama Nugie langsung menuju mobilnya dan mengendarainya secepat mungkin menuju rumah Ina.Nada bicara Ina tadi membuat Nugie semakin khawatir terjadi sesuatu pada Nayla. Tapi rasanya Nayla baik-baik saja, karena mereka masih saling mengirim pesan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Berbagai pertanyaan langsung memenuhi kepala Nugie, ada hal penting apa yang kira-kira akan disampaikan Ina padanya.Setengah jam kemudian Nugie pun sampai dirumah bergaya Jepang, hasil karyanya itu. Segera sa
Hari-hari berat di Elevation akhirnya resmi berakhir. Edisi khusus ulang tahun ke-20 itu akhirnya rilis ke pasar dan diterima dengan sangat baik. Penjualan mencetak rekor, tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pak Rino tersenyum puas dan tidak berhenti memuji Adit dan seluruh timnya. Sangking bahagianya, Pak Rino bahkan langsung mengirimkan beberapa salinan kepada rekan-rekannya agar mereka bisa segera membacanya. Dia juga memesankan pada Adit untuk memberikan satu majalah pada setiap karyawannya agar mereka menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Puas dengan hasil yang ada, Pak Rino mengajak karyawannya untuk makan di hotel bintang lima sekaligus merayakan ulangtahun Elevation hari itu. Tentu saja ini hal baru yang membuat semua karyawan kaget bercampur senang. Jika biasanya mereka hanya diberikan nasi kotak atau tumpengan di kantor, kali ini benar-benar berbeda. “Pak Rino keliatan puas sekali ya, Mas,” bisik Nayla pada Adit yang duduk di sebelahnya saat acara makan malam itu
Hari itu Adit dan Fajar tidak terlihat di kantor meskipun hari sudah menjelang siang. Nayla sempat bertanya-tanya kemana kedua pemimpin tim itu. Menjelang sore akhirnya Adit dan Fajar baru menginjakkan kaki di kantor, terlihat raut kecewa di wajah mereka berdua. Nayla tidak tahan untuk mengirim pesan pada Adit. 'Semuanya baik-baik, Mas?' Tidak ada balasan dari Adit. Jam pulang kerja, beberapa tim mulai meninggalkan kantor. Wajah mereka tampak lebih lelah dari biasanya. Materi untuk edisi ulang tahun ini harus rampung besok, begitulah pesan Adit. Nayla akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi Adit ke ruangannya. "Masuk, Nay," ucap Adit saat melihat Nayla mengetuk pintunya. "Permisi, Mas. Are you ok, Mas? Tadi aku kirim pesan, tapi..." "Sory saya belum sempat cek HP. Sibuk banget. I'm fine kok. Kamu udah mau pulang? Mau bareng atau dijemput Nugie?" "Gak kok, aku cuma mau mastiin aja karena tadi Mas dan Mas Fajar kelihatan serius." Adit menghela nafas panjang.
Pukul 17.00 WIB tepat Nayla bersiap untuk meninggalkan ruangannya. Dia bertekad untuk mengajak Adit pulang tepat waktu hari itu. "Mau kemana Kak Nay? Pulang? Tumben," kata Widya sambil melirik jam tangannya. "Baru jam lima lho ini." "Iya hari ini mau ontime, sampe besok ya Wid," balas Nayla kemudian melangkah ke ruangan Adit. Adit masih tampak sibuk dengan laptopnya ketika Nayla masuk ke ruangannya. "Mas, udah beres?" "Nay? Udah waktunya pulang?" Adit tampak kaget ketika melihat Nayla sudah berdiri di hadapannya lengkap dengan semua barang bawaannya, siap untuk pulang. Nayla mengangguk. "Ayo, Mas. Hari ini gak usah lembur dulu." Tidak bisa menolak, Adit pun membereskan meja kerjanya dan mereka melangkah keluar bersama. Pemandangan yang langka membuat semua tim yang masih di kantor melemparkan tatapan bingung dan kaget. Dua orang yang paling sering menjadi penghuni terakhir kantor, hari ini pulang tepat waktu. "Kita mau jalan dulu, Nay? Makan malam?" tanya Adit sebelum menyal
Kantor Elevation benar-benar terlihat sibuk belakangan ini. Edisi ulang tahun ini membuat wajah tim-tim menjadi lebih serius dari biasanya. Adit ingin semuanya sempurna, dan setiap kali ada yang tidak sesuai dengan harapannya, dia tidak segan-segan menolaknya dan meminta untuk segera diperbaiki.Kondisi itu sangat berat bagi karyawan-karyawan yang ritme kerjanya selalu santai dan tenang selama ini. Mereka langsung kewalahan dengan kondisi belakangan ini. Wajah-wajah stress sudah mulai menghiasi ruang kerja Elevation yang biasanya damai. Adit rutin mengadakan rapat dengan tim intinya. Kali ini dia menjaga semua informasi hanya pada orang-orang kepercayaannya. Dia tidak mau kesalahan yang sama terulang. Sementara itu Fajar juga mendapat tugas khusus untuk mencari dalang dari kebocoran informasi kemarin. "Permisi, Mas," Nayla mengetuk pintu ruangan Adit. Di tangannya dia membawa sebuah kotak makanan dan kemudian memberikannya pada Adit."Ada titipan dari Tante Ina buat Mas Adit. Katany







