Share

Hello Again, Jakarta

Penulis: Melody
last update Tanggal publikasi: 2026-07-27 13:01:44

“Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya. 

“Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan. 

Nayla mengangguk sambil tersenyum. 

Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru. 

“Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel. 

“Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.

Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla. 

“Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri. 

Dengan sebuah buku catatan di tangannya, Nayla melangkah mantap. Dia sudah pernah berkomunikasi beberapa kali dengan Adit, walaupun hanya via zoom dan email. Adit adalah orang yang menerima lamaran pekerjaannya, mewawancarainya saat dia masih di London, dan menjelaskan semua tugasnya saat bekerja di Elevation. 

“Selamat pagi Pak Adit,” salam Nayla saat memasuki ruangan yang tidak terlalu besar itu namun rapi dan wangi. Seperti menggambarkan diri pemiliknya yang rapi dan berkelas.

“Pagi Nayla. Panggil Mas saja, semua reporter disini juga begitu. Biar gak terlalu kaku.”

Nayla mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan Adit.

“Gimana perjalanan kemarin? Lancar?” tanya Adit.

“Lancar Mas.”

“Baguslah. Sudah siap untuk tantangan baru?”

“Siap, Mas,” jawab Nayla penuh semangat.

“Langsung saya kasih tugas wawancara, berani? Tenang aja, narasumbernya juga masih muda kok, paling seumuran kamu. Baru memulai karir juga, jadi kamu gak usah terlalu canggung nanti. Anggap aja latihan awal.”

Adit kemudian menyerahkan sebuah kartu nama. Nugie Hermawan, arsitek. Dia kemudian menyerahkan selembar kertas pada Nayla.

“Ini panduan awal dalam mewawancarai seseorang. Kamu boleh ikuti sambil inovasi sendiri. Saya mau lihat kreatifitas kamu, pakai ilmu yang sudah kamu pelajari selama ini.” jelas Adit.

Nayla mengangguk kemudian pamit dari ruangan Adit. Kembali ke mejanya, dia duduk terdiam menatapi kartu nama dan kertas yang diberikan Adit. 

Dia memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. Lima tahun lalu saat hidupnya terpuruk setelah kepergian Ibunya, satu-satunya keluarga yang dimiliki, Nayla pikir semuanya sudah selesai. Namun tiba-tiba ada tawaran beasiswa dari sepasang suami istri, sahabat ibunya, yang sudah menganggap Nayla seperti anak mereka sendiri. Tidak pikir panjang, dia pun menerima tawaran itu, bersungguh-sungguh untuk membangun kembali hidupnya. 

Segera dia mencoret-coret buku catatannya, membuat daftar pertanyaan yang akan dia tanyakan nanti. 

“Langsung dapet tugas ya dari Mas Adit?” tanya Willy saat melihat Nayla sibuk sekembalinya dari ruangan Adit.

“Iya nih. Disuruh wawancara orang ini,” ucap Nayla sambil menyodorkan kartu nama arsitek muda tadi. 

“Wah. Jarang-jarang lho anak baru langsung disuruh turun ke lapangan gini. Biasanya masih tulis-tulis artikel sederhana dulu, atau bantu reporter senior. Emang lulusan luar negeri beda, semangat ya!”

Hari pertamanya bekerja terasa begitu ringan. Atasan yang baik, teman yang baik, dan tugas pertama yang menantang. Cukup untuk menghibur Nayla setelah perjalanan belasan jam dari London, dan merapikan rumah kecilnya yang sudah tampak seperti rumah dalam film horor. Wajar saja, rumah itu kosong bertahun-tahun. 

Nayla tidak membiarkan dirinya bersantai, dia tidak ingin pikirannya berlarut dalam kenangan masa lalu yang membuatnya terpuruk. Ketika memasuki rumah kecil berukuran 4x8 itu, semua kenangan dia tentang Ibunya langsung memenuhi pikirannya, air matanya pun menetes tanpa bisa ditahan. Rindu. Satu kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan gadis 23 tahun ini. 

Nayla kembali dari lamunan mengenai dirinya, kembali fokus pada tugas di depan matanya. Dia mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari tasnya dan mulai mencoret-coret kertas di halaman buku itu.

Dia sedang berpikir pertanyaan apa saja yang mau dia ajukan dengan narasumbernya nanti. 

“Wil, loe udah pernah wawancara berapa orang? Gimana rasanya pas pertama kali?” tanya Nayla sebelum melanjutkan tugasnya, berharap bisa mendapatkan inspirasi.

“Tiga tahun gue kerja disini, kurang lebih udah 30 kali ya,” jawab Willy sambil menghitung di kepalanya. “Banyak deh pokoknya.” lanjutnya. 

“Pas pertama kali gugup gak?” tanya Nayla.

“Banget, sampe tangan gue keringet dingin. Terus panik banget karena catetan gue ketinggalan di kantor. Rasanya udah pengen kabur aja, gak jadi wawancara,” kenang Willy.

Nayla mendengarkan dengan serius, penasaran dengan rekan seniornya ini.

“Tapi habis itu gue tarik nafas, mencoba menenangkan diri. Gue coba inget-inget list pertanyaan yang udah gue siapin di catetan kemarin, terus bikin ulang seadanya,” Willy menceritakan dengan wajah lega mengingat kejadian tersebut.

“Pada akhirnya nanti semua akan mengalir kok Nay. Awalnya emang kayak kaku, tapi kalau lawan bicara kita udah mulai cerita, nanti pertanyaan-pertanyaan baru akan muncul mengikuti alur aja,” jelas Willy lagi sambil menyemangati Nayla.

“Thanks Wil udah mau cerita pengalaman loe, bikin gue jadi lebih tenang,” balas Nayla dengan semangat. 

“Biar gak kejadian kayak gue, mending list di catetan loe itu di foto juga. Jadi ada cadangan di HP.” saran Willy.

“Wah bener juga, thank you Wil!” Nayla kemudian kembali sibuk dengan tugasnya. 

Willy kemudian lanjut membantu Nayla membuat list-list pertanyaan, memberinya masukan untuk apa saja yang penting untuk ditanyakan. 

Nayla yang sempat takut karena langsung diberikan tugas besar di hari pertamanya bekerja, mulai merasa tenang. Dia tidak harus berjuang sendirian, siapa sangka teman pertamanya berbaik hati mau membantunya, sampai ke hal detail yang belum dia pahami. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembali untuk Bertemu   Bayangan Masa Lalu

    Begitu sampai di rumah, dia langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan nangis sejadi-jadinya. Karena tau harinya sudah rusak dan tidak mungkin kembali ke kantor, dia hanya mengirimkan pesan pada Adit untuk ijin karena tidak enak badan. Setelah puas menangis selama setengah jam dia akhirnya terduduk di tempat tidurnya dengan mata sembap gak karuan. Dia mengambil buku hariannya di laci sebelah tempat tidurnya. Dia ingin menumpahkan semua kekesalannya, dan buku itu adalah satu-satunya tempat. Menulis di buku itu baginya seperti sedang bercerita pada Ibunya, dan untuk masalah ini dia hanya bisa menumpahkan pada Ibunya. Nayla terdiam sejenak saat memegang buku itu. Buku kecil yang cukup tebal, mirip agenda, berwarna merah muda. Dia kemudian sadar bahwa sudah cukup lama dia tidak membaca buku itu.Kesibukannya di kantor berhasil mengalihkan dia dari masa lalunya. Tapi tidak untuk saat ini, dia membutuhkan buku itu. Dia kemudian mengambil sebuah pulpen dan mulai menulis.Bu, hari

  • Kembali untuk Bertemu   Hello Again, Jakarta

    “Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya. “Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan. Nayla mengangguk sambil tersenyum. Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru. “Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel. “Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla. “Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri.

  • Kembali untuk Bertemu   Pertemuan Pertama

    Lima tahun cukup lama untuk membuat Nayla merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Rasanya banyak sekali pembangunan di Jakarta sampai-sampai dia tidak lagi mengenali kota itu, banyak sekali perubahannya. Dengan taksi online Nayla menuju ke kantor Nugie Hermawan. Hari ini adalah hari penting untuknya. Sambil menikmati pemandangan kota, Nayla mengeluarkan notes kecil berisi list pertanyaan yang dia buat kemarin bersama Willy.Dia membaca ulang beberapa kali untuk memastikan semua pertanyaan itu sudah tepat dan tidak ada yang terlewatkan. Walaupun lawan bicaranya nanti katanya masih muda dan baru memulai karir, tapi tetap saja Nayla gugup bukan main karena ini pertama kalinya dia mewawancarai seseorang, sekalipun bukan orang terkenal. Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah ruko di area perkantoran Jakarta Selatan. Setelah memastikan itu ruko yang tepat, Nayla pun turun dari mobil dengan tangan yang mulai keringat dingin dan jantung yang berdegup semakin cepat. D

  • Kembali untuk Bertemu   Lembaran Baru

    Nayla melirik ke jam kecil disebelah tempat tidurnya, pukul 23.00 WIB, dan dia masih belum berhasil untuk tidur. Hari ini terlalu menyenangkan untuknya. Wawancara pertamanya berhasil. Selain itu dia juga bertemu dengan Om Iwan dan Tante Ina lagi, sepasang suami istri yang membiayai kuliahnya ke London. Sepulang dari kantor Nugie, Nayla mampir sejenak ke rumah mereka yang tidak jauh dari sana. Mereka bertiga pun berbagi begitu banyak cerita. Hatinya terasa bahagia.Nayla kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci di dekat tempat tidurnya. Dia mulai menulis di buku itu.Hai, Bu. Apa kabar? Disana pasti indah dan menyenangkan ya. Aku sudah pulang ke rumah kita Bu. Disini rasanya sepi sekali tanpa Ibu.Aku mau cerita, Bu. Aku sekarang udah jadi jurnalis di majalah besar, tadi habis wawancara orang. Rasanya menyenangkan, aku harap Ibu bangga sama aku ya. Rasanya masih kayak mimpi hidupku bisa seperti sekarang, tapi rasanya ada yang kurang karena aku gak bisa menikmati kebahagiaan

  • Kembali untuk Bertemu   Keberuntungan

    Teman-teman kantornya sudah mulai pulang satu per satu, namun Nayla masih terus berkutik dengan laptop dan beberapa majalah di tangannya. Dia melirik jam dinding dihadapannya, menunjukkan pukul 17.00. Memang sudah jam pulang kantor. Tapi Nayla masih betah dan asik dengan apa yang dikerjakannya, dia tau harus banyak belajar untuk bisa berkontribusi banyak Elevation.“Belum pulang?” suara Adit mengejutkan Nayla.“Eh Mas Adit. Belum nih, masih sore, nanti saja.”“Semangat kerja ya?” canda Adit.“Ya habis dirumah juga gak ada kerjaan, Mas,” jawab Nayla sambil tertawa kecil. “Aku lagi lihat-lihat Elevation edisi yang lalu-lalu, pengen pelajarin lebih. Sama pelajarin majalah saingannya Elevation juga, pengen tahu apa yang bikin dia bisa mencuri perhatian pasar.” lanjut Nayla sambil memperlihatkan tumpukan majalah di mejanya.“Lulusan luar memang beda ya. Ayo ikut saya, kita makan malam sambil ngobrol soal ide-ide baru. Mungkin kamu bisa kasih masukan ide segar seperti yang diinginkan Pak

  • Kembali untuk Bertemu   Artikel Pertama

    Entah mengapa matahari pagi itu sangat menarik baginya. Nugie pun membuka gorden kamarnya untuk menikmati keindahan taman belakang rumahnya yang hampir tidak pernah dia lihat. Taman itu memang indah karena selalu dirawat oleh Mamanya yang pecinta tanaman. Ada juga kolam ikan kecil yang menjadi kesukaan Papanya. Bisa dibilang taman itu ada perpaduan antara kedua orangtuanya yang dijadikan satu. Tiba-tiba bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya dari taman itu. Ada sebuah pesan masuk.Gie, majalahnya udah terbit, aku kirimin satu ya ke kantor.Wajahnya langsung tersenyum menerima pesan singkat itu.Oke Nay, aku tunggu. Thanks.Pesan terkirim dan dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tidak sabar melihat hasil wawancara perdananya. Dan juga tidak sabar bertemu lagi dengan wanita yang mewawancarainya itu.Hari itu dia memilih baju lebih lama dari biasanya, mencari baju terbaik yang tepat untuk dia pakai. Setelah sarapan, Nugie langsung buru-buru pamit.“Aku berangkat ya, Ma,”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status