Beranda / Young Adult / Kembali untuk Bertemu / Pertemuan yang Tidak Diinginkan

Share

Pertemuan yang Tidak Diinginkan

Penulis: Melody
last update Tanggal publikasi: 2026-07-27 13:01:44

Setelah menerima pesan dari Adit semalam sebelumnya, Nayla merubah tujuannya pagi itu. Dia tidak ke kantor tapi langsung menuju ke salah satu gedung perkantoran di daerah Sudirman. 

Ada tugas meliput yang menantinya disana, bukan untuk mengisi rubrik yang biasanya, kali ini dia hanya menggantikan tugas salah satu reporter yang mendadak sakit. Sudah semalaman dia melihat profile orang yang akan ditemuinya besok, kali ini tantangan baru. Bukan seperti yang sudah-sudah, kali ini dia akan mewawancarai seorang yang sudah sangat sukses. 

Setelah taksi yang mengantarkan sampai di lobi gedung itu, Nayla segera turun dan mengatur nafasnya agar tidak gugup. Untuk mengimbangi orang yang akan ditemuinya pagi itu, Nayla memakai kemeja merah dan rok hitam, tidak ketinggalan blazer untuk membuatnya terlihat lebih rapi dan tidak kalah duluan di awal. 

Begitu melangkahkan kakinya masuk ke gedung yang menjulang tinggi ke langit itu, dia langsung disuguhi pemandangan dari puluhan orang berjas yang lalu lalang dengan sibuknya. Ponsel mereka tidak lepas dari tangan dan telinga mereka. 

Nayla tercengang sesaat sebelum melangkah ke resepsionis. Resepsionis pun meminta kartu tanda pengenalnya sebelum memberikan dia kartu akses untuk bisa naik ke lantai yang ingin dia tuju. 

Nayla pun melangkah masuk ke dalam lift yang dipenuhi para eksekutif-eksekutif muda yang biasanya menjadi incaran para wanita masa kini. Sampai di lantai yang dia tuju, Nayla kembali disambut oleh resepsionis, kali ini resepsionis khusus perusahaan yang dia tuju, sebuah perusahaan tambang batu bara besar di Indonesia. 

Tiba-tiba kepercayaan dirinya sedikit menciut, dia mulai berpikir apakah dia siap untuk mewawancarai orang sehebat ini, seorang direktur perusahaan besar. Tangannya mulai basah dengan keringat dingin seraya menunggu di ruang depan.

“Silahkan Mbak, Pak Hartono sudah bisa ditemui.” Resepsionis tadi memanggil Nayla setelah lima belas menit menunggu. Nayla pun bangkit berdiri, berusaha untuk mengumpulkan kembali kepercayaan dirinya dan melangkah mantap.

Pasti bisa, gumamnya untuk menguatkan dirinya sendiri. Sampailah dia di sebuah ruangan yang cukup besar, dan terlihat disana seorang pria berusia sekitar 60-an sudah menunggunya dan menyambutnya dengan ramah. Langsung saja Nayla mendapatkan kembali kekuatannya. Dia pun membalas sapaan itu dengan percaya diri dan membuang jauh-jauh ketakutannya tadi.

“Selamat pagi Pak, perkenalkan saya Nayla dari Elevation,” sapa Nayla sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. 

Salam itu pun disambut hangat.

“Silahkan duduk,” Pak Hartono mempersilahkan. 

Resepsionis tadi kembali masuk ke ruangan membawa dua cangkir teh untuk menemani sesi wawancara itu.

“Terima kasih untuk waktu dan kesediaannya melakukan wawancara ini ya Pak,” kata Nayla dengan sopan. “Saya ijin untuk mulai ya Pak.” 

“Silahkan.” balas Pak Hartono.

Nayla kemudian menyalakan perekam di HP miliknya dan wawancara pun dimulai. 

Tidak terasa satu jam pun berlalu dan Nayla berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Banyak pengetahuan baru yang didapatnya dengan bertemu orang hebat seperti ini, dia semakin mencintai pekerjaannya.

“Terima kasih banyak Pak atas waktunya. Saya belajar banyak hal dari Bapak,” ucap Nayla sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya hendak pamit.

“Nanti kalau sudah terbit, akan saya kirimkan majalahnya untuk Bapak.” lanjut Nayla sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

“Baik, saya tunggu.” balas Pak Hartono sambil mengantar Nayla keluar dari ruangannya.

Begitu keluar dari ruangan itu Nayla langsung bernafas lega. Perasaan bangga dan senang bercampur dalam dirinya membuat langkahnya begitu ringan hari itu. Setelah selesai menukar ID yang dia tinggalkan, Nayla pun berdiri di lobi sambil menunggu taksi untuk mengantarnya ke kantor.

“Nayla?” tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

Saat Nayla berpaling ke arah suara tersebut, sontak kebahagiaan hari itu runtuh dalam sekejap karena sosok yang berdiri di hadapannya itu. 

“Bener kan loe Nayla? Gile gue hampir gak ngenalin loe lho, keren amat loe sekarang.” Lanjut pria berjas yang tampak sebaya dengan Nayla itu. “Ngapain loe disini? Kerja disini? Hebat juga loe.”

“Habis ketemu orang.” sahut Nayla singkat dan segera memalingkan wajahnya siap untuk melangkah pergi. 

Dia hanya ingin segera kabur dari orang di hadapannya ini. 

“Eh tunggu! Sombong amat loe!” pria tadi menarik tangannya yang langsung ditepis Nayla dengan wajah penuh amarah. 

“Gitu respon loe sama sodara sendiri?” seru pria itu dengan nada tinggi.

“Gue gak ada waktu buat ngomong sama loe.” sahut Nayla dengan nada suara bergetar menahan emosinya.

“Oh mentang-mentang udah jadi orang kantoran loe sekarang. Gimana kabar Tante Ratna? Bangga donk anaknya sekarang bisa pake baju keren dan kerja di gedung bagus. Gue juga kerja disini, loe di lantai berapa?” pria itu terus berceloteh dengan tatapan merendahkan yang membuat Nayla semakin geram.

“Ada masalah buat loe kalau sekarang gue begini? Gue bisa begini karena usaha gue sendiri, gak ada campur tangan dari kalian.” balas Nayla dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Oh gitu? Siapa yang dulu malem-malem dateng ke rumah untuk minta duit? Jangan sombong Nay, kalau bukan karena bokap gue, mungkin nyokap loe udah lewat!”

Saat itu juga rasanya Nayla ingin menampar pria dihadapannya itu, namun dia tau tidak ada gunanya, hanya akan membuat keributan. 

Dia ingat apa tujuannya datang ke gedung itu dan tidak mau merusaknya. Meskipun berat dia memilih untuk melangkahkan kakinya dan langsung masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya itu. 

Air matanya langsung menetes deras saat itu juga. Hari yang dia kira indah kini rusak sudah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembali untuk Bertemu   Perasaan Harus Diucapkan

    Hari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M

  • Kembali untuk Bertemu   Hubungan yang Sulit Dijelaskan

    "Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib

  • Kembali untuk Bertemu   Reuni yang Dirindukan

    "Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men

  • Kembali untuk Bertemu   Terlalu Berat untuk Memaafkan

    Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se

  • Kembali untuk Bertemu   Perpisahan untuk Sementara

    Nayla akhirnya menemukan kampus yang dia sukai. Setelah mencari informasi yang dia perlukan, akhirnya dia mendaftarkan dirinya. Kebetulan pendaftaran sedang dibuka dan dia bisa mulai ikut tahun ajaran baru yang akan dimulai satu bulan lagi. Sejak hari itu Nayla sibuk mempersiapkan semua hal yang dia perlukan. Termasuk berpamitan dengan teman-temannya di Elevation. Tentu saja hubungannya dengan Rino menjadi rahasia di Elevation. Hanya Adit dan Fajar yang tahu. Nayla mengundurkan diri dengan alasan ingin kuliah lagi setelah hampir dua tahun bekerja. Dia berjanji akan kembali lagi ke Elevation setelah lulus nanti. Willy menjadi orang yang paling kaget dengan keputusan Nayla. Dia tidak menyangka seorang yang gila kerja seperti Nayla akan memilih untuk sekolah lagi."Gue bakal kehilangan temen gue yang paling rajin di gedung ini," ucap Willy.Nayla mengajaknya untuk minum kopi di cafe dekat kantin. Willy adalah orang pertama yang menerimanya di Elevation, jadi dia ingin berpamitan dengan

  • Kembali untuk Bertemu   Rumitnya sebuah Perasaan

    "Kita mau kemana?" tanya Widya pada Adit begitu masuk dan duduk dalam mobil Adit."Kamu pilih ya, dimana saja yang kamu suka, saya traktir," jawab Adit berusaha menghibur Widya."Bener ya, kalau gitu aku mau makan steak wagyu."Sebenarnya Widya tidak serius, dia hanya ingin melihat apakah Adit akan benar-benar memenuhi keinginannya. "Oke," jawab Adit sambil memasang sabuk pengaman, dan melajukan mobilnya.Widya kaget, lalu tersenyum. Dia tahu Adit akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Widya termasuk perempuan yang banyak didekati pria-pria. Dia bahkan tidak pernah menjomblo lebih dari enam bulan. Namun jika ada sesuatu yang serius menganggu hatinya, dia selalu lebih nyaman dengan Adit dibandingkan kekasih-kekasihnya. "Kenapa Mas gak cerita soal Kak Nay?" tanya Widya."Bukan hak saya untuk menceritakan ke kamu dan Tante Inge. Saya hanya orang luar, Wid.""Tapi Mas kan sudah seperti keluarga sendiri," protes Widya."Tapi masalah ini berbeda Wid, saya gak berhak ikut campur.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status