Share

Artikel Pertama

Author: Melody
last update publish date: 2026-07-27 13:02:21

Entah mengapa matahari pagi itu sangat menarik baginya. Nugie pun membuka gorden kamarnya untuk menikmati keindahan taman belakang rumahnya yang hampir tidak pernah dia lihat. 

Taman itu memang indah karena selalu dirawat oleh Mamanya yang pecinta tanaman. Ada juga kolam ikan kecil yang menjadi kesukaan Papanya. Bisa dibilang taman itu ada perpaduan antara kedua orangtuanya yang dijadikan satu. 

Tiba-tiba bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya dari taman itu. Ada sebuah pesan masuk.

Gie, majalahnya udah terbit, aku kirimin satu ya ke kantor.

Wajahnya langsung tersenyum menerima pesan singkat itu.

Oke Nay, aku tunggu. Thanks.

Pesan terkirim dan dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tidak sabar melihat hasil wawancara perdananya. Dan juga tidak sabar bertemu lagi dengan wanita yang mewawancarainya itu.

Hari itu dia memilih baju lebih lama dari biasanya, mencari baju terbaik yang tepat untuk dia pakai. 

Setelah sarapan, Nugie langsung buru-buru pamit.

“Aku berangkat ya, Ma,” Nugie pamit sambil memeluk Mamanya sebelum beranjak keluar.

“Kok tumben sih buru-buru?” tanya Mamanya.

“Iya, udah ada janji pagi ini. See you, Ma.” Nugie meraih tas dan kunci mobilnya lalu berjalan keluar dari rumah mewah tempatnya tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuannya. 

Namun karena kesibukan Papanya yang sering keluar negeri, dan adiknya yang sibuk dengan kegiatannya sendiri, meja makan besar itu jarang dipenuhi secara lengkap oleh anggota keluarganya. 

Sesampainya di kantor, Nugie langsung disambut oleh resepsionis yang menyodorkan sebuah amplop cokelat di tangannya.

“Pagi Mas, ini ada paket untuk Mas Nugie. Majalah yang wawancara Mas kemarin ya?” 

“Iya.” Sahut Nugie sambil mengambil majalah yang disodorkan itu. “Siapa yang mengantar?” 

“Tukang Pos, Mas.”

“Oh...” tersirat sedikit kekecewaan diwajahnya, namun tidak berlangsung lama. Segera diraihnya majalah itu dan dibawa keruangan kerjanya di lantai dua. Setelah dibacanya dia pun mengambil ponsel di saku celananya.

“Halo.” Terdengar suara wanita dari seberang sana.

“Nay, aku udah baca nih. Tulisan kamu memang bagus, artikelnya jadi keren.”

“Itu karena memang cerita kamu bagus, Gie.”

“Mau makan siang bareng hari ini? Sebagai tanda terimakasih untuk artikelnya.”

“Harusnya aku dong yang makasih karena kamu udah mau jadi narasumber aku.”

“Dengan masuk Elevation pasti mendongkrak bisnis aku juga kan Nay, aku makin dikenal. Semua karena usaha kamu juga. Ketemu di restoran sushi dekat kantor kamu ya jam 12, aku tunggu.” 

“Oke, Gie.”

Setelah membereskan beberapa pekerjaan, Nayla melirik HP-nya yang sudah menunjukkan waktu makan siang. Dia pun merapikan laptopnya kemudian beranjak berdiri.

“Mau kemana Nay?” tanya Willy yang bingung melihat Nayla beranjak dari tempat duduknya dan siap pergi dengan tasnya. 

“Makan siang. Udah jam makan siang kan? Loe gak makan?”

“Tumben amat! Loe ulang tahun?”

“Gak.” 

“Biasa kan jam makan siang juga loe duduk depan laptop sambil nunggu cemilan dari gue.” 

“Gue ada janji ketemu sama orang, ini namanya makan siang sambil kerja. Efektif kan gak buang waktu, sekali mendayung dua pulang terlampaui.”

“Loe emang workaholic.” Ledek Willy sambil geleng-geleng kepala.

“Mumpung masih muda, masih kuat. Udah ya, bye!” balas Nayla santai. Hatinya memang sedang senang hari ini, entah karena apa. Mungkin karena tulisan pertamanya muncul di majalah bergengsi, atau karena makan siang hari ini?

Setelah berjalan kaki kira-kira dua menit Nayla sampai di restoran tempat dia dan Nugie berjanji untuk makan siang bersama. Terlihat Nugie sudah duduk sambil memandangi menu di hadapannnya. 

“Udah lama?” tanya Nayla.

“Baru kok. Nih mau pesen apa?” jawab Nugie sambil menyodorkan menu untuk Nayla. 

“Kamu dulu saja yang pesen.” Nayla menyodorkan kembali menu makanannya. 

“Aku udah tau kok mau pesen apa, udah sering makan disini.”

“Kamu emang suka Jepang banget ya? Kantor designnya Jepang, kerjaan cuma mau bangun rumah bergaya Jepang. Jangan-jangan makan juga cuma mau makanan Jepang lagi?”

“Gak lah, aku ini pecinta rendang, nasi goreng, dan nasi liwet. Aku pecinta makanan Indonesia tau.” Jawab Nugie tertawa lepas.

“Pantesan milih pulang ke Indo ya habis lulus?” ledek Nayla kemudian sibuk membuka buku menu di tangannya.

“Aku pesen ini saja deh,” ucap Nayla sambil memanggil pelayan yang berdiri gak jauh dari mereka. 

Setelah pesanan dicatat, obrolan pun langsung lepas begitu saja.

“Sayang ya disini gak ada matcha, padahal pas nih buat cuaca panas gini.” kata Nayla. 

“Oh kamu suka matcha? Berarti harus banget ke Jepang.”

“Iya itu salah satu kota impian aku, semoga aja bisa kesampean.”

“Pasti akan terwujud. Aku penasaran kenapa milih London?”

“Ini sesi wawancara ya?” ledek Nayla. “Karena aku suka saja sama kotanya, dari kecil aku bermimpi bisa kesana suatu hari nanti. Dan begitu ada kesempatan ya langsung aku ambil,” kenang Nayla. 

“Menurut aku jurnalistik itu hidup disemua negara, karena informasi beredar dimana-mana, jadi gak ada negara khusus untuk jurusan jurnalistik. Beda kalau teknik, pasti semua orang setuju kalau Jerman is the best. Atau untuk jadi chef pasti akan lebih bagus ke Swiss atau Paris dibandingkan negara lainnya.” lanutnya. 

Obrolan itu terus berlanjut hingga tidak terasa jam makan siang pun berlalu sekejap saja. Waktu dimana dua orang saling berbagi cerita tentang pekerjaan dan mimpi mereka. Obrolan dua orang baru kenal yang rrasanya seperti teman lama. Nayla sendiri sudah lupa rasanya mengobrol lepas seperti itu dengan seseorang sejak Ibunya meninggal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembali untuk Bertemu   Perasaan Harus Diucapkan

    Hari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M

  • Kembali untuk Bertemu   Hubungan yang Sulit Dijelaskan

    "Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib

  • Kembali untuk Bertemu   Reuni yang Dirindukan

    "Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men

  • Kembali untuk Bertemu   Terlalu Berat untuk Memaafkan

    Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se

  • Kembali untuk Bertemu   Perpisahan untuk Sementara

    Nayla akhirnya menemukan kampus yang dia sukai. Setelah mencari informasi yang dia perlukan, akhirnya dia mendaftarkan dirinya. Kebetulan pendaftaran sedang dibuka dan dia bisa mulai ikut tahun ajaran baru yang akan dimulai satu bulan lagi. Sejak hari itu Nayla sibuk mempersiapkan semua hal yang dia perlukan. Termasuk berpamitan dengan teman-temannya di Elevation. Tentu saja hubungannya dengan Rino menjadi rahasia di Elevation. Hanya Adit dan Fajar yang tahu. Nayla mengundurkan diri dengan alasan ingin kuliah lagi setelah hampir dua tahun bekerja. Dia berjanji akan kembali lagi ke Elevation setelah lulus nanti. Willy menjadi orang yang paling kaget dengan keputusan Nayla. Dia tidak menyangka seorang yang gila kerja seperti Nayla akan memilih untuk sekolah lagi."Gue bakal kehilangan temen gue yang paling rajin di gedung ini," ucap Willy.Nayla mengajaknya untuk minum kopi di cafe dekat kantin. Willy adalah orang pertama yang menerimanya di Elevation, jadi dia ingin berpamitan dengan

  • Kembali untuk Bertemu   Rumitnya sebuah Perasaan

    "Kita mau kemana?" tanya Widya pada Adit begitu masuk dan duduk dalam mobil Adit."Kamu pilih ya, dimana saja yang kamu suka, saya traktir," jawab Adit berusaha menghibur Widya."Bener ya, kalau gitu aku mau makan steak wagyu."Sebenarnya Widya tidak serius, dia hanya ingin melihat apakah Adit akan benar-benar memenuhi keinginannya. "Oke," jawab Adit sambil memasang sabuk pengaman, dan melajukan mobilnya.Widya kaget, lalu tersenyum. Dia tahu Adit akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Widya termasuk perempuan yang banyak didekati pria-pria. Dia bahkan tidak pernah menjomblo lebih dari enam bulan. Namun jika ada sesuatu yang serius menganggu hatinya, dia selalu lebih nyaman dengan Adit dibandingkan kekasih-kekasihnya. "Kenapa Mas gak cerita soal Kak Nay?" tanya Widya."Bukan hak saya untuk menceritakan ke kamu dan Tante Inge. Saya hanya orang luar, Wid.""Tapi Mas kan sudah seperti keluarga sendiri," protes Widya."Tapi masalah ini berbeda Wid, saya gak berhak ikut campur.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status